NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 37


__ADS_3

(pov ARDITO)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌺🌺🌺


Bagiku, dia separuh dari jiwa ...


Saat dia pergi ...


Nyawaku seakan terbawa ...


🌺🌺🌺


---------------------------------------------------------------------


3 TAHUN LALU


"Baguskah?"


"Cantik."


"Ayolah, Ardito ... jangan bercanda terus! Aku beneran serius nanya."


Aku hanya bisa melempar senyum penuh makna pada gadis yang sedang berputar-putar di depan cermin sambil memantaskan baju yang akan dipilihnya.


"Apa gaun ini nggak terlalu formal?" Kembali dia menempelkan long dress maroon berlengan pendek di tubuh rampingnya.


"Pakai apa saja, kamu selalu terlihat cantik, Sayang."


"Gombal!" dengusnya tersipu malu.


Aku condongkan tubuhku padanya, menatap lekat wajah cantik dengan bibir yang selalu nampak ranum. Ah ... rasanya aku tak sabar untuk segera mempersuntingnya.


Dalisa--wanita pertama yang membuatku jatuh cinta dan ingin menikahinya. Kami bekerja di rumah sakit yang sama. Aku yang seorang dokter bedah dan dia seorang apoteker. Sama-sama orang kesehatan dan selalu menyenangkan berdiskusi banyak hal dengannya.


"Serius, nih aku bakalan ditemuin sama ibumu?" Wajah Dalisa nampak tegang. "Bagaimana jika keluargamu tak mau menerimaku? Aku takut."


"Kalau ditolak, kita akan kawin lari. Hahaha ...."


"Seriusan, ih!" Telapak tangannya mendarat tepat di punggungku.


Sudah aku rencanakan untuk mengajak Dalisa ke rumah dan mengenalkannya pada ibu. Ingin kuikat dia dengan hubungan yang lebih serius--sebuah pernikahan. Meski kami baru berpacaran selama tiga bulan, tak masalah bagiku. Dalisa gadis yang baik dan penuh semangat. Dia membuat hidupku terasa jauh lebih berarti dan menyenangkan.


"Ah, sebentar!" Aku lepaskan lenganku yang melingkar di pinggang Dalisa untuk mengangkat ponsel yang berdering. "Sekarang? Iya, baiklah."


"Ada apa?"


"Aku harus kembali ke rumah sakit. Dokter Zain memintaku untuk mengurus beberapa KOAS."


"Begitu," ujarnya kecewa.


"Jangan cemberut gitu, dong!" Kutakupkan kedua tanganku pada pipinya. Kudaratkan sebuah sentuhan pada bibir ranumnya. "Aku mencintaimu."


"Aku juga."


"Aku antar kamu pulang sekarang," kataku.


"Nggak usah!" tolaknya. "Aku akan naik taksi saja. Kamu pasti sudah ditunggu Dokter Zain. Pergilah!"


Masih kupandangi wajah teduhnya yang selalu berhiaskan senyuman. Sebuah cinta luar biasa selalu aku rasakan setiap dia menatap padaku. Aku ingin selalu bersamanya. Aku tak ingin kehilangannya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu!" Sekali lagi aku memeluknya sebelum akhirnya berlalu dan meninggalkan wanitaku itu di butik sendirian.


***


RUMAH SAKIT


"Sebelumnya aku ucapkan selamat atas operasi pertamamu, Ardito," kata Dokter Zain. "Sekarang aku percayakan para KOAS padamu. Bimbing mereka dengan baik agar menjadi sehebat dirimu!"


"Terima kasih, Dokter. Saya akan berusaha."


Bekerja dan berusaha dengan sangat keras untuk mencapai posisiku sekarang ini. Di usia muda, aku berhasil melakukan operasi pertamaku dengan sempurna. Tak ada sedikit pun kecacatan dalam pendidikan dan pekerjaanku. Segala yang aku lakukan selalu luar biasa.


"Dokter, ada pasien kecelakaan mobil yang harus segera dioperasi." Seorang perawat menerobos ruanganku dengan wajah pucat.


"Oke. Siapkan ruangan!"


Segera aku melepas jas putihku dan mengganti dengan pakaian lengkap khusus operasi.


"Sudah diperiksa?" tanyaku pada perawat yang mendampingiku masuk ke ruang operasi yang telah disiapkan. "Apa yang terjadi pada pasien?"


"Ada lebam membiru di perutnya. Sepertinya terjadi benturan yang merusak salah satu organ vital dalam perutnya."


"Oke. Siapkan semua yang diperlukan!"


Begitu aku melangkahkan kaki memasuki ruangan steril itu, seorang asisten perawat segera memakaikan jas operasi padaku.


"Sudah cek tanda vitalnya?" Kulontarkan pertanyaan sembari berjalan menghampiri pasien yang tengah terbujur di atas meja operasi.


"Pasien mengalami hipontensi, tekanan darahya terus menurun," jawab salah satu dokter yang menjadi asistenku.


"Baiklah. Berikan pisau bedahnya padaku!"


Dengan atribut lengkap serta pisau kecil silver di tangan, aku berjalan menghampiri pasienku.


"Dokter?!"


Para asisten operasiku berseru ketika sekujur tubuh ini mendadak tercekat kaku hingga pisau bedah terjatuh dari genggaman.


"Da--Dalisa ...." lirihku.


Tak bisa aku percaya, nalarku masih tak jelas menangkap respon dari otakku. Wanita yang terbujur bersimbah darah di atas meja operasi adalah Dalisa--wanita yang aku cintai--yang ingin kunikahi.


"Dokter, kondisi pasien semakin menurun, kita tak punya waktu lagi. Operasi harus segera dilakukan, Dokter!" kata salah seorang asistenku.


Sungguh kacau perasaanku saat itu. Segala yang ada di benakku menghilang seketika. Sulit sekali rasanya untuk mengendalikan raga dan perasaanku. Hatiku sudah kelewat bergemuruh luar biasa.


"Dokter!"


Teriakkan salah seorang asisten membuatku terkesiap. Langkah yang amat berat saat aku mencoba mendekat padanya.


Dalisa---dia sungguh Dalisa.


"Pisau bedah," perintahku pada perawat di sampingku.


Bagiku, menjadi seorang dokter adalah suatu kebanggaan. Saat di mana aku berhasil menyelamatkan nyawa seseorang yang hampir tak punya harapan secara medis. Melihat kelegaan dari wajah keluarga pasien yang menharap kesembuhan, itu sangat menyenangkan. Akan tetapi, sekali pun tak pernah terlintas dalam benakku, kalau aku akan membedah oarang terdekatku.


Rasanya ngilu dan sesak. Tangan yang selalu bergerak lincah penuh percaya diri untuk menggerakkan pisau bedah, mendadak jadi kaku dan gemetar. Hilanglah keberanianku untuk menatap wajah pasienku itu---Dalisa.


Sebuah lebam berwarna merah kehitaman muncul di bagian perutnya. Aku sayatkan pisau silver tajam itu membedah dagingnya.


Dalisa ... kenapa harus kamu?

__ADS_1


Gumpalan darah yang tersembur karena rusaknya organ dalam. Tangan dan tubuhku semakin bergetar dibuatnya.


"Sedot semua darahnya!"


"Baik, Dokter!"


Aku sedikit menjauh dari tubuh Dalisa. Kutekan dada kiriku yang terus berdegup kencang dan terasa nyeri. Sungguh aku berharap ini segera berakhir. Aku berharap dia yang kucintai akan baik-baik saja.


Tuhan, mataku terasa panas saat menahan sebak yang teramat sangat dalam dadaku.


"Dokter, semua darah di titik vital sudah berhasil dibuang," kata salah seorang asistenku.


"Syukurlah. Jahit lukanya!"


"Baik, Dok."


Tenanglah, Ardito! Tak akan terjadi apa-apa. Dalisa pasti akan selamat. Andai tadi aku mengantarnya pulang, semua hal na'as ini pasti tak akan terjadi.


TIT ... TIIIIT ... TIIIIIIT ...!


"Apa yang terjadi?!" seruku.


"Tekanan darah pasien terus menurun, Dokter."


"Dokter, jantungnya mulai melemah!" seru seorang perawat sembari memperhatikan monitor EKG.


Aku segera menyambar alat kejut jantung dan menghampiri Dalisa. Embun nampak muncul dari masker oksigen yang dia pakai. Tarikan nafasnya terlihat tersendat dan berat.


"Satu ... dua ... tiga ... syok!"


Tubuh Dalisa terangkat saat menerima kejut jantung dariku.


"Sekali lagi dengan tekanan yang sama. Satu ... dua ... tiga ... syok!"


Pandanganku beralih pada monitor EKG. Masih belum ada perubahan. Gelombangnya kian datar.


"Naikan tekanannya!" perintahku. "Satu ... dua ... tiga ... syok!"


TIIIIT ... TIIIIIIT ... TIIIIIIIIIIIIIIIT ...!


"Tidak ... tidak, Dalisa!" seruku. "Jangan ... jangan seperti ini!"


"Dokter, jantung pasien sudah---"


"Tidaaaak!"


Aku melempar alat kejut jantung yang ada di tanganku. Garis lurus yang muncul di layar monitor alat EKG itu memaksaku beringsut naik ke meja operasi.


"Dalisa, bangun!" Sekuat tenaga aku berusaha memompa jantungnya. "Aku mohon bertahanlah, Dalisa!"


Tak bisa lagi kubedakan mana peluh dan mana air mataku. Keduanya menetes bersamaan jatuh dari wajahku.


TIIIIIIIIIIIIIIIIIT ...!


"Dalisa ... Dalisaaaaaaa!"


Itulah hari di mana aku melepas gelarku sebagai seorang dokter bedah.


Itulah hari di mana aku menyerah dan melepas segalanya.


Itulah hari di mana aku tak bisa lagi merasakan yang namanya cinta.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2