
🌺Di antara kesunyian, kehadiranmu membawa perubahan. Mengganggu setiap hariku. Kini, aku tak lagi kesepian. Bising mewarnai setiap langkahku🌺
***
"Halo." Aku tekan loudspeaker dari ponselku.
"Nay, kamu udah pulang?" Suara Ardian terdengar dari ponselku.
"Sepuluh menit lagi. Ini aku masih ngerjain sediaan kapsul," jawabku, sambil memasukkan serbuk puyer ke dalam cangkang kapsul. "Ada apa?"
"Boleh minta tolong nggak?" tanya Ardian.
"Haduh, sorry. Aku nggak nerima permintaan tolong."
"Hahaha ...." Terdengar tawanya dari seberang telpon. "Nay, aku ada rapat setengah jam lagi. Berkasku ketinggalan di meja kerja di rumah. Kalau kamu pulang, tolong anterin ke kantor, dong!"
"Haiiish ... benar-benar merepotkan!" gerutuku.
"Ayolah, istriku tercinta! Suamimu yang ganteng kayak aktor Korea ini sangat butuh bantuanmu, lho. Hahaha ...."
"Dasar!" Aku jadi terkekeh dibuatnya. "Baiklah, sepuluh menit lagi aku ke sana."
"Makasih, penulis amatir."
Aku pun dibuatnya tertawa begitu sambungan telpon dimatikan.
Kadang, aku sendiri tak mengerti bagaimana hubunganku dengan Ardian. Kami menikah, tapi tak pernah saling menyentuh. Kami berteman, tapi tinggal bersama.
Entahlah. Hubungan kami memang sedikit rumit. Namun, selama tak saling merugikan, tak masalah jika terus seperti ini.
"Nay, nitip obat untuk Pak Agus, ya!" kata Dokter Rahmi, saat aku hendak pulang.
"Obat apa ini, Dok?"
"Perangsang."
"Pe--perangsang?!"
Aku bersiap ambil gawai untuk mengabadikannya, sampai Dokter Rahmi mencekal tanganku.
"Kumat, ya penyakitmu? Suka ambil foto sembarangan," geramnya, dengan mata melotot.
"Hahaha ... peace, Dok!" Aku nyengir kuda dan kembali memasukkan ponselku ke dalam tas.
Di apotek tempatku kerja juga ada praktek dokter umumnya. Dokter Rahmi--cantik dengan tubuh gedenya. Baby face dengan sifat yang ramah dan murah senyum.
"Kenapa Pak Agus minta obat perangsang, Dok? Bukannya yang dititipin ke saya biasanya Gliben Clamide untuk obat diabetes, ya?" tanyaku.
"Ya ... itu masalahnya," sahut Dokter Rahmi.
"Akhir-akhir ini beliau mengalami penurunan libido. Jadi minta obat ini."
"Oh ... begitu."
Seringkali terjadi. Seorang yang menderita diabetes bisa mengalami beberapa gangguan organ. Seperti ginjal, saraf dan mata. Namun, pada kasus seorang lelaki, hal yang lebih sering terjadi adalah gangguan organ seksual. Ada yang mengalami penurunan libido.
Hal tersebut disebabkan karena menurunnya hormon testosteron dalam tubuh.
***
Sebuah kantor penerbitan besar. Gedung megah bertingkat, entah berapa lantai. Aku tak menghitung. Perusahaan milik keluarga Benedict Lim. Inilah kantor penerbitan GLORYA.
"Mbak, ruangan Pak Ardian di mana, ya?" Kuhampiri seorang reseptionist.
"Apa sudah buat janji?" tanya si mbak reseptionist.
"Ah ... saya Naya. Istrinya."
"Oh?! Maaf, Bu!" Si mbaknya langsung berdiri dan membungkukkan setengah badannya di depanku. "Maaf, saya tidak mengenali, Anda.
"Ah, iya nggak apa," kataku dengan agak segan. "Ruangan suami saya di mnana ya, Mbak?"
"Lurus saja, Bu! Sebelah kanan ada ruang editing. Di situ ruangannya."
"Oh, oke. Makasih, ya."
"Iya, sama-sama," katanya dengan tersenyum manis.
"Ternyata itu istrinya Pak Kepala Editor." Terdengar si mbak reseptionist berbisik.
"Ternyata istrinya beneran perempuan tulen, ya." Teman sebelahnya ikut ghibah.
Membicarakan atasan di belakang itu hal lumrah. Aku sendiri juga seorang karyawan. Aku juga sering ghibah tentang bosku bersama Stevia.
Sampai di depan ruanh editing, aku sedikit mengetuk pintu kaca di hadapanku dan masuk ke dalam.
"Thanks," kata Ardian saat menerima berkas yang aku sodorkan padanya. "Kamu mau menungguku? Sejam lagi aku selesai."
"Oke, deh," jawabku.
"Lusi, bawa buku-buku yang akan diterjemahkan ini ke perpustakaan, ya!" kata Ardian pada asistennya.
"Iya, Pak," jawab Lusi.
"Aku tinggal dulu, ya, Nay," pamitnya.
"Mau aku bantu?" tanyaku, saat melihat gadis muda berkaca mata tebal itu kesulitan membawa beberapa tumpukan buku.
"Tidak usah, Bu! Biar saya saja!" jawabnya, sungkan.
"Nggak apa. Ayo, deh aku bantuin!"
"Te--terima kasih."
__ADS_1
Sebuah ruangan yang sangat besar dengan banyak sekali buku. Mataku dibuat takjub. Ini pertama kalinya aku melihat buku sebanyak ini.
Terima kasih bantuannya, Bu," kata Lusi.
"Jangan panggil aku Bu, dong! Panggil Naya aja, ya!"
"Ba--bagaimana bisa? Anda, kan istri atasan saya," katanya, malu-malu.
"Hei ... ayolah! Kelihatannya kita seumuran. Santai saja, ya! Kalau dipanggil ibu, aku berasa tua jadinya. Hahaha ...."
"Ahaha ... okelah!" jawabnya. "Eh, Nay ... boleh aku bertanya?"
"Katakan!"
"Ehm ... apa kamu dan Pak Kepala, benar-benar menikah?" tanyanya.
"Apa?! Maksudmu?!"
"Mohon maaf, nih sebelumnya. Aku hanya penasaran saja. Habisnya, banyak gosip aneh yang beredar soal Pak Kepala, sih."
"Oh, ya? Gosip apa?" Rasa 'kepo'ku mulai mencuat.
Lusi tampak 'celingak-celinguk' saat dia hendak berbisik padaku.
"Banyak yang bilang kalau Pak Kepala itu ... suka sesama."
"What?!" pekikku.
"Sssttt ... duh, jangan teriak, dong! Akan tetapi, gosip itu terbantahkan setelah kalian menikah. Lalu para pekerja wanita yang selama ini ngefans sama dia jadi patah hati berjamaah, deh!"
Pantas saja tadi si reseptionist mengatakan hal aneh saat melihatku. Ternyata gosip inilah alasannya.
***
Tak dipungkiri. Aku sangat merasa terganggu dengan cerita Lusi mengenai Ardian.
Jika aku amati, Ardian adalah tipe cowok yang emang suka hal-hal rapi. Kelihatan dari penampilannya.
Untuk ukuran seorang cowok dia cukup keren. Dia ganteng, tinggi, dan sedikit mirip aktor Korea menurutku.
Ah ... masa, sih Ardian begitu?
Tidak! Tidak!
Tak mungkin! Menurutku, Ardian cukup manly.
Lagipula dia pernah punya pacar juga, 'kan? Si ibu tirinya itu, kan mantan pacarnya.
Eh, tunggu! Kenapa wanita cantik itu lebih milih bapaknya daripada Ardian, ya? Atau jangan-jangan itu karena Ardian benar begitu?
Aduh! Makin gila sepertinya otakku.
Akan tetapi, selama tinggal serumah denganku, dia juga kalem-kalem saja. Ada niatan menyentuh aku pun tidak. Padahal halal-halal saja.
Ah ... kalau itu, sih pasti karena aku ini bukan tipenya. Dia pernah mengatakannya.
"Hei, Ardian." Kudekatkan wajahku padanya.
"Kamu ini ... beneran begitu nggak, sih?"
"Begitu apa maksudmu?"
Rasa penasaranku kian membuncah. Aku sungguh ingin memastikannya. Semakin kupepetkan tubuhku padanya saat dia duduk di sebelahku. Kuletakkan tanganku di dadanya.
"Hei ... sedang apa, kamu?" katanya dengan terus menarik diri dari dekatku.
"Apa yang kamu rasakan?"
"Apaan?"
"Saat kita berdekatan seperti ini, apa yang kamu rasakan?" Aku terus memepetnya.
"Ada semacam getaran nggak? Ada aliran darah panas mengalir ke otakmu nggak?"
"Gila, kamu!"
"Aduh!" Aku meringis kesakitan ketika remote TV dia getokkan ke dahi.
"Pergi mandi sana! Cuci kepalamu! Sepertinya otakmu terlalu bekerja keras hari ini," geramnya.
Benar. Aku ini sedang apa, sih? Mana mungkin Ardian begitu. Sangat tidak mungkin.
Kalau dia tidak meresponku, itu karena tak ada rasa semacam cinta di antara kami. Itu sudah jelas.
***
"Nay, kamu masih di kamar mandi?" panggilnya.
"Iya. Ada apa?"
"Aku butuh obat sakit kepala sebelah, nih! Punya nggak?" teriaknya.
"Ada di tas. Cari aja sendiri!" sahutku, dari kamar mandi.
***
"Aah ... segarnya!"
Bau wangi semerbak dari tubuhku. Tak salah pilih sabun. Untung tadi sebelum pulang mampir ke minimarket dulu. Tak rugi meski dapet harga mahal.
"Aku udah selesai. Mandi sana!" kataku pada Ardian.
Kulihat Ardian cuma duduk diam di ujung dipan tanpa merespon ucapanku.
__ADS_1
"Ardian," panggilku.
Masih duduk menunduk tanpa merespon.
"Apa kamu baik-baik saja?" Kudekati dia. "Apa kepalamu masih sakit? Sakit sekali, ya?"
Ya salam! Aku sampai terlonjak kaget melihat matanya yang begitu merah.
"A--Ardian ... kamu nggak apa-apa? Badanmu ... demam?"
Badannya mengeluarkan banyak keringat dan saat kusentuh pun terasa hawa panas.
Nafasnya terlihat memburu dengan sorot mata tajam memerah. Diremasnya kedua lenganku dengan kuat sampai nyeri rasanya.
"A--apa yang kamu lakukan? Sa--sakit," rintihku.
"Keluar dari sini!" katanya dengan nafas semakin cepat.
"Ka--kamu kenapa?"
"Keluar dari sini!" teriaknya.
"A--Ardian ... ada apa?"
"Naya! Cepat keluar dari sini! Keluar sekarang juga dan kunci pintunya dari luar!"
"Ta--tapi---"
"Cepat ... keluaaaaar!"
"O--oke. Aku akan keluar."
Aku pun segera meninggalkan kamar dan menguncinya dari luar sesuai permintaanya.
Apa yang terjadi? Kenapa dia sampai marah begitu? Apa aku melakukan kesalahan?
Semalaman mata tak sanggup terpejam. Berguling ke kanan dan kiri dengan kunci kamar di genggaman.
Saat kulihat sudah waktu subuh, aku pun berniat kembali ke kamar untuk memeriksa keadaan Ardian.
Dengan hati-hati, kubuka pintu kamar. Kulihat Ardian tampak tertidur pulas di lantai.
Tempat tidur dan sprei tampak acak-acakan.
Sebenarnya apa yang dilakukannya sampai kamar layaknya kapal pecah begini?
Kudekati dia perlahan. Aku takut membangunkannya dan membuatnya marah-marah seperti tadi malam. Kusentuhkan telapak tanganku di keningnya.
"Udah nggak panas, kok. Terus tadi malam kenapa bisa sepanas itu suhu tubuhnya? Apa karena sakit kepalanya?" gumamku.
Aku ingat tadi malam dia meminta obat migrain padaku. Ketika kulirik bungkus obat yang terserak di sebelah tasku, betapa jantungku seakan melompat keluar.
"Ya Allah ... Ya Robb! Ooh ... ya ampun! Astaga ...!" pekikku.
Kupandangi Ardian yang masih tergeletak di lantai dengan rasa merinding di sekujur tubuh.
"Obatnya ... dia bukannya minum obat antinyeri, tapi malah minum obatnya Pak Agus! Astaga! Astaga!"
Kali ini, akulah yang syok dan lemas.
***
"Hei, kenapa kamu nggak membangunkan aku saat subuh? Duh ... kepalaku makin sakit!" keluhnya.
Aah ... sial!
Kenapa aku jadi was-was begini saat melihat dia? Efek obatnya masih ada tidak, ya? Duh ... aku masih merinding, nih!
"Nay ...."
"Ya?"
Duh ... mau apa dia panggil-panggil!
Ardian memicingkan mata menatapku. Dipandangnya diri ini dari ujung kaki ke ujung kepala. Risih.
"Mengherankan sekali," katanya tiba-tiba.
"Kenapa tadi malam aku bisa melihatmu dengan berbeda, ya?"
"Be--berbeda apa maksudmu?"
"Entahlah. Rasanya aku ... aku ingin sekali untuk ... ehm ... untuk ... ah, udahlah nggak usah dibahas! Sepertinya tadi malam, aku sedang kerasukan banyak setan."
Tergelaklah tawaku mendengar ujar polosnya.
Jika dipikir-pikir, saat itu Ardian menyuruhku keluar dari kamar dan mengunci pintunya dari luar, 'kan? Dia pasti sangat berusaha keras untuk mengendalikan dirinya.
"Untukmu." Kusodorkan semangkok sup iga sapi padanya.
"Wah ... tumben masak enak!" serunya.
"Sebagai ucapan terima kasih," kataku.
"Untuk apa?" tanyanya heran.
"Ehm ... makasih, karena kamu masih bisa berpikir jernih di situasi sulit seperti itu."
"Situasi sulit apa maksudmu?"
"Ada, deh! Hahaha ...."
"Iiish ... gadis aneh!"
__ADS_1
Setidaknya dari sini aku tahu, bahwa Ardian adalah lelaki yang baik.
***