NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 31


__ADS_3

(pov NAYA)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍁🌾🍁


Hanya sebuah hal sederhana ...


Yang kuinginkan darimu ...


Hati dan rasamu ...


Hanya untukku ...


🍁🌾🍁


---------------------------------------------------------------------


"Pak Henry Sastro!"


Lelaki paruh baya itu menarik sedikit kaca matanya untuk melihatku. Air mukanya sedikit berkerut dan enggan menatapku. Wajar jika dia seperti itu. Mengingat kedatanganku bersama Ardian tempo hari, dia pasti kesal.


"Aku sudah bilang tak mau berkerja untuk Glorya. Pergi saja dari sini!" usirnya.


Bagiku, menghadapi perwatakan seperti ini sudah biasa. Rata-rata pasien di apotek tempatku bekerja juga orang-orang yang seenaknya sendiri dan susah diajak bicara. Kalau sekedar menghadapi bapak-bapak di depanku ini, sih sepertinya bukan hal yang sulit.


"Apa Bapak tak ingat dengan saya?" tanyaku.


"Kamu yang datang ke sini bersama pemilik Glorya itu, kan?" sahutnya sembari mengarahkan selang air ke bunga-bunganya. "Kalau kamu datang untuk membujukku, percuma saja!"


"Enggak, kok!" sahutku. "Saya hanya ingin minta maaf mewakili suami saya. Bapak tahu? Suami saya itu agak bermasalah dengan selaput otaknya karena sebuah kecelakaan. Dia bahkan nggak ingat kalau saya ini istri yang dicintainya."


Nah, lihat! Sepertinya aku mulai berhasil menarik simpatinya. Dia melihatku dengan pandangan iba. Aku harus membuat kesempatan untuk membujuknya.


"Ngomong-ngomong, apa Bapak tahu kalau penulis yang akan bekerja sama dengan Bapak itu sangat terkenal?"


Begitu aku menyinggung soal penulis Riani itu, si Henry Sastro langsung berpaling. Nampaknya dia enggan membicarakan mantan calon istrinya itu.


"Saya mendengar beberapa gosip tentang penulis Riani itu. Sebenarnya, sih saya nggak percaaya karena saya cukup ngefans dengannya," ucapku.


"Gosip apa yang kamu dengar?" tanya Henry Sastro dengan muka ja'im.


"Menurut kabar berita, dia meninggalkan calon suaminya yang mengalami kecelakaan dan membatalkan pernikahan. Huh ... jahatnya! Pasti calon suaminya itu sangat sedih. Saya mengerti bagaimana rasanya ditinggalkan dan dilupakan oleh orang yang dicintai."


"Kamu pernah mengalami?" tanya Pak Henry.


"Tentu saja." Aku memasang wajah sedih. "Si kepala editor yang menyebut Bapak tukang kebun waktu itu, dia mengalami amnesia dan melupakan saya sebagai istrinya. Dia bahkan berselingkuh secara terang-terangan si depan saya. Huweeeee ... sedihnya tak tertahan. Menusuk-nusuk sampai ke ulu hati. Hiks!"


"Sakit, ya memang," gumamnya.


Daebak! Akhirnya bakat aktingku ada gunanya juga. Aku benar-benar berhasil membuatnya mengiba padaku. Good job, Naya!


"Tapi, sepertinya si penulis Riani itu lebih jahat, deh!"


"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Henry Sastro penasaran.


"Bapak bayangkan saja! Calon suami lagi masa-masa sulit bukannya ditemenin malah ditinggalin. Pernikahannya dibatalin lagi. Jahatnya tingkat dewa."


"Tidak. Tidak seperti itu!" sergahnya.


"Oh ya? Seperti apa dong ceritanya?" Aku makin penasaran.


Wajah dengan gurat keriput yang mulai nampak itu terlihat sedikit sendu. Sepertinya, ada sedikit cerita menyesakkan yang dia pendam selama ini.


"Dia bukan orang sejahat itu."


Kami duduk di sebuah kursi yang di kelilingi banyak mawar berwarna-warni.


"Dia meninggalkan lelaki itu, karena dipaksa," lanjutknya.

__ADS_1


"Dipaksa? Siapa yang memaksa?" tanyaku.


"Calon suaminya," jawabnya. "Lelaki itu merasa tak berdaya ketika dokter memvonis untuk mengamputasi kakinya karena kecelakaan yang dialaminya. Akhirnya, dialah yang meminta pada wanita itu untuk pergi dan melupakan segalanya tentang mereka."


"Pak, apa kaki lelaki itu benar-benar diamputasi?" Aku bertanya sembari memperhatikan kaki Henry Sastro yang nampak normal-normal saja.


"Iya. Meski pada akhirnya, dia berhasil mendapatkan kaki palsu setelah bertahun-tahun menunggu prosesnya."


Aku pun manggut-manggut mendengar cerita si pembuat cover book itu.


"Apakah kira-kira, si calon suami itu menyesal karena telah melepaskan calon istrinya? Atau justru dia hidup bahagia?"


Dia beranjak dari duduknya. Berjalan ke tepi lahan sempit tempat kaktus-kaktus kecil yang dijejer rapi.


"Hidup bahagia?" Terlihat sedikit sunggingan senyum di bibirnya. "Dia selalu menjalani hidupnya dengan penuh penyesalan dan kesendirian."


"Dia ... tidak menikah?" selidikku.


Pria itu menggeleng dengan dengusan nafas berat.


"Menurut saya, dia pasti sangat menyesali keputusannya waktu itu. Karena dia masih sangat mencintai Bu Riani. Bapak juga berpikir begitu, bukan?"


"Apa?!" pekiknya. "Apa gunanya? Menyesal pun, wanita itu sudah hidup bahagia dengan orang lain sekarang. Ehm ... aku ambilkan minum dulu sebentar!"


"Pak!" Aku bangkit dari dudukku. "Bapak tak tahu, ya kalau Bu Riani belum pernah menikah sejak pernikahannya dibatalakan waktu itu? Sepertinya, dia pun masih mencintai pria di masa lalunya itu."


"Be--begitukah?"


Dengan langkah yang sedikit tertatih, lelaki paruh baya itu berjalan memasuki rumah besarnya dan meninggalkan aku sendiri di kursi tamannya.


----------------


"Ardian, kamu dengar semuanya, kan?" Aku menghubungi suamiku itu lewat mikrofon kecil yang terpasang di telingaku. "Bisa bawa dia ke sini sekarang?"


"Tentu saja. Kami sudah siap dari tadi," jawab Ardian.


------------------


Sesuai rencana awal. Sebelum mendatangi Henry Sastro, kami telah menghubungi penulis Riani dan menceritakan semuanya. Tentu saja membujuknya untuk ikut bersama kami tidaklah mudah. Namun, rasa yang tersimpan dalam hati sepertinya masih ada dan membuatnya melangkahkan kaki untuk membantu rencana kami.


------------------


"Maaf, membuatmu menunggu lama. Aku hanya punya teh saja di rumah." Lelaki itu berjalan sembari membawa nampan berisi dua gelas teh di atasnya.


"Halo, Henry. Apa kabar?"


PRANG!


Nampan yang terbuat dari besi berserta dua gelas cangkir keramik itu pun terbanting ke lantai.


"Ri--Riani?!"


Wajah yang mulai menua itu nampak terkejut. Bola matanya bergetar dengan tubuh yang sedikit terguncang gemetar.


"Senang melihatmu baik-baik saja." Wanita di hadapannya itu terlihat melempar senyum manis dengan wajah lega. "Senang bertemu lagi denganmu."


Hatiku terasa sedikit teremas saat melihat bulir bening meluncur dari manik kelam wanita cantik itu. Hal serupa pun terlihat dari air muka lelaki di hadapannya. Masih terlihat syok, tapi ada sedikit sunggingan senyum penuh makna.


-----------------------


"Sudah cukup!" Aku menutup laptop yang ada di pangkuanku.


"Kenapa dimatikan?" tanya Ardian.


"Biarkan mereka menyelesaikan kesalah pahaman selama bertahun-tahun ini! Tugas kita cukup sampai di sini!"


Tadinya, aku berniat melihat tontonan menarik antara dua orang yang sudah lama tak bertemu itu melalui kamera perekam yang aku tempelkan di baju penulis Riani dan menghubungkannya lewat laptop sesuai instruksi Ardito. Tapi hal itu aku urungkan. Rasanya, pertemuan itu adalah hal pribadi di antara mereka dan aku tak berhak ikut campur.


"Ayo pulang!" ajakku pada Ardian.

__ADS_1


Suamiku itu pun menginjak pedal gas mobilnya dan melaju meninggalkan rumah besar dengan ornamen klasik itu.


----------


"Semoga dengan bertemunya mereka, kontrakmu pun akan berjalan lancar," kataku saat kami dalam perjalanan pulang.


"Menurutmu, apa akan baik-baik saja kita meninggalkan mereka berdua?" tanya Ardian.


"Sejak awal, Bu Riani memang ingin bertemu dengan mantan calon suaminya itu," jawabku.


"Tahu dari mana?"


"Kamu pikir, kenapa dia langsung menerima kontrak denganmu tanpa pikir panjang?"


"Karena dia suka berbasa-basi denganmu. Itu yang dia katakan waktu itu."


"Salah," sahutku. "Itu karena dia melihat nama Henry Sastro sebagai pembuat cover booknya. Nggak peka banget, sih kamu, Ardian?"


"Wah! Aku nggak berpikir sejauh itu."


"Dia pasti begitu ingin bertemu dengan Pak Henry Sastro. Aku bisa merasakannya. Bertahun-tahun kehilangan, akhirnya dipertemukan lagi. Pasti mereka sangat bersusah payah untuk tetap saling mengingat. Pasti sakit sekali rasanya."


Kurasa, aku bisa sedikit mengerti perasaan mereka. Cerita mereka tak jauh berbeda denganku. Bahkan cerita cintaku lebih memilukan.


-----------------


--------------------------


TIGA HARI KEMUDIAN


"Naya ... Nayaaaa!"


"Apa, sih teriak-teriak begitu?"


Aku perhatikan Ardian yang berlari menuruni anak tangga dan menghampiriku yang tengah menyiapkan sarapan di dapur. Air mukanya nampak berbinar-binar dengan senyum lebar terpatri di wajah tampannya.


"Nayaaaaa!"


"Hei, a--apa yang ... Ardiaaaaan!"


Dia meraih tubuhku dan mengangkatku. Dengan tertawa kegirangan dia membawaku berputar-putar.


"Iiish ... apaan, sih?!" geramku.


"Aku berhasil! Aku berhasil, Naya! Uwooooo ...!" serunya.


"Ada apa?" tanyaku bingung.


"Aku dapat email dari si Henry Sastro itu. Dia menerima kontraknya! Yes!"


"Ah, syukurlah!" Aku menghembuskan nafas lega.


"Ini berkat bantuanmu. Katakan padaku! Apa yang kamu mau dariku? Aku pasti akan melakukannya. Hem?"


Wajahnya terlihat serius dan berseri-seri. Dia terlihat begitu senang.


"Bolehkan aku meminta apapun?"


"Apapun," jawab Ardian.


"Apapun yang aku minta, apa akan kamu kabulkan?"


"Pasti," jawabnya meyakinkan.


"Baiklah." Aku menarik nafas panjang dan perlahan menghembuskannya. "Aku minta ... demi aku ... tinggalkan Nadine!"


"Apa?!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2