
(pov NAYA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💓💓💓
Manis sekali ...
Bagai Coffe and Vanilla ...
💓💓💓
---------------------------------------------------------------------
APOTEK
"Kamu sakit?" tanya Stevia.
"Enggak," jawabku.
"Kok, minum obat?" selidiknya.
"Oh ini? Cuma pil kb," kataku seraya mengambil sebutir pil dari dalam blister.
"Lhaaaa ...," dengus Stevia sambil duduk di depanku. "Kemarin aku kasih kado pengaman nggak mau. Sekarang malah minum obat kb. Dasar, kamu!"
"Udahlah, diem aja! Duh ... bikin pikiranku makin kacau!" keluhku.
"Hahaha ... kalau marah-marah gitu, tanda libido naik, tuh," goda Stevia.
"Sialan, kamu!" umpatku sambil melempar bolpoin padanya.
"Hahaha ... peace!"
----------------
Obat kb.
Tak kusangka kalau akhirnya aku menenggaknya juga.
Mau bagaimana lagi? Kejadian sore itu benar-benar tidak terencana dan tak terduga. Tak ada pengaman, tak ada panghalang.
Astaga! Aku jadi terpaksa meminum obat kb ini sekarang. Bukannya aku tak ingin punya anak. Hanya saja, aku pikir ini bukan saat yang tepat.
Bagaimana pun juga, aku masih belum mengerti bagaimana sebenarnya niat Ardian padaku. Entah dia menganggap pernikahan ini serius atau tidak, aku tak tahu pasti. Karena itulah, setidaknya aku harus mengamankan diriku jika sewaktu-waktu dia melakukan hal itu lagi padaku. Jika saat itu aku tak bisa menolak, paling tidak, perutku tak melembung dibuatnya.
Hah! Kenapa jadi rumit begini, sih?
Kenapa juga dia kabur setelah melakukan itu padaku? Apa jangan-jangan, dia menyesalinya? Mungkinkah begitu?
Huwaaaaaaa! Justru akulah yang menyesal sekarang. Kenapa aku mau saja padahal kelakuan Ardian tak jelas seperti itu.
Apa yang kamu pikirkan, Naya?
Dasar bodoh ... bodoh ... bodoh ...!
------------------
-----------
"Stev, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu," jawab Stevia sambil menata obat di etalase.
"Kalau habis melakukan itu lalu si pria pergi dari rumah, itu tandanya apa, ya?" tanyaku ragu.
"Melakukan itu apa?"
"Ya ... itu," kataku.
"Itu apa? Yang jelas, dong!" geram Stevia.
"Bersenggama," jawabku.
"Oooh ...!"
Asistenku itu nampak berjalan menghampiriku. Dia menatap dengan memicingkan matanya padaku.
"Apa ... suamimu meninggalkanmu setelah melakukan itu?" terkanya.
"Apa?!" Aku terperanjat dibuatnya. "Bu--bukan. Bukan, kok. Ini ... temanku. Temanku yang punya masalah."
"Teman?"
"Ah ... sudahlah, jawab saja! Apa alasannya dia pergi?"
"Ehm ... ada dua kemungkinan," kata Stevia.
"Pertama, dia menyesal. Kedua, dia malu. Hahaha ...! Tapi kayaknya opsi yang kedua enggak mungkinlah, ya! Masa' habis gituan malu, ya nggak mungkinlah."
"Jadi ... kemungkinan itu karena dia menyesal, ya?" lirihku. "Hancurlah sudah hidupku. Hancur tak tersisa. Bodoh sekali. Kenapa aku harus menyerahkan diriku pada orang aneh seperti dia? Kenapaaaaa? Huwaaaaaa ...!"
"Lho ... lho ... kenapa, sih denganmu? Aneh, deh!"
-------------------------
__ADS_1
--------------------
17.30 WIB
"Lho, Nay ... kamu masih di sini? Bukannya kamu shift pagi? Harusnya sudah pulang, dong?" tanya Ardito yang sedang praktek malam itu.
"Aku ... sepertinya, aku akan menginap di sini."
"Hah?!"
-----------------
"Ini." Ardito memberiku sebuah minuman herbal berbahan kunyit.
"Aku nggak suka jamu," tolakku.
"Itu bagus untuk menyehatkan rahim, lho."
Spontan, aku langsung melotot padanya. Dia membahas soal rahim denganku. Ini mencurigakan. Ardian pasti bicara yang tidak-tidak pada si mesum ini.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Ardian.
"Enggak. Nggak apa." Aku berusaha menyingkirkan salah tingkahku. "Kemarin ... apa Ardian menginap di tempatmu?"
"Iya," jawabnya.
"Apa ... apa dia mengatakan sesuatu padamu?" selidikku.
"Sesuatu seperti apa?"
"Seperti ... ehm ... seperti---"
"Kami hanya membahas tentang kejadian penculikanmu. Lalu dia tidur," kata Ardito.
Syukurlah! Setidaknya dia bisa menjaga rahasia memalukan di antara kami.
"Kamu sendiri bagaimana?"
"Apanya?" sahutku. "Aku ... aku nggak apa-apa. Aku santai, kok. Aku juga udah minum obat kb untuk jaga-jaga."
"Obat kb?!" seru Ardito.
"Hah?! Ah ... itu---"
Duh ... ampun!
Ini mulut kenapa main 'nyeplos' saja, sih?
"Yang aku tanyakan itu kondisimu pasca penculikan kemarin, Naya," kata Ardito sedikit terkekeh. "Kok, jawabnya sampai obat kb segala, sih?"
"Syukurlah kalau gitu. Setelah ini, mungkin akan ada banyak kejadian yang tak terduga. Kamu harus lebih berhati-hati."
"Tenang saja! Aku akan menjaga diriku dengan baik," kataku.
Ardito nampak manggut-manggut mendengar ucapanku.
"Pulang sana! Kalau kamu ada di sini, pasienku jadi sepi," katanya.
"Apaan, sih?"
"Pulanglah! Ardian pasti kelaparan di rumah."
"Ardian ... pulang?!" seruku.
"He'em," angguknya. "Dia bareng aku berangkat kerja tadi."
Wah! Ini kejutan. Aku pikir, dia tak mau melihatku lagi. Tapi kalau aku pulang, aku juga bingung bagaimana bersikap padanya.
"Mikir apa lagi? Pulang sana!" usir Ardito.
"Iya. Aku akan pulang," kataku, seraya beranjak meninggalkan kakak iparku itu.
"Nay ...," panggilnya.
"Hem?"
"Tolong jaga Ardian baik-baik. Aku titipkan dia padamu, ya."
"Apaan, sih? Emangnya dia anak kecil pake dititipin segala? Aneh!"
-------------------
------------
APARTEMENT ARDIAN
Kuulurkan tanganku untuk menempelkan Acces Card, namun kuurungkan. Berniat kutempelkan lagi, kuurungkan lagi. Begitu terus selama berkali-kali.
Aku benar-banar ragu. Hatiku berdegup tak karuan.
Bagaimana jika aku bertemu Ardian?
Bagaimana caraku bersikap pada Ardian?
Bagaimana kami bisa kembali normal?
__ADS_1
Entahlah! Pusing banget. Rasanya kepalaku mau meledak.
----------
KLIK!
"Naya? Ka--kamu ... sudah pulang?"
"I--iya."
Oh My God! Kok, dia tiba-tiba buka pintu, sih?
Duh ... bikin kaget! Bikin hatiku makin tak karuan.
"Aku ... mandi dulu, habis itu aku siapkan makan malam," kataku.
"Oke."
Aku bergegas melangkah ke arah kamar. Tapi kemudian, aku kembali merapatkan kakiku.
Mandi? No ... Naya ... No!
Jangan lakukan itu! Itu bukanlah rencana yang baik di situasi seperti ini.
"Eh ... nggak jadi mandi?" tanya Ardian yang melihatku kembali ke dapur.
"Aku sangat lapar, jadi ... aku mau cepat-cepat makan saja."
---------------
Tak lama, dua piring nasi goreng dilengkapi dengan telur mata sapi pun siap santap.
Kulirikkan ekor mataku pada Ardian yang sedang makan di depanku. Tak ada yang aneh darinya. Hanya saja, dia tak secerewet biasanya. Dia hanya fokus makan sambil memainkan ponsel di tangannya.
Apa dia melupakan kejadian kemarin sore?
Apa itu sungguh tak berarti baginya?
Haiiish ... apa-apaan ini? Kenapa jadi aku sendirian yang dilema?
Menyebalkan sekali.
-----------
"Naya, soal kejadian kemarin, aku ... minta maaf," katanya tiba-tiba.
"Maaf?"
"Ehm ... aku ... aku nelakukannya tanpa pikir panjang dan aku---"
"Kamu menyesalinya?" sergahku.
"Apa?!" pekiknya. "Bukan begitu, hanya saja ... aku pikir kamu---"
"Aku bukan siapa-siapa bagimu. Aku akan diceraikan setelah segala permasalahanmu berakhir. Karena itulah kamu menyesalinya. Begitu, kan?"
"Hah?!"
"Astaga! Harusnya dari awal, aku tetap menutup hatiku untukmu. Menyedihkan!"
Aku pun meninggalkannya dengan emosi yang meluap panas di sekujur tubuhku.
Kubenamkan wajahku di bantal. Kutumpahkan seluruh air mataku. Dan aku bahkan tak mengerti, dari mana datangnya air mata ini. Hatiku tiba-tiba terasa begitu nyeri sampi ulu hatiku serasa menyempit.
"Nay, kenapa kamu nggak memberiku kesempatan untuk bicara?" tanya Ardian yang sudah duduk di sisi dipanku. "Nay!"
"Jangan bicara padaku!" bentakku. "Aku membencimu. Aku benci sekali. Pergi sana! Pergi ke rumah pacarmu sana!"
Ardian diam. Tak sedikit pun menyahuti perkataanku.
Bodo amat! Biar saja dia menemui si Nadine itu. Aku tak peduli.
"Perlu kamu tahu, kejadian kemarin sore itu, aku tak menyesalinya. Aku melakukannya dengan sangat sadar, Naya," ucapnya. "Kenapa aku harus menemui wanita lain, jika ada istriku di sampingku? Sikapmu benar-benar membuatku pusing."
"Tu--tunggu!"
"Apalagi?" sahutnya saat hendak meraih gagang pintu.
"Apa ... apa sekarang ... kamu sungguh menganggapku sebagai ... istrimu?"
"Bukan," jawabnya.
"Hah?"
Dia kembali menutup pintunya dan berjalan menghampiriku.
"Bukan hanya sebagai istri," katanya. "Tapi juga sebagai teman hidupku. Sebagai orang yang aku cintai."
Dia melempar senyum yang begitu manis padaku. Tentu saja itu membuat air mataku kembali bercucuran.
"Kamu terharu, ya? Haha ...." Dia menarikku ke dalam pelukannya. "Mau mengulangi yang kemarin sore nggak?"
"Jangan macam-macam, kamu!"
"Hahaha ...."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=