NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 12


__ADS_3

(pov ARDIAN)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


♥♣♥


Sebuah anestesi untukmu ...


Agar kamu lebih tenang ...


Tak bisa kabur dariku ...


♣♥♣


---------------------------------------------------------------------


"Aku yang urus dua orang itu," kataku. "Kamu bawa Naya keluar dari sini!"


"Oke. Ayo masuk!"


Aku menarik hoodieku dan menutupi kepalaku. Berjalan mengendap di antara tabung-tabung plastik yang bau minyak.


"Pakai ini!" Ardito memberiku sebuah kaca mata.


"Apa ini?"


"Kaca mata plus kamera," jawabnya.


"Kamu mau aku berantem pake kaca mata? Gila, kamu! Enggak ah! Ngerepotin," tolakku.


"Kita nggak tahu siapa yang nanti tiba-tiba muncul, kan? Kita harus dapatkan gambarnya! Sudahlah, pakai saja!" paksa Ardito. "Lagian kamu cukup keren pakai hoodie dan kaca mata seperti itu. Seperti Ji Chang Wook di drama Healer."


"Terserahlah!" gerutuku.


"Ayo, Ardian ... kita mulai!"


Ardito berlari ke tempat Naya diikat. Dan aku berlari menuju dua penjaga yang sedang mengawasi Naya.


"Siapa, kalian?"


BUG ...! BUG ...!


"Maaf! Tapi kami nggak punya waktu untuk berkenalan dengan sampah masyarakat seperti kalian," geramku.


Wah! Tanganku seakan bergerak sendiri. Ini menyenangkan.


Kapan terakhir kali aku berantem, ya? Mungkin sewaktu jaman SMA. Saat tawuran antar pelajar.


Berbeda dengan Ardito yang kutu buku. Aku ini seorang perusuh. Makanya, berani kalian menyentuh apapun milikku, tak akan aku ampuni.


"Argh ...!" teriak seorang penjaga yang aku tarik tangannya ke belakang punggungnya.


"Katakan! Siapa yang menyuruh kalian?" bisikku di telinganya.


"Lepaskan! Percuma saja. Kami dibayar untuk tetap diam," rontanya.


"Oh ya? Bagaimana kalau aku patahkan saja jari-jarimu ini, hah?!"


"Arrrgh ...!" teriaknya. "Hentikan ... hentikaaan! Oke. Akan kukatakan. Lepaskan aku dulu!"


"Nggak akan, sebelum aku tahu siapa orang yang menyuruh kalian," ancamku. "Sebaiknya jangan ambil resiko! Coba lihat temanmu itu! Dia sudah pingsan hanya dengan sekali pukul."


"Ba--baiklah, akan kukatakan," katanya. "Yang menyuruh kami adalah ... di--direktur."


"Direktur? Direktur siapa?"


"Argh ... aaarrgh ...!"


Penjaga itu tiba-tiba berteriak kencang.


"Ardian, apa yang kamu lakukan padanya? Biarkan dia bicara!" teriak Ardito.


"Aku sama sekali nggak menyentuhnya. Dia tiba-tiba saja berteriak."


Ardito segera menghampiriku. Memeriksa sekujur tubuh penjaga itu. Menggeledah setiap saku celana dan jas yang dipakainya.


"Aah ... siaaaal!" seru Ardito.


"A--apa ini?"


Aku terheran-heran saat melihat sebuah alat plus kabel kecil yang tertempel di kedua sisi dadanya.


"Alat kejut jantung yang diremote," kata Ardito sambil memeriksa denyut nadi pria itu.


"Untungnya dia hanya pingsan. Ardian, kita harus segera pergi dari sini! Sepertinya kita sedang diawasi."


"Heh? Apa katamu? Dari mana kamu tahu?"


"Kamu nggak sadar? Pria ini pingsan sesaat setelah dia menyebutkan 'direktur', kan? Itu artinya, mereka sudah memantau pergerakan kita. Cepat lepaskan ikatan Naya dan pergi dari sini!"


Kami menghampiri Naya. Dia masih dalam keadaan pingsan.


Tak perlu sampai menunggunya sadar. Cukup Ardito yang memastikan dia tak apa-apa. Kami harus segera membwanya keluar dari tempat menyeramkan ini.


--------------


"Kenapa kalian terburu-buru sekali?"


Segerombolan pria berbaju hitam masuk ke dalam gudang tepat saat kami hendak keluar.


Mereka nampak menyeringai dengan wajah menakutkan.

__ADS_1


Apalagi sekarang? Malah makin banyak yang terlibat.


Aku baringkan tubuh Naya di lantai. Aku dan Ardito hanya bisa diam berdiri saling menghimpitkan punggung. Mengamati setiap wajah horor yang mengelilingi kami.


"Gawat! Mereka banyak sekali," kata Ardito.


"Hei, selain alat pelacak, apa jam tangan buatanmu ini juga dilengkapi penembak peluru bius?" tanyaku dengan serius.


"Enggaklah. Mana ada? Kamu kebanyakan nonton anime Conan."


"Jadi, bagaimana cara kita menghadapi mereka semua?" tanyaku.


"Bagaimana lagi? Kita hadapi secara langsung!" katanya.


"Emang kamu bisa berantem?" tanyaku setengah mengejek.


"Aku akan berantem menggunakan otakku," jawabnya dengan penuh percaya diri. "Ayolah ... kita habisi saja mereka!" -----------------


Jangan tanya bagaimana gilanya aku harus berurusan dengan orang-orang berandal berbadan besar seperti mereka.


"Argh ...!" sebuah pukulan keras melayang ke pipi kananku. "Sialan! Berani sekali kau memukul wajahku yang berharga!"


BAG! BUG! BAG! BUG!


"Silakan saja pukuli tubuhku, tapi jangan coba-coba menyentuh wajahku. Ini aset berharga yang aku miliki, brengsek!" geramku.


Sepuluh ... lima belas ... dua puluh!


Wah! Tanganku seakan mati rasa dibuatnya.


Dari mana datangnya para monster ini? Badanku serasa sakit semua karena meladeni mereka.


------------


"Aah ... akhirnya!" desahku saat aku berhasil menumbangkan pria yang terakhir.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah Ardito. Dia pasti kesulitan. Dia sama sekali tak pernah terlibat pertarungan sebelumnya.


"Astagaaaaaa!" seruku. "A--apa yang---"


Ardito nampak 'nyengir' sambil duduk bersila di atas tumpukan para pria yang berbaju hitam itu.


"Ba--bagaimana kamu bisa menghabisi mereka semua ... semudah ini?"


Aku sungguh keheranan.


Bagaimana bisa Ardito dengan mudahnya menghadapi mereka? Bahkan tak ada bekas luka gores sedikit pun di tubuhnya.


Sedangkan aku? Aku justru terkena pukulan keras di wajahku. Bagaimana bisa?


"Kita ini berbeda, Adikku," katanya dengan nada sombong. "Kamu berkelahi dengan ototmu. Sedangkan aku ... pakai otakku. Lihat ini!"


Disodorkannya sebuah botol obat kepadaku. Botol yang dia ambil dari dalam tasnya saat kami masuk ke dalam gudang ini.


"Morfin."


"Mo--morfin?!" pekikku. "Ja--jadi ... mereka---"


"Tenang saja! Aku sudah atur dosisnya. Palingan mereka akan tidur seharian."


"Wah! Kamu benar-benar seorang penjahat."


"Ahahaha ... terima kasih atas pujiannya," tawanya.


----------------


"Sepertinya kalian terlalu santai sampai melupakan keberadaan gadis ini." Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar, mengagetkan kami.


"Nayaaaa ...!" teriakku dan Ardito.


"A--ar--dian," rintih Naya.


Dia sudah mulai sadar. Dan pria berandal itu menguncinya.


Sialan! Harusnya kami tak boleh lengah.


"Berikan semua rekamannya!" kata pria itu.


"Rekaman apa maksudmu?" tanyaku.


"Semua rekaman yang kalian dapatkan di rumah Hery Prasetyo," katanya.


Jadi benar ini tentang si licik itu. Aku jadi semakin penasaran dengan rahasia besar di dalamnya, sampai kami harus mengalami hal konyol seperti ini.


"Lepaskan gadis itu!" kataku.


"Nggak akan. Sebelum kau berikan semua rekamannya!" tolaknya.


------------


"Ambil ini, Ardian untuk menyelamatkan Naya!" Ardito menggenggamkan sesuatu kepadaku.


"Itu rekamannya, bukan? Kemarikan!" kata pria itu.


Aku berjalan perlahan menuju ke arahnya. Wajah Naya terlihat lusuh dan lelah. Nafasnya naik turun menahan takut.


Kuhentikan langkahku tepat di hadapannya.


"Ardian," lirih Naya dengan wajah ketakutan.


"Berikan rekamannya!" kata pria itu.

__ADS_1


"Lepaskan dia! Setelah itu, akan kuberikan rekamannya," kataku.


"Oke. Jangan coba-coba menipuku. Aku siap menarik pelatuk pistolku."


Didorongnya Naya kepadaku.


--------


"Nay, kamu nggak apa-apa?"


"I--iya."


"Cepat berikan rekamannya, atau akan kutembak kalian!" Pria itu mengulurkan tangannya padaku dan mengacungkan pistolnya.


Ardito menghampiriku dan membawa Naya menjauh.


Rasanya jemariku mau patah saking kerasnya aku kepalkan. Rasanya kesal sekali. Entah pada pria gila di depanku ini atau pada pamanku yang licik itu.


------------


"Cepat berikaaaan!" teriaknya.


"Tentu. Ambillah!"


"Argh ...!" teriaknya.


Aku menarik tangannya dan menusukkan spuit 3 CC ke nadinya.


Bukan hal yang sulit untuk mencari nadi seorang yang berbadan besar seperti dia. Ini hal yang mudah.


"Berhasiiil ...!" teriak Ardito saat pria berbadan besar itu ambruk tak berdaya.


Gila! Tak menyangka aku akan mengikuti pikiran gila kakakku itu.


Yang dia genggamkan padaku tadi bukanlah sesuatu yang diminta pria itu. Tapi sebuah spuit 3 CC beserta jarumnya yang mengangah.


Dan gilanya, dia sudah memasukkan morfin cair ke dalamnya.


Ardito adalah manusia yang mengerikan. Ternyata dia jauh lebih tidak waras dari aku.


--------------------------------


--------------------------------


APARTEMENT ARDIAN


"Nggak ada luka serius pada Naya. Kamu nggak perlu khawatir!" kata Ardito saat keluar dari dalam kamarku, usai memeriksa keadaan Naya. "Lukamu sendiri perlu diobati."


"Nggak usah. Aku nggak apa," kataku.


"Menurutmu, siapa yang mereka maksud dengan 'direktur' itu?"


"Itu bagianku. Kamu nggak perlu memikirkannya!" kata Ardito sambil beranjak dari tempat duduk. "Aku mau pulang dan istirahat. Aku sudah suntikkan sedikit obat tidur padamu. Kamu juga harus istirahat! Ardian ... kerja bagus!"


Aku hanya menyunggingkan sedikit senyuman untuk menanggapi acungan jempolnya. Jika dipikirkan lagi, ini kali pertama kami bekerjasama. Mengingat dari awal, kami tak pernah akrab sebagai saudara.


-----------------


"Nay, kamu sudah tidur?"


Aku menghampiri Naya. Dia nampak terbaring dengan tubuh yang terlihat lemah.


Aneh rasanya. Biasanya dia terlihat bar-bar. Tapi saat ini, malah terlihat tak berdaya.


"Ardian?"


Aku hanya melempar semyum lega. Setidaknya, aku masih bisa mendengar suaranya.


"Kamu terluka?" tanya Naya. Dia duduk dan menarikku ke atas kasurnya. "Wajahmu ... kenapa jadi memar begini?"


"Oh ... ini ... ini ... hanya ...! Nggak ... nggak apa."


"Terima kasih sudah datang menolongku," katanya.


"Apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa ada di sana?" tanyaku sangat penasaran.


"Entahlah. Aku nggak begitu ingat," jawabnya.


"Mereka tiba-tiba membawaku masuk ke dalam mobil dan menyekapku di gudang gelap itu. Menakutkan sekali. Aku berteriak memanggilmu. Aku berharap kamu segera datang menolongku. Meski aku nggak tahu di mana aku berada, tapi aku berpikir kalau itu Ardian, pasti bisa menemukanku."


"Sini!"


Aku menariknya ke dalam pelukanku. Membawanya berbaring dalam dekapanku.


"Maaf, membuatmu kesulitan!" kataku. "Aku sungguh minta maaf telah membawamu ke situasi seperti ini, Naya."


"Kalau hal seperti ini terjadi lagi, apa kamu akan datang menolongku lagi?"


"Tidak. Aku nggak akan membiarkan hal seperti ini terjadi padamu lagi. Nggak akan!"


Dia menengadahkan pandangannya padaku. Senyuman yang tersemat di wajah yang sayu.


Tadi itu aku sungguh takut terjadi hal buruk padamu, Naya. Dan aku rasa, aku belum pernah merasa khawatir pada seseorang sampai seperti ini.


"Bolehkah aku tidur di pelukanmu seperti ini, Ardian?" tanyanya.


"He'em. Sepertinya efek obat tidur yang disuntikkan Ardito padaku mulai bekerja. Mataku terasa berat."


"Selamat malam, Ardian."


"Selamat malam, Naya."

__ADS_1


---------------------------------------------------------------------


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2