
(pov ARDITO)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🤗 Wanita yang sedang menangis itu ...
Sangat ... menggemaskan ...🤗
---------------------------------------------------------------------
"Nyalakan alat perekam yang aku pasang di jam tanganmu!" kataku melalui mikrofon kecil, yang akan terhubung ke alat yang sama, yang terpasang di telinga Ardian.
Sesuai rencana awal. Kami datang ke rumah ayah untuk menemui Nadine. Tapi kali ini, Ardianlah yang akan menemuinya sendiri. Tugasku masih sama seperti sebelumnya. Aku seorang hacker.
Dan juga Naya. Gadis ini memaksa untuk ikut bersama kami sampai bolos kerja.
-------------------
-----------
"Kenapa kita nggak ikutan masuk? Kenapa Ardian masuk sendirian ke sana?" tanyanya.
"Nanti kamu akan tahu. Perhatikan saja lewat layar laptopku!" kataku. "Kenapa? Kamu cemburu? Kenapa masih peduli dengan Ardian? Kan, sudah ada aku. Hahaha ..."
"Dokter play boy!" geramnya.
"Hahaha ... itu pujian yang sangat indah," tawaku. "Nay, mumpung ingat, aku ingin mengatakan ini padamu."
"Apa?"
"Kamu itu ... bersikaplah lebih mawas diri! Jangan tidur di sembarang tempat! Apalagi ada pria di sana."
"Kamu sedang membicarakan aku yang ketiduran di sofa kemarin?" tanyanya. "Tenang saja! Aku hanya melakukan itu di depan Ardian. Nggak akan terjadi apa-apalah."
"Wah ... pikiranmu tentang Ardian benar-benar positif, ya!" seruku. "Biar aku beritahu kamu, ya! Seorang pria dan wanita dewasa tinggal satu atap, hanya sepuluh persen kemungkinannya wanita itu akan selamat. Alasan pertama, karena si pria nggak tertarik pada si wanita. Alasan kedua, si pria tertarik, tapi dia mati-matian menahan diri untuk menghormati si wanita. Menurutmu, adikku itu termasuk tipe pria yang nomer berapa, hah?!"
Naya nampak diam saja tanpa menjawab pertanyaanku. Sepertinya dia dan Ardian tak pernah berpikir sejauh itu tentang pernikahan mereka.
------------------
"Oke. Dia sudah masuk," ucapku saat gambar Ardian dan Nadine memasuki rumah muncul di layar laptopku.
----------
--------------------
"Apa yang membawamu ke sini?" tanya Nadine.
"Aku ingin bertemu denganmu. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan."
"Soal apa?"
"Soal hubunganmu dan Om Hery."
Oke! Matanya membesar dan pupilnya bergetar. Ekspresi mata itu, tak pernah bisa membohongi. Dia jelas tahu soal Om Hery. Dan sepertinya jauh lebih dalam dari yang kami kira.
-------
"Nadine, aku ingin tahu semuanya," kata Ardian.
"Kamu datang pada orang yang salah. Aku tak tahu apapun soal pamanmu itu."
"Nadine!" teriak Ardian. "Kenapa kamu begitu berubah? Apa yang membuatmu sampai berubah sejauh ini? Uangkah?"
"Ardiaaaaan ...!" seru Nadine.
"Di mana? Di mana Nadineku yang dulu? Kamu buang ke mana dia, hah?!"
--------------
Astaga! Bukan hanya Nadine yang terlihat berkaca-kaca karena Ardian. Tapi gadis di sampingku pun ... matanya terlihat mulai berembun.
"Ardian, jangan campur adukkan perasaanmu!" kataku lewat alat komunikasi kami. "Kamu ke sini bukan untuk menemui mantan pacarmu. Kamu ke sini untuk mencari informasi. Kamu mengerti?!"
Memuakkan! Kalau saja Naya tidak ikut, aku tak perlu peduli dengan apa yang anak tengil itu akan lakukan.
-------------
"Kalau kamu nggak mau lihat, nggak usah lihat!" kataku pada Naya.
"Enggak. Aku akan melihatnya. Sampai sejauh mana yang akan Ardian lakukan."
Menurutku, wanita adalah makhluk yang mengerikan.
Ardian mungkin akan dimakan hidup-hidup nanti. Aku yang duduk di bangku belakang bersamanya saja, huh ... rasanya ikutan tersulut hawa panas.
---------
-----------------
"Hentikan semua ini, Ardian!" kata Nadine. "Pamanmu itu, dia punya niat jahat padamu."
__ADS_1
"Karena itulah aku datang menemuimu sekarang," sergah Ardian. "Apa niatnya? Hal gila apa yang akan dia lakukan?"
"Aku ... aku nggak bisa memberi tahumu sekarang." Wajah Nadine terlihat khawatir.
"Nadine, lihat aku!" Ardian meremas kedua lengan wanita itu. "Kamu nggak terlibat di dalam semua ini, kan? Enggak, kan?"
"Jika aku katakan tidak, apa kamu akan percaya padaku?" tanya Nadine.
"Iya. Aku akan percaya padamu."
"Sungguhkah? Kamu sungguh masih percaya padaku?" Nadine nampak menyunggingkan senyum miris di bibirnya. "Setelah semua hal yang terjadi di depan matamu? Setelah semua pengkhianatanku padamu, sungguh kamu masih percaya padaku?"
"Iya. Aku percaya."
"Aku nggak bisa mengatakan semuanya padamu sekarang, Ardian. Tapi, tolong percaya padaku! Aku pasti akan menyelamatkan posisimu, apapun yang terjadi."
"Apa maksudmu?"
"Ardian, jaga dirimu baik-baik!" Nadine terlihat sedang mengusap ujung kepala Ardian dengan wajah khawatir. "Jika hari itu tiba, aku nggak akan meninggalkanmu."
"Kamu ngomong apa, sih?" tanya Ardian, bingung.
"Saat itu, kamu hanya perlu mengingatku saja!"
Nadine nampak menarik tubuh Ardian dan memeluknya.
Dan coba lihat adik kecilku itu! Dia bahkan tak sedikit pun menolak saat Nadine ada dalam pelukannya.
Apa dia lupa bahwa saat ini istrinya sedang menatapnya lewat layar kaca?
-------------------
--------------
Aku pun segera menutup laptopku.
"Hahaha ... panas sekali. Apa acnya perlu diperbesar, ya? Hahaha ...." Aku berusaha mengalihkan perhatian Naya. "Nay, kamu jangan salah paham, ya! Kamu pernah dengar istilah ini nggak? Ehm ... wanita yang menangis itu akan terlihat menggemaskan. Kalau seorang pria melihatnya, secara naluri mereka pasti bawaannya pengen menenangkan hatinya. Ja--jadi saat ini, Ardian hanya sedang gemes aja sama Nadine. Ya ... hanya itu saja. Hahaha ...."
KRAK!
Diremasnya botol air mineral yang sudah kosong di sampingnya.
Ya salam!
Sepertinya Ardian benar-benar akan habis.
----------
------------------
Rumit. Hubungan kemanusiaan yang sangat rumit.
-------------------
------------
"Kita pergi sekarang?" tanya Ardian yang kembali duduk di bangku kemudi. "Ada apa? Kenapa kalian diam saja?"
"Wajahmu terlihat berseri-seri," kata Naya.
"Apa ada hal baik yang terjadi?"
"Haha ... apa maksudmu?" tawa Ardian sambil menyalakan mesin mobil dan berlalu dari halaman rumah besar itu.
-------------
--------------------
"Aku mau turun di rumah ibu!" kata Naya.
"Lho, kenapa?" tanya Ardian, bingung.
"Antar saja aku ke sana! Nggak usah banyak tanya."
"Enggak. Nggak mau," jawab Ardian meninggi. "Kamu marah padaku? Kamu selalu kabur ke rumah orang tuamu kalau kita sedang ada masalah. Nggak usah kabur-kabur lagi! Kalau ada masalah, kita selesaikan berdua!"
"Wah! Coba lihat betapa bijaknya kata-katamu! Dasar laki-laki kurang ajar!" geram Naya.
"Apa?! Apa maksud kata-katamu itu?!" seru Ardian.
"Hei! Apa wanita yang menangis itu terlihat begitu menggemaskan? Saking gemasnya sampai kamu harus memeluknya? Kenapa nggak sekalian aja kamu kantongin dan dibawa pulang?!"
"Astaga! Ada apa, sih denganmu?!"
Akhirnya aku punya alasan, kenapa aku harus bersyukur karena masih jomblo. Karena aku belum siap bertengkar dengan pasangan.
Seorang wanita bisa sangat menakutkan, apalagi jika pasangannya tidak punya rasa peka. Seperti adikku yang sedikit bodoh itu.
Apa dia tidak sadar kalau Naya itu menyukainya?
Sekali lihat saja, aku bisa langsung tahu.
__ADS_1
-----------
------------------
APARTEMENT ARDIAN
BRAK!
Naya langsung membanting pintu kamar dan menguncinya dari dalam.
"Sepertinya malam ini kamu akan tidur di ruang tamu," kataku, sembari cekikikan.
"Ah ... ada apa lagi dengan gadis itu?" gerutu Ardian.
"Masih tanya?" seruku. "Kamu beneran nggak nyadar?"
"Apaan?"
"Hei, bocah!" Aku menoyor keningnya.
"Kamu berpelukan mesra dengan mantan pacarmu, sementara istrimu itu melihatnya dengan jelas dari layar. Kamu lupa?!"
"Apa?!" Ardian nampak terlonjak terkejut.
"Aah ... sial! Kenapa kamu nggak mengingatkan aku soal itu?"
"Hah! IQ-mu rendah sekali. Sudahlah, selasaikan dulu masalahmu dengannya! Aku akan mengumpulkan rekamannya. Besok aku kabari," kataku, sembari beranjak dari tempat duduk. "Hei Ardian ...! Kamu yakin, hubunganmu dan Naya hanya sebatas rekan kerja? Dia istrimu. Dia halal untukmu, lho."
Dia mengerti maksudku atau tidak, sih?
Bodo amatlah!
Aku juga tak mau ikutan pusing mengurus mereka.
---------------
------------------------
(POV NAYA)
"Nay! Bukain pintunya, dong! Serius, kamu nyuruh aku tidur di luar? Nayaaaa!"
Kubuka pintu kamar dan kulihat dia berdiri di depanku dengan memasang senyum manis. Entah kenapa, senyuman itu membuatnya terlihat menyebalkan.
"Ambil, nih!" Kusodorkan bantal dan selimut padanya. "Tidur di ruang tamu sana!"
"Hei Nay, tunggu!" Diraihnya tanganku.
"Jangan pegang-pegang!" seruku.
"Oke ... oke!" katanya sembari mengangkat kedua tangannya. "Kamu marah karena melihat aku dan Nadine?"
"Marah? Untuk apa? Nggak guna!" kilahku.
Ya. Tak tahu kenapa aku merasa sangat marah sampai aku ingin mencekiknya.
"Kamu ... apa kamu ... cemburu?"
"Apa?!" pekikku. "Enggak. Untuk apa aku cemburu? Kamu bukan siapa-siapaku. Bukan!"
Sialan! Kenapa aku jadi salting? Ardian malah nampak tersenyum penuh kemenangan.
"Itu hanya akting," katanya. "Aku harus mendapatkan banyak informasi darinya. Karena itulah, aku bertindak sejauh itu."
Akting katanya?
Wah! Lidahnya benar-benar terlatih untuk menggombal.
"Naya ...." Dipandangnya aku dengan lekat.
"Sejak pernikahan itu, aku sudah jadi milikmu."
"A--apa maksudmu?"
"Ya ... begitulah! Hahaha ...," tawanya. "Aku lelah sekali, Naya. Bolehkah aku memelukmu dan bersandar di pundakmu sebentar?" Ditariknya diriku ke dalam pelukannya.
Dan dengan bodohnya, aku selalu diam saat dia melakukan hal ini padaku.
Kenapa aku merasa, kalau dia selalu mempermainkan perasaanku? Dia egois sekali.
"Naya ...," bisiknya. "Wanita yang sedang menangis memang terlihat menggemaskan. Tapi, kamu yang sedang marah terlihat jauh lebih menggemaskan. Dan jika aku nggak berusaha keras untuk menahan diriku, aku mungkin akan mengambil semua yang ada pada dirimu. Kamu mengerti?!"
"Minggir sana!"
Aku segera melepaskan diri darinya. Ardian nampak cengar-cengir menertawakanku yang sedang salah tingkah.
"Aku ... yang akan tidur di luar," kataku sambil ngeluyur keluar kamar.
"Lho, kenapa? Kenapa nggak tidur di kamar aja? Hei Nayaaa ...! Hahaha ...."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1