
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
ππΎπΎ
Aku ingin kembali ke masa itu ...
Masa yang begitu berharga ...
Yang mengingatkanmu padaku ...
πΎπΎπ
---------------------------------------------------------------------
"Kamu suka yang mana, Ardian? Yang warna biru bagus. Tapi warna hitam juga cocok di badanmu. Mau pilih mana? Ardian ... Ardian!"
"Ada apa, Naya?!" seruku.
"Naya?!" pekik Nadine.
Oh, God!
Pikiranku melayang tak karuan.
"Ardian?"
Aku bahkan sampai tak memperhatikan wanita di depanku ini. Dia terlihat kebingungan menatapku.
"Maaf, Nadine ... sepertinya aku ..."
"Kamu sedang memikirkan Naya?" sergahnya.
"Apa?! I--itu ..."
Raut wajahnya nampak kesal, namun sebuah sunggingan senyum kembali dia perlihatkan.
"Apa kita pulang saja? Sepertinya kamu kurang enak badan," usulnya.
"Sepertinya begitu."
Sepanjang perjalanan aku mengantarnya pulang, tak satu pun kata yang terucap dari bibir kami. Mungkin dia merasa kesal padaku. Aku sendiri pun tak ada mood untuk sekedar berbasa-basi. Sejak kemarin pikiranku terasa kacau. Lebih tepatnya, pikiranku terus dihantui sosok Naya. Aku sendiri merasa heran.
------------
-----------------
APARTEMENT ARDIAN
Aku sedikit terhenyak kaget ketika kulihat sepatu pria ada di rak sepatuku. Yang pasti, itu bukan milikku.
"Wah ... kamu hebat sekali!"
"Makasih, Dokter."
"Kalian sedang apa?!" seruku ketika kulihat Ardito dan Naya sedang bergurau di ruang tamu.
"Oh? Ardian? Kamu baru pulang?" sapa Ardito.
Tanpa mengindahkan pertanyaan kakakku itu, aku berlalu ke dapur. Kuambil sekaleng soda lemon dan duduk di depan mereka berdua yang sedang sibuk dengan laptop.
"Ngapain kamu ke sini malam-malam?" tanyaku.
"Untuk bertemu Naya," jawab Ardito santai.
__ADS_1
"Bertemu?! Apa maksudnya itu?" Aku sedikit risih dengan ucapannya.
"Aku minta Naya untuk mengarsipkan rekam medik pasien. Kenapa?" tanya Ardito.
"Cukup telpon saja, kan bisa. Kenapa pake' ke sini segala?"
"Kenapa memangnya? Aku, kan pengen ketemu langsumg dengannya. Nggak boleh?"
Kenapa rasanya kesal melihat mereka? Memang dari awal aku tak suka dengan kakakku yang menyebalkan ini. Naya juga sama saja. Sudah tahu Ardito itu dokter mesum, masih saja mau dekat-dekat dengan dia. Melihat mereka yang ketawa-ketiwi tak jelas sambil mengamati laptop begitu membuatku makin kesal. Hari ini benar-benar panas sampai otakku pun ikutan panas.
------------
"Sedang apa kamu?" Naya memandang heran padaku yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Kenapa?" tanyaku jutek.
"Kenapa apanya? Kamu ngapain duduk di sini? Sempit tahu?!" serunya dengan mata melotot padaku.
"Suka-suka aku, dong mau duduk di mana aja. Ini rumahku, ini sofaku, aku beli pake' uangku. Mau aku duduk di sana atau di sini, terserah padaku."
"Dih ... apaan, sih?! Kekanakan banget!" gerutu Naya. "Sampai di mana tadi kita bahasnya, Dok?"
Mereka nampak akrab. Mungkinkah saat kerja bersama di klinik apotek juga sering berduaan seperti ini? Benar-benar tidak profesional. Di pikiranku jadi berkelebat ucapan ibu yang bilang soal perasaan Ardito pada Naya. Aku benci padanya, dari dulu.
---------
"Sepertinya dia alergi antibiotik golongan penisilin, Dok." Naya menunjuk pada data salah satu pasien di laptopnya.
"Apa harus diganti golongan lain?" tanya Ardito.
"Nggak perlu. Diturunin aja ke amoxicillin!"
"Wah ... kamu pinter banget! Harusnya kamu jadi asistenku saja, Nay." Ardito nampak membelai lembut rambut Naya
"Ehem ... ehem!" Aku semakin menggeser dudukku ke sisi Naya.
"Ardian, sempit tahu!" seru Naya. "Minggir sana!"
"Ardito saja yang suruh minggir!" seruku. "Lagian ngapain, sih kalian mesra-mesraan di rumahku? Bikin dosa aja."
"Mesra-mesra apanya? Kami lagi kerja, nih!" teriak Naya.
"Lagian kamu ngapain, sih dari tadi mengganggu saja," kata Ardito.
"Wah! Apa-apaan bicaramu itu? Kamulah pengganggu di sini!" seruku.
"Kok, kamu jadi emosi, sih!" Amarah Ardito ikut tersulut.
Kami sama-sama bangkit dari kursi dan saling memandang dengan berapi-api. Dari dulu, rasanya ingin kutonjok mukanya yang terlihat menyebalkan itu.
"Kamu cemburu, ya karena aku dekat sama Naya?"
"Apa katamu?!" Aku terperanjat mendengar ucapannya.
"Hei, adikku tersayang ... dengar aku baik-baik, ya!" Ardito meraih krah kemejaku. "Kamu sudah memilih untuk tetap bersama Nadine, jadi jangan mencampuri hubunganku dan Naya, dong! Kapan kamu akan melepaskannya? Aku udah nggak sabar menunggu perceraian kalian."
"Kau!" seruku.
"Sudah hentikan!" teriak Naya yang berdiri di tengah-tengah kami. "Kalian berdua minta di hajar tanganku yang selalu menggerus obat ini, hah?! Bocah-bocah kekanakan yang nggak berguna!"
Aku dan Ardito mendadak mati kutu di hadapannya. Mata bulatnya melotot menatap kami dengan wajah kesal.
"Dokter pulang aja, deh! Besok kita bahas lagi di apotek!" kata Naya.
"Oke, deh!" Ardito mendengus kesal sambil menatapku. "Mau mengantarku keluar?"
__ADS_1
"Iya. Ayok!"
Haiiish! Sungguh seorang saudara yang tak punya hati. Bisa-bisanya dia menggoda istri adiknya dengan terang-terangan begitu. Benar-benar tak punya malu.
-----------
--------------
"Ah, lelahnya!"
Kudengar sebuah keluhan keluar dari bibir Naya yang diiringi langkah kakinya. Sudah 15 menit berlalu dari saat dia keluar mengantar kepergian Ardito. Kini dia kembali dengan langkah gontai dan wajah yang nampak lesu.
"Naya, kita mesti bicara!" Aku menghampirinya yang melangkah menuju kamar.
Istriku itu menatap malas padaku. "Apa?"
"Aku nggak suka, ya kamu bawa-bawa Ardito ke sini tanpa ijinku."
"Iya." Dia menjawab seraya melangkah meninggalkanku.
"Hei, apa-apaan sikapmu barusan?!" Aku meraih lengannya. "Aku, kan suamimu, hormati dikit, dong!"
"Dih!"
Gadis itu berdecak kesal padaku. Dihempasnya tanganku yang meraih lengannya, dengan kasar.
"Suami seperti apa maksudmu? Suami yang menyelingkuhi istrinya dengan ibu tirinya? Begitu?!" bentaknya. "Aku, kan sudah minta agar kamu menjauh dari Nadine. Kenapa kamu masih tetap saja menemuinya? Itu yang disebut seorang suami? Lama-lama aku nggak tahan denganmu."
Pikiranku bergentayangan pada kejadian beberapa hari lalu usai perkara Henry Sastro. Di mana aku menyanggupi akan mengabulkan apapun yang Naya inginkan. Meski pada akhirnya, aku tak bisa menepati janjiku ketika dia memintaku untuk melepaskan Nadine.
Tetapi akhir-akhir ini, pikiranku justru dipenuhi olehnya, bahkan saat aku sedang bersama Nadine. Aku sedikit gelisah karena memikirkannya.
-----------------
"Matikan lampunya!" kata Naya. "Ardian, matikan lampunya! Aku nggak bisa tidur dengan lampu menyala begitu."
Aku diam. Tak ada niat sama sekali untuk menggubrisnya.
"Ardian, matikan!" serunya. "Ardiaaaan! A--apa yang ...?"
Naya nampak terhenyak kaget ketika melihatku berbaring di belakangnya.
"Apa yang sedang kamu lakukan di atas tempat tidurku, hah?!" teriaknya.
"Apa kita pernah tidur sedekat ini?"
"Apa?!"
Kulihat air muka bingung terpancar dari wajah mungilnya. Kulit pipinya yang putih terlihat bersemu merah. Dia nampak canggung saat melihatku ada di dekatnya.
"Jika pernah, bolehkah aku mengulangnya?"
"Apa?!" pekiknya.
Aku bergerak perlahan mendekat padanya. Naya pun semakin menarik tubuhnya menjauh dariku.
"Katakan padaku!" Aku menariknya mendekat ke arahku. "Pernahkah kita melakukannya?"
"A--apa?"
"Apa lagi? Sungguh kamu nggak ngerti?"
"A--Ardian ... ka--kamu ... ja--jangan seperti ... ini!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1