NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 38


__ADS_3

(pov ARDITO)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💕💕


Tak perlu dilupakan ...


Hanya dilepaskan ...


Dengan perlahan-lahan ...


💕💕


---------------------------------------------------------------------


Akhir-akhir ini hidupku terasa amat berat. Menatap langit pun terasa begitu menyilaukan. Kadang terasa gelisah tak menentu. Seperti sedang diikuti oleh ribuan rasa bersalah. Aku merasa takut belakangan ini. Entah kenapa.


"Ardito!"


Aku menoleh pada suara yang memanggil di belakangku.


"Senang bertemu lagi denganmu, Ardito."


"Ka--kamu?!"


***


CAFE


"Bagaimana kabarmu?"


"Baik," jawabku.


Terasa sedikit canggung saat tiba-tiba harus bertemu dengan Dhini. Wanita yang berprofesi sebagai guru di sebuah SLB ini adalah sepupu Dalisa. Sudah lama aku tak bertemu dengannya sejek kepergian calon istriku itu.


"Sejak tiga tahun lalu, aku terus mencari keberadaanmu," ucap Dhini. "Aku sempat bertemu Ardian waktu itu dan dia bilang kalau kamu pindah ke luar negeri."


"He'em," anggukku seraya menyeruput americano yang kupesan.


"Kamu sudah kembali ke sini sekarang. Apa itu artinya, kamu sudah melupakan semuanya?"


"Apa?!"


Dhini menyunggingkan sebuah senyuman padaku. Tangannya bergerak merogoh ke dalam tas yang dibawanya lalu dikeluarkannya sebuah bungkusan plastik.


"Aku terus mencarimu untuk memberikan ini."


"Apa ini?"


Nyeri!


Tiba-tiba terasa nyeri saat kulihat isi bungkusan itu. Sebuah long dress maroon dan kotak bludru berisi lingkaran emas kecil di dalamnya.


Dalisa--aku kembali mengingat masa-masa indah yang bsrakhir kelam bersamanya. Barang-barang ini pun belum sempat dipakainya.


"Maaf, jika aku kembali mengingatkanmu pada Dalisa," ujar Dhini. "Aku hanya meras kalau aku perlu untuk mengembalikan barang-barang ini kepadamu."


"He'em."


"Ardito, kembalilah menjadi dokter bedah lagi!" Aku sedikit terperanjat mendengar ucapan Dhini. "Kematian Dalisa bukanlah kesalahanmu atau pun kegagalanmu sebagai seorang dokter bedah. Jangan sia-siakan kemampuanmu hanya karena rasa bersalahmu! Jika Dalisa ada di sini, aku yakin dia akan mengatakan hal yang sama."


"Begitu." Ada gelitik rasa sesak dalam dadaku, tapi aku sedikit terhibur dengan ucapan Dhini. "Saat ini, aku sedang menikmati profesiku sebagai dokter umum. Lumayan menyenangkan."


"Menyia-nyiakan kerja kerasmu dan melepas impianmu, apa itu yang kamu maksud menyenangkan?"


"Apa?!" pekikku.


Dhini bangkit dari duduknya dan menatap tajam padaku.


"Lepaskan rasa bersalahmu ... hiduplah sesuai mimpimu! Karena itulah dia jatuh cinta padamu--pada pria yang selalu melakukan segala hal untuk impiannya. Kamu adalah dokter bedah terbaik yang pernah kami kenal, Dokter Ardito."


Sebuah sunggingan senyum dari wajahnya mengiringi langkah kaki jenjang itu meninggalkanku.


Hidup untuk mengejar impian. Prinsip itu sudah lama aku kuburkan. Aku bahkan sudah lupa.


***

__ADS_1


APARTEMENT ARDIAN


20.15 WIB


"Astaga!"


"Hai, adikku sayang. Hehehe ...."


"Ya ampun! Kamu mabuk, ya? Iiish ... sial!"


Flash back ke masa lalu membuatku hilang kendali. Dalam keadaan setengah sadar aku justru pergi ke rumah Ardian.


"Naya, ambilin bantal sama selimut!" Terdengar samar-samar teriakan Ardian yang tengah membopongku ke sofa.


"Ada apa dengannya?" tanya Naya.


"Habis minum kayaknya."


"Heh?!"


"Pasti sesuatu telah terjadi," kata Ardian. "Dia bukan peminum, kok. Sudahlah, biarkan dia tidur di sini saja! Aku ngantuk banget."


***


"Akh ... sakit!"


Kepalaku terasa nyeri luar biasa. Leherku seperti kram.


Ah, iya! Aku minum banyak tadi. Pikiranku mendadak buntu sejak bertemu Dhini. Aku bangkit dari sofa dan berjalan meraba menuju sisi pintu. Kutekan tombol 'ON' pada saklar lampu hingga mataku sedikit memicing untuk beradaptasi dengan cahaya silaunya.


Aku melihat pada jam dinding klasik yang tergantung di atas TV. Masih jam 2 dini hari. Kembali aku melangkah ke dapur untuk mengambil air. Tenggorokanku terasa panas dan kering. Sepertinya aku sudah gila. Aku bahkan tak pernah minum-minum seperti ini.


"Hah ... adem!" Beberapa teguk air dingin meluncur memasuki lambungku. "Hem? Ardian?"


Dari beranda nampak lampu yang menyala. Semakin aku mendekat, semakin terdengar suara jari yang tengah menekan keyboard komputer atau sejenisnya.


"Sedang apa?"


"Oh? Apa aku terlalu berisik sampai membangunkanmu?"


Rupanya Naya. Dia sedang duduk sembari memangku laptopnya.


"Karena terbangun dan nggak bisa tidur lagi, ya kerja saja," jawabnya.


"Novel?"


Gadis itu mengangguk sembari menyeruput kopi dari cangkirnya.


Jalanan terlihat lengang jika diamati dari ruangan lantai lima ini. Semilir angin sedikit menusuk tulang--terasa ngilu. Masih tersisa rasa berat di ujung kepala belakangku, pandangan pun masih sedikit kabur.


"Ada masalah apa sampai kamu minum-minum begitu?" tanya Naya.


"Ehm ... sedikit galau," ucapku sembari terkekeh.


"Iiish! Sudah tua masih saja galau." Dia ikut tertawa. "Ah, ini punyamu?" Disodorkannya bungkusan plastik yang diberikan Dhini padaku.


"Untukmu saja. Itu sebuah gaun."


"Eh? Seriusan?" Naya langsung membuka isi bungkusan di tangannya itu. "Wah, benar! Cantik sekali. Milik siapa ini?"


"Seseorang memberikannya padaku sebagai hadiah," jawabku berbohong.


"Bisa-bisanya memberi kado gaun pada seorang pria," gerutu Naya. "Mungkin dia pikir kamu sudah punya istri."


"Hahaha ...."


"Boleh aku coba?"


"Terserah kamu."


Dia selalu spontan. Tipe gadis yang cuek dengan keadaan. Tak pernah menjaga image di depan orang lain--begitulah dia. Tidak aku sangka kalau Ardian akan dibuatnya jatuh cinta.


"Bagaimana, Dokter?"


Gadis itu berputar sambil memamerkan gaun maroon itu di depanku. Tubuhnya yang mungil membuat gaunya menempel sempurna dan nampak indah. Rambut yang sedikit ikal di ujung bawahnya--ada apa dengan mataku? Apa efek alkohol itu begitu luar biasa? Rasanya aku mulai berhalusinasi.


"Dalisa."

__ADS_1


"Dok--dokter ... apa yang---"


Aku sangat merindukan rasa ini. Hangat saat aku memeluknya. Manis dari ranum bibirnya. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya.


"Hentikan!"


Aku rasakan tubuhku terdorong hingga beradu dengan dinding marmer.


"Na--Naya! Naya ... maaf! A--aku tidak---"


Gadis itu menatapku dengan berurai air mata. Kedua tangannya mengatup menutup mulutnya. Tubuhnya ambruk ke lantai diiringi tangisannya.


"Maaf! Maaf, Naya!"


Kenapa dengan otakku ini? Bisa-bisanya aku berbuat gila pada adik iparku sendiri.


"Kalian ada di sini? Sedang apa?"


Terlonjaklah kami berdua saat Ardian tiba-tiba muncul di hadapan kami.


"Naya? Ada apa? Kenapa nangis?" Ardian beringsut menghampiri istrinya yang tengah duduk di lantai itu. "Kenapa?"


Naya nampak terisak-isak dalam pelukan Ardian. Sedangkan aku ... aku terus merutuki kebodohanku.


***


07.15 WIB


"Kamu berangkat naik taksi aja ya, Nay! Aku mau ke tempat ibu sebentar sama Ardito, ada perlu soalnya."


"Apa?!"


Gadis itu memekik terkejut mendengar ucapan Ardian. Suasana di antara kami jadi sedikit canggung karena kejadian tadi.


"Kenapa nggak dimakan? Nggak suka?" tanya Ardian yang melihatku sedari tadi hanya mengaduk-aduk makananku saja. "Cepat habiskan makananmu!"


Usai sarapan, aku mengikuti langkah Ardian yang berjalan keluar dari apartementnya. Sesaat, aku sempat berniat bicara pada Naya untuk meminta maaf, tapi sepertinya sulit. Dia terus menghindariku.


Denting suara khas saat lift terbuka, aku dan Ardian pun melangkah memasuki box silver itu.


"Ada apa?"


"Hem?" Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ardian.


"Aku diam saja karena aku nggak mau bertengkar denganmu di depan Naya."


Aku menghembuskan nafas berat mendengar ucapannya. "Kamu melihatnya? Maaf, aku mggak bermaksud berbuat seperti itu--sungguh!"


"Kemarin aku bertemu Dhini," ucapnya. "Apa karena Dalisa? Karena itu juga kamu minum-minum?"


Aku terkekeh mendengar ucapannya. "Tiba-tiba aku merasa nggak berdaya di depanmu. Ah, sial!"


"Jika kamu membayangkan Dalisa ada di dalam diri Naya dan berbuat bodoh lagi ... mati, kau!"


"Iya. Aku juga ingin mati," ujarku dengan kubumbui sedikit tawa. "Lagian dari sini kamu bisa tahu kalau Naya hanya bisa memberikan hati dan tubuhnya untukmu. Bahkan aku yang selalu ada untuknya saat kamu mencampakkannya saja ... tak dianggap sama sekali. Menyedihkan!"


"Berhenti berpikiran gila!" kata Ardian. "Lagian kalau semua ini selesai, aku akan membawanya pergi jauh. Aku nggak mau tinggal di sini lagi."


"He'em, aku juga. Aku ingin pulang ke kampung halaman kita--Korea."


Terkadang, berpura-pura baik-baik saja itu sangat melelahkan. Aku sedikit iri dengan Ardian. Dari dulu, dia selalu hidup dengan santai sesuai keinginannya. Menjadi remaja nakal dan menikmati hidupnya. Aku pun juga ingin seperti itu.


Mungkin rasa iri inilah yang membuatku tak bisa akrab dengannya. Dia berjalan terlalu jauh di hadapanku sampai sulit untuk menggapainya. Aku pikir, selamanya kami tak akan bisa berjalan beriringan, ternyata aku salah. Sejak gadis itu muncul, kami mulai dekat layaknya saudara. Entah terpaksa atau tidak, kami memang saling membutuhkan.


"Ardian, jika ada waktu luang, mau bermain bowling bersama?"


"Hem? Kenapa?" tanya Ardian sembari menginjak pedal gas mobilnya.


"Ingin saja. Ingin mengambil kembali waktu yang sudah terbuang sia-sia."


"Iish ... apaan!" gerutunya.


Aku tak ingin melupakan, tapi aku juga ingin terus berjalan.


Selamat tinggal, Dalisa.


Maaf, jika perlahan aku harus melepaskan kenangan kita.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2