
(pov ARDITO)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🍁🍁 Meski hanya sekejap ...
Aku ingin bertemu ...
Aku ingin berucap maaf ... 🍁🍁
---------------------------------------------------------------------
"Ardian, kamu pikir aku bodoh?" kataku dengan menahan emosi. "Mau sampai kapan kamu menipuku, sialan?!"
Aku mencengkeram krah bajunya dengan bersusah payah menahan amarah.
"Kamu bisa setenang itu saat mendengar nama Nadine terkait dengan perusahaan fiktif ayah. Kamu yang bersikap santai meski sudah tahu kebusukan ayah. Kamu yang akhirnya nggak bisa mengendalikan diri di depan Naya. Sampai kapan kamu akan terus berpura-pura kehilangan ingatan? Katakaaaan!"
Bukan tanpa alasan aku menuduhnya berbohong. Aku mulai curiga ketika beberapa hari lalu dia pergi sendirian ke Coffe Mix tempat kejadian na'as itu terjadi. Tentu saja dia pergi sendirian, tapi aku bisa mengetahuinya dari alat pelacak yang kutanam di jam tangannya juga GPS yang diam-diam aku taruh di mobilnya.
"Masih diam juga?" Semakin erat aku mencengkeram krah bajunya. "Aku sudah bersusah payah menahan emosiku di depan Naya. Jangan sampai aku berteriak dan membangunkannya. Katakan sekarang juga! Aku ingin dengar yang sebenarnya."
Ditolehkan kepalanya ke arah kamar tempat Naya tertidur. Sambil menghembuskan nafas berat, dia menarik cengkeraman tanganku.
"Kita bicara di luar!" ajaknya.
Ardian bangkit dan aku mengikutinya yang melangkah ke luar dari apartement.
Hawa dingin di musim hujan mulai menusuk dagingku. Kondisi tubuhku yang sedikit kurang fit, membuatku bersusah payah menahan angin yang menerpaku. Sebuah cafe 24 jam yang tak jauh dari tempat Ardian, kami duduk dan memesan dua cangkir americano.
"Aku memang kehilangan sebagian memoriku."
"Masih mau berbohong?!" bentakku.
"Dengarkan aku dulu!" Ardian terlihat tenang menghadapi kemarahanku. "Soal Naya ... kamu benar. Aku masih mengingatnya. Aku ingat dia dengan jelas. Semua tentang kami, tak ada yang kulupakan. Tapi---"
Si licik ini benar-benar membuatku naik darah. Dia bilang tak melupakan Naya sedikit pun. Jadi selama ini dia menjalin hubungan bersama Nadine dengan kesadaran penuh. Bahkan Naya sampai menderita seperti itu karenanya. Dia masih bisa berpura-pura tak terjadi apa-apa. Rasanya aku ingin mencekiknya.
"Kejadian di Coffe Mix waktu itu, aku tak mengingatnya sama sekali."
"Bohong!" sergahku.
"Sungguh," sahut Ardian. "Jika aku ingat siapa pelakunya, aku pasti sudah meringkusnya."
Air mukanya meyakinkan. Terlihat sebuah amarah yang tiba-tiba mencuat dibarengi kepalan tangannya.
"Lalu, soal Nadine?" selidikku.
"Sama sepertimu, aku pun mencurigai ayah," ucapnya. "Aku mendekati Nadine untuk mencari informasi sebanyak mungkin. Soal rekening bank pada perusahaan fiktif itu, aku juga tak sengaja mengetahuinya saat tas milik Nadine tertinggal di dalam mobilku."
"Kenapa kamu nggak bilang tentang semua ini padaku?"
__ADS_1
Dia diam. Terlihat ragu dan sedikit kebingungan.
"Aku mengkhawatirkan Naya," ujarnya sendu. "Aku tak ingin melibatkannya dalam situasi membahayakan lagi, Ardito. Aku sendiri hampir mati waktu itu. Hal serupa pun bisa terjadi padanya. Aku tak ingin seperti itu."
Dia benar. Akan sangat egois jika kami terus melibatkan Naya dalam situasi rumit dan berbahaya seperti ini. Tetapi, perihal tentang kebohongannya ini, aku juga tak bisa membenarkannya.
"Kamu harus memberi tahu Naya!"
"Enggak!" seru Ardian cepat. "Aku mohon, jangan sampai dia tahu! Biarkan semua tetap seperti ini sampai kita mendapatkan bukti yang jelas, baik tentang ayah maupun kakek! Memang kedengarannya nggak adil untuknya. Aku sendiri pun merasa menderita. Hatiku pun sakit melihat dia menangis karenaku. Tapi aku nggak punya pilihan. Ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap menjaganya."
Untuk pertama kalinya, Ardian memandangku dengan penuh keputus asaan. Seakan sebuah beban berat tengah menggantung di hatinya. Pertama kalinya dia terlihat lemah dan mengakui krtidak berdayaannya.
"Baiklah." Aku menarik nafas berat. "Kita lakukan bersama-sama! Kamu dan juga aku, kita akan menangkap mereka semua ... bersama!"
"He'em."
Meski sedikit ragu, aku putuskan untuk mengikuti rencananya. Tak ada jaminan kalau semua ini akan berakhir baik. Setidaknya kami sudah mencoba. Kami pun harus siap dengan segala resikonya.
----------
APARTEMENT ARDIAN
"Kalian dari mana?"
Kami cukup terkejut saat melihat Naya yang tengah duduk di ruang makan sembari meneguk teh hangat di cangkirnya.
"Kamu belum tidur?" tanya Ardian.
Aku dan Ardian hanya saling melempar pandang, seakan sepakat untuk terus bungkam.
"Kami ngopi sebentar ke luar." Aku menarik kursi di depan Naya yang diikuti Ardian.
"Tumben kalian berdua akur."
Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik. Akur di mananya? Padahal sejak tadi aku mati-matian menahan kesalku pada Ardian. Kalau diberi kesempatan, aku ingin sekali melempar tinjuku padanya.
"Ini sudah malam. Dokter Ardito mau nginep di sini?" tanya Naya.
"Bolehkah?" Aku melirik jahil pada Ardian yang tengah melotot di sampingku.
"Pulang sana, dokter mesum!" geramnya.
"Hahaha ... oke. Lagian aku nggak mau jadi obat nyamuk di sini. Melihat kalian bermesraan membuatku sesak nafas," candaku. "Aku balik, ya. Sampai jumpa di tempat kerja, Naya."
"Sampai jumpa, Dokter."
***
KANTOR PENERBITAN GLORYA
09:15 WIB
__ADS_1
Tanganku bergerak mengikuti langkah kaki yang menyusuri sepanjang deretan buku dalam perpustakaan besar itu. Aku ingat dengan jelas, dulu aku pernah bilang pada ayah kalau aku suka membaca. Aku ingin dibuatkan sebuah perpustakaan besar dengan ribuan buku sampai aku bosan untuk membaca. Sekarang pria yang masih aku hormati itu telah memenuhi janjinya. Perpustakaan megah tempat bernaung ribuan bahkan mungkin jutaan buku lengkap dengan kantor penerbitannya.
"Buku yang sedang kamu pegang itu adalah seri lama dari karya Agatha Christie."
"Ah, selamat pagi, Ayah."
Kutundukkan sedikit kepalaku saat pria berjas lengkap itu datang menghampiri. Aku menarik sebuah kursi dan mempersilakannya untuk duduk.
"Kamu terlihat sedikit pucat. Kamu sakit?" tanya ayah.
"Iya, sedikit," jawabku.
Menyenangkan sekali melihat perhatiannya padaku. Sudah lama kami tak bicara santai layaknya orang tua dan anak. Hubungan keluarga kami memang sedikit memilukan.
"Kali ini, apa yang membawamu ke sini?"
"Ah!" Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi dengan sedikit terkekeh. "Sepertinya sulit sekali untuk berakting jadi anak baik di depan Ayah. Ada beberapa hal yang ingin aku pastikan."
"Hem?"
"Ayah, apa pernah terlintas di pikiran Ayah untuk membunuh putra Ayah sendiri?"
"Apa?!" pekiknya. "Ngomong apa kamu, Ardito?"
"Hahaha ... hanya bercanda," tawaku. "Aku cuma mau memberikan ini saja."
Aku menyodorkan sebuah amplop coklat padanya. Pimpinan dari GLORYA itu nampak sedang menelisik wajahku sebelum akhirnya membuka amplop tersebut dan memeriksa isi di dalamnya.
"Apa lagi ini?!" geramnya menahan emosi.
"Harusnya, kan aku yang tanya begitu," sahutku. "Ayah, apa artinya itu? Rekening apa? Perusahaan apa?"
"Ardito!" teriaknya.
"Jangan teriak-teriak, nanti darah tinggi!" Aku menyunggingkan senyum sinis padanya. "Ya, meski aku sudah jaga-jaga Captopril kalau sewaktu-waktu Ayah naik darah."
"Anak kecil, jangan sok ikut campur!" bentaknya.
"Aku bukan anak kecil lagi, Tuan Juan Benedict Lim," sergahku. "Jika ini adalah sebuah bukti kejahatan Ayah maka aku akan segera membongkarnya. Harusnya sejak awal Ayah berhati-hati karena punya anak jenius sepertiku. Aku pun berharap, semoga ayah yang aku hormati ini, tidak terlibat dalam kasus penyerangan pada adikku--Ardian--anakmu. Semoga saja tidak. Jika sampai terbukti Ayah terlibat di dalamnya, jangan salahkan aku jika nanti aku melupakan hubungan darah di antara kita! Itu saja yang perlu aku sampaikan. Aku pergi kerja dulu, Ayah. Sampai jumpa."
***
Akhir-akhir ini hidupku terasa amat berat. Menatap langit pun terasa begitu menyilaukan. Kadang terasa gelisah tak menentu. Seperti sedang diikuti oleh ribuan rasa bersalah. Aku merasa takut belakangan ini. Entah kenapa.
"Ardito!"
Aku menoleh pada suara yang memanggil di belakangku.
"Senang bertemu lagi denganmu, Ardito."
"Ka--kamu?!"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=