
(pov NAYA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🍁🍁 Karena kamu ...
Yang selalu membawaku ...
Kepada hal-hal di luar nalar ...🍁🍁
---------------------------------------------------------------------
"Ini gelang punyamu?"
Setengah jam yang lalu kami sampai rumah dari perjalanan panjang usai tugas kerja Ardian di Bali. Kami masih sibuk membereskan barang-barang di koper tanpa sempat meregangkan otot punggung sedikit pun.
"Ini couple, ya?" Ardian masih memperhatikan gelang mutiara hitam milikku.
"Aku beli dua. Satu untukku dan satu untukmu," jawabku sambil mengeluarkan baju-baju dari dalam koper.
"Naya ... saranghae."
"Apa?!" pekikku.
"Tullisannya begitu." Ardian menyodorkan gelang itu padaku.
"Oh!"
Apa, sih yang aku pikirkan? Mendengar kata 'saranghae' dari Ardian saja langsung berpikir kejauhan. Mana mungkin dia mengucapkan itu padaku. Lebih baik tak mengkhayal terlalu tinggi.
"Berikan!" Ardian mengulurkan tangannya padaku.
"Mau apa?" tanyaku, bingung.
"Berikan tanganmu!"
Dengan sedikit ragu, aku mengulurkan tangan kiriku padanya.
"Begini, kan?" Ardian memasangkankan gelang itu di pergelangan tanganku. "Satu untukmu dan satu untukku."
Ya, aku membelinya memang untuk kembaran bersama dengannya. Padahal sejak awal aku tak berani pakai. Aku takut Ardian marah dan melepas miliknya. Ternyata dia santai saja. Jadi sedikit merasa senang dan lega. Setidaknya, aku sudah mulai bisa mendekat padanya.
"Nay, aku laper, nih," keluh Ardian seraya menekan perutnya.
Aku melirik ke jam dinding berbentuk bulat di sisi lemari. Memang sudah jam makan siang.
"Aku buatkan sesuatu dulu."
Langkah kakiku berjalan menuruni anak tangga dan berbelok ke sisi kanan. Sebuah ruangan sederhana bercat biru muda dengan kitchen set minimalis. Aku edarkan pandanganku ke dalam kulkas. Tak ada apapun yang bisa dimasak, telur sebutir pun tak ada.
Aku berjalan ke sisi kiri dan sedikit mendongakkan kepalaku ke atas. Kutarik pintu kecil dari kitchen set yang terpatri di tembok itu.
"Astaga! Beneran cuma ada satu doang, nih? Nggak apalah, buat ngeganjal perut."
Kompor gas kunyalakan dan kutaruh panci kecil berisi air di atasnya.
"Ah, sosis sapi! Untung aku selalu simpan yang beginian."
------------
---------------------
"Ardian!" panggilku. "Cepetan turun!"
"Iya."
Suara hentakan langkah kakinya yang sedang menuruni anak tangga, sedikit terdengar di telingaku. Sambil duduk di ruang makan, aku menunggunya menghampiriku.
Ah! Aku jadi teringat saat pertama kali aku tinggal di sini bersamanya. Ardian yang tak kuat mengangakat galon air mineral dan hampir menelpon security apartement. Saat itu dia terlihat lucu, sangat menggemaskan.
"Apa ini?" Ardian mengamati sebuah panci kecil yang ada di meja makan. "Ini panci?"
"He'em," anggukku.
Diambilnya sendok yang aku letakkan di sisi panci untuk mengaduk makanan dalam panci tersebut.
"Ini mie?" Kembali dia bertanya dengan ekspresi bingung padaku.
"Emang di matamu itu tampak seperti nasi goreng berkuah?" ucapku dengan nada ketus.
"Bu--bukan begitu maksudku!" serunya. "Ini kenapa kamu masak mie terus ditaruh di dalam panci kayak gini?"
__ADS_1
"Masak mie emang harus di pancilah, Ardian. Masa' tata cara masak mie juga kamu amnesia, sih?"
"Astaga, Naya!" bentaknya. "Maksudku, kenapa mienya nggak ditiriskan? Kenapa disuguhkan di dalam panci begini? Kamu pikir aku ini sapi yang makan dari panci?"
"Primitif banget, sih!" Aku mulai kesal mendengar ucapannya. "Ini adalah cara makan mie yang ngetrend di Korea. Berpiringkan panci dan tutup pancinya. Ji Chang Wook Oppa sering melakukan adegan kayak begitu di dramanya."
Ardian meremas ujung kepalanya dengan wajah yang penuh rasa frustasi.
"Kadang, aku bahkan nggak ngerti. Aku ini ada di dunia nyata atau ada di dunia halumu."
"Ya, jelas di dunia nyatalah! Kok, lama-lama otakmu tambah eror begitu, sih, Ardian?"
"Aaaaargh! Nyerah, deh aku ngadepin kamu!" Dia berteriak sambil menyeruput mie ala-ala ramyun dari panci di depannya.
"Selamat makan, Oppa. Hahaha ..."
"Bodo, ah!" dengusnya.
Cukup sederhana, tapi nikmat. Aku jadi sedikit mengerti alasan adanya adegan makan mie berpiring panci. Karena hal itu akan membuat sang aktor terlihat tampan. Seperti suamiku ini. Makan pakai tutup panci pun, tak sedikit pun mengurangi tingkat ketampanannya.
"Apaan senyum-senyum begitu?" Ardian memergokiku yang tengah memperhatikannnya.
"Nggak apa-apa. Ayo makan!"
-----------------
--------------------------------
"Aku nggak bisa menjemputmu. Nggak tahu sampai jam berapa nanti aku ada di tempat Ardito."
"Nggak apa. Biar aku naik taksi saja." Aku pun turun dari mobil Ardian.
"Salam ke bapak dan ibu, ya! Aku pergi."
"He'em. Hati-hati!"
Lepas Maghrib, aku datang ke rumah orang tuaku. Ada beberapa yang aku beli saat aku dan Ardian ke Bali beberapa hari lalu dan aku ingin sedikit membaginya kepada mereka.
"Naya!" seru ibu ketika melihatku di ambang pintu. "Apa yang membawamu malam-malam datang ke sini? Apa kamu bertengkar lagi dengan suamimu?"
"Haiiish! Kenapa pikiran ibu jelek begitu?" Aku menghempaskan tubuhku ke sofa empuk di ruang tamu. "Nggak ada pertengkaran. Hubungan kami baik-baik saja."
Pertanyaan ibu membuat tarikan nafasku terasa berat. "Nggak akan bisa ingat, Bu. Kata dokter begitu."
"Oh, Naya! Betapa malangnya nasibmu, Nak." Ibu menarikku ke dalam pelukannya.
"Enggak. Ibu jangan khawatir! Nasibku nggak semalang itu, kok. Aku dan Ardian baik-baik saja dan aku akan berusaha membuatnya kembali jatuh cinta padaku."
"Ohw ... Park Min Young ibu yang manis. Fighting!"
"Hahaha ... Fighting!"
Memang benar, kalau keluarga adalah tempat yang paling nyaman untuk kita pulang. Terutama adanya seorang ibu. Sosok inilah yang membuat sebuah keluarga menjadi hangat. Aku tak bisa bayangkan kehidupanku akan jadi seperti apa tanpa adanya wanita hebat yang telah menagndungku ini.
"Bapak ke mana, Bu?" Aku edarkan pandanganku ke pintu kamar bapak, tapi tak nampak beliau keluar dari sana.
"Keluar sama Pak Amin. Sedang ada bisnis baru katanya," jawab ibu sambil membuka bungkusan plastik yang kubawa. "Oleh-oleh dari Bali ini?"
"Iya. Untuk ibu dan bapak."
"Wah, bagusnya!"
Sebuah kain batik khas Bali aku belikan khusus untuk mereka. Kedua orang tuaku ini penggemar produk lokal, jadi pasti suka motif-motif batik tanah air seperti ini.
"Makanlah dulu di sini, sebelum kamu pulang!"
Aku pun mengikuti langkah kaki ibu yang berjalan ke arah dapur.
"Wah, jengkol!" Aku langsung mengambil piring dan membuka penanak nasi. "Rejeki banget, deh!"
"Ibu udah ngerasa kalau kamu bakalan datang ke sini. Inilah yang dinamakan feeling emak-emak halu," kata ibu yang diikuti tawanya. "Makan yang banyak! Kamu bungkus juga boleh."
"Aku makan di sini saja. Ardian nggak suka bau jengkol."
Satu hal yang selalu membuatku kangen untuk pulang, masakan ibu. Masak apapun rasanya seperti hasil karya chef kelas dunia. Masakan ibu selalu yang terenak dan tak tertandingi. Anehnya, bakat masak itu tak pernah diturunkan pada anak gadisnya ini. Benar-benar berbanding terbalik denganku yang tak bisa masak ini.
----------
-----------------
"Salam ke bapak!" Aku melambai dari dalam taksi yang kunaiki.
__ADS_1
"Iya, hati-hati!"
Sekitar pukul 20.30 WIB, aku meninggalkan rumah orang tuaku. Aku ingin langsung pulang dan beristirahat. Akhir-akhir ini aku sering kurang tidur karena menyelesaikan novel yang diminta Ardian. Sialnya, aku pun tak sempat nonton drama pelakor yang sedang hits di Korea saat ini.
------------
---------------------
APARTEMENT ARDIAN
"Ah, capeknya!" Aku berjalan gontai setelah menyisipkan sepatuku ke dalam rak. "Ehm? Ardian? Kamu sudah pulang? Ardian?"
Sebuah suara gemerisik terdengar dari ruangan kerja Ardian. Aku lirikkan ekor mataku pada rak sepatu. Masih kosong. Tempat sepatu Ardian masih kosong. Itu artinya, dia belum pulang. Lalu, siapa yang ada di dalam?
Aku berjalan mengendap dengan tongkat kasti di genggaman. Jika memang itu pencuri, maka akan aku habisi dia. Akhir-akhir ini memang banyak kasus pencurian. Apa karena banyak napi yang mendadak dibebaskan?
"Di mana, ya?" Terdengar suara wanita yang tengah mencari sesuatu di laci meja Ardian.
Siapa? Itu jelas bukan Nadine. Aku sangat hafal warna suara wanita pelakor itu. Maling wanitakah?
Kuperhatikan dia dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dengan santainya, seorang wanita berambut sebahu sedang memeriksa setiap dokumen milik Ardian.
"Jangan-jangan, dia orang suruhan Om Hery," gumamku seraya meremas tongkas kasti di tangan. "Jika memang benar, akan kubabat habis dia."
Aku berlanjan mengendap. Sedikit berjinjit agar langkahku tak bersuara. Jantungku semakin berdegup kencang ketika jarak antara aku dan wanita mata-mata itu hanya beberapa langkah saja. Beberapa kali kutarik dan kuhembuskan nafas untuk menenangkan gemuruh hati dan kaki yang terus gemetar.
Tetapi, setakut apapun aku saat ini, tak akan aku biarkan para penjahat itu menghancurkan suamiku.
"Habislah, kau, wahai penjahat wanita!"
"Aaaargh!"
Kuayunkan dengan seluruh kekuatan jiwa dan raga sebuah tongkat kasti itu ke punggung si wanita misterius hingga dia tergeletak di lantai.
"Oh, ya ampun! Apa aku memukulnya terlalu keras? Apa dia sampai out?"
Aku meraih pergelangan tangannya, aku sentuh urat lehernya dan kudekatkan jemariku ke lubang hidungnya.
"Hah, syukurlah!" Aku langsung terduduk lunglai. "Syukurlah, aku nggak kebablasan. Sekarang aku harus cari tali sebelum dia sadar."
---------------
----------------------
"Siapa kamu, hah?! Apa kamu suruhan si Hery itu? Jika memang benar dia yang menyuruhmu, akan ku buatkan dia kopi rasa sianida."
Wanita itu terus menggeliat dengan tubuh terikat tambang dan mulut yang aku lakban.
----
"Naya, kamu belum tidur?"
"Ardian?!"
Aku segera berlari menuju pintu saat suara suamiku itu terdengar.
"Ardian, ada maling!" seruku.
"Apa?!" pekiknya.
"Seorang wanita asing memasuki ruang kerjamu dan mencari sesuatu di tempat dokumen-dokumen penting."
"Apa?! Serius kamu?" Ardian menatap tak percaya padaku.
"Serius. Aku bahkan menangkapnya. Aku memukulnya dengan tongkat kasti hingga pingsan. Aku ikat dia dengan tambang. Tak ketinggalan, aku lakban mulutnya. Ardian, aku curiga kalau dia adalah suruhan pamanmu yang gila itu."
"Di mana dia sekarang?"
"Ada di ruang tamu."
Mata-mata sekaligus pencuri itu pasti akan habis di tangan Ardian, aku yakin sekali.
"I--itu yang kamu maksud maling, Nay?"
"He'em." Aku menganggukkan kepalaku dengan mantap.
Ardian melangkah menghampiri wanita yang sudah aku lumpuhkan itu. Tubuh Ardian nampak gemetar. Sepertinya dia sedang kesulitan menahan amarahnya. Ardian mengulurkan tangannya untuk melepas lakban yang kutempel di mulut wanita itu.
"Ma--maafkan istriku, Ibu!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1