NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 15


__ADS_3

(pov ARDITO)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


♠♦♠


Sebuah halusinasi ...


Yang tercipta seperti nyata ...


Seperti efek sebuah bius ...


Yang melenyapkan kesadaran mereka ...


♠♦♠


---------------------------------------------------------------------


"Sebenernya kita ini mau ke mana, sih?" tanya Naya.


"Villa," jawabku.


"Villa? Ngapain?" Naya semakin penasaran.


"Honey moon," jawabku.


"Apa?!" serunya.


Ardian nampak mengemudi sambil cekikikan saat melihat ekspresi istrinya dari bangku belakang itu.


--------------------


--------------


Tiga jam perjalanan telah kami tempuh. Sebuah villa mewah milik keluarga BENEDICT nampak gagah berdiri di sebuah daerah tak jauh dari laut.


"Wah!" seru Naya. "Kereeeen ...!"


Gadis itu nampak terkagum-kagum melihat bangunan megah tersebut.


Sebuah villa berdesain semi kaca. Bercat full warna putih. Dengan halaman yang sangat luas dan sebuah kolam renang besar di sisi belakangnya.


"Ini milik keluarga kalian?" tanya Naya.


"He'em," anggukku.


"Wah ... aku tak menyangka kalau keluarga Benedict sekaya ini."


Lagi-lagi aku dan Ardian dibuat tertawa dengan tingkah polanya yang kadang terlalu polos dan absurd.


"Seluruh ruangan disekat dinding kaca. Kelihatan sangat elegant," kata Naya. "Kalian pernah melihat drama FULL HOUSE?"


"Apalagi itu?" tanyaku.


"Itu sebuah drama yang dibintangi Rain dan Song Hye Kyo. Villa ini persis seperti lokasi syuting itu," katanya dengan mata berbinar-binar. "Huwaaaaaa ... kalau bersama kalian, aku selalu merasa sedang syuting drama, deh!"


"Ardian, sekali-sekali kamu perlu membawa istrimu ke poli kejiwaan!" kataku.


"Iya. Sepertinya kamu benar. Dia keseringan berhalusinasi." Ardian menimpali.


"Haha ... sialan, kalian!" tawa Naya.


------------------


--------------


"Wah ... dari sini bisa lihat laut!" seru Naya saat dia masuk ke dalam kamar yang biasa ditempati Ardian.


"Kamu suka?" tanya Ardian sambil membereskan kopernya.


"Sangat. Indahnyaaa ...! Terima kasih sudah membawaku ke sini."


"Jangan berterima kasih dulu, wahai istriku!" kata Ardian sembari melingkarkan lengannya di pinggang Naya. "Kita ke sini bukan untuk bersenang-senang."


"Bukan?" Naya mengernyitkan keningnya.


"Kita datang ke sini, untuk bekerja."


"Hah?!"


--------------------


----------------


Dan penyelidikan kami pun berlanjut.


Secara diam-diam, aku memasang alat penyadap dan GPS di mobil Om Hery. Penguntitan kami pun, berakhir di tempat ini.


---------------


"Menurutmu, apa dia akan bertemu dengan orang yang disebut 'direktur' itu?" tanya Ardian.


"Entahlah. Yang pasti, kita harus terus membuntuti ke mana pun dia melangkah! Naya, kamu sudah paham tugasmu, kan?"


"Iya ... iya ... paham," dengusnya kesal. "Menyebalkan! Padahal aku ke sini mau bersenang-senang, mumpung dapat cuti dua minggu. Malah disuruh jadi agen mata-mata."


"Bukannya kamu suka main drama trailer? Ini kita lagi main drama trailer detektif, tahu?" godaku.


"Bodo amatlah!"


"Oke, besok kita mulai penyelidikannya. Istirahatlah, kalian! Selamat malam."


Aku pun beranjak dari bangku taman dan melangkah memasuki villa.


-------------


Kuamati mereka berdua yang sedang duduk santai di luar. Kulihat Ardian yang sedang merangkulkan lengannya pada Naya dan gadis itu nampak tersenyum bahagia bersandar di pundak Ardian.


Rasa khawatirku tiba-tiba muncul, saat teringat rekaman video pembicaraan Om Hery dan Nadine tentang kondisi Ardian.


Aku bahkan tak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada adikku itu.


Aku sungguh sangat mengkhawatirkannya.


------------


"Setelah misi ini selesai, mau jalan-jalan?" tanya Ardian, pada Naya.


"Boleh. Ke laut?"


"Tentu."


"Aku ingin berkeliling naik sepeda," kata Naya.


"Jangan bilang, kalau kamu ingin meniru adegan dalam drama!" kata Ardian.


"Emang. Hahaha ...," tawa Naya. "Kamu akan memboncengku. Dan aku akan memelukmu dari belakang sambil merasakan angin laut yang berhembus lembut menyibakkan rambutku. Itu adalah adegan yang saaangat romantis."


"Apa nggak ada adegan romantis lainnya?" tanya Ardian.


"Seperti apa?" Naya balik bertanya.

__ADS_1


"Seperti ... saat pemeran utamanya ... menghabiskan malam bersama di sebuah villa?" goda Ardian.


"Astaga ... dasar mesum!"


"Hahaha ...!"


Aku harap, aku bisa terus melihat pemandangan ini. Pemandangan yang aku lihat dari balik dinding kaca ini ... semoga aku bisa sering melihatnya.


------------------------


--------------------------------


07.45 WIB


"Selamat pagi, Nay."


"Selamat pagi, Dokter. Ehm ... baunya enak. Kamu bisa masak?" tanyanya sambil melahap nasi goreng buatanku.


"Aku sudah biasa hidup sendiri."


"Ardian juga hidup sendiri, tapi dia nggak bisa apa-apa, tuh!" celetuknya.


"Hahaha ... dia memang pemalas."


------------


"Wah ... baunya enak!"


Umur panjang. Baru saja dibicarakan, dia langsung muncul dan menyambar sepiring nasi goreng yang ada di depan Naya.


"Berbagi ya, Nay!" katanya.


"Kok, kamu berpenampilan kayak gini, sih?"


Naya nampak mengamati Ardian yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong tipis.


"Tadinya aku mau lari sebentar, tapi nggak jadi. Hawanya dingin. Mending aku pelukin kamu aja biar anget."


"Haiiish ... apaan, sih?!" geram Naya.


"Jam berapa kita bergerak?" tanya Ardian padaku.


"Nanti malam, jam delapan malam."


"Oke."


"Ardian, apa kamu ... baik-baik saja?" tanyaku.


"Apa?!" Ardian nampak bingung mendengar pertanyaanku. "Aku baik-baik saja. Memangnya aku kenapa?"


"Ah ... enggak. Hanya asal bertanya saja," kilahku.


"Sejak kapan kamu sok khawatir begitu padaku?" tanyanya. "Bikin merinding."


-----------------


---------


19.45 WIB


COFFE MIX


"Itu tempatnya." Aku menunjuk ke sebuah bar di depan mobil kami terparkir. "Ingat, jangan sampai mematikan alat komunikasi kalian!"


"Oke," jawab Ardian dan Naya.


"Semoga berhasil."


-------------


Aku hubungkan gambar yang berhasil direkam oleh alat perekam yang aku pasang di kaca mata Naya dan Ardian ke dalam laptopku.


"Nay, target sudah masuk. Dia ada di arah jam tiga," kataku, yang terhubung dengan mikrofon kecil yang terpasang di telinga Naya.


"Oke. Aku mengerti."


--------------


Naya memasangkan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia berpindah tempat duduk di belakang Om Hery berada.


Sengaja aku menyuruhnya mendekat, agar aku bisa dengan jelas mendengar pembicaraan pamanku itu dan juga merekamnya.


-------------


"Saya sudah sampai di Coffe Mix," kata Om Hery dengan ponsel menempel di telinganya.


"Anda sudah datang? Ruang mana? VVIP? Baiklah, saya menuju ke sana."


--------------


"Ardian, kamu dengar?" Kusambungkan alat komunikasiku dengan milik Ardian.


"Iya. Aku akan mengikutinya."


Ardian nampak menarik hoodie dan menutupi kepalanya. Dia berjalan mengikuti Om Hery yang terlihat terburu-buru untuk menemui seseorang.


--------------


---------


"Ardito, aku nggak bisa masuk. Ruangan itu ada penjaganya," kata Ardian.


"Nggak ada ide untuk masuk ke dalam?" tanyaku.


"Ide?" Ardian nampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Kurasa ... aku ada ide."


----------


Ardian berjalan ke arah ruang ganti waiters. Dibukanya botol obat yang aku berikan padanya untuk berjaga-jaga. Dituangkannya cairan itu di sapu tangan yang dibawanya.


"Si--siapa, kamu? Ehm ... ehm ...!"


"Maaf, aku terpaksa. Ini ide kakakku yang agak gila, bukan ideku," kata Ardian, sambil mengunci waiters pria itu di dalam toilet.


-------------


"Wah ... kamu kelihatan oke memakai baju pelayan bar seperti itu. Haha ...," godaku.


"Berisik!" geramnya. "Aku harap obat bius itu nggak membuatnya mati."


"Tenang saja! Itu hanya Diazepam. Masih lebih rendah dari Morfin. Dia hanya akan tidur sebentar, sampai tugas kita selesai."


----------------


------------


Dengan penyamarannya, Ardian mendorong sebuah troli makanan ke ruangan yang dimasuki Om Hery.


-------------


"Ini adalah dokumen-dokumen milik Glorya."

__ADS_1


Dari kamera perekam yang terpasang di kaca mata Ardian, aku bisa melihat pamanku itu nampak menyerahkan beberapa lembar berkas pada pria di depannya.


Sayangnya, pria itu duduk membelakangi Ardian. Aku jadi tak bisa melihat wajahya dengan jelas.


------------


"Ardian, kamu bisa lebih mendekat?" tanyaku. "Bisakah dapatkan gambar pria yang bersama Om Hery itu?"


"Oke."


------------


"Tunggu!" Seorang penjaga menghadang Ardian. "Biar aku saja yang menaruhnya di meja direktur!"


"Ah ... tunggu ... tunggu!" Ardian menarik lengan penjaga itu. "Maksud saya adalah ... ini pekerjaan saya dan saya bisa dipecat kalau meminta orang lain menggantikan saya."


"Tak apa. Aku tak akan bilang ke bosmu," kata si penjaga.


"Tunggu ... tunggu ...!" seru Ardian.


"Apalagi?" geram si penjaga.


"Di sini ada CCTV dan bos saya pasti bisa melihatnya."


--------


Astaga! Dia benar-benar pintar berakting. Dia bahkan bisa memasang wajah memelas seperti itu.


"Baiklah. Taruh makanannya di meja dan cepat keluar!" kata si penjaga.


"Tentu saja. Aku pasti akan melakukannya dengan cepat," jawab Ardian, dengan menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


-----------


Hebat sekali! Akhirnya dia berhasil mendekat. Aku semakin berdebar-debar dan tak sabar untuk melihat wajah asli dari orang yang dipanggil 'direktur' itu.


---------


"Silakan ditanda tangani!" kata Om Hery.


Ardian nampak memindahkan makanan dan minuman dari troli ke atas meja.


"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh!" teriak Om Hery.


"Ma--maaf. Saya tidak sengaja."


Astaga!


Si bodoh itu!


Kenapa dia bisa seceroboh itu? Pakai menumpahkan minuman segala. Anak itu benar-banar membuatku darah tinggi.


"Ardian?!"


"Astaga?!" pekik Ardian. "Ba--bagaimana ... bagaimana bisa? Anda?"


Kulihat Ardian nampak terhenyak menatap pria yang bersama Om Hery itu.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Ardian?!" teriak Om Hery. "Penjaga ... tangkap dia!"


"Haiiish ... siaaaal ...!"


-----------------


Kekacauan pun terjadi. Aku sempat menangkap gambar Ardian yang berlari meninggalkan ruangan. Dia nampak terlibat perkelahian dengan para body guard itu.


"Ardiaaaan ...!" teriak Naya.


"Cepat pergi dari tempat ini! Di sini berbahaya," kata Ardian.


"Tapi---"


"Cepat keluaaaar ...!"


-----------


Teriakan itu yang sempat aku dengar beriringan dengan suara hantaman tangan dan segala bentuk perkelahian.


"Ardian, cepat tinggalkan gedung itu!" seruku.


"Tidak. Aku harus menangkap pria itu. Kamu nggak akan percaya dengan apa yang aku lihat tadi."


"Apa? Apa yang kamu lihat?"


"Pria itu ... pria yang disebut 'direktur' itu ... dia adalah ... Aaaaargh ...!"


"Mati, kau!"


Apa?


Suara apa itu barusan?


--------------


-------


Aku segera berlari keluar dari mobil dan menuju gedung tempat Ardian berada.


"Naya, apa yang terjadi?" Aku bertemu Naya di pintu masuk.


"Ardian sedang dikeroyok banyak pria berbaju hitam. Cepat cari bantuan, Ardito!"


---------


"Cepat tinggalkan tempat ini dan jangan tinggalkan jejak apapun! Biarkan anak muda itu tergeletak di sana! Sebentar lagi, dia pasti akan mati."


Segerombolan pria berbaju hitam nampak berhamburan berlari keluar gedung.


----------


Ardian. Jangan-jangan ... sesuatu terjadi padanya.


Aku segera berlari ke dalam. Perasaanku semakin tak karuan setelah mendengar perkataan pria-pria itu.


------------


"Ardiaaaaaan ...!" teriak Naya.


"Ardian ... Ardiaaaan ...!"


"Ar--di--to ... mere--ka ... ada--lah---"


"Diam! Jangan banyak bicara! Kamu sudah kehilangan banyak darah."


Aku merobek kemejaku dan menekan perutnya yang mengucurkan begitu banyak darah segar. Sebuah luka tusukan yang cukup dalam.


Ini gawat! Dia tak boleh sampai pingsan.


"Ardian, jangan tutup matamuuu!" teriakku.


"Kamu harus tetap sadar, Ardiaaaaaan!"

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2