
"Apa yang membawa Ibu datang ke rumahku pagi-pagi begini?"
"Kamu masih kesal karena Ibu mengganggu kemesraanmu dengan Naya?" Wanita yang telah melahirkanku itu nampak terkekeh meledekku.
Sudah jelas aku kesal setengah mati. Di situasi serius seperti itu justru diganggu. Langsung down seketika rasanya.
"Ardian, Ibu punya sesuatu untukmu." Selembar cek beserta nominal uang dan tanda tangan disodorkannya padaku.
"Untuk apa ini?" Aku menelisik jumlah nol pada kolom yang tertulis jumlah uang.
"Beli saham milik ayahmu dengan uang itu!"
"Saham ayah? Kenapa?"
Raut mukanya berubah kesal. "Ibu ingin si tukang selingkuh itu jadi miskin."
"Heh?!"
Sampai sebesar ini pun, aku masih sulit memahami tingkah pola kedua orang tuaku. Sejak aku kecil, hubungan mereka memang tidak pernah baik. Tiada hari tanpa bertengkar. Itulah alasan aku menjadi sedikit badung. Soal ayah yang tukang selingkuh, iya itu benar. Tapi ibu juga sama saja. Tak ada yang bisa dibela di antara mereka.
"Kenapa Ibu ingin memiskinkan ayah?"
"Ingin saja," ketusnya.
"Ibu cemburu, ya karena ayah bisa cepat move on dari Ibu sedangkan Ibu masih belum bisa?" sindirku.
Mata ibu langsung melotot menatapku. Tapi aku hanya terkekeh melihat kekesalannya.
"Lupakan saja! Lagian ayah nggak bakal mau memberikan sahamnya padaku." Kusodorkan kembali cek itu kepadanya.
"Sebenarnya bukan karena ayahmu." Wajah ibu terlihat khawatir. "Ibu ingin kamu bisa mengambil alih kantor itu secepatnya. Ibu takut kamu akan berada dalam bahaya lagi."
Ah! Sedikit sesak mendengar ucapannya. Setelah meninggalkan aku dan lebih memilih membawa Ardito bersamanya, rasanya tak pantas baginya untuk mengkhawatirkan aku.
"Ibu nggak perlu mengkhawatirkan aku!" ujarku. "Lagi pula ada Ardito yang membantuku."
"Justru karena kamu berkerja sama dengan kakakmu yang selalu berpikir pendek itu, makanya Ibu khawatir!" serunya.
"Ehm ... maaf!" Naya yang sudah berseragam TTK lengkap, datang menghampiri kami. "Saya permisi berangkat kerja dulu, Bu."
"Oh? Kamu masuk pagi?" tanya ibu.
"Iya."
"Aku akan mengantarmu." Aku bangkit dari dudukku.
"Enggak, nggak usah!" sahut Naya. "Kan, ada Ibu di sini. Aku naik taksi saja."
Aku masih melangkah mengikuti Naya ke luar apartement. Istriku ini terlihat masih canggung dengan ibu. Pertama, mungkin karena dia menyangka ibu pencuri dan mengikatnya waktu itu. Kedua, mungkin karena kami kepergok di ruang tamu tadi. Meski aku sendiri juga merasa canggung.
"Kamu nggak perlu mengantarku cari taksi segala, kan ada ibumu di rumah," ucap Naya saat kami berjalan ke lantai satu.
"Pulangnya nanti aku jemput."
"Nggak usah," tolaknya. "Masih sore, aku akan pulang sendiri saja."
"Naya!"
"A--apa?"
Aku menariknya kepadaku. Jika aku perhatikan, memang begitulah dia. Selalu menunjukkan wajah seorang wanita yang sangat mandiri di depanku. Tetapi akhir-akhir ini, matanya yamg tajam dengan tatapan penuh keberanian itu mulai terlihat sayu. Dia mulai sering menangis karena aku.
__ADS_1
"Katakan padaku sesuatu yang kamu inginkan!" bisikku.
"Ma--maksudnya?" Dia nampak canggung.
"Aku berjanji akan mengabulkan apa pun yang kamu minta karena sudah membantuku mempertemukan Henry Sastro dan penulis Riani waktu itu. Jadi, katakan apa maumu!"
Pandangannya kian sayu dan muram. Aku paham kenapa dia seperti itu.
"Lupakan! Kamu nggak akan bisa mengabulkannya."
"Soal Nadine, kan?" sergahku. "Aku akan melakukannya."
"Apa?!" pekiknya.
"Beri aku waktu! Aku akan mencobanya."
"Ardian, kamu serius?"
"He'em."
Embun dalam mata itu kian menumpuk. Aku menariknya ke dalam pelukanku. Dia benamkan wajahnya ke dalam dadaku dengan tangisan yang berusaha ditahannya.
"Jika ada sesuatu yang penting tentang kamu dan aku, maka aku akan berusaha untuk mengingatnya. Jika tetap tak bisa, maka aku akan berusaha mengulangnya."
"Bolehkah aku berharap?" lirihnya. "Aku takut akan sakit hati lagi."
"Kamu hanya perlu diam dan melihat saja! Aku yang akan berusaha."
"Ardian ... huwaaaaaa ...!" tangisnya.
"Hahaha ... berhenti menangis! Bajuku basah semua karena air matamu, nih!"
"Bodo ah!"
------------------
"Istrimu sudah berangkat?" tanya ibu ketika aku kembali ke dalam rumah. "Satu lagi yang mau Ibu berikan padamu."
"Jangan cek lagi! Aku tak akan membeli saham milik ayah," sahutku.
Ibu nampak terkekeh mendengar ucapanku. Diambilnya sebuah lembaran kertas dari dalam tas miliknya.
"Apa lagi ini?" Aku mulai menelisik tulisan di atasnya.
"Bukti korupsi ayahmu."
"Apa?!" Kembali aku menelusuri kata demi kata dengan seksama.
Ya, ada nama ayah di dalamnya dan juga bukti penggelapan pemasaran buku-buku best seller.
"Dari mana Ibu dapatkan semua ini?"
"Aku menyewa seorang detektif swasta," jawabnya santai. "Ibu sudah bilang padamu, bukan? Ayahmu itu nggak kalah br*ngs*knya dengan si Hery."
"Apa-apaan ini? Apa Ardito tahu?" selidikku.
"Iya. Dia curiga bahwa ayahmu ada di balik penyeranganmu, karena itu dia sedang menyelidikinya diam-diam."
Semakin rumit. Jika benar ayah terlibat dengan semua ini maka dia benar-benar seorang monster.
---------
__ADS_1
-----------------
21:25 WIB
Aku segera turun ke lantai dasar begitu melihat Naya keluar dari mobil Ardito. Aku menghampiri mereka yang tengah ngobrol dan tertawa. Tiba-tiba muncul sedikit rasa kesal saat melihat mereka bersama.
"Ardian?" Naya sedikit terkejut melihatku yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Naiklah!" perintahku pada Naya. "Ardito, kita harus bicara!"
-------------------
"Ada apa?" tanya Ardito.
Kami duduk bersandar di sofa empuk sebuah cafe tak jauh dari apartementku.
"Ibu sudah memberi tahuku soal korupsi yang dilakukan ayah."
Kakakku itu berdecak kesal mendengar ucapanku.
"Kenapa cuma aku yang nggak tahu?" Aku mulai kesal.
"Jika kamu tahu, kamu pasti akan membuat keonaran."
Benar. Aku bahkan tak yakin bisa menahan emosiku saat bertatap muka langsung dengan ayah.
"Dari sini kita tahu alasan kakek menunjukmu sebagai penerusnya, bukannya ayah." Ardito menyeruput capuccino dari cangkirnya. "Tapi, jangan berburuk sangka dulu! Soal penyeranganmu, belum tentu ayah terlibat. Masih belum ada bukti soal itu. Tersangkanya masih sama, yaitu sang pemilik arloji. Bisa ayah, bisa juga kakek."
"Situasinya semakin memburuk," gumamku.
"Aku sudah bilang padamu, jangan ikut campur dengan permasalahan ini! Kamu dan Naya, cukup berkonsentrasi saja pada penerbitan buku itu! Sisanya, biar aku yang urus."
Aku terkekeh mendengar perkataan kakakku itu. Entah kenapa tiba-tiba terasa geli mendengar ucapannya. Seakan dia sedang mengkhawatirkan aku.
"Pulanglah, ini sudah malam! Aku juga perlu istirahat. Hari ini pasiennya banyak banget. Aku lelah." Ardito berdiri sembari meregangkan ototnya. "Apa ada sesuatu yang terjadi padamu dan Naya?"
"Apa?!"
"Dia terlihat bahagia sekali hari ini. Tersenyum terus."
Haiiiish! Makhluk ini punya kepekaan yang luar biasa. Selain kemampuan sebagai seorang hacker, dia juga punya kemampuan sebagai para normal sepertinya.
"Ardian." Ardito menatapku dengan serius. "Aku harap, kamu bisa lebih berhati-hati pada Nadine! Aku sedikit mencurigainya meski belum punya bukti. Ya sudah, aku pulang dulu. Night."
----------
-----------------
Malam ini terasa amat dingin. Dedaunan bergerak karena angin meniupnya dengan cukup kencang. Hatiku semakin nyeri dengan berbagai hal yang terjadi saat ini. Kenyataan bahwa aku hidup dalam sebuah keluarga yang begitu rumit dan saling berebut kekuasaan. Siapa bilang kehidupan sebagai seorang Benedict Lim menyenangkan? Penuh tekanan.
"Naya!"
Lampu kamar sudah dimatikan. Tersisa lampu tidur di sisi dipan milikku yang masih menyala. Aku menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidurnya.
"Kamu lelah, ya?"
Kusibakkan untaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Dia tidur dengan nyenyak sekali. Dia pasti lelah dengan pekerjaannya.
Terkadang, aku juga merasa begitu lelah dengan semua kejadian ini. Aku pun ingin mengakhirinya. Aku ingin hidup dengan tenang dan nyaman.
"Naya, maafkan aku karena membawamu ke dalam situasi rumit seperti ini! Semoga aku bisa selalu menjagamu sampai akhir."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=