NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 35


__ADS_3

(pov ARDITO)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🌾🌾🌾


Ada beberapa hal ...


Ada beberapa kejadian ...


Terasa amat menyakitkan ...


Membuatku ingin melupakan ...


🌾🌾🌾


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nay, minta Asam Mefenamat sebutir!" Aku memanggil Naya yang ada di ruang pelayanan.


Kepalaku terasa amat berat. Akhir-akhir ini, migrain sering menyerangku. Mungkin karena aku jarang tidur dan terus berkutat di depan komputer untuk membobol rekening pribadi ayah. Sejak mendapatkan beberapa bukti tentang penggelapan uang yang dilakukan ayah di kantor, rasanya aku sering naik darah.


"Dokter kurang istirahat?" Naya membawakan sebutir obat dan air putih untukku. "Wajahmu terlihat pucat."


"Hanya pusing saja. Sepertinya aku kurang tidur."


"Istirahatlah sebentar! Jam segini mulai sepi pasien," ujarnya dengan memamerkan senyuman padaku.


Gadis ini juga terlihat sedikit aneh. Beberapa hari ini dia terlihat bahagia. Wajahnya nampak berseri-seri.


"Mau makan nggak? Tadi aku bawa nasi goreng untuk bekal." Dia menawariku.


"Boleh."


Sudah lewat jam makan malam. Pantas saja aku merasa sangat mengantuk. Tadi malam pun aku hanya tidur tiga jam saja.


"Enak?" tanya Naya.


"Lumayanlah. Lagian ini gratis." Aku terkekeh sembari memasukkan sesendok nasi goreng plus irisan telur dadar ke mulutku.


Naya itu gadis yang menarik menurutku. Dia lucu, selalu bersemangat, pintar dan pemberani. Sosoknya yang seperti ini, mengingatkanku pada seseorang. Pada dia yang begitu aku rindukan. Andai bisa bertemu lagi, ingin rasanya aku berlutut dan minta maaf padanya. Sayangnya, aku tak tahu dia ada di mana.


"Apa itu?" Aku melihat Naya mengambil sebuah blister pil dari tas kerjanya. "Pil ... KB?!"


Wajahnya mendadak memerah saat mendengar seruanku. Sepertinya dia tak sadar kalau aku sedang mempsrhatikannya.


"Ka--kamu ... mengkonsumsi itu?" tanyaku heran.


Naya mengangguk sambil meneguk air putih untuk mendorong pil tersebut ke dalam lambungnya.


"Ka--kamu dan Ardian ... ma--maksudku ... kalian ... baikan?"


Sebuah senyuman malu-malu dia sunggingkan kepadaku.

__ADS_1


"Ah, begitu!" gumamku. "Dia ... mengingatmu?"


"Enggak," gelengnya. "Kami hanya melakukannya saja. Nggak tahu dia menggunakan perasaannya atau tidak. Entahlah!" Air mukanya kembali sendu.


"Tenanglah!" Aku menepuk-nepuk pundaknya. "Ardian pria yang baik, meski agak kurang ajar. Tapi menurutku, dia pasti berpikir matang sebelum melakukan hal itu padamu."


Tentu saja begitu. Aku masih ingat dengan jelas saat dia kabur ke rumahku setelah menyentuh Naya untuk pertama kalinya. Jika dia mengulanginya, itu pasti karena sudah dipikirkannya secara matang.


Astaga! Rasanya aku sedikit sedih. Mungkin karena beberapa hari belakangan ini, Naya dekat denganku karena sering tersakiti tingkah pola Ardian dan Nadine. Sepertinya aku sedikit cemburu.


"Kenapa, Dokter?" Pertanyaan Naya membuyarkan lamunanku. "Dokter senyum-senyum sendiri, lho."


"Hahaha ... enggak, kok!" tawaku. "Masakanmu enak, bikin sakit kepalaku langsung ilang."


"Itu, sih karena kamu udah minum Asmef tadi."


"Melihatmu tersenyum bahagia begitu bagaikan obat mujarab untukku."


"Gombal!" Telapak tangannya mendarat keras di lengan kiriku.


Ah, aku semakin merindukannya! Aku jadi membayangkan dia dalam sosok Naya. Kalau Ardian tahu, aku bisa dicincang olehnya.


----------


-----------------


"Aku lapar," kata Ardian saat membukakan pintu rumah untuk Naya.


"Ini aku beliin nasi Padang buat kamu." Naya menyodorkan kantong plastik berisi bungkusan nasi padanya.


"Hai, Brother. I miss you so much."


Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam apartement Ardian tanpa menghiraukan gerutuannya. Dia memang selalu kesal saat aku datang ke rumahnya malam-malam.


"Hei, apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan di rumahku malam-malam begini?" Ardian berkacak pinggang sambil melotot padaku yang tengah merebahkan diri di sofa mahalnya.


"Kamu kenapa, sih marah-marah begitu? Nanti otot sarafmu putus, lho. Makan dulu nasinya!" kata Naya seraya memberikan sepiring nasi Padang pada suaminya itu.


"Dengerin, tuh omongan istrimu!" sahutku cuek saja.


Aku masih tak peduli dengan mata Ardian yang terus memandangku dengan tatapan kesal. Tubuh dan kepalaku terasa berat. Aku hanya ingin sedikit rebahan.


"Aku tidur duluan. Capek banget." Istri adikku itu melangkah meninggalkan kami di ruang tamu.


-----------


"Cepat katakan dan pergi dari sini!" ujar Ardian.


Kadang kami ini punya ikatan batin yang cukup bagus. Dia selalu bisa menebak isi kepalaku seperti paranormal. Sebuah kertas aku keluarkan dari kantong mantelku dan aku berikan padanya.


"Rekening bank palsu milik ayah," ujarku.


Ardian diam menatapku, namun kemudian kembali konsentrasi melahap makanannya.

__ADS_1


"Rekening untuk sebuah perusahaan fiktif," lanjutku. "Hebatnya lagi, perusahaan fiktif itu atas nama pacar gelapmu---Nadine."


Aku bangkit dari rebahanku dan duduk serius menatapnya. Di luar dugaanku, Ardian terlihat begitu tenang. Pikirku, dia akan langsung meledakkan amarah yang luar biasa ketika nama Nadine aku sebut di depannya. Ternyata aku salah. Tanggapannya cukup santai.


"Ah ... tadi aku melihat Naya minum sebuah pil KB. Apa hubungan kalian kembali membaik?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Bukan urusanmu," ketusnya.


"Ehm ... mengecewakan!" gumamku. "Padahal tadinya aku senang karena kamu kembali dekat dengan Nadine. Dengan begitu, aku bisa dekat dengan Naya dan mengambilnya tanpa susah payah."


"Ardito!" teriak Ardian.


"Santai saja! Nggak usah teriak-teriak! Kamu nggak takut Naya akan dengar, hah?"


Pandangannya tajam sekali. Jika sorot matanya bisa mengeluarkan sinar ultra red, tubuhku mungkin sudah berlubang.


"Ardian, kamu nggak menaruh curiga sedikit pun pada Nadine?" tanyaku. "Bagaimana jika dia mendekatimu karena sebuah niat jahat? Bagaimana jika orang yang sudah berusaha membunuhmu adalah ayah kandungmu sendiri?"


Rasanya, itulah yang terlintas di benakku. Hasil hack yang aku lakukan, semuanya mengarah pada ayah. Aku sungguh sulit mempercayainya. Aku harap, perkiraanku ini salah.


"Jika perkiraanku ini benar, maka kamu sudah masuk ke dalam perangkap mereka," kataku. "Apa kamu masih mau melanjutkan hubunganmu dengan Nadine?"


Ardian masih diam. Terus melanjutkan makan tanpa menggubris ucapanku. Anak ini cukup keras kepala. Dari dulu dia paling susah dinasehati. Saat ini, aku sungguh mengkhawatirkannya. Meski hubungan kami tidak terlalu baik.


"Apa aku harus menjebak Nadine dengan menggunakanmu sebagai umpan?"


"Apa?!" Ardian menatapku dengan bingung.


"Itu satu-satunya cara," kataku. "Atau kita gunakan opsi kedua. Kita gunakan Naya sebagai umpan."


"Gila, kamu!" bentak Ardian.


"Hahaha ... bercanda," tawaku. "Lagi pula aku nggak mau gadis yang aku suka jadi korban."


"Hentikan omong kosongmu itu, sialan!" geram Ardian.


"Hei, adikku!" Aku mendekatkan wajahku pada Ardian. "Selain ayah dan Nadine, ada satu orang lagi yang diam-diam aku selidiki. Kamu mau tahu siapa dia?"


Aku sunggingkan sebuah senyuman kesal padanya. Ardian pun nampak mulai emosi menghadapiku.


"Ardian Benedict Lim. Itulah nama orang yang juga sedang aku selidiki."


"Apa katamu?"


"Ardian, kamu pikir aku bodoh?" kataku dengan menahan emosi. "Mau sampai kapan kamu menipuku, sialan?!"


Aku mencengkeram krah bajunya dengan bersusah payah menahan amarah.


"Kamu bisa setenang itu saat mendengar nama Nadine terkait dengan perusahaan fiktif ayah. Kamu yang bersikap santai meski sudah tahu kebusukan ayah. Kamu yang akhirnya nggak bisa mengendalikan diri di depan Naya. Sampai kapan kamu akan terus berpura-pura kehilangan ingatan? Katakaaaan!"


Ardian Benedict Lim.


Sejak dulu pun, dia selalu membuatku khawatir.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2