NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 25


__ADS_3

(pov ARDIAN)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌻🌻🌻Sisa dari perjuangan itu ...


Adalah sebuah takdir ... 🌻🌻🌻


---------------------------------------------------------------------


"Mana bisa menyukai dua orang dalam waktu yang sama? Pilih salah satu, dong! Ji Chang Wook atau Lee Min Ho?"


"Suamiku."


"Apa?!"


"Aku lebih memilih suamiku."


Sekali lagi dia membuatku merasakan keanehan dalam diriku. Mengatakan hal itu sepertinya mudah saja baginya. Sama seperti saat dia berkata suka pada Ji Chang Wook atau aktor-aktor Korea yang jadi biasnya.


"Kamu mau meeting, kan?" tanya Naya. "Kalau begitu, aku jalan-jalan saja biar nggak bosan."


Dia melenggang santai keluar hotel dengan tetap berpakaian dan berdandan over seperti itu.


"Ikut denganku saja!" Aku menyambar tangan Naya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Apaan, sih? Kamu mau bawa aku ke mana?" protesnya, saat pedal gas mulai kuinjak.


"Kamu ikut denganku ke tempat pertemuan saja! Sangat bahaya jika aku membiarkanmu keluyuran sendiri, apalagi dengan penampilan seperti itu."


"Penampilan seperti apa maksudmu?" tanya Naya, dengan memasang wajah kesal.


"Penampilan jelekmu itu!" bentakku. "Lain kali, nggak usah berdandan, nggak usah pakai dress mini begitu! Apa-apaan? Bikin mataku risih."


"Dih, dasar manusia lucknut!" geramnya.


Tentu saja aku merasa risih dengan penampilannya yang tidak biasa itu. Dia pasti akan menarik banyak perhatian para lelaki hidung belang. Mini dressnya saja terlihat seksi begitu. Kalau aku biarkan dia bersikap sembrono dan seenaknya melenggang di jalanan yang asing ini, kan aku jadi kepikiran sendiri. Lebih baik aku bawa saja dia. Setidaknya pikiranku akan lebih tenang.


-----------


-------------------


"Selamat siang, Ibu Riani." Aku menyapa seorang penulis 45 tahun yang sudah menerbitkan banyak buku bertema horor dan kriminal itu.


"Anda kepala editor muda dari kantor Glorya?" Wanita itu mengulurkan tangannya padaku.


"Ardian Benedict Lim." Aku sambut uluran tangannya. "Ah, ini istri saya, Naya."


"Halo." Naya menjabat tangan Riani dengan sedikit membungkukkan kepalanya.


"Silakan duduk, Bu! Mari kita bahas kerja samanya!" kataku, mempersilakan.


Riani mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi tulisan tangan dan memperlihatkannya padaku.


"Aku tak terlalu suka menulis di komputer. Aku lebih suka membuat draft kasar berupa tulisan tangan seperti ini," kata wanita dengan kaca mata tebal itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Selera setiap orang, kan beda-beda. Tak ada masalah bagi kami, mau ditulis tangan atau pun diketik," jawabku, sambil menelisik beberapa baris tulisan di halaman pertama.


--------


"Silakan pesanannya!" Seorang pramusaji menghampiri dan membawa pesananku.


"Terima kasih," jawabku. "Bagaimana kalau kita makan dulu, Bu Riani? Kita bisa membicarakan isi kontraknya setelah selesai makan."


"Tentu saja."


Aktivitas kami di meja makan pun dimulai. Tiga porsi steak daging sapi dan tiga gelas jus jeruk terhidang di meja. Kami pun segera menyantap menu makan siang itu dengan khidmat.


"Wow, ini sangat keren!" Seruan Naya tiba-tiba terdengar cukup mengejutkan di tengah proses makan kami. "Ini sungguh karya yang luar biasa. Ibu benar-benar hebat."


Istriku itu nampak memandang Riani dengan mata berbinar-binar. Dipegangnya lembaran draft tulisan tangan penulis terkenal itu.


"Saya tidak tahu kalau di negara ini juga ada penulis bergenre crime sebagus ini." Lagi-lagi Naya melontarkan pujiannya. "Saya merasa sedang membaca karya-karya hebat setara penulis Agatha Christie."


"Kamu suka membaca?" Riani menghentikan gerak makannya dan mulai memperhatikan tingkah Naya.


"Sangat suka," jawab Naya. "Saya pun suka menulis."


"Wah, sangat mengagumkan!" seru Riani.


"Tidak juga, Bu. Saya hanya amatiran, kok." Gadis itu terlihat tersipu malu. "Tapi karya Ibu ini sangat keren. Saya jadi ingat salah satu karya Agatha Christie yang berjudul ABC Murders."


"Itu karya pertama Agatha Christie yang mengulas kepiawaian detektif Hercule Poirot."


"Nah, itu dia!" Naya berjingkrak senang sambil menjentikkan jarinya. "Bahkan komikus sekelas Gosho Aoyama pun, mengambil novel tersebut sebagai inspirasi salah satu seri manga Detective Conan yang berjudul "Kasus Pembunuhan Kuda Merah."


"Dari kecil saya suka baca-baca buku seri detektif. Menurut saya, hal itu sangat seru dan memacu adrenalin."


"Memacu adrenalin? Hahaha ..." Gelak tawa terlontar dari penulis profesional itu. "Kamu sangat lucu dan enak diajak ngobrol."


"Hahaha ... begitukah?" Wajah Naya nampak memerah menahan malu. "Jika ada kesempatan, saya pun ingin membuat sebuah cerita bergenre detektif."


"Jangan hanya menunggu kesempatan datang, tapi buatlah kesempatan untuk dirimu sendiri!" kata Riani.


Wanita 45 tahun itu melipat kedua tangannya di atas meja dan menatap dalam kepada Naya.


"Bergerak saja menurut kata hatimu! Berhasil atau gagal, itu urusan penciptamu. Yang perlu kamu lakukan hanya satu, berusaha! Cukup sederhana bukan?"


"Anda benar. Saya pun akan berusaha agar bisa sehebat Anda, Bu," kata Naya.


"Bagus. Asal jangan pernah menyerah di awal perjalananmu! Karena sebuah usaha, tak akan pernah mengkhianati hasil."


Tak aku sangka, kalau keputusanku untuk membawa Naya ikut bersamaku datang ke sini adalah keputusan yang tepat. Setidaknya, dia bisa sedikit mendapat donor ilmu dari penulis hebat yang ada di hadapanku ini. Hal ini akan bagus untuk perkembangan tulisannya ke depan.


"Pak Ardian, sepertinya kita tidak perlu membahas soal kontraknya lagi!"


"Lho? Kenapa, Bu?" tanyaku kebingungan.


"Hahaha ... santai saja! Saya bukannya membatalkan kerja sama kita, tapi saya akan langsung terima kontraknya tanpa banyak bertanya lagi," ucapnya dengan tersenyum ramah. "Saya percaya pada penerbit sekelas Glorya."


"Terima kasih banyak. Saya senang sekali mendengar keputusan Anda," kataku.

__ADS_1


"Tidak, jangan berterima kasih pada saya!" sahutnya. "Ucapkan terima kasih pada istri Anda ini!"


"Istri saya?!" pekikku.


"Saya, Bu?" Naya tak kalah herannya dariku.


"Ya. Karena bertemu dengan istri Anda ini, saya merasa telah mendapatkan jiwa baru untuk terus berkarya," ucapnya yang diiringi tawa. "Kenapa, ya? Rasanya istri Anda telah membagi banyak imajinasi dari percakapan kami tadi."


"I ... imajinasi?" Aku melempar pandanganku pada Naya yang tengah melotot menatap Riani.


"Baiklah, kita akhiri pertemuan kita sampai di sini karena saya masih ada kerjaan lain!" kata Riani seraya beranjak dari tempat duduknya. "Terima kasih untuk makan siangnya, Pak Ardian. Semoga kerja sama kita ini menguntungkan."


"Saya atas nama Glorya juga sangat berterima kasih karena Anda telah mempercayakan kami untuk menerbitkan buku Anda yang selalu best seller."


"Astaga, Anda terlalu berlebihan," katanya sambil menjabat tanganku. "Saya pun akan menantikan terbitnya buku hasil tulisan Anda, Nyonya Naya Benedict Lim."


"A ... apa?!" pekik Naya. "I ... iya. Terima kasih, Bu."


Wanita itu melempar senyumnya pada Naya sambil sedikit menepuk-nepuk pundak istriku itu.


"Senang bertemu dan bekerja sama dengan kalian. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa." Aku dan Naya sedikit membungkukkan kepala untuk mengiringi langkah kakinya yang menjauh dari hadapan kami.


"Kita pergi sekarang?" tanyaku pada Naya.


Dia diam mematung, tak merespon pertanyaanku. Matanya menatap kosong ke arah pintu keluar.


"Nay, kamu kenapa?" Aku lambaikan tanganku di depan wajahnya.


"Ardian, aku merasa hormon adrenalinku naik drastis," lirihnya.


"Apa?"


"Aku ingin menjadi penulis hebat sepertinya," kata Naya dengan mata berbinar-binar.


"Hahaha ... astaga!" Aku meraih kedua tangannya dan menghadapkannya padaku. "Kamu pasti bisa lebih hebat dari dia. Tahu kenapa?"


"Kenapa?"


"Karena kamu seorang Nyonya Ardian Benedict Lim. Istri seorang kepala editor yang hebat dan sangat tampan ini," ucapku dengan penuh percaya diri.


"Ya ampun, apa-apaan itu? Hahaha ..."


"Ayo jalan-jalan!" Aku menarik tangannya keluar dari restaurant.


"Ke mana? Bukannya sore ini kita sudah harus pulang? Jadwal kerjamu selesai, kan?" tanya Naya.


"Memang. Tapi aku ingin menginap satu hari lagi. Aku ingin benar-benar berlibur kali ini." Aku berdiri di samping pintu mobil sambil meregangkan ototku. "Mau ikut?"


"Tentu saja. Ayo bersenang-senang, Tuan Ardian Benedict Lim!"


"Dengan senang hati, Nyonya Naya Benedict Lim. Hahaha ..."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2