NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 42


__ADS_3

🎲 Takdir akan terus menggelinding, menyingkap semua rahasia besar 🎲


Dua puluh tujuh tahun lalu, sebuah tragedi hebat mengguncang keluarga Benedict Lim. Sebuah pernikahan besar diselenggarakan. Dua putra mahkota disandingkan dengan wanita pilihan sang ayah.


Dua wanita cantik dan elegant, tampak berdiri di altar pernikahan dengan seikat mawar putih, senada dengan gaun yang dikenakan.


Chatarina Benedict Lim kini resmi menjadi istri dari Juan Benedict Lim.


Irene Benedict Lim, resmi diperistri oleh Hans Benedict Lim.


Cukup terperanjat aku mendengar nama lelaki yang bersanding dengan Irene Benedict Lim--ibu. Aku menatap tak sabar pada kakek yang terlihat ragu untuk melanjutkan ceritanya hari itu.


***


Selang setahun pernikahan, pasangan Juan dan Chatarine dikaruniai seorang putri cantik dengan mata bulat--persis seperti sang ibu. Andini Benedict Lim namanya.


Sedangakan, pasangan Hans Benedict Lim dan Irene dikaruniai seorang putra yang diberi nama Ardito Benedict Lim.


Tak ada yang salah. Berbagai media mengabarkan keharmonisan dan kekompakan keluarga kami. Yang paling disorot adalah kekompakan dua bersaudara, Hans dan Juan Benedict Lim.


***


Tiga tahun berselang, dari pasangan Hans dan Irene Benedict Lim, lahirlah putra kedua mereka--Ardian Bemedict Lim--adikku. Lengkap sudah rona bahagia di antara mereka. Pun dengan Kakek yang puas karena merasa punya penerus laki-laki dalam keluarganya.


Beberapa bulan selang kelahiran Ardian, kejadian na'as pun terjadi. Hans--ayah kandung kami, mengalami kecelakaan ketika tugas kerja di luar kota.


Mata indah ibu, bibir yang selalu dihias lengkung, sirna. Setiap hari dihabiskannya untuk menangis dan merutuki nasibnya. Ditinggal seorang yang begitu dicintai, apalagi dengan adanya dua anak, itu tidaklah mudah, meski ibu seorang wanita yang mandiri.


"Bagaimana mungkin Ayah berpikir begitu? Irene adalah adik iparku. Tak mungkin kami menikah. Ada Chatarine bersamaku, juga anak kami."


Sebuah bantahan dengan berapi-api terlontar dari sang anak sulung. Namun, sang pemilik kerajaan tetap kukuh meminta pengorbanannya.

__ADS_1


"Aku perlu Ardito dan Ardian sebagai penerus. Daripada Chatarine yang tak bisa memberimu anak laki-laki, bukankah lebih baik bersamding dengan Irene?"


"Ayah?!"


"Juan!" sahut kakek. "Sekaranglah saatnya keluarga Benedict Lim meminta pengorbananmu."


Mengatas namakan keberlangsungan keluarga, ikrar pernikahan pun digelar. Juan Benedict Lim dan juga Irene.


Di malam pernikahan itu, ada seorang wanita yang remuk hatinya. Tergerus oleh ketidak berdayaan dan keegoisan sang tetua. Pergilah ia menyusuri gelap jalanan. Di tempat yang jauh--di sebuah panti asuhan dia berhenti.


"Ibu akan menjemputku, bukan?" Berkaca-kaca mata kecil itu menatap sang ibu.


"Kamu harus baik-baik saja, ya!"


Setelah beberapa kali menekan bel, pergilah ia meninggalkan sang putri. Menluncur dengan kecepatan tinggi di jalanan licin penuh genangan air. Seakan sudah sengaja, di perbatasan lampu merah, kala kontainer melaju cepat ke arahnya, dihantamkan mobil itu hingga remuklah raga, hilanglah nyawa.


***


"Kamu tak ingat kalau ada cerita seperti itu, Ardito?"


Andini--gadis kecil yang hilang itu, dia adalah Nadine.


"Di mana Naya berada, Kakek?"


Belum usai aku mencerna segala cerita Kakek, Ardian kembali ke ruangan dengan amarah yang kian membuncah.


"Dia tak ada di mana-mana. Jangan bermain-main denganku! Katakan yang sebenarnya! Di mana Naya!" teriak Ardian.


"Ardian, Naya nggak ada di sini," lirihku. "Jika feeling-ku benar, maka dia ada dalam bahaya sekarang."


"A--apa maksudmu?"

__ADS_1


"Kakek, sebaiknya Kakek siapkan banyak body gourd jika sewaktu-waktu aku menghubungi!" Aku pun melangkah meninggalkan kediaman utama keluarga Benedict Lim tersebut.


***


"Apa maksudnya ini? Di mana Naya?"


"Konsentrasi saja mengemudi, Ardian! Akan aku tunjukkan lokasinya padamu."


"Ardito, ada apa sebenarnya? Kamu terlihat pucat, tak seperti biasanya."


Untuk pertama kalinya aku tak bisa mengendalikan perasaan sampai Ardian bisa menyadari kegelisahanku. Sebuah headset aku tautkan pada ponsel dan memasangnya di telinga Ardian.


"Diam dan dengarkan saja!"


Aku rekam segala hal yang telah kakek ceritakan padaku tadi. Ardian berhak untuk tahu segalanya.


"Apa maksudnya semua ini, Ardito?!"


Ya ... aku bisa menebak dengan tepat reaksi adikku ini. Aku pun sama terkejutnya dengan dia.


"Jelaskan semuanya padaku!" ucapnya berapi-api.


"Kita telah hidup dalam lingkup keluarga gila, Ardian." Aku mulai membuka suara. "Demi meneruskan tahta keluarga, seorang suami mencampakkan istri dan putrinya, demi kita. Juan Benedict Lim--lelaki yang kita hormati sebagai sosok seorang ayah, nyatanya ... dia hanya pengganti untuk mengantarksn kita menuju singgahsana. Andini--putrinya. Anak kecil itu terbuang tanpa diketahui keberadaannya. Meski sekarang sudah ada di depan mata."


"Nadine?"


Aku mengangguk, mengiyakan.


"It's show time! Kita akan menghadapi perang besar sekarang. Saat ini, Naya pasti ada bersama mereka. Di tangan Ayah dan juga Nadine untuk merobohkan kita. Sejak awal, aku tak pernah percaya pada perempuan itu--Nadine."


Saat kemarahan pada masa lalu bertumpuk menggunung hingga tercipta kebencian, itulah masa di mana dendam tak terelakkan.

__ADS_1


Semoga tak terjadi apa-apa.


Semoga Naya baik-baik saja.


__ADS_2