
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🍁🍃🍁
Jangan melihat sebuah buku ...
Hanya dari sampulnya ...
🍁🍃🍁
---------------------------------------------------------------------
"Ini beneran rumahnya, Nay?"
"Iyalah. Aku, kan udah bilang kalau aku pernah ke sini. Ayo masuk!"
Sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Kami harus berjalan lumayah jauh untuk mencapai rumah utama yang berarsitektur klasik ala-ala Yunani itu.
"Guk ... guk ...!"
"Ya salam!"
"Apaan, sih, Ardian?!"
"Itu ... di sana!" Aku menunjuk pada seekor anjing sambil bergelayut pada Naya.
"Kan, cuma anjing dalam sangkar," celoteh Naya.
"Burung kali sangkar!" geramku sambil terus menggandeng lengannya. "Jalannya agak cepetan dikitlah, aku takut, nih!"
"Badan aja gede. Angkat galon nggak bisa, anjing dalam kandang takut. Bisamu apa, sih? Nggak berguna!"
"Apa katamu?!" pekikku. "Hei, aku ini kepala editor yang menerbitkan karya-karya penulis hebat. Berkat tangan dinginku ini, buku-buku mereka jadi best seller dan mendunia. Nggak ada yang nggak bisa dilakukan oleh seorang Ardian Benedict Lim yang ganteng seganteng aktor Korea ini. Paham, kamu?!"
"Hem? Masa'?" cibirnya. "Untuk membujuk pembuat cover book saja kamu masih minta bantuanku."
"Hei, itu beda lagi urusannya!" seruku, menahan malu.
------
"Siapa kalian? Kenapa ribut-ribut di rumahku?"
"Alamak!" seruku.
Seorang lelaki berusia 50 tahunan dengan penampilan yang cukup lusuh, tiba-tiba muncul di belakang kami.
"Siapa kalian?" tanya pria itu.
"Apa pemilik rumah ini ada di rumah?" tanyaku.
"Pemilik rumah?" Dia balik bertanya.
"Ardian, dia adalah ..."
"Pak, saya harus bertemu dengannya. Jadi, tolong panggilkan bos Bapak, secepatnya!" pintaku.
"Bos?!" pekiknya.
"Iya pemilik rumah ini, bosnya Bapak." Aku memperjelas ucapanku.
Pria itu nampak memicingkan matanya dan mengamati aku, juga Naya.
"Ardian." Naya menarik lenganku. "Dia itu adalah ..."
"Siapa namamu?" tanya dia.
__ADS_1
"Saya? Untuk apa saya memperkenalkan diri pada Bapak segala? Saya ada keperluan yang sangat mendesak dan penting dengan pemilik rumah ini. Saya harus bertemu dengannya sekarang juga!"
"Makanya aku tanya, siapa namamu?" tanya pria tua itu.
"Ardian," jawabku dengan penuh kebanggaan.
"Ardian siapa? Nggak terkenal," gumamnya.
"Apa?!" pekikku. "Ardian. Namaku Ardian Benedict Lim, kepala editor dari kantor penerbitan Glorya."
"Glorya katamu?"
Pria itu kembali menelisikku dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Hem!" Dia nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pergilah!"
"A--apa?! Apa maksudnya itu?"
"Aku bilang, pergi dari sini!" serunya sambil berlalu menuju pintu rumah utama yang megah itu.
"Tunggu sebentar! Jangan seenaknya, ya!" seruku. "Punya hak apa Anda mengusirku dari sini? Yang ingin aku temui adalah majikan Anda. Kenapa tukang kebunnya berani-berani mengusir tamu majikan? Dunia sudah terbalik rupanya."
"Ardian, jaga bicaramu!" Naya berbisik padaku tapi tak kupedulikan.
"Tukang kebun? Aku?!" Pria itu nampak kesal. "Dasar, anak muda tak tahu diri! Pergi sana! Pergi!"
"Eh? Astaga! Apa-apaan ini?!"
Pria tua itu menayun-ayunkan sapu lidi di tangannya pada kami, sambil terus berteriak-teriak.
"Tunggu sebentar!" Aku menahan pintu gerbang yang hendak ditutupnya. "Kenapa Anda bersikap tidak sopan begitu? Kami adalah tamu tuan rumah ini. Harusnya kami dihormati, dong!"
"Jika pemuda tak tahu tata krama sepertimu tidak bisa menghormatiku, untuk apa aku menghormatimu, hah?!" bentaknya.
"Apa maksudnya itu?"
"Hah?!"
Bersamaan dengan suara keras dari pintu yang dibanting itu, hatiku pun ikut terbanting seketika, syok berat.
"Nay, di--dia ... dia itu ..."
"Henry Sastro!" sahut Naya.
"Habis sudah!" Lunglailah tubuhku tersandar di pintu gerbang rumah megah tersebut.
----------
------------------
Sekujur tubuhku terasa lemas ketika mengingat kejadian absurd di rumah pembuat cover book itu. Aku masih terheran-heran. Sosok pria yang lusuh, rambut berantakan, pakaian seadanya, janggut dan kumis yang tak terawat. Sungguhkah itu sosok seorang ternama di dunia literasi? Benar-benar tak masuk akal.
"Sudahlah, jangan terus dipikirkan! Selaput otakmu bisa meledak nanti," celoteh Naya, sembari duduk di sampingku. "Minum, nih biar hatimu adem!"
Kuraih segelas jus jeruk dari tangannya dan kuteguk sembari bersandar di sofa empuk apartementku.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau tukang kebun itu adalah Henry Sastro?"
"Dia bukan tukang kebun," sahut Naya. "Lagipula, aku sudah berulang kali memberi kode padamu, kamu aja yang nggak peka."
"Haiiish ... apa-apaan itu?!"
Sudah bukan rahasia umum kalau seorang Henry Sastro tipe yang sulit didekati dan aku malah memperburuk keadaan. Betapa bodohnya aku ini.
"Masih mau coba mendatanginya lagi?" tanya Naya.
"Sepertinya akan sulit."
__ADS_1
"Itu sudah jelas," sahut Naya. "Kamu sudah menghinanya habis-habisan tadi."
"Hei, aku nggak sengaja melakukannya!" teriakku.
"Meski nggak sengaja juga kata-katamu itu kelewatan. Astaga! Kamu kayak nggak pernah makan bangku sekolah aja, bicara sekasar itu pada orang tua."
"Aku memang nggak pernah makan bangku sekolahan. Ngapain bangku dimakan? Yang ada juga didudukilah," gerutuku.
"Hahaha ... apaan, sih omonganmu itu?" tawa Naya. "Eh, emang kenapa si Henry Santro itu menolak kerja sama denganmu?"
"Entahlah. Itu juga yang ingin aku tanyakan. Kalau memang bayarannya kurang, kan tinggal bilang. Aku pasti akan menambahnya."
"Ehm ... jadi penasaran."
--------------
-----------------------
KANTOR PENERBITAN
Aku masih penasaran sekali dengan sosok sombong si pembuat cover book itu. Beberapa arsip lama yang di dalamnya tertulis data para klien yang pernah bekerja sama dengan kami pun, terpaksa aku bongkar. Seharusnya ada CV milik Henry Sastro di sini, mengingat dia sudah sering berlalu-lalang di kantor penerbitan Glorya.
"Nggak ada yang salah. Selama ini bahkan dia bekerja sama dengan baik. Dia orang yang sangat profesional." Aku melisik data-data lama milik Henry Sastro yang berhasil aku ketemukan. "Apa yang menyebabkan dia menolak kerja samaku kali ini? Melihat royalti untuk buku-buku terdahulu, sepertinya bukan karena uang. Lantas kenapa?"
Tak dipungkiri jika pria tua itu membuatku sedikit gelisah. Aku sudah hampir kehilangan perusahaan ini gara-gara pamanku yang serakah itu. Kalau sampai kali ini aku membuat kantor merugi, pamanku itu akan semakin mudah untuk menaikkan sahamnya dan menjadikan kantor ini miliknya.
--------------
-----------------------
APARTEMENT ARDIAN
"Nay, buatin aku kopi yang agak pahit, dong!" Aku berseru sembari melepas sepatu di depan pintu.
"Ardian, coba lihat ini!" Naya menarikku ke sofa. "Kamu pasti pingsan kalau lihat ini."
"Apaan?"
"Tuh!"
Aku meraih laptop Naya yang sedang menelusuri sebuah akun website sebuah kantor berita.
"Berita tahun berapa ini?" tanyaku.
"Sekitar 20 tahun lalu."
Sebuah pemberitaan yang membahas tentang penulis Riani yang beberapa waktu lalu teken kontrak denganku. Berita lama yang mengulas pernikahan sang penulis yang terpaksa dibatalkan karena calon suaminya mengalami kecelakaan. Mereka memutuskan untuk berpisah karena si pria harus menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Jerman. Sedangkan Riani sendiri, lebih memilih pergi ke Australia untuk melanjutkan studynya.
"Berita apaan, nih? Nggak bermutu," gumamku.
"Iiih ... lihat baik-baik foto itu!" geram Naya.
Aku scrol ke bawah laman berita tersebut. Sebuah foto dari penulis Riani dan seorang pria di sampingnya. Mereka terlihat masih muda. Mungkin seusia denganku dan Naya saat ini.
"Apanya yang aneh?" tanyaku.
"Laki-laki di sebelahnya itu," tunjuk Naya. "Kamu nggak mengenalnya?"
"Siapa?" Aku kembali fokus pada gambar pria di samping Riani itu. "Dia ... sepertinya ..."
"Hem? Gimana?
"Henry Santro?!" seruku. "Gila! Ini beneran dia?"
Naya mengangguk sembari tersenyum penuh arti padaku.
"Sekarang kita sudah menemukan akar masalahnya," kata Naya. "Aku punya ide menarik yang mungkin akan sedikit gila. Hahaha ..."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=