NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 19


__ADS_3

(pov NAYA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


📖📖📖


Menulislah ...


Untuk mengabadikan sebuah kisah ...


📖📖📖


---------------------------------------------------------------------


RUMAH SAKIT


"Itu hasil tes terakhirnya. Coba kamu lihat!"


Ardito menelusuri setiap kata yang tertulis dalam selembar kertas itu. Kulihat wajahnya mulai tegang bersamaan dengan dilemparnya tatapan tajam pada dokter Zain.


"Ini artinya, Ardian tidak bisa mendapatkan ingatannya kembali?"


"He'em," angguk dokter Zain.


"Nggak mungkin."


Dalam kebingunganku, bergantian aku mengamati reaksi bingung dari kedua dokter itu. Ardito nampak meremas ujung kepalanya dengan ekspresi frustasi.


------------------


------------


Hari itu, aku dan Ardito datang bersama ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes yang dijalani Ardian. Namun sepertinya ada yang tak beres.


Sekeluarnya dari rumah sakit, Ardito terus diam. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan sedang tanpa bicara sepatah kata pun padaku.


"Dokter, ada apa sebenarnya?"


Dia diam. Entah dia mendengar pertanyaanku atau tidak. Dia hanya fokus pada jalanan lurus di depannya.


"Dokter ... aaaargh!" Aku tersentak kaget, saat kepalaku membentur kaca jendela karena Ardito menepikan mobilnya dengan kasar.


----------


"Naya, ingatan Ardian sudah dipastikan tak akan bisa kembali lagi," ucapnya, tiba-tiba.


"Apa? Kenapa?"


"Naya, kamu nggak perlu mengharapkan Ardian mengingat segalanya lagi! Biarkan saja dia melupakan semuanya!"


"Apa? Apa maksudnya, Dokter?"


"Kerusakan sel saraf Ardian cukup fatal dan kita tak bisa memaksanya untuk mengingat apapun yang telah terhapus dari memorinya," kata Ardito.


"Tapi, Dokter ..."


Bagaimana mungkin? Aku benar-benar tidak rela kalalu Ardian melupakanku.


"Kamu nggak perlu memaksanya mengingat semuanya, kamu hanya perlu untuk membuat memori baru dengannya!"


"Ma ... maksudnya?"


Ardito memamerkan senyum lebarnya padaku. Lesung pipinya terlihat manis saat dia tersenyum dengan ekspresi percaya diri begitu.


"Naya, jika Ardian melupakan cintanya padamu, yang perlu kamu lakukan hanya satu. Buatlah dia kembali jatuh cinta padamu!"

__ADS_1


-----------------------


-----------------


18.30 WIB


APARTEMENT ARDIAN


"Ah ... segarnya!" seruku, sambil berjalan keluar dari kamar mandi.


"Astaga, Naya! Apa yang kamu lakukan?"


"Apa, sih teriak-teriak begitu?" gerutuku, sambil mengeringkan rambut.


"Penampilanmu itu, apa-apaan?" teriak Ardian.


"Ada apa? Apanya yang salah dari penampilanku?" tanyaku, sembari menelisik badanku yang hanya terlilit handuk.


"Kembali ke kamar mandi dan pakai bajumu!" teriaknya.


"Dih, biasa aja kali! Dulu kamu juga sering lihat aku kayak gini," kataku, sembari mengerling jahil.


Tanpa mengindahkan gerutuan Ardian, aku berjalan gontai menuju lemari pakaian yang ada di sisi tempat tidurnya.


"Mau apa kamu?" tanya Ardian, saat aku meraih mini dress dari gantungan baju.


"Kamu nggak lihat aku mau ganti baju?"


"Di sini?"


"Iyalah. Di mana lagi?" jawabku, santai.


"Sudah gila, ya?"


Ardian segera menyambar selimut dan dililitkannya di tubuhku.


"Jangan bertingkah sembrono begini di depan laki-laki! Bahaya, tahu!" serunya.


"Di depan laki-laki? Di depanmu maksudnya?" sergahku. "Kamu, kan nggak punya rasa padaku, jadi fine-fine ajalah aku berpenampilan begini di depanmu."


"Gadis bodoh!" Ditoyornya keningku.


"Kenapa?" Aku menariknya mendekat padaku. "Apa kamu terganggu dengan penampilanku?"


"Apa?"


"Apa jantungmu berdebar-debar saat melihatku seperti ini? Apa darah panas seakan mengalir di tubuhmu? Apa sesuatu ..."


"Diam!" bentaknya. "Jangan bicara macam-macam!"


"Kenapa? Bukankah kita terikat sebuah hubungan yang halal, Ardian?" lirihku, dengan manahan air mata.


"Sepertinya kamu sedikit sakit," gerutunya, sambil beranjak meninggalkan kamar.


Huh! Aku tak percaya kalau aku akhirnya melakukan rencana dokter mesum itu. Aku benar-benar merasa menyedihkan karena berusaha keras menggoda suamiku sendiri.


Ya ampun!


---------------------


"Terima kasih," kata Ardian, saat aku menyodorkan secangkir kopi untuk menemaninya nonton TV.


Aku duduk di sampingnya sambil berkutat dengan laptop.


"Sedang apa?" tanya Ardian.

__ADS_1


"Nulis cerita yang mau kamu terbitin itu," jawabku.


"Coba lihat!"


Ardian melongokkan kepalanya ke layar laptopku. Kami jadi sedekat ini. Aku bisa melihat wajahnya yang begitu dekat denganku. Alisnya, matanya, rambutnya, bibirnya.


Astaga! Dia terlihat tampan sekali. Aku sungguh dibuatnya jatuh cinta setengah mati.


"Kenapa kamu melihatku sampai segitunya? Bikin merinding."


Aku segera mengalihkan pandanganku darinya saat Ardian memergokiku tengah memperhatikannya.


"Naya, kenapa kamu suka menulis?" tanyanya.


"Hem? Ehm ... apa, ya? Hobi mungkin," jawabku, asal saja. "Atau sekedar mengisi waktu luang."


Ardian nampak manggut-manggut mendengar jawabanku.


"Berdasarkan survey yang aku lakukan, ada tiga karakter penulis. Pertama, penulis yang suka menulis kisahnya sendiri. Kedua, penulis yang suka menulis kisah orang lain. Ketiga, penulis yang menulis inajinasinya. Kamu termasuk yang mana?"


"Ehm ... nomor tiga kayaknya," jawabku, sekenanya.


"Iya cocok, sih. Kamu, kan emang tukang halu. Hahaha ..."


"Ah, sialan!" Kusambarkan telapak tanganku di punggungnya.


"Naya, menulis itu bukan hanya sekedar berimajinasi, tapi juga untuk mengabadikan sebuah kisah," kata Ardian.


"Mengabadikan kisah?"


"Ya, entah itu kisah nyata, fiksi atau sekedar imajinasi, segala yang muncul di ingatan itu harus diabadikan. Dan apa yang paling tepat untuk mengabadikannya? Tulisan. Itulah cara mengabadikan yang sangat aman. Tak akan mudah untuk dilupakan."


"Begitu, ya?"


Ardian menyeruput kopi di tangannya sambil mengganti channel televisi.


"Ngomong-ngomong, bagaimana aku bisa tahu kalau pembaca menyukai tulisanku?" tanyaku.


"Ehm ... aku nggak begitu paham soal itu, sih. Tapi mungkin saat kamu berhasil membuat pembaca tertawa saat kamu buat scene bahagia. Kamu berhasil membuat pembaca marah saat kamu buat scene marah. Dan kamu berhasil membuat pembaca menangis saat kamu buat scene sedih. Mungkin begitu."


"Kalau ada pembaca yang pengen ngirim santet online padaku, apa itu termasuk kalau aku berhasil membuat pembaca menyukai ceritaku?" tanyaku.


"Santet online? Hahaha ... ada yang seperti itu, Nay?" tawanya.


"Ada," jawabku, dengan bodohnya. "Waktu aku bikin cerbung tentang poligami. Huh! Banyak yang kirim inbox padaku. Ada yang nyumpah-nyumpahin, ada juga yang mau kirim santet online."


"Kenapa bisa begitu? Hahaha ..." Ardian nampak terpingkal-pingkal.


"Tahu, tuh! Katanya, sih mereka kesal karena aku bikin pemeran utama menderita terus."


"Hahaha ... luar biasa!" tawanya, semakin menjadi-jadi. "Berarti kamu sukses mengaduk-aduk perasaan pembacamu, Nay. Itu keren, lho! Hahaha ..."


"Udahalah, berhenti tertawa! Bikin aku tambah ngenes aja," gerutuku. "Tapi, Ardian ... bolehkan aku menuliskan kisah kita dalam sebuah cerita?"


"Kisah kita?" Ardian mengernyitkan dahinya. "Emang kisah kita seseru itu?"


"Mungkin," jawabku.


"Astaga, dasar tukang halu," katanya, sambil mengusap ujung kepalaku.


"Kalau kamu nggak bisa mengingat tentang aku di masa lalu, maka aku akan menceritakan kisah itu padamu dalam sebuah buku."


Lelaki itu menatap dalam padaku. Sedikit senyuman dia berikan untukku.


"Baiklah. Akan aku nantikan kisahku bersamamu yang sudah aku lewatkan, Naya."

__ADS_1


Benar. Jika menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan sebuah kisah, maka aku pun akan menuliskan kisah kita. Aku pasti akan mengabadikannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2