
🍁Berusaha mengubah takdir dengan mengorbankan kebahagiaan yang lain. Menyelamatkan masa lalu, menghancurkan masa depan. Na'as🍁
Kepalaku berat, sakit luar biasa. Pandangan terasa samar, seakan diri setengah tersadar. Ingin bergerak, tapi susah. Rupanya kedua tanganku terikat. Tubuhku pun lemas. Terbaring di atas tempat tidur di sebuah kamar yang tak aku tahu di mana.
Ah, benar! Aku ingat sekarang. Dua pria berbaju hitam itu mengejar saat aku kabur dari rumah utama keluarga Benedict Lim. Kakek tua itu pasti menyadari sesuatu. Foto yang aku ambil itu, pasti dia sadar dan menyuruh para penjahat itu untuk menangkapku.
Sialan! Jika benar ini ulahnya, awas saja!
Decitan pintu terdengar. Seseorang masuk ke dalam kamar tempatku disekap. Tak terlalu jelas, tapi aku tahu dia perempuan. Rambut panjang, bertubuh jenjang, dan ramping. Dia sangat mirip dengan seseorang.
"Na--Nadine ...."
"Naya, kamu baik-baik saja? Kepalamu sakit?"
Syukurlah, ternyata dia Nadine. Aku kira orang suruhan Kakek. Aku bisa bernapas lega sekarang.
"A--aku ... di mana aku?" tanyaku.
"Ada di rumahku."
Nadine membantuku duduk dan bersandar di kepala dipan. Diambilnya segelas air putih dan diminumkannya padaku. Ah, lega rasanya! Setidaknya aku selamat.
"Bagaimana ceritanya aku bisa bersamamu? Dua orang suruhan kakek mengejarku. Mereka membiusku. Sepertinya begitu."
Nadine hanya diam dan tersenyum. Dia bangkit dan berjalan ke arah jendela kamar. Sedikit menyibakkan gorden jendela hingga tampaklah hari yang gelap.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Naya?" tanya Nadine.
Mencoba mengingat segala kejadian dengan kepala yang berputar. Pening sekali.
"Usai bertemu denganmu dan Ardito di cafe, aku pergi ke rumah kakek. Ketika aku pulang, dua pria berbaju hitam mengikuti aku dan membekapku. Lalu, entahlah. Begitu sadar, aku ada di sini."
"Hem, begitu."
__ADS_1
Nadine berjalan ke arahku dan melepaskan tali yang terikat kuat pada pergelangan tangan.
"Apa yang kamu dapatkan dari rumah tetua keluarga Benedict Lim itu?"
Ah, tunggu! Benar sekali. Aku teringat pada sebuah benda yang aku ambil. Rupanya benda itulah yang membuatku dalam bahaya. Selembar foto. Ayah mertuaku bersama seorang wanita bernama Catharine, juga seorang gadis kecil.
Gadis kecil? Mata bermanik kebiruan, mirip seseorang.
"Na--Nadine, kamu .... Ehm!"
Cepat, tangan ibu tiri Ardian itu menyambar kedua pipiku. Menekannya hingga ujung bibirku mengerucut. Sakit.
"Gadis bodoh!" hardiknya. "Kamu pikir, untuk apa aku menyuruhmu ikut dalam pertemuanku dengan Ardito? Nggak guna. Tentu saja aku ingin menjebakmu. Aku ingin memutar isi otakmu itu. Padahal rencanaku hampir berhasil. Tanganmu malah tak mau diam dan seenaknya mengorek informasi di sana. Sialan!"
Mata itu benar miliknya. Gadis kecil dalam foto itu memang dia. Wanita licik bak rubah. Penjahat kelas teri, sialan!
"Susah payah aku membuat Ardian jatuh ke dalam genggaman, lepas begitu saja karena gadis ***** sepertimu. Muak sekali!"
Aku tak tahu pasti apa yang terjadi. Akan tetapi, ada sedikit gambaran yang berkelebat di benakku. Nadine dan ayah mertuaku, mereka adalah ....
"Ada apa?" tanya Nadine, seraya mengikat kembali kedua tanganku.
"Tuan Ardian dan Ardito ada di sini."
"Cepat atau lambat, mereka pasti akan datang. Hem ... menarik sekali," gumam Nadine dengan sunggingan senyum sinis di wajahnya. "Lakukan apa saja untuk mengusir mereka. Aku akan mengurus perempuan sial ini."
Sejak awal, aku tahu kalau Nadine tak waras. Namun, aku tak menyangka kalau dia akan sekeji ini. Wanita gila.
"Naya, maaf, ya! Karena kejahatan keluarga Benedict Lim, kamu menjadi korban."
"Lepaskan aku atau aku akan teriak!" ancamku.
"Coba saja!"
__ADS_1
Gerak tangannya cepat. Mengambil lakban dari dalam laci, mengirisnya dan menempelkannya di mulutku. Bungkam sudah. Jika nanti aku lepas, akan kupatahkan lehernya. Tunggu saja.
"Kamu tahu, Naya?" Nadine membelai rambutku sembari melempar tatapan sinis. "Ibu dan ayahku terpaksa berpisah demi keberlangsungan tahta keluarga. Hans Benedict Lim--ayah Ardian meninggal dan Irene--istrinya menjanda dengan dua putra mahkota. Demi memuluskan jalan sang putra mahkota, seorang perempuan dipaksa mundur menjauh dari suami yang ia cinta. Dialah Catharine--ibuku. Dengan pengorbanannya, Ardian dan Ardito mendapatkan seorang ayah. Ayah ... yang mereka rampas dariku. Lalu, bagaimana nasibku? Ibuku bunuh diri dengan menabrakkan diri ke kontainer. Sedangkan aku dibuang ke panti asuhan. Bagaimana menurutmu? Segila apa keluarga suamimu ini, hah?!"
Jadi ini arti dari foto yang aku ambil. Masa lalu menyedihkan dan gila. Sungguh tragis.
"Aku tak sejahat ini, Naya." Seringaian di wajah Nadine tampak menakutkan. "Hanya saja, pahit nasib telah merubahku. Orang jahat tercipta dari orang baik yang tersakiti. Sepakat, bukan? Hahaha ...."
Sial! Jika tak segera lolos dari sini, mungkin aku akan habis. Nasib apa yang membuatku terlibat dengan keluarga tak jelas ini? Kisah absurd yang menggelikan. Aku seakan ada dalam sebuah sinetron yang tak jelas alurnya. Nenek sihir di depanku ini ... dia bisa melakukan apa saja. Aku harus berhati-hati.
Haish! Kalau saja aku tak gegabah pergi ke rumah Kakek waktu itu, tentu tak akan seburuk ini nasibku. Semoga saja Ardito cepat menggunakan otaknya untuk menyelamatkan aku.
"Bu!" Seorang pria berbaju hitam tadi kembali masuk ke dalam kamar tempat aku dan Nadine berada. "Pak Ardian menerobos masuk. Dia menghajar semua penjaga yang ada di gerbang depan."
"Sialan!"
Wajah merah meradang dengan napas memburu kesal, Nadine keluar dari kamar. Tinggal aku sendiri di sini. Ini kesempatan yang bagus untuk melarikan diri. Akan tetapi, bagaimana caranya? Aku tak bisa menunggu Ardian datang. Itu terlalu lama.
Ah! Masih bisa. Wanita sinting itu melupakan satu hal yang berharga. Aku masih punya kedua kaki yang tak terikat. Ini akan seru.
Kelempar pandang pada pintu kamar, sebelum akhirnya berjalan ke arah jendela. Tak terlapisi terali besi. Aku bisa keluar dengan mudah. Heels yang kubeli dari sebulan gajiku bekerja, terpaksa menjadi korban. Kutendang kaca jendela hingga pecah dan melompatlah aku ke luar. Syukur ini lantai satu. Jika lantai dua atau tiga ... habislah aku.
Berjalan mengendap, merapatkan badan pada tembok rumah. Sepi, tak ada penjaga. Aku yakin, mereka pasti berkerumun di pagar depan untuk menghadapi Ardian. Si bodoh itu akan sulit ditakhlukkan ketika sudah menggila. Ini kesempatan berharga. Harus kumanfaatkan untuk kabur secepatnya.
"Mau ke mana, kamu?"
Ah, sial!
Bedebah siapa lagi yang menyergapku dari belakang? Padahal aku hampir saja berhasil keluar. Apa-apaan ini? Meronta pun aku tak kuasa. Tubuhku terkunci dengan kuat. Sial!
Apa aku benar akan mati di sini?
Ardian ... tolong aku!
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=