NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 23


__ADS_3

(pov ARDIAN)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🍁🍁 🍁


Diriku yang kian berjarak ...


Terhapus ...


Tak tersisa ...


🍁🍁🍁


---------------------------------------------------------------------


"Terima kasih atas kerja samanya, Pak."


"Sama-sama, Pak Ardian. Semoga penjualan bukunya mencapai target," kata Chandra, seorang penulis yang bukunya akan diterbitkan oleh Glorya.


"Kalau begitu, saya permisi," ucapku, undur diri.


"Baik, Pak."


-------------------


--------------------------


18.30 WIB


Aku mengakhiri pertemuanku dengan klien baruku dan bergegas kembali ke hotel. Kulihat layar ponselku, masih tak ada notifikasi pesan atau sejenisnya.


"Kenapa dia tak membalas pesanku?"


Aku mengirim pesan pada Naya untuk menanyakan tentang makan malam. Selagi aku di luar, sekalian aku ingin membeli makanan, pikirku begitu. Tapi pesan yang aku kirim dari tiga jam lalu itu sama sekali tak digubrisnya.


"Diread doang," gerutuku, sembari menyalakan mobil.


---------


Di perjalanan, aku pun mampir ke sebuah toko roti.


"Minta cheese cake ukuran sedang satu, Mbak!" pintaku.


"Tunggu sebentar, ya, Pak!"


Aku duduk di sofa untuk menunggu pesananku disiapkan. Toko roti yang lumayan ramai dengan antrian yang cukup panjang. Tanganku bergerak meraih sebuah majalah di atas meja dan mulai menelusuri isi di dalamnya.


"Apa-apaan ini?" gumamku.


Pandanganku berhenti pada sebuah artikel yang berjudul 'Kissing Without Feeling'.


"Seorang lelaki bisa dengan mudah melakukan kissing tanpa rasa, tapi berkebalikan dengan wanita. Mereka akan merasa terus dan terus tertekan secara mental saat lelaki yang disukainya melakukan kissing padanya, meski lelaki itu tak punya perasaan cinta untuknya." Aku membaca tulisan di paragraf pertama artikel itu. "Astaga! Apa-apaan artikel nggak bermutu ini?"


Kulempar majalah berwarna merah hitam itu kembali ke atas meja. Entah kenapa, perasaanku tiba-tiba jadi kesal dan sedikit kepikiran.


"Haiiish ... apa yang sudah aku lakukan?!" geramku, sambil meremas ujung kepalaku.


Pikiranku kembali melayang pada peristowa tadi siang. Sebuah kejadian pencopetan yang berakhir dengan rasa canggung luar biasa antara aku dan Naya.

__ADS_1


Batapa bodoh dan gegabahnya diriku ini. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu di situasi aneh seperti tadi?


Kembali aku menatap layar ponselku, masih tak ada pesan apapun. Aku jadi semakin kepikiran soal Naya.


Mungkinkah dia marah?


Mungkinkah dia kesal?


Sepertinya begitu. Buktinya pesanku benar-benar dianggurkannya.


"Silakan cheese cakenya, Pak!" panggil pegawai toko roti itu padaku.


"Mbak, bisa ditulisi sesuatu nggak di atasnya?" tanyaku.


"Tentu. Silakan tulis kata-katanya di sini!"


Aku menuliskan beberapa kata pada selembar kertas itu dan kuberikan pada pegawai tokonya.


--------------


--------------------


"Halo." Aku tekan loudspeaker dan menaruh ponsel di kursi samping kemudi. "Ada apa?"


"Nggak ada apa-apa. Ingin dengar suara adikku tersayang saja," jawab Ardito, diiringi sedikit tawa darinya. "Kerjamu sudah selesai? Dokter Zain menghubungiku, katanya kamu harus melakukan CT SCAN secepatnya!"


"Iya. Sepertinya tadi dokter Zain menelponku tapi nggak keangkat karena aku ada meeting," jawabku.


"Kapan kamu pulang?" tanya Ardito.


"Besok sore, kalau sesuai jadwal," jawabku.


"Ehm ... begitu. Di mana Naya? Aku ingin bicara dengannya."


"Begitukah? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ardito.


Dia selalu punya insting yang tajam. Benar-benar mirip hewan buas yang mengincar mangsanya. Aku merasa kalau dia selalu tahu isi kepalaku meski aku berusaha menyembunyikannya.


"Kenapa diam?" sergah Ardito, yang membuatku tersadar dari lamunan. "Kamu bertengkar dengan Naya?"


"Enggak."


"Baguslah. Aku harap kamu bersikap baik padanya karena dia sudah banyak mengalami kesulitan karenamu. Cukup dia merasa disia-siakan karena kamu berselingkuh dengan Nadine, tapi jangan menyakiti hatinya dalam hal lain lagi!" Ardito mulai berceramah.


"Apaan, sih? Jangan ikut campur urusanku!" ucapku, kesal.


"Bukannya mau ikut campur. Hanya saja, aku merasa sangat marah setiap kali dia menangis karenamu. Kalau kamu nggak suka, lepasin saja dia! Jangan buat dia terus ..."


"Berisik!" dengusku, seraya memutuskan sambungan telpon kakakku itu.


Sebenarnya, aku sendiri juga sedang memikirkannya. Aku ingin mengakhiri pernikahanku bersama Naya, tapi akhir-akhir ini, ada sesuatu yang terasa mengganjal pikiran dan aku tak tahu apa itu.


"Naya?"


Aku meraih ponsel yang memperlihatkan gambar pesan di layar.


("Ardian, aku pergi jalan-jalan sebentar. Aku bawa kunci kamar, jadi kamu tak perlu menungguku!")


Segera aku mencari namanya di kontak dan menekan tombol panggil. Tak diangkat. Bahkan sampai tujuh kali aku menelponnya pun, tetap tak diangkat.

__ADS_1


"Ada apa dengan gadis ini?" gerutuku.


Pedal gas aku injak dengan kuat. Mobil mulai kulajukan dengan kecepatan tinggi untuk menyusuri jalanan yang cukup ramai itu.


---------


----------------


Sekitar pukul 20.15 WITA, aku sampai di hotel. Aku edarkan pandanganku saat kudorong pintu kamar itu.


Kosong. Sepertinya Naya belum kembali. Aku taruh cheese cake yang kubeli di atas meja dan berjalan masuk ke kamar mandi. Aliran air shower mengguyur kepala dan sekujur tubuhku.


Lelah. Akhir-akhir ini aku lebih sering merasa pusing dan lelah.


Kembali tanganku menyambar ponsel yang tergeletak di atas kasur, masih tak ada pesan atau pun panggilan dari dia. Aku mulai sedikit kepikiran.


Sebuah selimut hotel berwarna putih kutarik untuk menutupi tubuhku.


"Ardian Saranghae?" gumamku, saat membaca tulisan di gelang yang diberikan Naya padaku. "Saranghae?"


-------------


"Ngantuk," ucap Naya, saat memasuki kamar.


Aku segera memalingkan tubuhku dan pura-pura tertidur.


"Apa ini? Kue?" ucap Naya. "Wah ... aku suka cheese cake! Ada tulisannya jg ternyata. Hahaha ... apaan ini? SWEETY SUGAR FROM JI CHANG WOOK OPPA. Gila, nih si Ardian."


Terdengar dia berjalan ke lemari pendingin untuk mengambil air, kemudian duduk lagi dan memakan cake yang kubeli itu.


"Enak," katanya. "Apalagi bang Ichang yang beli, enaknya jadi dobel-dobel."


Benar-benar ratu halu. Mana ada Ji Chang Wook yang beli? Aku jadi menahan tawa sendiri mendengar ocehan absurdnya.


"Ah, mandi, deh terus tidur!" serunya.


------------------


----------------------------


"Ardian," panggilnya, pelan. "Apa dia beneran tertidur?"


Tidak. Tentu saja aku tak tidur. Tapi aku sedang tak ingin bicara dengannya. Aku masih bingung caraku bereaksi di hadapannya jika mengingat kejadian tadi siang. Rasa bersalah tiba-tiba menyergapku.


Apa ini? Apa yang dilakukan gadis ini?


Hawa panas mulai mengalir di sepanjang arteriku, saat tiba-tiba kurasakan tubuh Naya mendekapku dari belakang.


"Aku ingin seperti ini, sebentar saja," gumamnya, sambil membenamkan kepalanya di punggungku.


Ah, sial! Jantungku semakin berdegup kencang. Aku tak suka situasi ini.


"Ardian, kalau saja kamu tahu bagaimana rasanya jadi aku sebentar saja," ucapnya, dengan suara pelan. "Hidup bersama seseorang yang tak menganggapku sama sekali, hal itu sangat menyakitkan. Apalagi jika seseorang itu menyimpan orang lain di dalam hatinya."


Aku rasa, dia sedang membicarakan aku dan Nadine.


"Mau marah pun, seakan tak ada gunanya," lirihnya. "Apa sebegitu tak berharganya diriku di hidupmu, sampai segala memori tentangku terhapus begitu saja? Sebegitu berartinyakah Nadine bagimu, sampai hanya dia yang kamu ingat? Saat ini, aku sedang berusaha sangat keras untuk menata hatiku. Aku berharap bisa kembali menjadi seorang Naya yang tegar seperti saat di mana kita belum pernah bertemu."


Ditariknya lengan kecil itu dari pinggangku. Kurasakan pergerakan tubuhnya yang mulai membuat jarak denganku.

__ADS_1


"Ji Chang Wook Oppa, aku ingin pergi ke Korea dan makan ramen yang sangat pedas bersamamu," gumam Naya, yang diikuti suara isak tangis yang berusaha ditahannya.


Naya, aku pun ingin mengingat semuanya. Aku pun ingin tahu segala hal yang telah aku kubur sampai ke dasar hingga membuatmu begitu tertekan.


__ADS_2