NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 2


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


πŸŒΏπŸ‚πŸŒΏ


Kita tak akan pernah tahu ...


Bagaimana Tuhan menulis takdir kita ...


Saat ini ...


Mungkin kita sedang tertawa bahagia ...


Tapi ...


Bagaimana dengan hari esok ...


Akankah masih bisa tertawa ...


Atau justru ... ada air mata ...


πŸŒΏπŸ‚πŸŒΏ


---------------------------------------------------------------------


"Aah ... capeknya!" keluh Ardian sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


"Nggak nyangka tamunya banyak banget."


"Ehm ... anu ...," ucapku ragu. "Untuk masalah tidur ... ba--bagaimana kalau kita ..."


"Apa?" sahutnya. "Kamu ingin melakukannya sekarang?"


"Hah?! Apa?!" pekikku. "Me--melakukan apa maksudmu?!"


"Memang apalagi yang akan dilakukan suami istri di malam pertama?"


"Ooh ... ya ampun! Hei ... Ardian!" Suaraku mulai meninggi. "Astaga! Tadinya aku ingin menghormatimu karena kita baru saling mengenal. Tapi sepertinya kamu benar-benar nggak bisa diajak diskusi, ya! Dasar ... laki-laki menyebalkan! Kamu nggak lupa, kan gimana ceritanya kita bisa sampai menikah begini?


Ya ... ya ... aku tahu, kamu suamiku sekarang dan aku punya kewajiban untuk melayanimu. Tapi ... aku ... aku belum tahu orang seperti apa dirimu dan aku ... aku nggak bisa melakukan hal seperti itu dengan orang asing, meski suamiku sendiri."


"Oke ... oke .. aku paham," sahutnya. "Lagi pula ya, tukang halu ... kalau kamu ingin menarik perhatianku, buatlah tubuhmu itu sedikit berisi! Kamu terlalu kerempeng. Pakailah baju yang sedikit seksi di depanku! Dengan begitu, mungkin aku akan sedikit melirikmu."


"Jadi maksudmu, aku nggak menarik, begitu?!" geramku.


"Ya ... itu kenyataan."


"Iisssh ... dasar!"


"Aku mau berendam air hangat. Capeknya!" kata Ardian sembari berlalu ke kamar mandi.


------


Ardian Benedict Lim.


Sekarang aku tahu kenapa aku bisa salah mengira kalau dia Ji Chang Wook Oppa. Ternyata dia adalah keturunan darah Korea.


Hebatnya, sekarang aku terjebak dalam sebuah pernikahan absurd karena kegilaan lelaki aneh ini.


--------


----------------


HOTEL JCW


3 MINGGU LALU


"Kamu ... menikahlah denganku"


"Apa?!"


Menikah katanya?!


Siapa dia, tiba-tiba mengajakku menikah?!


"Pak Ardian, apa dia kekasih, Anda? Apa dia wanita yang bersama Anda di hotel waktu itu?" cercah seorang wartawan.


"Ya. Dia adalah calon istriku."


----------------------


---------


KAMAR HOTEL ARDIAN


"Hah ... ya ampun! Kenapa wartawan-wartawan itu terus menggangguku?" keluh Ardian.


"Kamu sendiri ... kenapa membawaku ke sini? Kenapa mengunciku di kamar hotel begini? Mau berbuat mesum, ya? Aku panggil polisi, nih." Aku bersiap menekan nomor darurat di ponselku.

__ADS_1


"Tunggu!" Ardian meraih ponsel dari tanganku. "Aku mohon, bantu aku!"


Wajahnya berubah mengiba di depanku. Menatapku sayu dengan penuh pengharapan.


"Bantu aku menyelamatkan nama baikku, juga perusahaanku! Aku mohon!" bujuknya.


"A--apa maksudmu?"


"Tidak bisa aku ceritakan sekarang. Pokoknya ... menikahlah denganku!"


"Sudah gila, kamu ya?!" bentakku. "Kita baru ketemu sepuluh menit yang lalu dan kamu sudah ngajak aku nikah. Benar-benar orang mesum!"


"Aku bukan orang mesum! Aku sungguh butuh bantuanmu. Aku mohon! Bagaimana kalau enam bulan saja? Jadilah istriku selama enam bulan saja! Hem?"


"Cuci sana otakmu pakek desinfektan!" ucapku sembari melangkah menuju pintu keluar.


"Lima ratus juta, satu milyar. Apapun akan aku berikan, asal kamu mau membantuku," teriaknya.


"Apapun?!" Aku berbalik menatapnya.


Dia mengangguk dengan wajah seriusnya.


"Aku pewaris kantor penerbitan terbesar, GLORYA. Akan kuberikan apapun yang kamu mau," katanya.


"Oke, deal!" Aku menjabat tangannya.


-----------------------


--------------------


SAAT INI


04.00 WIB


Aku mengedarkan pandanganku ke setiap sudut kamar apartemen mewah itu.


Huwaaaaaa!


Apa yang sudah kamu lakukan, Naya?!


Benar-benar bodoh! Bagaimana bisa aku menyetujui keinginan gila lelaki itu? Aku bahkan terbujuk iming-iming yang diberikannya. Aku ini sungguh memalukan.


Menyedihkan sekali!


Pada akhirnya, aku terjebak bersama seorang kepala editor bernama Ardian Benedict Lim. Entah rencana apa yang sebenarnya ada di pikirannya.


Entah aku sedang beruntung atau buntung.


----------


Aku langkahkan kakiku keluar dari kamar. Nampak Ardian masih meringkuk di sofa. Dia lebih memilih tidur di sofa ruang tamu karena aku menempati ranjangnya.


Ya ... setidaknya dia tahu cara menghormati wanita.


--------


06.30 WIB


Kulihat Ardian nampak nemukul-mukul galon air minum.


"Nay, kamu lihat ponselku?"


"Ada, tuh di meja komputermu!" kataku sambil menyiapkan nasi goreng di meja makan.


"Mau telpon siapa kamu pagi-pagi begini?"


"Security."


"Hah? Untuk apa?"


"Ini ... ganti'in air galon," jawabnya, santai.


"Tu--tunggu!" Aku letakkan piring dan menghampirinya. "Kamu ... kamu mau nyuruh security buat ganti'in air galonmu?"


"Iya. Tiap hari juga gitu kalau air galonku habis."


"Ampun, deh nih orang!" geramku. "Jangan-jangan kamu nggak kuat ya ngangkat galon?"


"A--apa?!" serunya, dengan salah tingkah. "Hei ... bukannya aku nggak kuat, ya! Tapi tanganku ini sangat berharga. Nggak boleh terluka sama sekali. Aku ini seorang kepala editor."


Tanpa ba--bi--bu, kuangkat galon air tersebut dan menuangkannya ke atas dispenser.


"Uwaaah ... itu tadi kelihatan keren!" serunya takjub.


Kuhampiri dia dan kutepuk-tepuk otot lengannya.


"Sayang sekali. Otot sebagus ini, nggak ada gunanya," cibirku.

__ADS_1


"Hei ... sudah aku bilang, tanganku ini berharga. Aku seorang kepala editor!" teriaknya dengan muka memerah menahan malu.


"Cepat habiskan sarapanmu! Kita mau beli double bed, kan?"


-------


------------


TOKO FURNITURE


Mumpung masih dapat libur kerja, aku dan Ardian memanfaatkan waktu untuk belanja kebutuhan rumah tangga. Salah satunya ... tempat tidur.


Karena apartement Ardian merupakan single room, jadi hanya ada satu kamar tidur di sana. Salah satu dari kami pun tak mungkin tidur di ruang tamu terus, kan? Karena itulah kami memutuskan tidur di kamar yang sama tapi dengan dua tempat tidur.


"Wah ... semuanya kelihatan bagus!" seruku.


"Sudahlah ... cepat pilih! Udah satu jam tahu kita keliling di dalam sini," gerutu Ardian.


"Ya, kan pilih tempat tidur nggak boleh sembarangan. Harus yang sweet dan cocok di hati."


"Bodo amat!" geramnya.


"Mbak ...," panggilku, pada pegawai yang memandu kami. "Ada nggak yang bagus, yang empuk, yang nyaman tapi yang harganya murah?"


"Aah ... kalau itu, sih. Ahaha ... haha ...!" Si mbaknya nampak tertawa dengan ekspresi frustasi.


"Duh ... dasar wanita!" geram Ardian. "Mbak, kami minta double bed merk terbaru ukuran 160X200 ya! Ini alamat pengirimannya!"


---------------------


-----------------


DI SWALAYAN


"Ardian, kamu suka jamur nggak?" tanyaku, sembari melihat-lihat jamur tiram.


"Terserah. Aku ini omnivora," jawab Ardian dengan terus memainkan game di ponselnya.


"Kamu suka minum susu merk beruang nggak? Kita perlu nyetok nggak, sih?" tanyaku.


"Nggak perlu. Kan, udah ada kamu. Haha ... haha ...!"


"Dasar!"


"Aduuuh!" rintihmya saat telapak tanganku dengan keras mendarat di punggungnya.


"Makanya cepetan dikit dong belanjanya! Ya ampun ... sampai bosan aku!"


"Ya ... ini, kan aku lagi nyari diskonan."


"Halah ... emak-emak banget, sih kamu tuh!" kesalnya.


---------


"Ardian!" Seorang wanita cantik tiba-tiba muncul di belakang kami dan menyapanya.


Ardian yang dari tadi nampak pecicilan dan kesal tiba-tiba wajahnya berubah serius.


Bergantian aku menatap mereka. Tak salah lagi ... sepertinya ada 'something' di antara mereka.


"Kamu sedang belanja?" tanya wanita itu.


Ardian menarikku ke dekatnya. "Iya. Aku mengantar istriku," katanya.


"Oh begitu."


"Maaf ... kami sudah selesai berbelanja. Kami duluan. Ayo, Nay!" Ardian menyeretku keluar dari swalayan tersebu.


--------------


------------


Ditutupnya pintu mobil dengan keras. Air mukanya nampak berubah menyeramkan setelah bertemu dengan wanita tadi.


"A--Ardian ...! Kamu ... kamu baik-baik saja?" tanyaku, sedikit takut.


Dia tak merespon. Nafasnya terlihat naik turun seperti memahan emosi.


"Nay, aku ingin minta sedikit bantuan padamu," katanya tiba-tiba. "Kalau kita bertemu dengan wanita itu lagi, kamu harus bersikap sebagai istriku! Benar-benar sebagai istriku."


"Eh? Kenapa? Emang siapa dia?"


"Mantan pacarku. Yang sekarang jadi istri ayahku."


"Hah?!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2