
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌷🌷 Aku ingin kamu mengingatku ...
Karena sungguh ...
Aku takut terlupakan ... 🌷🌷
---------------------------------------------------------------------
"Bagaimana penampilanku?" Naya memutar badannya di depanku.
Kaos spandek berwarna pink cerah serta soft jeans navy melekat di tubuh mungilnya. Rambut panjang yang biasanya tergerai itu, kini nampak dikuncir ekor kuda dengan sedikit poni menghias keningnya. Kali ini tak ada blush on atau pun eye shadow yang menghias kelopak matanya. Hanya bedak tipis dan sedikit lipstik soft pink di bibirnya. Sangat sederhana dan manis.
"Ardian!" Seruan Naya membuyarkan lamunanku. "Udah oke nggak, nih?" Sekali lagi dia berputar sambil berkacak pinggang.
"Ya, lebih bagus kayak giini dari pada kamu dandan penuh make up seperti kemarin. Norak sekali," cibirku.
"Iiish!" desisnya seraya kembali berkaca.
"Tapi, Nay ..."
"Apa lagi?" sahutnya.
"Harus, ya kita pakai baju couple begini? Ini menggelikan. Apalagi aku harus pakai kaos warna pink norak kayak gini."
"Mana ada norak? Ji Chang Wook aja kelihatan ganteng kalau pakai kaos pink," jawabnya dengan santai.
Aku berusaha menahan kesal mendengar ucapannya.
"Aku ini bukan Ji Chang Wook, aku ini Ardian, sang kepala editor!" seruku. "Bisa-bisanya kamu menyuruhku pakai beginian."
"Hei, Kepala Editor yang terhormat." Naya mendekatkan wajahnya padaku. "Bukankah kamu harus membalas jasaku karena telah membuat kontrakmu dengan penulis Riani itu berjalan lancar, hem?"
"Y---ya, tapi nggak gini juga, Nay!" rengekku.
"Hari ini, akulah bosnya dan kamu wajib nurut apapun mauku! Paham, kamu?!"
"Hah! Terserah!" dengusku.
"Hahaha ... begitu, dong! Kan, aku makin cinta jadinya."
Sesuai janjiku padanya kemarin bahwa aku akan membawanya berwisata seharian dan apapun yang dia minta akan kulakukan. Semua aku lakukan sebagai ucapan terima kasih karena berkat dia, aku berhasil mendapatkan kontrak dengan penulis terkenal tanpa kendala. Meski sejujurnya aku sangat menyesal karena telah menjanjikan hal itu pada Naya.
Lihatlah betapa bodohnya aku sekarang! Istriku yang tukang halu itu menyuruhku untuk memakai baju couple dengannya. Parahnya, kaos yang kupakai ini berwarna pink disertai dengan foto Ji Chang Wook sedang minum kopi. Sungguh kemalangan yang hakiki saat punya istri dengan kehaluan tingkat mahadewa.
-------------------
--------------------------
"Ardian, kita sewa sepeda aja!" Naya berlari menuju tempat penyewaan sepeda.
"Hitungan sewanya bagaimana, Pak?" tanyaku pada pemilik penyewaan sepeda tersebut.
"Perjam Rp.50.000, Pak," jawabnya.
"Mahalnya," gumamku.
"Oke. Kami sewa seharian, Pak." Tanpa berunding, Naya langsung mengambil keputusan. "Berapa biayanya kalau sewanya sehari?"
"Tinggal dikalikan saja, Bu." Si bapak menjawab dengan wajah semringah.
"Sudah gila, ya?" Aku berbisik pada Naya. "Untuk apa keluar uang jutaan demi sewa sepeda?"
"Untuk membuat istrimu tercinta ini bahagia!" geramnya dengan mata melotot.
Aku pun hanya bisa berdecak melihat sifat keras kepalanya keluar. "Baiklah. Kami sewa seharian, Pak."
"Silakan. Dengan senang hati saya sewakan pada pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu seperti kalian." Si bapak semakin bicara ngelantur. "Pilih mana saja yang disuka!"
Kami berjalan mengitari parkiran sepeda sewaan itu. Lumayan banyak model yang ditawarkan. Mulai jenis sepeda lipat, sepeda gunung sampai sepeda mini biasa.
"Yang itu saja!" Naya menunjuk pada sepeda yang disertai boncengan di belakangnya.
"Kami ambil yang itu saja, Pak," kataku.
"Siap!" seru si bapak.
-----------
__ADS_1
---------------------------
"Huwaaaaaa ... I love it!" Naya berteriak sambil membentangkan kedua tangannya di boncengan belakangku.
"Jangan gerak-gerak, Nay!" seruku. "Kalau kamu jatuh, aku nggak tanggung jawab, ya."
"Jangan jatuhin, dong!"
"Makanya jangan gerak-gerak!" geramku.
Dengan sepeda sewaan itu, kami berkeliling menyusuri jalanan Sanur. Memang lebih menyenangkan dari pada naik mobil. Pejalan kakinya cukup padat, jadi bisa sedikit terhindar macet kalau bawa sepeda seperti ini.
"Ardian, aku berasa lagi syuting drama, deh!"
"Sudahlah, jangan mulai ngayal lagi!" Aku terkekeh mendengar ucapannya yang selalu menghubungkan segala hal dengan drama Korea.
"Beneran, Ardian. Aku berasa sedang syuting adegan bersepeda bersama Lee Min Ho di drama Legend Of The Blue Sea. Aku berasa jadi si putri duyung. Hahaha ..."
"Suka-suka kamulah!"
"Ardian," panggilnya.
"Hem?"
"Boleh aku memelukmu dari belakang?"
A---Apa? I--iya. Terserah kamu."
Tangan kecil itu bergerak melingkar di pinggangku. Disandarkan kepalanya di punggungku.
Astaga! Apa lagi ini? Hatiku sedikit terasa aneh dan agak berdebar.
Jangan, Ardian! Jangan coba berpikir macam-macam!
---------------
----------
"Mau minum apa, Nay?"
"Jus jeruk aja."
Kumasukkan beberapa uang koin pada mesin penjual minuman kaleng otomatis yang ada di depan toko kue. Sekaleng soda lemon untukku dan sekaleng jus jeruk untuk Naya.
------
"Maaf! Akan saya bersihkan."
"Dasar, pelayan!"
Sebuah kedai kopi bernuansa out door di samping kami berdiri membeli minuman kaleng, tampak sedikit ricuh.
Seorang pemuda berusia 20 tahunan tengah memaki pelayan wanita dengan suara keras. Nuansa out door, membuat orang yang berlalu-lalang, bisa melihat jelas perdebatan mereka.
"Minta maaf seribu kali pun, kamu nggak bakal bisa mengganti harga kemeja mahalku ini!" bentak si pemuda. "Gaji seumur hidupmu mana cukup. Kalau pun ditambah menjual harga diri pun, nggak bakal kebeli."
Pelayan wanita itu hanya diam, menunduk dan mendengarkan makian pelanggannya itu.
----------
"Dasar, laki-laki lucknut!" Naya meremas kaleng jus di tangannya yang sudah kosong. "Dia harus diberi pelajaran!"
"Kamu benar. Ayo kita ajari dia bahwa karma itu ada!" Niat yang sedikit kurang sopan tiba-tiba berkelebat di bebakku. "Naik, Nay!"
Begitu Naya naik ke boncengan sepeda, aku segera mengayuhnya menuju arah kedai kopi out door tempat perdebatan itu terjadi.
"Lakukan, Naya!" seruku.
"Oke!" Naya ikut berseru sambil mengangkat sebelah kakinya. "Rasakan tendangan maut dari istrinya Ji Chang Wook Oppa, wahai lelaki lucknut!"
"Aaaargh!"
Lelaki sombong itu berteriak keras ketika kaki kanan Naya mendarat di punggungnya. Dia tersungkur ke meja pengunjung dengan kemeja yang penuh kopi.
"Sial!" teriaknya. "Siapa yang berani melakukan ini padaku?!"
"Rasain!" teriak Naya dari boncengan belakangku.
"Awas, kalian!" Lelaki itu menyambar kunci motornya dan mengejar kami.
"Ardian, dia ngikutin kita!" seru Naya.
__ADS_1
"Pegangan, Nay!"
Lagi-lagi aku terlibat hal gila bersama istriku yang ajaib ini. Yang luar biasa adalah kali ini aku sangat menikmatinya.
"Wah ... sepertinya dia benar-benar marah!" Naya kembali berseru ketika lelaki sombong itu tengah berjarak beberapa meter di belakang kami. "Ardian, lebih cepat!"
"Astaga, diamlah! Kakiku sudah mau kram, tahu nggak?"
Aku terus mengayuh sepeda melewati gang-gang sempit kompleks rumah-rumah khas masyarakat Bali.
"Sudah nggak ada," kata Naya.
"Dia sudah pergi?" tanyaku seraya memperlambat laju sepeda.
"Sepertinya dia sudah menyerah."
"Hah, syukurlah!" Aku menghembuskan nafas lega.
Dengan sedikit lebih tenang, kami kembali menyusuri jalanan gang sempit itu.
-----
"Ketemu!"
"Haiiiish ... sial!"
"Uwaaaaah!" teriak Naya. "Bagaimana bisa dia tiba-tiba muncul di depan sana? Seperti hantu saja dia itu."
Lelaki itu berdiri di hadapan kami dengan senyum menyeringai. Dia berjalan gontai, tangan yang dikepalkan menahan amarah serta kemeja yang penuh tumpahan kopi.
"Turun, kau!" Dicengkeramnya leher kaosku dan ditariknya tubuhku mendekat padanya. "Mau ganti rugi atau kuhajar sampai tak bisa bangun lagi? Pilih mana?"
"Hah? Haha ... haha ..."
"Siapa yang menyuruhmu tertawa, hah?!" bentaknya padaku.
"Berani sekali orang sombong sepertimu mengancamku, sialan!"
"Aaaargh!" Satu pukulan dari tanganku yang sudah hampir kram karena menyetir sepeda itu mendarat tepat di hidungnya.
"Bagaimana? Mau nambah lagi nggak? Mumpung tanganku mulai gatal, nih."
"Sialan!" Dia berdiri dan bersiap melayangkan tinjunya ke arahku.
"Bod*h!" Kutangkis kepalan tangannya dengan mudah dan meremasnya.
"Akh! Sakit!" teriaknya.
"Kau ini lelaki tulen atau jadi-jadian, sih? Kenapa tanganmu lembek begini?" Aku semakin meremas tangannya. "Hei, aku beri tahu padamu, ya! Jangan sok merendahkan orang! Kemaja semahal apa yang bisa ditukar dengan harga diri? Yang ada, justru kaulah yang nggak punya harga diri. Memakai barang KW saja sombongnya sudah tingkat dewa. Kamu tahu? Bahkan jika dibandingkan dengan kaos bergambar aktor Korea sedang minum kopi yang aku pakai ini, harga dirimu tak akan mampu membelinya. Kau tahu kenapa? Karena ada seseorang yang memberikannya dengan tulus padaku. Mengerti, kau?!"
Aku mendorong tubuhnya hingga dia tersungkur di jalanan.
"Pergi sana dan sebaiknya kau minta maaf pada pelayan di kedai kopi itu! Sekali lagi aku melihat wajahmu yang sombong ini, habislah, kau! Pergi sana!"
Segera dia naik ke atas motor miliknya dan berlalu dari hadapan kami.
"Kereeeeen!" Naya merangkulkan sebelah lengannya di pundakku. "Kamu selalu terlihat keren saat berantem. Hahaha ..."
"Apaan, sih?" Aku sedikit tersipu mendengar pujiannya. "Ayo naik dan lihat sunset di pantai!"
"Let's go!"
----------------
------------------------
PANTAI SANUR
"Warna jingga yang begitu romantis. Bukankah begitu, Ardian?"
Naya menatap padaku yang berdiri di belakangnya. Semburan jingga matahari tenggelam terlihat menerpa wajahnya.
"Rasanya, aku tak ingin pulang," ucapnya seraya menatap ke tengah laut. "Jika di tempat ini aku bisa sedekat ini denganmu, rasanya aku tak ingin pulang. Karena ketika kita kembali ke kehidupan yang seperti biasanya, kamu pasti akan melupakan aku lagi. Aku akan menjadi orang asing lagi dan perlahan mulai terlupakan."
Aku berjalan mendekat padanya. Kuraih tubuh kecil itu ke dalam pelukanku.
"Aku akan mengingatnya, Naya." Kurasakan sebuah reaksi terkejut darinya saat kami saling berhimpitan. "Kenangan yang baru bersamamu ini, aku akan selalu mengingatnya."
Sebuah tetesan air mata yang terasa hangat, jatuh menimpa lenganku yang memeluknya dari belakang.
"Terima kasih, Ardian."
__ADS_1
Aku pun akan berusaha untuk tidak lagi melupakannya. Meski aku sendiri merasa tak pernah yakin dengan perasaanku padanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=