
(pov ARDITO)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🍁 Siapa yang harus dilindungi ...
Ardian ... atau ... Naya ...🍁
---------------------------------------------------------------------
"Selamat sore, Ayah."
"Ardito?!"
Lelaki yang karenanya aku bisa ada di dunia ini. Lelaki yang harusnya begitu kuhormati. Tapi akhir-akhir ini, aku melempar banyak kecurigaan padanya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Astaga! Apa itu yang seharusnya ditanyakan seorang ayah pada anaknya setelah lama tak bertemu?" Aku duduk di hadapannya.
Dia nampak gagah duduk di belakang meja kerjanya. Kantor penerbitan Glorya yang sangat berjaya karena usaha kerasnya. Meski sudah tua tapi masih terlihat tampan. Itulah sebabnya aku dan Ardian punya wajah rupawan mirip artis Korea. Ayah kami pun begitu keren.
"Kamu datang sendirian? Bagaimana kabar ibumu?" tanyanya.
"Apa ayah merindukan ibu?" godaku. "Dia sehat. Dan masih tetap cantik."
"Apa yang membawamu ke sini?"
"Aah ... soal itu ...."
Aku meraih laptop milik ayah dan memasangkan flashdisk ke dalamnya. Aku putar sebuah video yang berhasil Naya dapatkan dari rekaman CCTV di rumah Om Hery waktu itu.
Dalam video itu, nampak Nadine yang sedang bercakap-cakap dengan adik ayahku itu.
------------------
"Sudahlah, hentikan saja usaha kalian untuk mengajukan Ardian sebagai pewaris! Itu tak akan terjadi." Suara Om Hery terdengar dari rekaman tersebut.
"Aku dan Pak Direktur, akan melindungi Ardian sampai akhir," kata Nadine.
"Sampai kapan?" sergah Om Hery. "Sampai kondisi Ardian semakin memburuk? Mau sampai kapan kalian menyembunyikan ini darinya? Kalian harusnya memberi tahu dia yang sebenarnya. Katakan alasannya pada Ardian, kenapa dia tak pantas untuk mendapatkan kantor ini!"
-------------------
"Matikaaaaan!"
Ayah berteriak setelah menyaksikan beberapa gambar yang dilihatnya.
"Darimana kamu dapatkan semua ini?" tanyanya.
"Nggak ada yang nggak bisa didapatkan oleh anak ayah yang sangat jenius ini," jawabku dengan sinis. "Katakan padaku! Apa maksudnya percakapan ini?"
Tak ada jawaban. Dia hanya melempar pandangan kesal padaku.
"Ayah, Ardian adalah saudaraku. Dan aku berhak tahu tentangnya. Jadi, katakan padaku! Kondisi Ardian kenapa? Apa dia sakit?"
Ayah masih diam. Beberapa kali dia mencoba berpaling dariku. Air mukanya nampak bingung dan gusar.
"Aku tak ingin Ardian tahu soal ini," ucapnya tiba-tiba. "Sebenarnya ... Ardian itu ...."
-----------
-----------------------
"Dokter ...! Dokter Ardito ...!"
Seorang gadis berseragam TTK tiba-tiba menghampiriku, saat aku sedang duduk di depan sebuah mini market sambil menikmati kopi cup instan.
"Sedang apa kamu di sini?" tanyaku.
"Dari Glorya," jawab Naya.
"Glorya? Untuk apa?"
"Ngantar naskah ke tim editing. Kamu sendiri?"
"Tadi aku juga dari sana. Cuma sebentar, sih. Tiba-tiba kangen aja sama ayah. Hahaha ...."
__ADS_1
"Nggak menemui Ardian juga? Tadi dia ada di kantor," kata Naya.
"Ardian? Apa dia terlihat baik-baik saja?" tanyaku.
"Iya. Memangnya dia kenapa?"
"Enggak. Nggak apa."
Aku hanya tertawa saja melihat ekspresi bingungnya.
"Naya, aku punya sesuatu untukmu."
Aku mengeluarkan sebuah jam tangan wanita dari dalam kantong jas panjangku.
"Wah! Ini merk terbaru. Buat aku, nih?" Matanya nampak berbinar-binar.
"Itu barang mahal. Kamu harus terus memakainya! Kamu mengerti?"
"Pasti, dong! Keren banget!"
"Ya ampun! Kenapa ekspresimu seperti itu? Matamu mengeluarkan bintang-bintang lho," candaku. "Kayak anak kecil yang dikasih uang jajan."
Tanpa peduli dengan ucapanku, dia langsung melingkarkan arloji itu di pergelangan tangan kirinya. Dia memasang senyum bahagia. Benar-benar gadis yang menarik. Tidak menjaga image sama sekali.
"Kamu sudah baikan dengan suamimu?" tanyaku.
"Ah ... soal kemarin?" Dihelanya nafas dengan raut muka malas. "Dia memang selalu begitu. Aku nggak peduli dengannya."
"Kamu menyukainya?"
"Apa?!"
Naya nampak kebingungan menanggapi pertanyaanku. Terlihat celingukan tanpa berani melihatku.
"Ah ... mengecewakan!" seruku. "Kenapa nggak bisa jawab? Harusnya kamu membantahnya! Padahal tadinya, aku pengen kamu jadi pacarku kalau Ardian menceraikanmu. Tapi gimana, dong? Kelihatannya kamu sudah mulai jatuh hati padanya. Haha ...."
"Iish ...! Ngomong apaan sih, kamu?"
"Naya!"
"Hem?"
"Ada kejadian seperti itu?"
"Tentu saja," jawabku, sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. "Tapi melihat perlakuan Ardian padamu, rasanya berbeda. Dia terlihat nyaman. Kamu tinggal sedikit mengotak-atik rasa nyaman itu!"
"Apa maksudmu?"
"Hei! Cobalah sedikit berdandan! Kamu itu wanita. Bohong banget kalau ada pria yang bilang akan menerima wanitanya apa adanya. Gombal banget. Pria mana yang seneng lihat wajah wanitanya kusam? Nggak menarik? Halah ...! Jangan percaya! Seorang wanita itu diciptakan sebagai makhluk yang indah, makhluk yang cantik. Bukan makhluk apa adanya."
"Haha ... kenapa tiba-tiba seperti ini? Seakan-akan kamu jadi mendukung hubunganku dan Ardian," katanya.
"Ya ... mungkin karena aku percaya yang namanya takdir," jawabku.
"Takdir?"
"Menurutmu, kenapa Tuhan mempertemukanmu yang seorang apoteker ini dengan adikku? Hem?"
Naya nampak mengernyitkan alisnya, bingung.
"Jika ada banyak racun dalam dirinya, maka Tuhan telah menghadirkanmu untuk merubah racun itu menjadi sebuah obat. Bukankah itu tugas seorang apoteker?"
"Ah ... udahlah! Bicara denganmu malah bikin pusing," gerutunya. "Ya udah, aku pulang dulu, deh!"
"Nggak mau aku anter?"
"Nggak usah, aku naik bus aja! Sampai jumpa!"
--------------
------------------------
APARTEMENT ARDITO
18:30 WIB
TIIIIIT!
__ADS_1
"Alarm pelacak bunyi? Milik siapa?"
Aku memasang beberapa alat pelacak pada mereka yang dekat denganku. Dan ada design khusus dari pelacak tersebut. Di mana dia akan mengirim signal ke program yang sudah aku buat saat pemiliknya sudah berjarak lebih dari 20.000 km dariku.
"Naya?!"
Signal itu keluar dari alat pelacak yang ada pada Naya.
"Pergi kemana dia? Harusnya jarak tempat ini dari rumah Ardian nggak sejauh itu, kan?"
Segera kuhubungi ponsel Naya, tapi tak ada jawaban. Kucari nomor Ardian dan kutekan tombol pemanggil.
"Ardian, apa Naya bersamamu?"
"Enggak. Dia belum pulang. Ada apa?"
"Cepat datang ke tempatku! Sepertinya Naya dalam bahaya."
"Apa?!"
-----------------
-------------
"Katakan! Ada apa sebenarnya?" tanya Ardian dengan gelisah.
"Konsentrasi saja nyetirnya! Aku sedang berusaha mencari lokasi Naya berada."
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia pergi sejauh ini?"
"Tadi sore aku memberinya sebuah jam tangan yang aku pasangi alat pelacak. Di jam tangan yang aku berikan padamu juga ada."
"Apa?" Ardian memperhatikan jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Aku hanya antisipasi. Ada kemungkinan kita akan berurusan dengan orang-orang yang nggak takut untuk melawan hukum."
"Menurutmu, ini ada hubungannya dengan Om Hery?" tanya Ardian dengan emosi.
"Jika memang benar, aku nggak akan memaafkannya. Apalagi jika mereka sampai menyentuh Naya. Mereka pasti akan habis di tanganku."
"Tikungan depan, belok kiri!" kataku. "Alat pelacaknya berhenti di sini."
---------------
-----------
Kami sampai di sebuah lokasi pergudangan yang sudah tak dipakai lagi. Bangunan-bangunan tua yang lama tak dihuni.
"Lokasi tepatnya di mana? Di sini banyak bangunan," tanya Ardian.
"Sepertinya yang itu." Aku menunjuk sebuah bangunan tua di sisi kananku. "Pria-pria yang berdiri di sana itu nampak seperti penjahat, bukan? Ayo ke sana!"
Tentu saja kami memutar lewat belakang agar tak bertemu dengan para pria berjas hitam itu. Mereka seperti seorang body guard.
Astaga! Aku benar-benar tegang. Kami datang ke tempat mengerikan begini demi seorang wanita? Yang benar saja. Kami bisa saja mati di sini.
"Di sana!" seruku saat pantulan Naya terlihat dari jendela kaca yang kami lewati.
Dia nampak pingsan dengan tubuh terikat tali.
"Sialan! Apa yang sudah dilakukan orang-orang berandal itu?!" geram Ardian.
"Sekarang kita harus bagaimana?" tanyaku.
"Apalagi?! Tentu saja aku akan masuk dan menolongnya."
"Ardian!" Aku mencekal lengannya.
"Bagaimana jika mereka menangkapmu? Bagaimana jika mereka membunuhmu di sini? Gunakan sedikit otakmu!"
"Lalu kita harus bagaimana? Kamu nggak lihat Naya diikat seperti itu?!" bentaknya padaku.
Aku mengambil sebuah botol berisi obat dari dalam tasku.
"Apa itu?" tanya Ardian.
"Ayo kita masuk!" kataku dengan penuh kayakinan. "Kita racuni mereka!"
__ADS_1
"Apa?!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=