
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
đź’“Kau bisa menghapus ingatan, tapi kau tak akan bisa menghapus perasaanđź’“
---------------------------------------------------------------------
"Ardian, ja--jangan seperti ini!"
Aku semakin penasaran tentang segala hal yang telah aku lupakan tentang dia. Akhir-akhir ini, aku sering melihatnya sedih hanya karena aku keluar bersama Nadine. Padahal setahuku, hubungan kami tidaklah sampai mengganggu privasi masing-masing. Pikiranku pun mulai terganggu. Bayangannya mulai sering muncul tiba-tiba di benakku.
Gadis ini? Bagaimana gadis seperti dia begitu mengganggu pikiranku? Malam ini, aku ingin memastikan sesuatu.
"A--Ardian?"
Terasa ada deja vu saat kami berada dalam jarak sedekat ini. Ketika tanganku bergerak ke balik gerai rambutnya yang panjang.
Terasa ada deja vu saat tak ada lagi penghalang hinggga hembusan nafasnya pun bisa kurasakan.
Terasa deja vu saat daging di wajahnya yang berwarna nute itu kusentuh dengan bibirku. Ada sesuatu yang mengusik isi kepalaku.
"Boleh aku melakukannya?" bisikku.
Dia diam. Hanya menunduk dengan wajah yang sayu.
"Jika pernah, bolehkah aku melakukannya sekarang?"
Hatiku terasa sedikit nyeri, tak tahu kenapa. Matanya mulai berembun tanpa berani menatapku. Dia terlihat ingin menangis.
"Maaf."
Akhirnya air mata itu tumpah saat tubuh kecilnya berada dalam dekapanku. Kurasakan tangannya meremas lenganku sambil tersedu-sedu. Dia terlihat sedih. Terlihat amat menderita karenaku.
Kenapa, Naya?
Apa yang telah aku lakukan sampai membuatmu begitu tersakiti begini?
Malam itu kian dingin. Aku meringkuk di dalam selimut bersamanya.
Tidak. Tak ada yang terjadi. Naya hanya menangis sepanjang malam dan akhirnya tertidur dalam pelukanku. Andai aku bisa mengingat semuanya. Mungkinkah aku akan menyentuhnya dengan perasaan?
Wajahnya terlihat tenang. Matanya terpejam dengan lengan yang melingkar di pinggangku. Kusibakkan beberapa helai rambut yang menjuntai menutupi keningnya.
"Cantik," gumamku. "Kamu cantik, Naya. Manis sekali."
Ternyata aku masih saja penasaran. Ketika rasa penasaran itu semakin bergelayut di otakku, rasanya aku semakin sulit untuk berpikir. Aku hanya bergerak mengikuti instingku saja sebagai seorang pria. Menuruti hati yang berdebar saat melihat seorang wanita ada di pelukanku. Bukan salahku, kan? Lagi pula dia halal untukku. Aku hanya ingin sedikit menjawab rasa penasaranku.
"Ehm?" Naya mulai membuka matanya.
Sinar mentari mengirim silaunya menembus kaca jendela kamar. Matanya terlihat memicing berusaha menghindari sinar yang menerpa wajahnya.
"Bangunlah, sudah siang!" Aku menarik lenganku yang terasa kram karena semalaman dipakainya untuk bantal.
Kusibakkan selimut yang menutup tubuhku dan beranjak dari tempat tidur.
"Ardian."
"Hem?"
"Aku ... minta maaf," lirihnya. "Soal tadi malam, aku nggak bermaksud menolakmu. Hanya saja ... aku ..."
"Nggak apa. Aku nggak memikirkannya, kok." Kulepas t-shirt tipis yang menempel di badanku seraya membuka lemari mencari handuk.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak marah?" tanya Naya.
"Memangnya aku punya hak untuk marah?" Aku masih berkutat dengan tatanan baju di lemari untuk menemukan handukku.
"Aku halal untukmu. Bukankah untuk melakukan itu, kamu nggak perlu ijin dariku? Kenapa mengurungkannya hanya karena aku yang nggak siap?"
Ah! Rasanya sedikit canggung mendengar ucapannya. Tapi aku juga ingin meluruskan sesuatu dengannya.
"Naya." Kututup pintu lemari dan kembali berjalan menghampirinya. "Kenapa kamu menolakku?"
Matanya sedikit membulat dengan kebingungan yang mulai menyergap.
"Ehm ... karena kamu nggak mencintaiku."
Benar. Inilah yang membuatku mengurungkannya. Aku tak ingin membuatnya merasa seakan terampas olehku. Tapi aku juga tak yakin, jika aku melakukan hal itu padanya, sungguhkah bisa meski tak ada rasa cinta?
"Kamu ... menurutmu, bisakah aku melakukan itu padamu meski nggak ada rasa?" tanyaku.
"Hah?!"
"Mau mencobanya?"
"Apa?!"
"Ayo!" Aku meraih lengannya.
Dia hanya diam, pasrah. Langkahnya bergerak mengikutiku masuk ke dalam kamar mandi.
Kunyalakan shower hingga gemericik airnya terdengar sedikit mengganggu telinga.
Sejujurmya, dengan Nadine pun aku tak pernah melakukannya. Aku tak pernah punya pikiran sejauh ini karena dia tidaklah halal untukku.
Tapi Naya ... dia berbeda. Dia istriku yang sah. Masalahnya, apa aku bisa melakukannya jika aku tak mempunyai perasaan untuknya?
Warna nute yang terlukis di bibirnya mulai memudar, terambil olehku. Dia memang kurus ... begitu kecil sekali. Hampir tak kurasakan daging saat jarak di antara kami menghilang.
"Denganmu, ini yang pertama," bisikku. "Aku belum pernah melakukannya dengan siapa pun."
"Aku sudah."
"Apa?!"
"Denganmu. Aku sudah pernah melakukannya denganmu, suamiku."
Pernahkah?
Sungguhkah malaikat pernah mengaminkan apa yang kami lakukan sekarang? Dulu?
"Sungguhkah saat ini, kamu melakukannya tanpa menggunakan perasaan?"
"Naya?"
"Aku mencintaimu. Begitu mencintaimu sampai aku terus menahan sakit dalam hatiku saat kamu melupakan aku, Ardian."
"Maaf. Maafkan aku."
Entahlah!
Aku masih sulit menafsirkan segalanya. Yang terjadi saat ini, terjadi begitu saja. Tanganku, pikiranku ... bergerak begitu saja kepadanya. Entah sebuah rasa penasaran atau memang ada rasa yang sulit untuk aku jelaskan.
-------------
-------------
__ADS_1
"Ya, aku sedang membuka email darimu sekarang." Aku berkata pada Ardito dari balik ponsel. "Ada banyak rekaman yang kamu kirim padaku. Aku harus lihat yang mana? Ehm ... baiklah. Nanti aku hubungi lagi."
"Ada apa?"
Santai sekali.
Apa dia tipe gadis seperti itu? Setelah kami melakukan banyak hal di bawah shower, dia masih bisa bersikap santai di depanku? Padahal aku merasa sedikit canggung padanya.
Haiiish ... sialan!
Kenapa jadi aku yang salah tingkah sendiri?
"Aku sudah selesaikan dua bab untuk novelnya. Haruskah aku kirim ke kamu? Atau ke Lusi?"
"Coba lihat!"
Naya bangkit dari duduknya dan berpindah ke sampingku.
"Ini." Dia membuka laptopnya dan diperlihatkan draft novel padaku.
"Coba atur kertasnya ke TNR A5, aku ingin lihat jumlah halamannya!" kataku.
"TNR A5? Apa itu?"
"Bodo sekali!" Aku menoyor keningnya. "Aku meraih laptopnya dan mengotak-atik pengaturan pada Ms.Wordnya. "Begini. Paham?"
Gadis itu nampak nyengir kuda ke arahku. "Ehm ... baik banget udah langsung dieditin. Bikin makin cinta, deh!"
Ah ... sial!
Bisa-bisanya dia berkata santai seperti itu. Dia benar-benar tidak sadar kalau aku sangat canggung dengannya. Serius, aku tiba-tiba deg-degan di dekatnya. Mengganggu sekali.
"Kenapa?" Dia menatap padaku. "Kamu gelisah? Awkward sama aku?"
"Apa?!"
"Karena kita melakukan itu?" sahutnya. "Sudah aku bilang, ini bukan pertama kalinya. Nggak perlu canggung begitu!"
"Kita sungguh pernah melakukannya?"
"Iya."
"Apa aku melakukannya secara sadar?"
"Tentu saja!" serunya. "Kamu kira, aku membuatmu nggak sadar dan memaksamu, begitu? Sudah gila, kamu!"
"Bu--bukan begitu maksudku."
"Iiish ... menyebalkan!"
"Tunggu!" Aku meraih tangannya ketika dia hendak beranjak meninggalkanku. "Ke sini sebentar!"
"Ma--mau apa?"
"Aku ingin menghapus warna orens di bibirmu itu."
Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku seakan begitu kesulitan untuk mengendalikan diriku di depannya. Apa aku sudah gila?
"Apa yang sedang kalian lakukan di ruang tamu begini?"
"Ibu?!" Aku dan Naya segera menarik diri. "Kenapa Ibu tiba-tiba ada di rumahku?" teriakku.
"Ibu sudah menekan bel berkali-kali, tapi tak dibukakan pintu. Ibu kan tahu kodenya, ya masuk aja. Nggak tahunya malah mengganggu kemesraan kalian. Harusnya dilakukan di kamar saja, jangan di ruang tamu begini!"
__ADS_1
Haiiiiish ... sial! Memalukan sekali!.