
(pov NAYA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🍁Aku tak pernah tahu ...
Bahwa aku ...
Akan terjebak dalam situasi yang rumit ...
Bersama mereka ...
Yang selalu asing di mataku ...🍁
---------------------------------------------------------------------
Bergantian aku menatap pada dua pria tampan di hadapanku itu.
Yang satu berwajah 'cool boy' mirip Ji Chang Wook Oppa.
Satunya lagi berwajah 'humble boy' dengan senyum play boynya, mirip Lee Min Ho Oppa.
---------
"Ada apa? Hal serius apa yang ingin kalian bicarakan padaku?" tanyaku, pada dua bersaudara ganteng itu.
"Nay, mau nerbitin buku nggak?"
"Apa?!" Aku terperanjat mendengar pertanyaan Ardian. "Bu--buku katamu?"
Dia mengangguk dengan ekspresi meyakinkan.
"Hahaha ...! Astagaaaa ...!" desisku.
"Kamu mau mengejekku lagi? Mau bilang tulisanku aneh lagi? Mau bilang aku penulis amatir lagi?"
"Aku serius," kata Ardian. "Aku akan menerbitkan sebuah buku. Dan aku sedang mencari seorang penulis amatir."
"Hah?!"
Lagi-lagi, aku dipaksa menelisik untuk mencari kesungguhan dari tatapan tajam mereka berdua.
Menerbitkan sebuah buku?
Aku?!
Yang benar saja!
"Hei, mau nggak?" Ardito menimpali. "Mumpung ada kesempatan, lho."
Apa-apaan ini? Mereka ingin mengerjaiku, ya?
"Sudah gila, kalian!" seruku, sembari bangkit dari tempat duduk.
"Lima ratus juta," kata Ardian. "Itu royaltimu kalau penjualannya mencapai sepuluh ribu eksemplar.
"Li--lima ratus juta?!" pekikku.
Ardian dan Ardito nampak menyunggingkan senyum kemenangan padaku.
"Oke. Deal!" Aku langsung menjabat tangan Ardian.
"Hahaha ... astaga! Benar-benar mata duitan," tawa Ardito.
Sebenarnya bukan karena uang.
Ya ... karena uang juga, sih!
Tapi aku lebih tertantang untuk mengukur kemampuanku. Aku sangat penasaran.
Apa aku bisa menerbitkan buku karyaku sendiri?
Apa aku bisa membuat best seller dalam proses penjualannya? Itulah yang sedang aku pikirkan.
--------------------
__ADS_1
----------------
"Ehm ... nggak ada yang bermutu. Semua ceritamu pasaran, Nay," celetuk Ardito.
"Nah, kan? Aku udah bilang gitu, tapi dia nggak percaya." Ardian menyahuti.
"Ya, udah ... jangan menyuruhku! Kalian sendiri aja yang bikin cerita. Pengen tahu, cerita alay apa yang bakal kalian tulis," geramku.
Kedua kakak beradik itu nampak cengengesan menanggapi kekesalanku.
"Nay, bikin cerita yang agak beda gitu!" kata Ardito. "Kamu, kan orang kesehatan, kenapa nggak nulis tentang ilmumu aja, sih? Yang ditulis cerita poligami mulu."
"Eeeh ... cerita kayak gitu lagi hits di kalangan emak-emak, tahu?!" sahutku.
"Itulah kenapa aku bilang kalau ceritamu itu pasaran. Nggak kreatif banget," cibir Ardito.
Mereka pikir untuk membuat cerita itu gampang. Padahal aku sudah memutar otakku ke kiri dan ke kanan, kadang juga sampai ngeblank. Masih dibilang ceritaku pasaran.
Menyebalkan sekali!
""Kenapa nggak coba rencana Ardito aja?" tanya Ardian. "Bikin cerita tentang dunia kefarmasian dengan dibungkus cerita roman."
"Maksudnya?" tanyaku, bingung.
"Buat cerita percintaan yang fresh dan ringan tapi selipin pengetahuan di dalamnya! Kalau kamu punya ilmu soal kefarmasian, coba masukin di dalamnya!"
Aku hanya manggut-manggut saja mendengar perkataan suamiku itu.
--------------------------
-----------------
19.30 WIB
"Buka mulutmu!" Ardian menyuapkan sesendok nasi ke mulutku. "Sampai segininya, ya aku harus melayanimu?"
"Ya, mau gimana lagi? Aku, kan sedang bekerja untukmu," jawabku, sambil berkutat dengan laptop di pangkuanku.
"Ya ampun! Aku banar-benar nggak nyangka bakal jadi pembantumu," geramnya.
"Sebenarnya, apa cita-citamu?" tanya Ardian.
"Apoteker? Penulis?"
"Enggak dua-duanya," gelengku.
"Terus?"
"Aku ingin jadi sutradara," jawabku.
"Hah?! Hahaha ... hahaha ...! Sutradara katamu? Hahaha ...!"
"Iiish ... sialan!"
Ardian nampak tertawa terguling-guling di sofa, sambil memegangi perutnya.
"Jangan mimpi terlalu tinggi! Entar jatoh, sakit. Hahaha ...!" ejeknya.
"Kamu salah!" kataku. "Ada satu mimpi tinggiku yang bahkan sudah jadi kenyataan."
"Hem?! Mimpi apa?" Ardian nampak penasaran.
"Menikah dengan Ji Chang Wook Oppa."
"Hah?!"
"Denganmu," jawabku. "Kamu, kan mirip dan seganteng Ji Chang Wook Oppa."
"Ngo--ngomong apa, sih, kamu?"
Astaga ... coba lihat dia!
Ardian terlihat salting. Dia 'blushing'. Jadi ingin tertawa melihat ekspresinya.
-------------------------
__ADS_1
--------------------
(pov ARDIAN)
KEDIAMAN HERY PRASETYO
Aku dan Ardito memulai rencana awal kami untuk menyingkirkan Om Hery.
Sengaja kami meminta Naya untuk menemuinya. Kami ingin segera mengibarkan bendera perang agar rencana busuknya segera terbongkar.
Kulihat Naya yang ada di bangku belakang mobil. Nampak ia sedang menarik dan menghembuskan nafas berulang-ulang. Air muka tegang, terpancar jelas di wajahnya yang biasanya terlihat ceria dan penuh semangat.
"Naya ...." Kuraih tangannya dari bangku kemudi. "Nggak apa. Kami ada di sini bersamamu."
"Apa kamu merasa tegang?" tanya Ardito.
"Ya ... sedikit," jawabnya, ragu.
"Tenanglah! Ardian akan ikut masuk bersamamu, saat keadaannya mulai di luar kendali. Nggak usah khawatir!" kata Ardito.
"Sini, aku peluk biar nggak tegang!" godaku, sembari cekikikan.
"Ogah!" dengusnya.
"Nah, gitu dong!" sahutku. "Kamu lebih cocok jadi gadis bar-bar daripada gadis penakut."
"Baiklah, aku akan masuk sekarang!" katanya, sembari membuka pintu mobil.
"Jangan lupa nyalakan alat perekam yang aku pasang di kaca matamu!" kata Ardito.
"Naya...," panggilku. "Fighting!"
"Fighting!" jawabnya, dengan tersenyum lebar.
Kata itu sering aku dengar saat dia sedang nonton drama Korea di laptopnya.
Itu seperti kata-kata motivasi gitu, ya? Sepertinya begitu. Buktinya Naya langsung sumringah setelah aku bilang "Fighting!".
------------
"Dia itu ... cukup menarik, ya!" kata Ardito, sembari menatap kepergian Naya yang memasuki rumah Om Hery. "Ada sesuatu dari dia yang membuatmu menahannya, kan?"
Aku hanya sedikit menyunggingkan senyum menanggapi perkataannya.
Sejujurnya, aku dan Ardito tak begitu akrab layaknya saudara kandung.
Sejak ayah dan ibu bercerai sepuluh tahun lalu, aku ikut ayah dan Ardito ikut ibu. Itulah yang membuatku tidak begitu suka dengannya.
Mungkin karena aku merasa iri. Karena ibu lebih memilih membawanya ketimbang aku.
Tapi saat ini aku sedang butuh bantuannya. Aku butuh otaknya untuk membantuku menyingkirkan pamanku yang licik itu.
"Kapan kamu akan melepaskannya?"
"Apa maksudmu?" Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaannya.
"Hari di mana kamu tertangkap kamera wartawan di hotel. Saat itu kamu bersama Nadine, kan? Apa kamu memanfaatkan Naya untuk menutupi hubungan diam-diammu dengan Nadine dari ayah?"
Aku hanya diam, tak merespon ucapan Ardito sedikit pun.
"Setelah semua ini selesai, kamu juga akan melepas Naya, kan?" tanyanya. "Kalau kamu sudah berencana melepasnya, aku akan mengambilnya."
Ambil katanya?!
Dari dulu dia tak pernah berubah. Selalu saja mengambil apapun yang aku miliki. Termasuk ibu.
"Aku memanggilmu ke sini hanya untuk menyelidiki Om Hery. Bukan untuk masuk apalagi mencampuri urusan pribadiku," geramku. "Jadi, jangan coba macam-macam denganku!"
"Jangan coba mengaturku!" kata Ardito. "Aku datang ke sini atas kemauanku. Dan aku pun akan melakukan apapun yang aku mau."
"Jangan coba-coba menyentuh Naya!" geramku.
"Kita lihat saja nanti, Adikku!" Seringaian senyum dilemparkannya padaku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1