NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 40


__ADS_3

(pov NAYA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Biarkan rahasia itu ...


Tetap tersimpan sebagai rahasia ...


---------------------------------------------------------------------


"Maaf, aku terlambat." Aku menarik kursi dan duduk di hadapannya.


"Aku sudah pesankan capuccino untukmu. Semoga kamu suka."


"Terima kasih." Aku menyeruput kopi yang mulai dingin itu.


Tersungging sebuah senyuman di wajah cantiknya. Seorang wanita yang membuat suamiku tergila-gila. Dialah Nadine--ibu mertua tiriku, sekaligus pacar gelap suamiku.


Sore itu, dia menghubungiku dan mengajakku bertemu di sebuah cafe tak jauh dari tempatku bekerja. Mengingat kasus penembakan yang juga melibatkannya beberapa hari lalu, aku bisa menebak alasan dia memanggilku ke tempat ini.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Nadine.


"Iya."


"Syukurlah." Dia menghembuskan nafas lega. "Bagaimana dengan Ardian?"


"Kenapa tanya padaku?" tanyaku kesal.


Wanita itu nampak menunduk. Wajahnya berubah sendu dan bingung. Dulu ... meski sulit, aku masih bisa menahan amarahku saat Ardian mendatanginya. Tapi kali ini ... tidak. Rasanya aku ingin menjambak rambutnya yang tertata elegant itu.


"Aku minta maaf atas kejadian yang melibatkanmu ini, Naya. Aku sungguh tak ingin menyeretmu dalam bahaya. Aku hanya ingin melindungi Ardian."


"Sudahlah, jangan bertele-tele!" sergahku. "Aku nggak ada niatan sok akrab denganmu, Ibu. Jadi, langsung ke intinya saja!"


Aku sengaja memanggilnya 'ibu' agar dia sadar akan posisinya. Memalukan sekali melihat tindakan gilanya bersama suamiku. Meski Ardian sendiri bilang kalau dia tak pernah menyentuh Nadine.


"Aku sedikit terlambat, ya?"


"A--Ardito?!" pekikku ketika melihat kedatangan kakak dari suamiku itu.


"Hai, Naya," sapa Ardito seraya menarik kursi di sebelahku. "Kita barter?"


"Aku ingin lihat hasilnya dulu," kata Nadine.


Sesuatu yang tak aku mengerti sedang terjadi di sini. Ardito mengeluarkan selembar amplop putih dari saku jasnya untuk kemudian diberikan pada Nadine.


Wajah mereka berdua terlihat serius. Aku pun ikut tegang memperhatikan Nadine yang tengah menelisik tulisan di atas selembar kertas itu.


"Mengejutkan, bukan?" tanya Ardito sembari menatap Nadine.


Mata indahnya yang berhiaskan maskara, kini nampak berkaca-kaca. Manik kelam yang berembun itu menatap Ardito dengan sayu. Gelayut air mata nampak di pelupuknya.


"Berikan rekamannya padaku ... Kakak!"


Kakak?!


Ucapan yang terlontar dari mulut Ardito membuatku terkejut. Dia mengulurkan tangan pada Nadine dengan nafas yang kian memburu. Dia terlihat dipenuhi emosi.


"Sampai kapan kamu akan berpura-pura, Nadine!" teriakan Ardito dibarengi gebrakan tangan yang beradu dengan meja. "Katakan yang sebenarnya sekarang juga! Jangan coba-coba menipuku lagi! Aku tidaklah selugu Ardian."


Nadine nampak menelan saliva. Raut wajahnya getir dan semakin menunduk menghindari tatapan tajam Ardito.


"Apa ayah tahu?" tanya Ardito yang diikuti anggukan kepala dari Nadine. "Sialan! Jadi yang menyerang Ardian itu bukan dia?"


"Bukan," jawab Nadine. "Penyerangnya adalah kakekmu."

__ADS_1


"Sudah kuduga. Si tua itu benar-benar licik!" geram Ardito. "Berikan rekamannya padaku sekarang juga!"


"Jangan beri tahu Ardian soal ini!" ucap Nadine seraya memberikan sebuah kartu memori pada Ardito. "Aku akan memberi tahu dia sendiri nanti."


"Terserah." Dengan kasar, Ardito menyambar benda pipih kecil itu dari tangan ibu tirinya.


"Naya ...," lirih wanita itu padaku. "Atas kejadian penembakan itu, aku sungguh turut berduka. Satu hal yang ingin aku pesankan padamu, berhati-hatilah! Sebisa mungkin, jangan berada di dekat Ardian jika kamu ingin selamat!"


"Agar kamu bisa mendekati suamiku, begitu?" sindirku. "Kita ini sama-sama wanita, berhentilah bersikap seperti wanita murahan!"


"Naya!" seru Ardito sembari menarik lenganku. "Hentikan!"


Hentikan katanya? Rasanya aku ingin mencabik-cabik wanita kurang ajar ini. Jika tak menghormati ayah mertuaku, sudah pasti aku akan mencukur habis rambut panjangnya itu. Akan aku cekoki dia dengan morfin.


"Nadine, pergilah!" pinta Ardito.


Wanita itu pergi meninggalkan kami dengan wajah yang nampak sedih, sedangkan aku tenggelam dalam kebingunganku sendiri.


***


Menjelang Maghrib, semburat mega merah muncul mengiringi perjalanan kami. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir dokter muda di sampingku ini. Dia diam dan fokus mengemudi. Sudah jelas ini ada hubungannya dengan isi dalam amplop yg dia berikan pada Nadine, juga tentang kartu memori itu.


"Dokter." Aku mencoba memecah keheningan. "Apa sesuatu yang buruk telah terjadi? Suasana hatimu tidak terlihat baik."


Sisi bibirnya sedikit ditarik ke atas untuk menimpaliku. Dia masih saja bergeming.


"Tadi Nadine bilang kalau penyerangnya dalah kakekmu. Apa Dokter juga tahu itu?"


"Aku sudah curiga," jawabnya.


"Jadi itu benar?!" Aku terlonjak mendengar jawabannya. "Ba--bagaimana mungkin? Bu--bukankah dia justru membantu Ardian untuk menghadapi Om Hery itu?"


"Dia itu licik. Sudah jelas dia ingin menghancurkan Ardian. Bukan ... bukan Ardian, tapi ayah."


"Hah?!" pekikku. "Kok, bisa begitu? Lalu, soal perjanjian menggunakan novel waktu itu?"


Bibir Ardito kembali terkunci sampai kami tiba di depan apartement Ardian.


"Sampai jumpa," salam Ardito seraya melajukan kembali mobilnya.


"Taksi!"


Bukan Naya namanya jika tidak penasaran dengan banyak hal. Melihat sikap aneh ibu tiriku, juga kebungkaman iparku, rasa penasaran kian menggelitik hatiku. Sepertinya tak akan tenang jika aku belum mendapat jawaban yang pasti, karena itulah aku datang ke tempat ini.


"Istri Ardian?"


"Iya, Kakek."


Albert Benedict Lim--kakek dari suamiku. Bibit, bebet dan bobot Ardian memang luar biasa. Di usia setua ini pun, kakeknya masih terlihat berwibawa. Tersisa guratan-guratan ketampanan di wajahnya.


"Senang bisa bertemu denganmu, Naya." Senyum ramahnya menyapaku. "Kamu manis sekali."


"Terima kasih, Kakek." Aku tersenyum lebar mendengar pujiannya. "Kakek juga terlihat keren. Pasti semasa muda juga ganteng seperti Ardian."


"Hahaha ...." Kakek terbahak-bahak mendengar celotehanku. "Aku lebih ganteng dari Ardian. Aku bahkan bisa menikahi tiga wanita cantik."


"O--oh begitu. Ha ... haha ... ha ...."


Rupanya sudah keturunan, ya? Pantas saja Ardian tak cukup denganku. Dia masih saja menempel pada Nadine. Rupanya pendahulunya juga sama saja.


"Apa yang membawamu datang kemari, Naya?"


"I--itu---"


"Pak, ada telpon." Seorang kepala pelayan datang menghampiri kami.

__ADS_1


"Aku tinggal sebentar, Naya," kata Kakek.


"Iya." Aku menganggukkan sedikit kepalaku.


Wah, coba lihat! Aku berada di situasi menguntungkan sekarang.


Aku mulai menelisik ruang kerja dari kakek suamiku itu. Sebuah ruangan dengan ornamen klasik dan tergantung banyak lukisan nahal di dindingnya. Sebuah guci kramik setinggi badanku berdiri di pojok ruangan. Terlihat mahal dan klasik.


Sebelumnya, aku sudah pernah melakukan hal ini di rumah Om Hery. Kali ini pun, aku akan melakukannya. Akan aku dapatkan sebuah bukti atas penyerangannya pada Ardian dan mengakhiri semua ini. Aku sudah mulai lelah dengan kerumitan keluarga mereka.


"Apa ini?" Aku mengambil sebuah berkas dari dalam laci meja kerja kakek. "Surat adopsi Chatarina Benedict Lim."


Merasa tak berguna, aku pun kembali meletakkan berkas itu ke dalam laci. Kembali kuedarkan pandanganku pada deretan buku yang tertata di lemari. Sepertinya orang tua ini punya hobi membaca.


"Astaga!" Sebuah buku terjatuh saat aku menariknya dari rak. "Album foto rupanya."


Satu per satu dari setiap halaman album kubuka. Tak ada yang istimewa. Hanya deretan foto keluarga.


"Wah, Ardian dan Ardito! Dari kecil, Ardian sudah ganteng rupanya." Aku sedikit terkekeh melihat wajah polos dua bersaudara di masa kecil itu. "Ini ... siapa ini?"


Kuambil selembar foto yang terpampang gambar ayah mertuaku saat masih muda dengan seorang gadis, yang jelas itu bukan istrinya--ibunya Ardian.


"Kamu menunggu lama?"


"Ah, tidak!" Aku terhenyak kaget saat kakek tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.


"Jadi, apa yang membawamu ke sini?" tanya kakek dengan sikap wibawanya.


"Ehm ... soal novel yang diminta Ardian untuk aku tulis," ucapku beralasan. "Bukankah terlalu mengada-ada untuk menjadi best seller dengan menilih saya yang amatir ini?"


Ekspresi wajah yang santai. Bersandar di sofa dengan melipat kedua tangan di dada. Sunggingan senyum tersemat penuh makna. Orang ini memang mencurigakan.


"Katakan padaku, Naya!" ujarnya. "Genre apa yang kamu ambil untuk novelmu itu?"


"Genre?" Rasa ragu sedikit bergelayut di benakku. "Entahlah. Saya belum memastikan tipe genre dari tulisan saya. Akan tetapi, saya sudah punya gambaran cerita siapa yang akan saya tulis."


"Maksudnya, kamu akan menulis sebuah kisah nyata?"


"Iya," jawabku.


"Wah, sangat menarik!" Kakek nampak mulai serius memperhatikan aku. "Kisah siapa?"


"Kisah sebuah keluarga kaya, di mana sang kakek ingin membunuh cucunya tanpa sebab."


Mimik wajahnya berubah. Sedikit tegang dengan memicingkan mata padaku.


"Ah, Kakek ini sudah malam. Saya harus pulang," ujarku memecah ketegangan. "Jika ada waktu, saya pasti akan mampir ke sini lagi."


"Tentu saja, kamu harus datang ke sini lagi, Naya. Hahaha ...."


"Ehm, saya permisi. Selamat malam."


Rumah yang sangat megah. Aku harus segera meninggalkan tempat ini. Kakek itu pasti mulai curiga. Salahku juga karena terlalu banyak bicara. Bodoh sekali aku ini.


"Sepi banget. Kenapa dari tadi nggak ada taksi lewat?" Aku masih berdiri di ujung gang kompleks perumahan mewah itu.


Sudah hampir 15 menit aku menunggu taksi lewat, tak ada. Tiba-tiba, dua orang pria berjas hitam datang dan ikut berdiri di sisi jalan. Sepertinya mereka juga sedang menunggu taksi sepertiku.


"Gawat!"


"Hei, berhenti!"


Segera kulepas heels yang menempel di kakiku. Dengan gesit aku berlari menghindari kejaran kedua pria mencurigakan itu.


Menunggu taksi apanya? Sudah jelas mereka adalah pengawal kakek tua itu.

__ADS_1


Sialan! Jika sampai tertangkap, tamatlah riwayatku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2