
(pov NAYA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
โ๐นโ
Sebungkus cinta ...
Yang kamu lupakan ...
โ๐นโ
---------------------------------------------------------------------
APARTEMEN ARDIAN
"Nay, kita nggak harus tinggal bersama lagi," kata Ardian.
"Apa maksudmu, Ardian?" Aku terperanjat mendengar ucapannya.
"Maksudku, aku tak ingin merepotkanmu dan memanfaatkanmu lagi. Aku akan memberimu kebebasan, Naya. Dan Nadine akan---"
"Enggak. Naya nggak akan keluar dari rumah ini!" seru Ardito dengan mata berapi-api menatap Ardian. "Hentikan pikiran gilamu soal Nadine! Dia bukan lagi pacarmu. Dia istri ayah. Naya ... gadis itu adalah istrimu. Dia istrimu yang sah."
"Dokter, hentikan! Ardian baru pulih. Jangan seperti itu!" Aku menarik lengan kakak iparku itu dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk mataku.
"Dengar aku baik-baik, Ardian! Jika sampai Naya keluar dari sini, maka aku pun tak akan membantumu untuk mendapatkan Glorya. Ingat itu baik-baik!"
------------------
----------
Rasanya begitu menyesakkan. Kini hubunganku dan Ardian kembali ke awal lagi. Bahkan mungkin menjadi amat rumit.
Dia masih mengingatku sebagai gadis yang dinikahinya untuk membantunya mendapatkan perusahaannya kembali. Tapi dia sama sekali tak mengingat bahwa ada cinta yang mulai tumbuh di antara kami.
"Ini obatmu." Aku menyodorkan beberapa obat dan air putih pada Ardian.
"Terima kasih."
"Ada lagi yang kamu perlukan?" tanyaku.
"Enggak," jawabnya dingin.
"Soal sikap dokter Ardito tadi siang, aku minta maaf," kataku sambil berjalan menuju pintu kamar.
"Naya," panggilnya.
"Ya?"
"Adakah sesuatu tentang kita, yang aku lupakan?"
"Apa?!"
Aku cukup terperanjat mendengar ucapannya. Ardian yang biasanya selalu bersikap santai di depanku, kini terlihat amat bingung dan canggung padaku.
"Enggak. Nggak ada," jawabku. "Tidurlah! Aku mau membersihkan meja makan dulu."
"He'em."
Dokter Zain bilang, kami tak boleh menjejali Ardian dengan berbagai informasi. Jika ingatannya tak mampu menerima, itu akan semakin menambah kerusakan di selaput otaknya. Dan aku tak ingin hal itu terjadi.
Tak masalah jika dia melupakanku, asal aku masih bisa ada di sampingnya.
------------------
-------------
07.30 WIB
"Kamu nggak ke apotek?" tanya Ardian.
"Aku shift sore," jawabku sambil berkutat dengan laptop.
"Apa itu cerita yang akan kita terbitkan?" Dia menghampiriku. "Kamu posting di novel onlinne?"
"Iya. Aku mau melihat respon pembaca," kataku. "Coba lihat! Yang baca lumayan, lho. Masih di atas 500 orang."
"Wah ... oke juga. Kamu kasih judul apa?" tanyanya.
"Mellow Drama Penulis Amatir."
"Hah?! Astaga ... judul aneh apa itu, Nay? Dengernya aja bikin illfeel," gerutunya.
"Illfeel gimana? Itu judul yang keren, tahu nggak?" kataku tak mau kalah.
"Ya ampun! Sebuah judul itu mempengaruhi minat pembaca. Biarpun ceritanya bagus, kalau judulnya aneh, nggak bakal dilirik."
__ADS_1
"Lha, terus apa, dong? Emang kamu bisa kasih judul yang menarik? Huh ... bikin kesel!" geramku.
"Naya ... Saranghae."
"Apa?!"
Aku terdiam. Sudah lama sekali aku tak melihat mata itu sedekat ini. Sorot mata yang tajam, tapi menyejukkan. Wajah yang dingin, tapi meneduhkan.
Sungguh aku sangat merindukan saat-saat aku bisa sedekat ini dengannya.
--------
"Itu judulnya," kata Ardian.
Aku segera tersadar dari lamunanku dan mengalihkan pandanganku darinya.
"Ini, kan cerita soal apoteker yang bermimpi menikah dengan aktor Korea. Eh ... tahunya dia diperalat sama cowok yang mirip aktor tersebut. Karena karakter 'Naya' yang kamu buat ini kayak 'bucin' gitu, kasih judul yang aku sebutin tadi aja!"
"Yang mana?" tanyaku.
"Yang aku sebut tadi," jawabnya.
"Katakan lagi!" pintaku.
Ardian nampak heran menatapku. Dia melirikkan ekor matanya ke arah laptopku, kemudian berkata.
"Naya ... saranghae."
Aku juga mencintaimu, Ardian. Aku sangat mencintaimu.
Seandainya aku bisa mengatakannya. Seandainya kata 'saranghae' itu diucapkannya secara sadar, alangkah indahnya.
"Hei, kenapa matamu berkaca-kaca seperti itu?"
"Apa? Ah ... enggak!" Segera kuseka sudut mataku. "Mungkin karena terlalu lama lihat laptop, mataku jadi panas dan berair."
"Hahaha ... kamu sudah bekerja keras, ya?" ucapnya sembari mengusap ujung kepalaku.
"Kalau capek, cepat istirahat! Jangan terlalu memaksakan diri!"
"He'em. Terima kasih."
Setidaknya, aku masih bisa merasakan sedikit perhatian itu. Dia masih bersikap begitu baik padaku, meski hanya sebagai rekan kerjanya.
--------------------
----------------
21.05 WIB
"Naya ... Nayaaaa ...!"
"Ya?" Aku terperanjat mendengar panggilan Ardito. "Ada apa?"
"Ayo, pulang!"
Pandanganku mampir ke jam dinding yang tergantung di tembok. Aku segera meraih tasku dan mengikuti langkah Ardito.
------------
"Dokter, mampir ke warung masakan padang, ya!" pintaku.
"Mau makan dulu?" tanya Ardito.
"Enggak. Mau beliin Ardian rendang," jawabku.
"Oke."
Dan kami pun mampir ke warung masakan padang langgananku dan Ardian. Kubungkus dua porsi rendang daging kesukaan Ardian.
-----------------
------------
APARTEMENT ARDIAN
"Mau mampir?" tanyaku pada Ardito.
"Iya. Aku mau melihat keadaan Ardian sebentar," katanya.
Aku tempelkan access card dan mendorong pintunya. Langkahku sedikit tercekat, saat kulihat sepatu wanita ada di rak. Yang jelas, itu bukan milikku.
Sayup-sayup kudengar suara tawa Ardian dan seorang wanita. Segera kulangkahkan kakiku mencari tahu pemilik suara itu.
-------------
"Kamu cocok dengan model rambut bergelombang begini. Kelihatan manis," kata Ardian.
__ADS_1
"Astaga ... kamu membuatku malu."
SRUK!
"Naya? Kamu sudah pulang?" tanya Ardian.
Aku segera memungut bungkusan nasi yang aku jatuhkan itu.
Kupandagi Ardian yang nampak tersenyum padaku sambil merangkulkan lengannya ke pundak Nadine.
Ibu mertua tiriku itu nampak menggeser duduknya dan sedikit menundukkan kepalanya saat melihatku.
"Kamu juga datang?" tanya Ardian saat melihat Ardito muncul di belakangku.
"Iya. Aku mampir sebentar. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ardito.
"Aku baik. Sangat baik," jawab Ardian. "Kamu bawa apa, Nay?"
"Oh? Ini?" Aku melihat ke bungkusan nasi yang kubawa. "Nasi rendang untukmu."
"Wah ... makasih," katanya dengan senyum lebar. "Ada dua porsi. Kamu mau, Nadine?"
"Apa?!" Nadine nampak terperanjat sambil melempar pandang padaku.
Aku memberikan dua bungkus nasi itu pada Ardian dan segera melangkah keluar rumah.
---------------
"Nay, mau ke mana?" Ardito mengikutiku.
"Aku ... aku mau ke mini market sebentar."
"Tunggu!" Ditariknya tanganku.
Ardito menahan tanganku. Dia terus menelisik wajahku yang mulai memerah dengan mata yang terus berembun.
"Naya, kalau kamu ingin menangis, menangis saja!"
"Dokter, bagaimana ini? Bagaimana?"
Tanpa bisa kutahan lagi, air mataku mengalir bercucuran. Rasa sesak dan terhimpit yang tiba-tiba kurasakan. Perasaan ini sangat tidak menyenangkan. Aku benci sekali perasaan ini.
----------------
22.15 WIB
Aku masih berdiam di dalam mobil Ardito. Aku terus menatap ke apartement Ardian dan tak aku lihat sosok Nadine yang keluar dari sana sampai saat ini.
"Naya ...."
"Dokter, aku harus bagaimana?" tanyaku kembali berurai air mata. "Semua memori Ardian dipenuhi oleh masa lalunya bersama Nadine. Aku benar-benar hilang dari ingatannya--tanpa sisa."
Ardito hanya diam. Dia hanya menunduk bingung tanpa bisa menghiburku sama sekali.
Tak masalah. Aku juga tak perlu dihibur. Tak ada gunanya. Aku merasa seperti telah kehilangan banyak hal dalam hidupku.
------------------------
---------------
"Ardian?!" seruku. "Apa-apaan ini?"
Aku melihat Ardian dan Nadine yang tengah berpelukan di depan gedung apartemen itu.
"Anak itu!" geram Ardito.
"Ardian."
Aku benci air mata ini. Kenapa terus saja menetes tanpa bisa aku kendalikan?
Memuakkan!
Memuakkan sekali!
"Jangan lihat!"
"Dokter?"
"Nggak perlu dilihat!"
Air mataku semakin deras mengalir. Kurasakan kemeja Ardito yang mulai basah karena dia menarikku ke dalam pelukannya.
Sakitnya! Batapa sakit hatiku ini. Hingga tubuhku berguncang hebat saat Ardito semakin erat memelukku.
"Menangis saja, Naya ... sampai kamu nggak bisa menangis lagi!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1