NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae part 3


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘🌷⚘


Kamu ...


Kamu masih asing di mataku ...


Kadang ...


Kamu terlihat tegar ...


Kamu terlihat pemarah ...


Kamu terlihat bahagia ...


Tapi ... hari itu ...


Aku melihatmu bersedih ...


Seakan menyesali hidupmu ...


⚘🌷⚘


---------------------------------------------------------------------


22.30 WIB


"Kamu nggak perlu nemenin aku begadang. Tidur sana! Besok kamu mulai masuk kerja, kan?" kata Ardian sambil berkutat dengan laptopnya di atas tempat tidur.


"Jangan ge-er! Aku nggak sedang nemenin kamu begadang, kok," jawabku sambil main ponsel di atas tempat tidur.


"Lha, terus? Ngapain nggak tidur-tidur? Mau tidur bareng? Hahaha ...," tawanya.


"Jangan macem-macem, kamu!" Kulempar bantal padanya.


Hubungan kami masih terasa lancar. Tak ada yang istimewa sampai sejauh ini. Kami masih saling menghormati privasi masing-masing. Ardian pun cukup sopan padaku. Dia tak pernah menuntutku untuk benar-benar menjadi istrinya.


Ya ... kami lebih mirip seorang teman.


"Yup! Posting," seruku. "Hahaha ... banyak juga yang mampir buat baca."


"Baca apa?" tanya Ardian.


"Oh! Ini aku lagi nulis novel di salah satu situs novel online," jawabku.


"Novel?" Ardian nampak serius menatapku.


Aku pun mengangguk sambil terus fokus pada ponselku.


"Wah! Tampang sepertimu bisa nulis? Meragukan. Hahaha ...," ejeknya.


"Tahu, ah!" Kutarik selimut dan tidur memunggunginya.


"Serius kamu nulis, Nay? Hahaha ...!" tawanya.


"Ya ampun, nggak nyangka. Selain tukang halu drama Korea, kamu juga tukang berimajinasi tingkat tinggi rupanya"


"Diaaaam! Nggak bakal aku kasih makan kamu besok."


"Hahaha ..."


---------------------


-------------


08.00 WIB


APOTEK


"Ecieee ... selamat datang kembali di tempat kerja, Pengantin baru."


Stevia langsung menyambutku dengan kegirangan begitu aku masuk kerja lagi.


Ya jelaslah! Dia akan kuwalahan menghadapi rewelnya pasien-pasien apotek kami.


Apalagi rata-rata pasien kami adalah orang awam yang pengetahuan soal kesehatannya sangat kurang.


Kadang ya ... mereka beli antibiotik itu untuk obat capek.


Duh Gusti!


Sampai berbusa ini mulut menjelaskan kalau fungsi antibiotik itu untuk antibakteri. Tapi penjelasan kami malah dihempas begitu saja.


-------


"Nay ... aku, kan nggak bisa datang ke pernikahanmu. Ya secara nih ya ... itu cuma acara khusus keluarga suamimu yang tajir melintir itu. So, hari ini aku akan kasih kamu kado. Tunggu sini bentar!"


Wah! Melihat ekspresi sumringahnya si Stevia, firasat burukku langsung menyeruak.


"Taraaa!" serunya. "Ayok, pilih! Mau yang rasa original, rasa stroberi atau durian? Yang lagi viral itu rasa rendang. Tapi sayang, Pemilik Sarana Apotek alias PSA kita nggak jual. Ayo, Nay ... mau yang mana? Mumpung aku yang bayarin, nih!" katanya, sembari menyodorkan beberapa alat kontrasepsi padaku.

__ADS_1


"Iiisssh! Enggak butuh yang beginian," desisku.


"Lho ... kenapa? Mau perutmu cepet melembung?"


"Ya nggak apalah kan, udah ada bapaknya," godaku.


"Ai ... ai ... ai ... sweetnya jadi pengantin baru. Jadi pengen nikah lagi, nih!"


"Hush! Emang suamimu mau kamu kemanain?"


Setidaknya aku masih punya Stevia. Teman kerja yang selalu rame dan memberiku semangat berjuang.


Berjuang?


Ya ... terkadang dia motivator yang cukup baik kalau lagi bener otaknya.


----------------------


---------


17.00 WIB


"Naya!"


"Ardian?"


Aku cukup kaget, saat kulihat mobil Ardian terparkir di depan apotek tempatku bekerja.


"Udah selesai, kan kerjanya?" tanyanya.


"Ya, ini mau pulang," jawabku. "Ngapain kamu di sini?"


"Kita mesti ke rumahmu," jawabnya.


"Ke rumahku? Untuk apa?"


"Tadi ibumu menelponku. Kita disuruh ke sana untuk makan malam. Ayo, naik!"


"Duh ... firasatku buruk, nih!" gerutuku.


-------------------


---------------


RUMAH ORANG TUA NAYA


Sebenarnya tadi siang bapak dan ibu telpon Ardian dan menyuruh kami datang ke rumah. Ya katanya, sih mereka ingin lihat menantunya. Jika dipikir-pikir pernikahan kami, kan memang serba mendadak. Jadi, ya wajarlah kalau bapak dan ibu ingin bertemu lelaki yang sudah berani menikahi anak gadisnya ini, secara mendadak.


-----------------


-----


"Assalamu'alaikum ...!"


"Wa'alaikumsalam ...! Ayo masuk, anak mantu! Aduh, gantengnya kayak Ji Chang Wook." Ibuku ini juga penggemar drakor, seperti aku.


"Ayo, langsung ke ruang makan. Udah ibu siapkan makanan spesial!"


Dan, aku sampai heran. Dua puluh tiga tahun usiaku, aku belum pernah melihat meja makan di rumahku penuh dengan makanan seperti ini.


It's the first time. Perlu diabadikan.


CKREK! CKREK!


"Naya, sebelum makan itu berdoa! Ini, kok malah foto," geram bapakku.


"Sekarang jamannya gini, Pak!" jawabku. "Bentar ... Naya mau update status dulu. Captionnya ... 'Bahagianya Makan Bareng Keluarga Tercinta'. Tak lupa emoticon love. Share!"


----


-----------


"Nak Ardian, ayo dimakan!"


"I--iya, Pak!"


Si Ardian yang pecicilan ini nampak kikuk di depan bapakku. Hehehe ...


Dia nampak lucu sekali.


"Wah ... soto babat! Kesukaanku, nih!" kataku, sambil menyambar piring dan nasi serta kutuangkan kuah soto di atasnya.


"Nak Ardian, ibu seneng akhirnya Naya mau nikah. Apalagi dapat yang ganteng, tajir melintir lagi."


"Haha ... haha ... iya, Bu sama-sama," jawab Ardian dengan ekspresi bingung.


"Si Naya itu kalau disuruh nikah, pasti ngeles aja," lanjut ibu. "Bilangnya cuma pengen nikah sama aktor korea berotot seksi Ji Chang Wook itu. Eh ... nggak tahunya malah dapat suami ganteng, juga berotot seksi kayak Ji Chang Wook."


"Aduh, Bu jangan diajakin ngomong mulu! Entar Ardiannya keselek," sahutku.

__ADS_1


"Ayok ... ayok dimakan! Cobain soto babatnya enak lho!" kata ibu, sembari menuangkan kuah soto ke piring Ardian.


Kulihat Ardian nampak mengotak-atik makanannya dengan wajah bingung.


"Kamu nggak suka?" tanyaku.


"Bu--bukan gitu. I--ini apa?" tanyanya, sambil menyendok irisan babat.


"Itu babat. Enak. Cobain, deh!"


Tangannya bergerak perlahan memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.


"Gimana?" tanya ibu. "Enak, kan babatnya?"


"Ehm ... bentuknya aneh, sih. Ini pertama kali saya memakannya. Ada bau-bau anehnya juga. Tapi ... lumayan. Enak juga."


"Benar, kan?!" sahut bapak. "Nggak ada yang bisa menahan enaknya makan babat sapi. Biar dikata babat ini tempatnya kotoran ... tapi kalau udah jadi soto ... mantul ... mantab betul."


"Ja--ja--jadi ... jadi ... yang saya makan tadi ... tempat ko--kotoran sapi?!"


"Iya."


"Ehm ... ehmm ... huweeek!"


"Oh astaga ... apa bapak salah ngomong?"


-----------


-----------------


Kubuka perlahan bekas kamarku itu. Ardian nampak meringkuk di atas tempat tidur dengan terus memegangi perutnya.


"Nay, kayaknya aku perlu ke UGD, deh!" rintihnya.


"Duh ... lebay deh, kamu! Sini, minum obat dulu!"


Wajahnya nampak memucat. Dia pasti benar-benar syok tadi. Lucu sekali.


Kubuka jendela kaca kamarku. Kurasakan hembusan angin malam yang menerpa lembut wajahku.


"Mau duduk lesehan di beranda kamarku nggak? Seger, nih udaranya," ajakku.


"Duh ... nggak kuat jalan, nih! Lemes, tahu habis muntah segitu banyak," keluhnya.


Aku pun menghampirinya yang sedang membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Nih, minum! Ibu buatin ini untukmu."


Kusodorkan secangkir teh jahe untuknya.


"Itu akan membuat perutmu enakan."


"Ehm ... ini enak," katanya sambil menyeruput teh jahe itu.


Aku tarik selimut dan membaringkan tubuhku di sampingnya.


"Malam ini kita nginap di sini saja! Kondisimu sepertinya nggak memungkinkan untuk nyetir," kataku.


"He'em," angguknya. "Nggak apa, nih kita tidur sedekat ini? Tempat tidurmu sempit."


"Ya ... mau gimana lagi? Kehidupan kami nggak semewah kehidupanmu."


Ardian nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarku.


"Itu foto aktor Korea yang kamu sangka aku waktu itu?" tanyanya saat melihat poster Ji Chang Wook di tembok kamarku.


Aku pun hanya tersenyum menimpali pertanyaannya.


"Dia kelihatan keren. Tapi aku lebih keren," katanya.


"Haha ... terserah kamulah!"


"Naya!" Ardian melingkarkan lengannya ke pinggangku.


"Hei ... jangan macam-macam kamu, ya!" seruku kaget.


"Enggak. Lagian badanku lemes banget. Aku nggak bakalan macem-macem," katanya.


"Perutku sakit, Naya. Mataku berat. Pusing banget. Aku tidur kayak gini aja. Boleh, ya?"


Duh! Kasihan juga. Tadi dia muntah banyak. Wajar kalau jadi drop begini.


Untuk malam ini saja, tak apa jika kami tidur sedekat ini.


Kugapai tombol 'off' pada lampu tidur di sisi dipan.


"Good night, Ardian."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2