
(pov NAYA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Meski hanya sekejap saja ...
Ijinkan aku bersandar padamu ...
--------------------------------------------------------------------
"Selamat pagi, Stevia."
"Selamat pagi, Dokter."
Ah, sial!
Mendadak aku jadi teringat kejadian gila yang kualami dini hari tadi. Sekarang aku jadi bingung sendiri bagaimana caraku bersikap di hadapan kakak iparku itu.
Ada apa denganku? Yang merasa canggung harusnya Ardito, bukan aku. Justru akulah korban dan dia penjahatnya. Dialah yang harus salting, bukan aku.
"Sedang apa, Nay?"
"Hah?!"
"Aku minta data pasien yang ada jadwal pemeriksaan hari ini ya!" ucap Ardito seraya duduk di kursi kerjanya. "Nay, kenapa diam saja?"
"I--iya."
Santai sekali. Dia bersikap seakan tak terjadi apa-apa di antara kami. Dua bersaudara ini punya sifat yang sangat menyebalkan.
"Terima kasih," ucap Ardito saat aku menyodorkan map berisi data pasien yang dia minta. "Aku minta maaf untuk kejadian yang tidak mengenakkan itu."
Kali ini dia memandangku. Sebuah senyuman bersahabat seperti biasanya, dia perlihatkan padaku.
"Suasana hatiku sedang buruk dan sepertinya aku sedikit terkena pengaruh alkohol. Aku tahu minta maaf pun tak akan cukup, tapi ... aku tetap harus meminta maaf padamu."
Ardito bangkit dari duduknya. Kakinya bergerak melangkah ke arahku. Darahku kembali berdesir, terasa sedikit takut. Refleks, aku mengatupkan kedua telapak tangan pada mulutku.
"Hahaha ... aku nggak akan melakukannya lagi," tawa Ardito. "Andai pun aku ingin melakukannya, aku akan minta ijin dulu padamu."
"Iiish ... apaan!" geramku.
"Hahaha ... bersikaplah santai padaku, Naya! Hilangkan rasa canggungmu!"
"Ya, aku juga maunya begitu," jawabku kesal.
"Sudahlah lupakan! Anggap saja ciuman itu seperti daging ketemu daging, oke! Ayo kembali kerja!"
Ternyata dia memang mirip dengan Ardian. Sama-sama jenius dalam hal memporak-porandakan hati wanita. Daging ketemu daging katanya? Tidak salah kalau Ardian memanggilnya dokter mesum.
***
"Wah, ada kejadian seperti itu?"
Sore itu, sepanjang perjalanan pulang dari apotek, Ardito menceritakan segala kisahnya bersama Dalisa. Karena ingin menghilangkan sedikit rasa canggung yang masih bergelayut di benakku, aku pun menerima tawarannya untuk mengantarku pulang.
"Kehilangan seseorang yang dicintai ... pasti berat," gumamku. "Saat Ardian melupakan aku saja, rasanya hidupku hancur, apalagi kamu yang ditinggal mati."
"Semua sudah lewat. Aku sudah hampir melupakannya?" jawabnya dengan sedikit sunggingan senyum.
"Pasti akan ada penggantinya."
"Mau daftar?" candanya.
__ADS_1
"Ogah!"
"Hahaha ...."
Satu lagi kisah menarik dari dua bersaudara ini. Semakin hari, aku semakin penasaran dengan rumitnya keluarga Benedict Lim. Karena itulah, aku menjadikan mereka sebagai tokoh utama dalam novel yang aku buat bersama Ardian.
***
"Ardian?!"
Aku berseru ketika kulihat suamiku sedang berdiri di depan gedung apartement bersama Nadine.
"Padahal beberapa hari ini kami semakin dekat. Kenapa Ardian masih tetap menemui wanita itu?"
"Tenanglah, Naya! Kita perhatikan mereka dari sini saja!" kata Ardito.
Aku tetap membencinya. Aku benci sifat Ardian yang plin-plan seperti itu. Dia bahkan masih menemui Nadine setelah menyentuhku. Tidak adakah rasa cinta saat dia bersamaku, meski hanya sedikit?
"Mereka bertengkar," ucap Ardito yang serius memperhatikan Ardian dan Nadine dari dalam mobil.
Benar apa kata Ardito. Sepertinya mereka berdua sedang mendebatkan sesuatu. Ardian nampak menahan tangan Nadine yang tengah meronta ingin pergi. Ada apa sebenarnya?
"Gawat! Ardian!" seru Ardito yang berlari keluar dari dalam mobil.
"Tidak. Ardiaaaaan!"
Aku pun segera berlari menghampiri Ardian yang tengah berseteru dengan Nadine.
"Ardian, menunduk!" teriak Ardito. "Ardiaaaaaaan!"
DOR!
"Naya ... Nayaaaaaa!"
"Syu--syukur--lah ...."
***
APARTEMENT ARDIAN
"Untung pelurunya cuma menggores sedikit lenganmu," kata Ardito seraya membalut lukaku. "Akan terasa panas dan nyeri, jadi kamu harus rutin pakai salepnya, ya!"
"Terima kasih, Dokter," ucapku. "Ardian."
Lelaki itu masih diam berdiri sambil menatap nanar padaku. Ada semburat kemarahan yang bercampur rasa bersalah dari sorot mata tajamnya.
"Aku nggak apa-apa," ujarku berusaha menenangkannya.
"Aku ingin kamu meretas CCTV di lokasi tadi!" kata Ardian pada kakaknya. "Akan kuhabisi siapa pun dia."
"Nanti akan kuselidiki," kata Ardito. "Kamu harus hati-hati karena sepertinya yang dia incar adalah kamu!"
"Aku tahu," jawab Ardian dengan menahan marah.
"Baiklah, kalau gitu aku pulang. Naya, jangan kerja dulu! Meski hanya goresan, tapi luka itu bisa jadi infeksi. Istirahatlah! Selamat malam."
"Selamat malam. Terima kasih, Dokter."
Saudara iparku itu pun beranjak pergi dari rumah kami. Ardian sendiri masih diam. Tampaknya dia benar-benar marah saat ini. Sebaiknya aku diam daripada semakin memperkeruh suasana.
"Huft ... panas!"
Sepertinya efek obat yang diberikan Ardito mulai hilang. Bekas luka di lenganku mulai terasa nyeri dan terbakar--panas sekali.
__ADS_1
"Sini!" Ardian meraih lenganku dan meniupnya.
"Nggak usah, biar aku kipasin aja!" tolakku.
"Maaf, Naya! Maaf karena aku selalu membuatmu dalam bahaya."
"Ardian ...."
Ada apa dengannya? Dia membuatku tak nyaman. Pandangannya sayu dengan mata yang mulai berembun. Kemarahan yang sedari tadi nampak di wajahnya, kini berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
"Tenanglah! Aku nggak akan mati hanya dengan satu peluru," candaku dengan sedikit terkekeh.
"Akulah yang akan mati ... jika sesuatu terjadi padamu."
"Heh?!"
Dia kenapa? Apa karena terlalu mengkhawatirkan aku atau hanya merasa bersalah padaku?
"Maaf."
Tubuhku yang masih terasa nyeri ini, ditarik ke dalam dekapannya. Aku rasakan sebuah debaran tak beraturan dari dada kirinya, saat dia memelukku dengan begitu erat.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" bisikku.
"Iya."
"Kenapa?"
"Aku takut terjadi hal buruk padamu," jawabnya.
"Kenapa?"
"Karena ... karena aku---"
"Kenapa?" selidikku.
Aku melepaskan diri dari pelukannya. Aku perhatikan bola matanya yang berputar seolah sedang mencari alasan di tengah wajah gugupnya. Sungguh aku berharap dia khawatir bukan karena rasa bersalah. Andai rasa khawatir itu muncul karena dia takut kehilangan sebuah cinta, aku akan sangat mensyukurinya.
Tapi itu hanya khayalanku saja. Tak mungkin akan seperti itu.
"Ehm ...! A--apa yang---"
"Karena aku tak ingin kehilangan," bisiknya. "Aku ... tak ingin kehilangan ... istriku."
Kenapa aku merasakan keanehan ini? Saat Ardian mulai menyentuhku, entah kenapa aku merasa dia mengingatku.
Bodohnya, aku selalu membiarkan diriku hanyut dalam perasaan cintaku sendiri. Tanpa tahu, entah dia melakukannya dengan rasa yang sama atau hanya untuk nelepaskan dahaganya saja.
Sedikit tersiksa dalam batinku. Namun, aku pun tak kuasa melepaskan diri darinya.
"Naya ... tetaplah di sampingku!"
"Hem?"
"Aku selalu merasakan takut. Takut terjadi sesuatu padaku, juga padamu," lirihnya.
"Ardian ...." Bulir bening tiba-tiba bergelayut di pelupuk mataku. "Jangan bicara seperti itu!"
"Setiap detik dalam hidupku, aku selalu merasakan itu, Naya."
Malam itu, aku menangis dalam pelukannya. Hatiku terasa amat berat dan bingung. Tetapi, ada sebuah ketenangan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Aku pun sama sepertinya. Rasa takut yang selalu menyeruak dalam hati. Kadang aku merasa nyawaku berada dalam pertaruhan saat bersamanya. Tetapi, aku juga tak mau kehilangan dia.
__ADS_1
"Biarkan aku seperti ini!" Semakin aku membenamkan tubuhku ke dalam pelukannya. "Biarkan aku bersandar padamu seperti ini ... lebih lama lagi, Ardian!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=