
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🐣🐣🐣
The First Moment ...
With you, Oppa ...
🐣🐣🐣
---------------------------------------------------------------------
"Wah ... kenapa kamu harus membawa makananku ke kamar? Aku bisa jalan ke dapur sendiri kali," kataku.
"Dengan muka lebam begitu? Dengan badan yang sakit semua begitu?" omelnya.
Haduh! Aku sungguh tak ingin berdebat apalagi bertengkar dengannya hari ini. Dia benar. Badanku terasa remuk redam. Tulang-tulangku terasa nyeri.
"Minum ini!" Disodorkannya beberapa tablet obat padaku.
"Enggak usahlah!" tolakku.
"Kok, nggak usah?"
"Aku nggak apa-apa. Nggak perlu minum obat," kataku.
"Udahlah, jangan kayak anak kecil, cepet minum! Minum nggak?!" geramnya.
"Astaga! Iya, aku minum," gerutuku.
Gadis itu nampak tersenyum puas saat tablet obat itu meluncur melewati mulut dan tenggorokanku.
"Ardian, apa lebam itu masih sakit?" tanyanya.
"Nggak apa."
"Sini, biar aku kompres pake air hangat!"
Naya nampak keluar dari kamar dan kembali lagi dengan membawa sebaskom kecil air hangat.
Dibasahinya handuk kecil itu dengan air hangat dan dikompreskannya di lukaku.
"Maaf, aku membuatmu dalam bahaya," kataku.
"Nggak apa. Santai aja!" jawabnya sambil memeras handuk basah di tangannya.
"Kamu pasti ketakutan."
"Tentu saja!" serunya dengan suara keras. "Aku pikir, aku akan mati waktu itu."
Ya, karenanya aku sangat merasa bersalah. Jika terjadi apa-apa dengannya, aku pasti akan merutuki diriku.
"Tapi, aku senang," katanya tiba-tiba.
"Senang?"
"Hei, kamu pernah nonton drama Healer yang dibintangi Ji Chang Wook? Atau City Hunter yang dibintangi Lee Min Ho?"
Naya nampak menatapku dengan mata berbinar-binar.
"Ardian, saat menonton drama itu, aku selalu berimajinasi sebagai pemeran wanitanya. Aku ingin masuk ke dalam cerita itu. Dan saat kejadian penculikan kemarin, aku benar-benar merasa sedang syuting drama. Aku berasa masuk dan jadi pemeran utama di drama action. Huwaaaaaaaaa ... amaziiiiiing ... daebaaaaak ...! Aku sungguh bersyukur bisa terlibat dengan kegilaanmu dan dokter Ardito. Aku saaaaangat menikmatinya."
"Dasar, gadis gila!" gerutuku.
"Hahaha ...."
----------------------
----------------------------------
EMPAT HARI KEMUDIAN
15.00 WIB
"Mau kemana kamu?"
Aku segera berlari menghadang langkah Naya yang meraih gagang pintu.
"Duh ... Ardian! Minggir! Aku telat, nih!" geramnya
"Gila kamu, ya! Dengan kondisi seperti ini masih tetap mau kerja. Nggak usah!" larangku.
__ADS_1
"Aku sudah nggak apa-apa. Lagian aku sudah libur empat hari. Gajiku sudah terpotong banyak tahu nggak? Mana gajiku kecil lagi," gerutunya.
"Sini, kamu!"
"Hei ... Ardian!"
Aku menarik tangannya. Tak pedulikan mulutnya yang terus berkomat-kamit menggerutu padaku. Aku bawa dia kembali masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
"Tadi aku sudah telpon PSA-mu. Aku mintakan ijin dua minggu."
"Apa?!" teriaknya. "Gila, kamu! Aku bisa dipecat. Haduuuuh ...! Mau kerja apa aku nanti?"
"Kalau kamu cerewet terus, aku benar-benar akan minta ke PSA-mu biar sekalian saja dia memecatmu. Ngerti, kamu?! Pokoknya selama dua minggu ini kamu full istirahat! Jangan beranjak dari rumah tanpa ijinku! Jangan diam saja! Cepat jawab!"
"Iish ...! Baiklah ... baiklah!"
Aku sendiri sebenarnya juga ogah jadi baby sitter kayak gini. Masalah kemarin itu masih belum tuntas dan makin rumit. Tapi Ardito menyuruhku untuk mengawasi gadis bar-bar ini untuk sementara. Aku sendiri juga takut jika kejadian seperti kemarin akan terulang lagi. Masih untung nggak ada yang celaka. Kalau sampai kemarin dia kenapa-napa, aku mungkin akan terus menyesali kesalahanku padanya.
------------------
"Ada apa? Kenapa terus menatapku begitu?" tanya Naya.
"Enggak. Nggak apa," jawabku sedikit salah tingkah kerena ke pergok mengamatinya.
"Kamu nggak usah terlalu merasa bersalah padaku! Membuat aku tak nyaman saja."
"Naya ...." Aku menatap dalam padanya.
"Apa kamu masih ingin hidup bersamaku, setelah apa yang kamu lalui selama ini?"
"Ngomong apa, sih, kamu?" ujarnya seraya memalingkan wajah dariku.
"Haruskah ... kita akhiri semua ini sekarang?"
Gadis itu melempar pandang padaku. Awalnya aku lihat reaksi terkejut darinya. Tapi kemudian kembali biasa saja. Matanya terlihat sedikit berembun. Dan ditundukkan kepalanya.
"Jangan salah paham! Aku mengatakan ini hanya karena aku takut kamu akan berada dalam situasi buruk lagi. Mungkin, aku nggak akan selalu bisa menolongmu."
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"He'em."
"Jika kita akhiri semua sampai di sini, apa kamu akan kembali pada Nadine?" tanyanya.
Kulihat dia menghembuskan nafas kecewa dan sedikit melempar senyum padaku.
"Baiklah. Beri aku sedikit waktu sampai aku selesaikan bukunya! Jika terjadi apa-apa lagi denganku, kamu nggak perlu terlalu merasa bertanggug jawab!" katanya seraya beranjak dari tempat duduk.
"Nay ... bagimu, aku ini apa?"
"Apa?!"
"Rekan kerja ... atau ... seorang pria dewasa?
Dia nampak mengamatiku. Memandangku dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu ... bagiku ... kamu ... adalah suamiku," katanya. "Tapi nggak ada gunanya juga. Nantinya kamu juga akan kembali pada pacarmu itu."
Naya kembali melangkah menuju pintu kamar.
"Nay!" Aku meraih tangannya dan menariknya ke dalam pelukanku. "Awalnya memang iya. Aku memang ingin kembali pada Nadine, awalnya. Tapi sekarang, nggak lagi."
Kuputar tubuhnya dan mendekatkan wajahnya padaku.
"A--apa maksud ... ehm ... ehm ... hah ...! A--Ar--Ardian ... apa yang ka--- ehm ... ehm ...!"
"Entah sejak kapan? Jangan tanyakan itu padaku! Aku sendiri nggak tahu. Aku nggak tahu, kapan aku mulai jatuh cinta padamu, Naya."
Perasaan aneh ini muncul begitu saja tanpa bisa aku kendalikan. Maafkan, jika aku tiba-tiba tak bisa menahan diriku untuk menyentuhmu ... Naya!
"Nggak apa-apa, kan?" bisikku.
"He'em," angguknya.
-----------------------------
---------------------
18:30 WIB
Aku masih berdiri dengan rambut yang masih meneteskan air. Berkali-kali aku mencubit keras-keras pipiku di depan cermin di dalam kamar mandi.
Gilaaaa! Apa yang sudah aku lakukan?!
__ADS_1
Aku pandangi kedua telapak tanganku yang mulai berkerut karena dingin. Aku hampir tak percaya kalau dengan tangan ini, aku sudah menyentuhnya.
------------
"Ka--kamu ... kamu ... mau makan?" tanya Naya.
"Aah ... itu ... a--aku---"
Ya Tuhan, Ardian! Kenapa kamu jadi gagu begini, sih? Bukannya setelah melakukan 'itu' harusnya kami jadi semakin dekat? Kenapa jadi makin awkward begini?
Iish ...! Mau meledak kepalaku rasanya.
"A--aku ... akan ke rumah Ardito. Ada yang harus kami bahas. Mu--mungkin aku akan menginap di sana," kataku asal saja. "Aku pergi, ya! Jangan lupa kunci rumah!"
-------------
---------
Dan akhirnya, dengan bodohnya aku malah kabur ke rumah kakakku.
Betapa menyedihkannya hidupku ini, Gusti!
"Mau sampai kapan kamu gulang-guling nggak jelas di atas tempat tidurku? Pulang sana!" geram Ardito.
"Ijinkan aku menginap di sini! Malam ini saja. Aku mohon." Kukatupkan kedua tanganku dengan ekspresi memelas. "Atau aku bisa membantumu menyelidiki kasus kemarin?"
"Nggak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri," jawabnya sinis. "Ada apa? Kamu berantem dengan Naya?"
Aku menggeleng dan kembali membenamkan diri ke dalam selimut.
"Tingkahmu seperti perjaka yang baru merampas keperawanan seorang gadis saja. Nggak jelas."
"Eh?! Apa begitu kelihatan?!" seruku.
"Apa?!"
Aku yang terlalu bodoh atau Ardito yang memang terlalu jenius? Dengan asal keluar omongan saja, dia berhasil membuat mulutku tak bisa di-rem.
"Ardian, kamu serius?"
Ardito mematikan laptopnya dan menghampiriku. Menatapku tajam dengan memicingkan sudut matanya.
"Kapan? Kapan itu terjadi?" selidiknya.
"Itu ... tadi ... tadi sore," jawabku pasrah.
"Huwaaaaa ... selamat, Brother!" Ardito menghambur memelukku. "Akhirnya gosip nggak jelas tentangmu terbantahkan juga. Kamu benar-benar laki-laki sejati. Aku sangat terharu."
"Duh ... berhenti meledekku!" kataku kesal.
"Hahaha ...! Kamu lucu sekali," tawanya. "Terus, ngapain kamu di sini? Harusnya malam ini kamu lanjutin lagi, dong!"
"Masalahnya---"
Meski seorang kutu buku, kalau soal wanita jangan tanya! Ardito itu predator kelas kakap. Tentu saja menceritakan hal seperti ini pasti akan ditertawakannya. Tapi satu-satunya yang bisa aku mintai saran sekarang hanya si mesum ini.
------------
"Ehm ... aku paham sekarang," ujarnya seraya mengangguk-angguk mendengar ceritaku.
"Ardian, kamu benar-benar nggak paham situasi, ya?"
"Apa maksudmu?"
"Hei, hal seperti itu bagi seorang gadis adalah saat-saat yang spesial dan berharga! Kamu harus menciptakan situasi yang kondusif, nyaman dan romantis. Bukannya main ayo aja!"
"Apa ... aku salah?"
"Tentu saja," serunya. "Apalagi dia masih dalam tahap pemulihan. Haah...! Dia pasti merasa sangat nggak nyaman. Kamu sudah merusak first moment yang berharga dalam hidupnya."
"Apa itu sebabnya dia terus menghindariku setelah hal itu terjadi?" tanyaku mulai gelisah.
"He'em. Bisa jadi," kata Ardito.
"Apa menurutmu, Naya menyesalinya?" Aku semakin terpuruk.
"Sepertinya," jawab Ardito.
"Huwaaaa ...!" Kuhentak-hentakkan kakiku di atas kasur empuk milik Ardito seperti anak kecil. "Bagaimana ini? Bagaimanaaaa ...?!"
"Hahaha ...! Dasar, anak kecil!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1