
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💓 Mereka yang menatapku berbeda ...
Mereka yang memancarkan pesonanya ...
Keduanya seakan sengaja ...
Membawaku ke dalam kebingungan ...
Dan tragedi keluarga ...💓
---------------------------------------------------------------------
"Sedaaaap!" kataku, sembari menarik kursi di ruang makan. "Aku selalu suka nasi goreng buatanmu."
"Itu sebabnya kamu menyuruhku kembali ke sini, kan?" Naya nampak mengerucutkan ujung bibirnya menahan kesal. "Kamu butuh aku untuk jadi pembantumu? Dasar, kamu!"
"Hahaha ... jangan su'udzon gitulah, Nay!"
Menyenangkan saat melihatnya kembali ke rumahku.
Kenapa, ya? Mungkin karena aku mulai terbiasa dengan kehadirannya.
"Hei, Ardian." Dilemparkannya pandangan serius padaku. "Apa nanti, kamu sungguh akan menceraikan aku?"
"Kenapa? Kamu nggak mau bercerai denganku?" tanyaku, sambil melahap nasi goreng buatannya.
"Bukan. Bukan begitu," sahutnya. "Aku cuma ingin bilang, kalau kamu beneran menceraikanku, kamu harus mulai menghitung harta gono-gini untukku!"
"Hahaha ... ya ampun, coba lihat gadis matre ini! Aku saja nggak pernah menyentuhmu, masa' kamu minta harta gono-goni."
"Ya udah, sentuh saja aku! Biar aku dapat harta gono-gini!"
"Apa?!"
Sumpah! Aku langsung pucat saat mendengar ucapannya. Darahku seakan berhenti mengalir seketika.
"Hei, kamu serius?" tanyaku memastikan.
Dia beranjak dari tempat duduk dan menghampiriku. Dia dekatkan wajahnya padaku sampai pandangan kami saling beradu.
"Akh!" rintihku, saat jarinya meneyentil keningku.
"Dasar, lelaki maruk!" geramnya. "Bisa-bisanya kamu berpikir untuk menyentuhku sedangkan hatimu masih dipenuhi wanita lain. Huh! Jangan mimpi, ya!"
"Astaga! Kamu mengerjaiku?" kesalku.
"Menurutmu? Hahaha ...! Aku berangkat kerja dulu."
Apa-apaan gadis itu? Bisa-bisanya dia berkata sesantai itu di depan pria normal sepertiku. Kalau aku ini berotak mesum, sudah tamat riwayatnya.
---------------
-----------------------------
"Tuan, tuan muda Ardito dan tuan muda Ardian ada di sini." Asisten kakek menyampaikan kedatangan kami kepadanya.
"Cucu-cucuku? Sudah lama aku tak bertemu mereka. Suruh mereka masuk!"
Hari itu, aku dan Ardito pergi ke rumah kakek. Kami ingin mendengar penjelasannya tentang segala persoalan yang terjadi di kantor belakangan ini.
"Apa kabar, Kakek." Aku dan Ardito, bergantian memberi salam padanya.
"Lama tak bertemu, Anak-anak. Kalian terlihat semakin dewasa," sapa kakek. "Apa yang membawa kalian ke sini?"
"Soal saham Om Hery," sahutku. "Apa-apaan itu maksudnya?"
"Kakek, kita tahu benar seperti apa om Hery itu. Bagaimana bisa kakek memberikan saham kakek padanya? Dia pasti akan menggunakan itu untuk melengserkan Ardian," kata Ardito.
"Jadi, kalian berdua mau mendemo kakek?" Lelaki tujuh puluh tahun itu nampak menyunggingkan senyum di wajah tuanya.
"Ardian, aku sedang membuat taruhan dengan pamanmu itu."
"Taruhan?!" pekikku.
"Iya."
Kakek nampak mengambil berkas dari laci mejanya dan menunjukkannya pada kami.
"Apa maksudnya ini?" tanyaku.
"Aku memang memberikan sahamku pada Hery, tapi itu untuk mengambilnya kembali. Aku bilang padanya, jika dalam waktu enam bulan ini Ardian berhasil menjual buku sebanyak 10.000 eksemplar dari seorang penulis amatir, maka Hery harus mengembalikan saham milikku ... beserta saham miliknya. Dan semua saham itu akan dipindahkan atas namamu, Ardian."
------------------------
-------------
"Haiiiish ... sial!" Kupukulkan tanganku berkali-keli ke setir kemudi mobilku, saat kami berada di luar kediaman kakek.
__ADS_1
"Kakek itu terlalu jenius atau apa? Bisa-bisanya dia memikirkan hal konyol seperti itu," gerutu Ardito.
"10.000 eksemplar dari penulis amatir? Dia mau menguburku hidup-hidup, ya? Sialan!" geramku.
"Ardian, kita harus menyelidiki Om Hery dan secepatnya mencari penulis yang bisa kita ajak kerja sama!"
"Sudah gila, kamu, ya?!" seruku. "Mana ada buku dari penulis amatir yang akan terjual segitu banyak?"
"Emang nggak ada di bayanganmu? Penulis amatir yang agak berbakat dan bisa kita kendalikan."
"Penulis amatir yang bisa dikendalikan?" pikirku. "Dia! Ardito, kita bisa menggunakannya."
-----------------------
----------------
APOTEK
(pov NAYA)
Bekerja dan terus menjalani hari-hariku dengan penuh semangat. Hanya itu yang perlu kulakukan.
Bodo amat dengan rumitnya percintaan Ardian, itu bukan urusanku. Aku tak mau terhubung lebih jauh dengan dia. Karena aku takut.
Ya ... aku takut akan tumbuh perasaan melebihi batas untuknya.
------------
"Mbak, mau nebus resep," kata seorang bapak-bapak, seraya menyerahkan selembar resep padaku.
"Tunggu ya, Pak!"
Aku menuju rak obat berlogo merah di samping ruang racik resep. Kuedarkan pandanganku untuk mencari obat yang disebutkan pasien.
ISDN (Isosorbide Dinitrat) 5 mg. Itulah yang tertulis di kertas resep tersebut.
Aku pun segera mengambil etiket putih dan menuliskan aturan minum obatnya di sana.
-------------
"Lho ... Pak ...! Bapak, nggak apa-apa?!"
Suara teriakan terdengar dari ruang tunggu.
Aku pun segera berlari keluar dan melihat yang terjadi.
"Ya Alloh, Bapak!" seruku.
"Ada apa ini?" tanyaku, pada beberapa pasien yang ada di apotek.
"Nggak tahu, Mbak. Tiba-tiba bapaknya roboh dan teriak kesakitan begitu," jawab salah seorang dari mereka.
"Bapak! Bapak, kenapa? Apa yang terjadi?"
Aku mulai panik melihatnya yang semakin mengerang kesakitan. "Siapa pun, tolong hubungi rumah sakit terdekat!"
----------
"Minggir!"
Tiba-tiba seorang lekaki berjas putih datang memisahkan aku dengan pasien itu.
"Lho?! Kamu, kan? Ardito?!" pekikku.
"Ambilkan tensi!" perintahnya.
"Heh? Apa?!"
"Cepat ambilkan tensiiii ...!" teriaknya.
"Ba--baik."
Aku bawa alat untuk tensi darah padanya dan Ardito mulai mengecek tekanan darah pasien tersebut.
"Syukurlah, masih normal," katanya.
Ardito nampak mengamati pasien yang terlihat semakin kesakitan tersebut. Dibukanya kancing baju pasien itu. Ekspresi terkejutnya keluar saat dilihatnya bekas jahitan di dada kiri pasien.
"Apa dia ke sini untuk beli obat?" tanya Ardito.
"Iya. Dia menebus resep," jawabku, dengan panik.
"Resep apa?"
"ISDN 5 mg."
"Ambilkan obat itu! Cepat bawa kemari!" serunya.
"Ba--baik!"
Aku masih belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Sedang apa Ardito di sini?
Sakit apa yang diderita pasien itu?
Dan kenapa aku nurut saja dengan apa yang diperintahkan Ardito padaku?
Aku sudah kelewat gugup untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku itu.
Aku bawa satu strip ISDN 5 mg padanya dan sepasang handscoon untuknya.
"Pak, bisa buka mulutnya dan angkat sedikit lidahnya?" kata Ardito, pada pasien tersebut.
Pasien itu pun melakukan apa yang Ardito perintahkan padanya.
"Dihisap perlahan, ya, Pak!" kata Ardito, dengan menaruh obat tersebut di bawah lidah pasien.
Secara perlahan-lahan, bapak itu mulai tenang. Rasa sakit yang tadi terlihat menyiksanya pun nampak mulai menghilang.
"Terima kasih, Dokter," kata si bapak yang diikuti senyum lega dari wajah Ardito.
Aku dan beberapa pasien yang ada di ruang tunggu pun merasakan kelegaan yang sama.
------------
---------------------
PERJALANAN PULANG
"Kenapa kamu nggak bilang padaku kalau kamu akan menggantikan dr.Rahmi selama beliau cuti hamil dan melahirkan?"
"Kemarin, kan aku sudah bilang padamu kalau kita akan mulai sering bertemu," katanya, dengan tertawa.
"Wah! Aku sangat terkejut tadi. Untung kamu datang tepat waktu," kataku.
Ardito hanya tertawa mendengar decak kagumku sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Apa tadi, kamu sudah menduga, kalau pasien itu punya riwayat penyakit jantung?" tanyaku, penasaran.
"Iya. Dari gejala yang dia tunjukkan. Makanya aku minta tensi padamu," jawabnya.
"Jadi, apa tadi dia mengalami serangan jantung?"
"Bukan," jawabnya. "Itu hanya Angina Pektoris. Nyeri jantung yang kadang muncul pada penderita jantung koroner."
Aku pun manggut-manggut mendengar penjelasannya.
Kulirikkan ekor mataku padanya. Sekilas, wajahnya terlihat mirip Ardian. Hanya saja, dia sedikit lebih kalem.
"Kamu tadi lihat bekas jahitan di dadanya?" tanyanya.
"Iya."
"Itu bekas operasi," katanya. "Kemungkinan, dia pernah melakukan pemasangan ring jantung."
"Wah ... kamu terlihat pintar! Sepertinya kamu jauh lebih pintar dari Ardian," kataku, kagum.
"Tentu saja," sahutnya. "IQ-ku ini jauh lebih tinggi daripada anak tengil itu."
Aku pun cekikikan mendengar tanggapannya.
Ternyata dia juga bisa berekspresi menyombongkan diri. Mirip Ardian!
"Kenapa kamu memilih bekerja di klinik apotek tempatku bekerja juga?" tanyaku penasaran.
"Entahlah. Mungkin karena aku menyukaimu," katanya, sambil mengerling jahil.
"Haiiish! Sepertinya muncul seorang dokter play boy di dekatku," gumamku.
"Hahaha ...! Aku anggap itu pujian, Naya," tawanya. "Boleh aku tanya sesuatu? Sejauh mana hubunganmu dengan Ardian?"
"Sejauh mana apa maksudmu?"
"Hahaha ... aku hanya penasaran saja. Apa benar Ardian bisa menyentuhmu?" katanya, sembari terus tertawa.
"Apa maksud ucapanmu itu? Memangnya kenapa Ardian nggak bisa menyentuhku?"
Coba lihat! Pertanyaan bodohnya membuatku mulai tersulut emosi.
"Meski punya sifat yang menyebalkan, Ardian itu punya standar yang cukup tinggi soal wanita, tahu? Dia itu suka wanita cantik, bertubuh seksi yang ber-image dewasa. Dan kamu?! Kamu lebih ber-image gadis bar-bar yang spontan dan ceroboh. Jauuuh sekali dari tipenya Ardian. Hahaha ...!" katanya. "Berani taruhan, deh! Kamu pasti belum pernah disentuhnya, kan? Hahaha ..."
Iiih ... kok nyesek, ya dengar kata-katanya Ardito!
Aku hanya diam tanpa bisa membantah karena semua yang dikatakannya memang kenyataan. Tapi sebagai wanita aku juga merasa tersinggung, dong!
Apa aku nggak ada menarik-menariknya sama sekali? Berasa menyedihkan!
"Sudahlah, cerai aja sama Ardian! Menikah denganku saja, Naya!"
"Hah?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1