NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 20


__ADS_3

(pov ARDIAN)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻


Ketika orang asing menjadi keluarga ...


Dan keluarga ...


Telah menjadi orang asing ...


🌻


---------------------------------------------------------------------


"Ardian, mau makan apa? Mumpung libur kerja, aku mau masak enak hari ini," kata Naya, dengan setengah berteriak dari dapur.


"Terserah. Aku, kan pernah bilang padamu kalau aku ini omnivora," jawabku, sembari nonton TV.


"Oke, deh. Bakalan aku masakin yang enak buat suamiku terlope-lope."


"Haiiish ... apaan,sih? Dasar!" Aku terkekeh mendengar kata-katanya.


Akhir-akhir ini dia terlihat aneh. Rasanya dia terus mencari perhatian dariku. Tak ada masalah, sikapnya tak menggangguku sama sekali. Hanya saja, aku merasa sedikit heran. Dia lebih perhatian padaku. Dan memperlakukanku dengan sangat baik.


----------------


"Ardian, udah mateng, nih!"


Oh, akhirnya! Setelah menunggu selama hampir dua jam, ada panggilan juga dari dapur. Kutekan tombol 'off' pada remote TV dan bergegas menuju ruang makan. Perutku sudah perih rasanya.


"Apaan ini?!" seruku.


"Omlet tahu," jawab Naya, dengan wajah tanpa dosa.


"Omlet tahu apaan? Ini, sih tahu diubek-ubek dicampur telur," kataku, sambil mengangkat yang katanya omlet itu. "Aduh, Nay ... masa' aku harus makan beginian, sih? Nggak ada yang lain gitu?"


"Apa katamu?!" pekiknya. "Jadi kamu nggak mau makan masakanku, nih? Jahat! Sungguh jahat sekali. Huh ... benar-benar nggak menghargai jerih payah istri yang berdiri berjam-jam si dapur. Ter ... la ... lu!"


Astaga! Dia sedang main drama, ya? Jerih payah apanya? Cuma telur sama tahu saja sampai dua jam masaknya. Dan sekarang malah ngambek dia.


Duh! Salahnya di mana kata-kataku tadi?


"Iya, deh ... iya. Aku makan," kataku, dengan sangat terpaksa.


"Ohw ... suamiku yang baik hati terlope-lope. Kamu baik, deh. Hehehe ..."


Nah, kan? Dia memang agak aneh. Sejak awal, dia memang gadis tukang halu yang aneh. Tapi akhir-akhir ini tingkah polanya lebih aneh lagi.


"Enak?" tanyanya, dengan mata berbinar-binar. Kalau aku jawab tidak enak, dia pasti akan marah.


"Enak. Daebak banget!" kataku, dengan memberinya dua jempol.


"Ommooo ... aigooo ... syukur, deh kalau enak. Nggak percuma aku masukin micin sebungkus."


"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...! Gila, ya? Bener-bener generasi micin, nih anak," gerutuku.


Dan gadis itu hanya cengengesan saja melihat ekspresi kesalku.


---------------------


"Oh? Kelihatannya ada tamu." Naya bangkit dari duduknya begitu mendengar bunyi bel.


Aku segera meletakkan sendokku dan mengikuti langkahnya.


"Morning, adikku tersayang." Ardito menghambur memelukku begitu pintu dibuka.


"Bagaimana keadaanmu? Pusingkah? Lemaskah?"


"Aduh ... lepasin! Jangan peluk-peluk!" geramku.

__ADS_1


"Adik iparku yang manis." Ardito berganti memeluk Naya. "Ehm ... kamu bau bawang, Nay. Tapi tetep sweetlah. Hahaha ..."


Wah! Apa-apaan mereka? Bisa-bisanya berpelukan mesra begitu di depanku. Naya sendiri juga ketawa-ketiwi dalam pelukan Ardito. Sejak kapan mereka sedekat itu?


"Jangan peluk-peluk terus! Teletubbies aja kalah," kataku, sambil menarik lengan Naya menjauh dari kakakku itu.


"Hahaha ... apaan, sih? Aku, kan hanya memberi salam pada calon istriku."


"Ca ... calon istri katamu?!" pekikku.


"He'em," angguk Ardito.


"Calon istri gimana? Dia ini masih sah jadi istriku," geramku.


"Ya, nanti kalau kamu menceraikannya, aku akan menikahinya," jawab Ardito, sambil menarik lengan Naya dariku. "Lagipula kamu, kan sudah punya Nadine. Jangan maruk, dong! Iya, kan, Nay?"


"He'em," angguk Naya.


Wah! Benar-benar sudah gila mereka. Bersikap mesra begitu di depanku. Padahal tadi si Naya masih bersikap sok romantis. Begitu Ardito datang, dia berubah seketika.


Dasar wanita!


-----------------------


"Ada apa kamu pagi-pagi ke sini?" tanyaku, sedikit kesal.


"Dokter, mau sarapan dulu?" tanya Naya.


"Kenapa kamu nawarin dia makan segala? Nggak usah!" bentakku.


"Dih ... sewot gitu! Ingat kata dokter Zain! Tekanan darahmu nggak boleh naik! Bisa hancur itu selaput otakmu," gerutu Naya.


"Bodo amat!"


"Hahaha ... menyenangkan melihat kalian bertengkar lagi. Aku jadi merasa punya peluang," celoteh Ardito.


"Diam, kamu!" teriakku, makin kesal. Dan mereka berdua hanya tertawa menanggapiku.


"Ardian, ada sesuatu yang ingin aku perlihatkan padamu," kata Ardito. "Pinjam laptopnya!"


------------------


"Sebelum aku menunjukkan video ini padamu, aku ingin menanyakan beberapa hal dulu padamu, Ardian." Ardito menatapku dengan serius.


"Ada apa?" Aku sedikit merasa tegang.


"Soal orang yang dipanggil 'direktur' itu, apa tak sedikit pun ada gambaran di ingatanmu?"


"Sama sekali," gelengku.


"Oke. Coba lihat ini!"


Ardito memutar laptop itu padaku dan Naya. Sebuah video yang terekam di Coffe Mix ketika kami membuntuti Om Hery.


"Pause." Ardito menghentikan videonya saat gambar seorang pria yang tampak dari belakang muncul. "Dia adalah orang yang disebut 'direktur' itu."


"Dia?!" pekikku.


"Ada yang kamu ingat?" tanya Ardito.


"Enggak. Nggak ada," gelengku.


"Tapi, bukannya rekaman milik Ardian sudah diambil para body guard itu? Darimana kamu mendapatkan rekaman ini?" tanya Naya.


"Aku sedikit meretas CCTV di tempat itu. Sayangnya, gambar-gambar yang penting sudah dihapus. Termasuk perkelahian yang melibatkan Ardian."


"Maksudmu, mereka menghapus semua jejaknya?" tanyaku, tak percaya.


"Tepat."


"Haiiiish ... para ******** itu!" geramku.

__ADS_1


"Tapi, aku dapat petunjuk yang sangat penting!"


Melihat sunggingan senyum di bibir kakakku itu, aku dan Naya saling melempar pandang. Sepertinya dia benar-benar dapat sesuatu yang bagus.


"Perhatikan ini baik-baik!"


Ardito memperbesar gambar yang dia tunjukkan pada kami. Area 'zoom' terfokus pada pergelangan tangan kiri pria berjas hitam tersebut.


"I ... ini, kan?" Aku melempar pandang pada Ardito dengan tatapan tak percaya.


"Tepat sekali," sahutnya. "Sebuah arloji yang dibuat khusus untuk keluarga Benedict Lim saat ulang tahun GLORYA yang ke-29. Benda ini hanya ada empat buah saja. Dan yang memilikinya adalah aku, kamu, ayah dan juga kakek."


"Apa-apaan ini?"


"Ma ... maksudnya, salah satu dari pemilik arloji ini adalah pelakunya? Wah!" Naya mengatupkan kedua tangan di mulutnya dengan ekspresi tak kalah terkejutnya.


"Jika mengeliminasi aku dan Ardian, maka tersangkanya adalah ayah atau kakek," lanjut Ardito.


"Hei, jangan sembarangan!" bentakku, mulai beremosi. "Hanya karena benda itu, kamu bisa berpikir gila seperti ini? Bagaimana mungkin salah satu dari mereka adalah ..."


"Maka dari itu aku ingin memastikannya, Ardian," sergah Ardito. "Aku ingin memastikan, apakah mereka masih memiliki benda itu atau tidak? Dengar aku baik-baik, Ardian! Saat ini, kita nggak bisa percaya pada siapa pun, meski keluarga kita sendiri. Salah satu dari mereka ingin melenyapkanmu."


"Astaga!" seru Naya.


Kegilaan apalagi ini? Kenapa bisa mereka berdua yang muncul jadi tersangkanya?


"Jika kejadiannya dikaitkan dengan hilangnya memori Ardian karena sebuah syok yang hebat, ini bisa dimengerti," kata Ardito. "Saat kamu terkejut melihat sosok 'direktur' yang ternyata kamu kenal dengan baik, saat itulah sel sarafmu tak mampu menerima kejutan itu dan menghapus memorimu."


"Sialan! Kenapa aku sama sekali nggak ingat kejadian itu?" hardikku.


"Ardian, tetap tenang!" kata Ardito. "Baik ayah mau pun kakek, mereka bukan orang sembarangan. Kita nggak boleh gegabah!"


"Apa kita akan langsung menyelidikinya?" tanyaku, tak sabar.


"Tidak. Aku tak mau membawa kalian dalam situasi berbahaya lagi. Aku akan menyelidiki lebih jauh tentang ini. Setelah semua sudah dipastikan, kita mulai bergerak! Saat ini, kita cukup berpura-pura tak tahu apa-apa! Biarkan mereka bertindak dan kita mengawasinya!"


"Nggak akan aku biarkan mereka bertindak lebih jauh!" geramku.


---------------------------


-------------------


19.30 WIB


"Kamu nggak makan? Harus minum obat, lho!" kata Naya, yang menghampiriku di beranda kamar.


"Aku nggak lapar," jawabku.


"Masih memikirkan perkataan dokter Ardito?"


Tentu saja. Cerita Ardito itu benar-benar menggangguku. Keluargaku sendiri termyata berniat menyingkirkanku. Aku sungguh tak habis pikir.


"Ardian, sel sarafmu nggak boleh tegang! Itu akan berbahaya untukmu," kata Naya.


"Aku tahu."


Aku masih berdiri menerawang jauh melihat jalanan yang masih nampak ramai dari lantai lima itu. Hawa dingin nenyeruak dan terus mengisi kepalaku yang mulai terasa panas.


"Adakah keluarga seperti ini? Keluarga yang ingin menyingkirkan keluarganya sendiri, apakah bisa disebut keluarga?" gumamku.


"Sebegitu tak berharganya aku, sebegitu mengganggukah aku, sampai mereka ingin menyingkirkanku? Kesalahan apa yang sudah aku perbuat sampai mereka ingin membunuhku?"


"Ardian."


Kurasakan lengan Naya yang bergerak melingkar di pinggangku.


"Aku pun keluargamu. Dan aku tak pernah ingin menyingkirkanmu."


Kulihat gadis di depanku itu. Sebuah senyum tulusnya dengan mata sayu yang meneduhkan hatiku.


"Aku akan terus ada di sampingmu, sampai kamu bosan dan mengusirku, Ardian," ujarnya, sambil memelukku semakin erat.

__ADS_1


"Terima kasih, Naya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2