NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 6


__ADS_3

Andai saja mimpi ini terus berlanjut, aku tak perlu bangun lagi. Aku rela pejamkan mataku hanya demi melihat hadirnya. Jika saatnya telah tiba, aku harus merelakannya. Saat dia melangkah ... hilang entah ke mana.


***


"Naya, apa kamu menganggap serius pernikahan kita ini?"


"Apa?!"


Aku cukup terkejut mendengar ujarnya. Seakan dia sedang berkata bahwa aku tak punya hak sedikit pun berharap lebih untuk pernikahan ini.


"Jadi, kamu masih mencintai Nadine?" tanyaku.


"Aku bersamanya selama delapan tahun. Nggak segampang itu untuk membuangnya dari kehidupanku."


"Jadi kita pasti akan bercerai suatu hari nanti, ya?"


Aku muak sekali saat dia melempar tatapan iba padaku. Aku sungguh tak butuh untuk dikasihani. Menyebalkan.


Melihat ekspresinya itu membuatku seperti sedang mengunyah Amoxicillin 500 mg. Pahit.


"Oke, aku nggak peduli juga. Mau menceraikan aku atau enggak, itu terserah padamu. Bukankah dari awal pernikahan ini memang tidak sehat? Kita hanya saling memanfaatkan." Aku beranjak ke arah pintu keluar.


"Kamu mau ke mana? Ini sudah malam?"


"Aku ... aku sedang nggak ingin melihatmu, Ardian," lirihku.


"Naya!" Diraihnya tanganku. "Kamu marah padaku?"


Aku menggeleng dan melepaskan tangannya dariku.


"Aku hanya sedang merutuki kebodohanku."


***


Berguling ke kanan dan ke kiri. Itulah yang kulakukan di kasur kesayanganku, di rumah ibu. Tepatnya aku pulang ke rumah orang tuaku.


Aku kesal sekali. Aku marah sekali pada Ardian. Jika melihatnya di hadapanku, mungkin akan aku siram mukanya pakai air cucian piring di dapur ibuku. Atau aku ambil segenggam sambal terasi buatan ibu dan aku 'ucek-ucek' di mukanya.


Ya, itulah yang ingin aku lakukan padanya. Akan tetapi, pada kenyaataannya, dia sama sekali tak mencariku. Telepon? Kirim chat? Tidak sama sekali. Manusia menyebalkan itu, benar-benar tak tahu diri.


Pada akhirnya, aku minta Stevia untuk menggantikan shift kerjaku. Tubuh dan otakku sedang dalam mode penolakan untuk beraktifitas. Rasa yang ganjil. Marah tanpa tahu sebab.


"Naya!" Tiba-tiba Ibu masuk ke kamarku. "Eh, coba itu kamu lihat ke ruang tamu, deh!"


"Ada apa?"


"Ayo, cepat!"


Ibu menarikku dengan paksa menuruni tangga. Kakiku pun tercekat saat melihat Ardian sedang duduk di ruang tamu bersama Bapak pagi itu.


"Kok, dia ada di sini?" tanyaku pada Ibu.


"Sssttt! Diam dan dengerin aja!"


Kami berdua duduk di tikungan anak tangga dan menguping pembicaraan Ardian dan bapak.


Sebenarnya, melihatku yang mendadak datang ke rumah tengah malam begitu, Bapak dan Ibu langsung menduga bahwa kami sedang bertengkar. Ya, tapi itu memang benar, sih.


"Naya ada di sini, 'kan, Pak?" tanya Ardian.


Dengan muka garangnya, Bapak menatap Ardian. Suamiku itu tampak 'celingukan'. Siapa yang tidak ciut nyalinya melihat kumis Bapak yang tebel dan segede itu?


"Pria macam apa yang membiarkan istrinya pulang ke rumah orang tuanya tengah malam sendirian begitu?" tanya Bapak.


"So--soal itu ... ada sedikit kesalahpahaman, Pak."


"Sedikit katamu?!" Suara menggelegar Bapak diiringi suara gebrakan meja.


Ardian tampak terperanjat dengan bola mata yang hampir keluar. Dia terlihat ketakutan. Sangat kasihan.


"Bagaimana pun pertengkaran suami-istri, harusnya kamu tidak membiarkan istrimu keluar rumah dalam keadaan marah begitu! Itu tidak baik," kata Bapak. "Bisa-bisanya kamu nunggu pagi dulu baru menjemputnya ke sini."


"Ma--maafkan saya, Pak! Karena tadi malam saya merasa sangat lelah dan banyak persoalan, jadi tanpa sadar ... saya jadi ketiduran."


"Apa katamu?!" pekik bapak.


Dasar si bodoh itu. Jawaban macam apa yang ia lontarkan barusan? Tak punya kepekaan sama sekali. Aku dan ibu sama-sama terkekeh melihat ekspresi bingung Ardian.


"Jadi, kamu datang ke sini mau menjemput istrimu atau sekedar minta maaf padanya, hah?!"


"Ka--kalau bisa, sih dua-duanya, Pak," jawab Ardian. "Saya sudah bersalah pada Naya. Saya harus minta maaf dan kalau dia mau, saya ingin mengajaknya pulang bersama saya!"


"Naya itu anaknya keras kepala. Kalau kamu nggak pinter-pinter megang dia, itu anak bisa kabur entah kemana," kata Bapak, dengan sedikit tawa di bibirnya. "Sini! Bapak bisikin cara cepat menghempas ngambeknya Naya."


***


"Nay, aku masuk, ya."


Setelah lama berbincang dengan bapak, Ardian pun masuk ke kamarku di lantai dua. Aku pun hanya duduk di beranda tanpa peduli dengan kedatangannya.


"Nay, kamu masih marah?" tanyanya, sambil duduk berselonjor di sampingku. "Semalaman aku nggak bisa tidur, tahu!"


Idih ... gombal banget! Perasaan tadi dia bilang ke bapak kalau dia ketiduran semalaman, deh.

__ADS_1


"Nay, kita pulang, ya!" katanya. "Duh! Aku nggak enak sama bapak dan ibu, nih kalau kamu di sini terus."


"Kenapa?" Aku mulai beremosi. "Hubungan kita, 'kan cuma sebatas saling memanfaatkan. Ya udah, kita nggak perlu tinggal bersama, dong!"


"Kamu masih mempermasalahkan soal itu?"


"Tentu saja!" sergahku.


"Terus kamu ingin kita bagaimana?" Dia menghadapkan duduknya padaku.


"Aku ... aku nggak suka kamu masih berhubungan dengan Nadine."


"Apa?!"


"Tidak ... tidak ... jangan salah paham!" sahutku. "Setidaknya, jangan pernah berhubungan dengannya saat aku masih sah menjadi istrimu! Aku nggak terima kalau dia meremehkanku."


"Hahaha ... lucu banget, sih kamu!" Diusapnya kepalaku dengan lembut. "Ayo, kita pulang!"


Ardian tiba-tiba menarikku ke dalam pelukkannya.


"A--apa yang ...?"


"Pulang bersamaku, ya! Please!" katanya, dengan memelukku semakin erat.


"Ba--baiklah! Kita pulang!"


"Serius?!" Dia nampak terlonjak kegirangan.


"He'em."


"Wah ... luar biasa!" serunya. "Ternyata tips dari bapak benar-benar berhasil."


"Hah?! Tips apa?!"


"Bapak tadi bilang ke aku. Kalau pengen ngambekmu hilang, maka kamu harus dipeluk dulu."


"A--apa?! Ja--jadi ... kamu meluk-meluk aku barusan karena disuruh bapak?!" geramku.


"Iya."


"Dasaaaar! Pergi dari sini sekarang juga! Pergiiiii ...!"


"Lho ... tadi katanya kamu mau pulang sama aku?"


"Enggak. Nggak mau! Pergiii ... pergi sanaaa!"


Pada akhirnya ... Ardian pulang sendirian.


Duh! Ingin kutendang saja dia.


***


Ya ampun! Katanya nggak mau balik ke sini lagi. Kenapa sekarang aku malah berdiri di depan pintu apartementnya, sih? Kalau aku kembali ke rumah pun, bapak pasti akan marah-marah padaku.


Huft! Malang sekali nasibku ini.


Kutempelkan acsess card pada pintu itu. Kuraih gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka.


"A--Ardian! A--apa yang ... apa yang kamu lakukaaaaaan?!" teriakku.


"Na--Naya?!"


Astaga! Apa-apaan ini? Tubuhku serasa lemas. Tulang-tulang serasa dicabut semuanya.


Ardian--suamiku itu--aku memergokinya tengah berpelukan dengan wajah bahagia bersama seorang lelaki. Syok? Pastinya.


"Naya, kamu pulang?"


"Jangan! Jangan mendekat padaku!" teriakku.


"Bisa-bisanya kalian! Bisa-bisanya kalian berbuat mesum di rumahku."


"Apa? Kamu ngomong apa sih, Nay?"


Tak cukup dia membuat perasaanku terombang-ambing karena Nadine. Sekarang, dia justru membawa seorang pria.


Duh Gusti! Ternyata gosip yang dibilang Lusi soal Ardian itu benar. Ardian ... dia ... suka sesama?


"Ardian, dia istrimu yang kamu ceritakan itu?" tanya pria itu.


"Iya."


Ya ampun! Ardian sampai menceritakan tentang aku padanya. Seberapa jauh sebenarnya hubungan mereka?!


"Ardian, suruh dia pergi dari sini atau aku yang akan pergi dari sini!" ancamku.


"Mana mungkin. Aku sangat membutuhkannya, Nay!" kata Ardian.


"Apa katamu?!" seruku. "Jadi kamu lebih memilih dia ketimbang aku? Ardian, aku ini wanita. Aku ini istrimu. Bagaimana mungkin kamu lebih memilih dia ketimbang aku? Huhu ... hu ... hu ...!"


"Lho ... Nay! Kok, kamu nangis, sih?"


"Jahat! Jahat kamu, Ardian! Kamu lebih memilih pacar lelakimu itu daripada aku!"

__ADS_1


"Pa--pacar?!"


Ardian dan pria itu nampak saling berpandangan kebingungan.


"Ha ... haha ... haha!" tawa pria itu pun meledak memenuhi ruangan.


Dia nampak terguling-guling di sofa sembari memegangi perutnya.


"Iiish ... gadis bodoh ini!" geram Ardian.


"Duduk sini, kamu! Cepetan!"


Aku melihat pria itu terus tertawa di depanku. Dan nampak wajah Ardian yang merah seperti gunung merapi yang siap mengeluarkan magma panas di dalamnya.


"Kamu Naya, 'kan? Boleh kita kenalan dulu nggak?" kata pria itu, sambil menahan tawa.


Dia mengulurkan tangan tapi aku enggan menggapainya. Ardian lalu menyenggol lenganku untuk menyambut uluran tangannya.


"Ardito," katanya. "Senang bisa bertemu langsung dengan istri dari adikku. Adik kandungku."


"A--adik?"


"Yupz! Adik," kata Ardito. "Aku lebih tua tiga tahun darinya. Sudah lama kami nggak bertemu. Wajar, dong kalau kami berpelukan. Ya, kan? Apa kami terlalu mesra sampai membuatmu cemburu, Adik Ipar? Haha ...."


Kalau memang bisa kubuang, sudah aku buang ini muka. Memalukan!


"Baiklah, Ardian kita lanjutkan besok di kantor! Ini sudah malam. Aku balik dulu," kata Ardito. "Dan sepertinya kita akan lebih sering bertemu, Naya. Sampai besok, ya!"


Rasanya aku tak punya muka untuk menatap Ardian.


"Jadi, apa maksudnya itu?" Ardian menatap dingin padaku.


"A--apa?"


"Suka sesama. Kenapa kamu menyebut aku suka sesama, hah?!" teriaknya.


"Enggak tahu! Itu cuma gosip yang aku dengar dari Lusi. Di kantor banyak yang bergosip kalau kamu itu..."


"Kamu percaya?" sergahnya.


Aku pun mengangguk dengan bodohnya.


"Astaga ... benar-banar!" geramnya. "Sini, kamu!"


Ardian menarik tanganku dan membawaku menuju kamar. Dia menarik dan menutup pintu kamar dengan kasar. Dikuncinya pintu itu dengan menatap kesal padaku.


"Ma--mau apa, kamu?"


"Ngebukti'in ke kamu kalau aku ini beneran pria normal atau enggak!" jawabnya.


"Hah?! Apa?!"


Duh ... habislah aku!


"Ardiaaan ...! Duh ... berhenti bercanda, deh!"


"Aku nggak sedang bercanda, tahu!" katanya, sambil terus menggiringku berjalan mundur.


"Jangan macam-macam, Ardian!" seruku, ketakutan.


"Bodo amat! Aku mau macam-macam padamu pun, halal-halal saja," katanya. "Kamu mau bukti aku normal atau enggak, kan? Ayo, kita buktikan sekarang!"


"Oke ... oke aku percaya! Ampuni aku! Ampuuun!"


Kukatupkan kedua tanganku dan berlutut memohon padanya.


"Dasar!" Digetoknya keningku. "Lain kali, pakai otakmu dengan benar!"


"Iya. Aku minta maaf! Maaf!"


"Kemari!" Ardian kembali menarikku kepadanya dan memelukku. "Terima kasih sudah pulang ke sini, Naya! Aku sangat berterima kasih."


"Wah ... apa saat ini kamu sedang melakukan tips dari bapak?" tanyaku, kesal. "Hentikan! Sudah nggak ada gunanya lagi untuk meredam ngambekku."


"Enggak! Saat ini, aku sedang mengambil sedikit semangat darimu. Aku ingin kamu membagi semangatmu padaku. Agar sampai akhir, aku bisa tetap bertahan dan berjuang!


Tetaplah bersamaku sampai saat itu, Naya! Aku mohon!"


"Sebenarnya ada apa? Apa terjadi sesuatu yang amat berat?" tanyaku.


"He'em. Aku sedang perlu pundak untuk bersandar. Aku butuh seseorang yang akan mengatakan padaku, 'Nggak apa, semua ini akan segera berlalu. Semua akan baik-baik saja'. Aku ingin ada yang mengucapkan itu padaku."


Kutepuk-tepukkan perlahan tanganku ke punggungnya.


"Nggak apa. Semua akan berlalu dan baik-baik saja. Kita akan melaluinya bersama. Kamu nggak sendirian, Ardian."


"Terima kasih. Terima kasih banyak, Naya."


Meski aku masih tak mengerti dengan situasi apa yang sebenarnya tengah Ardian alami, tapi selama dia tak memintaku menjauh darinya, aku akan tetap ada untuknya.


Entah sejak kapan, hatiku mulai menghangat saat aku bersamanya.


***

__ADS_1


__ADS_2