
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
đź’“Terkadang ...
Kamu membuat hatiku berdegup ...
Degupan yang amat kencang ...
Dan susah untuk dikendalikanđź’“
---------------------------------------------------------------------
"Kamu masih belum berangkat? Bukannya hari ini ada meeting terakhir?"
"Aku akan pergi sebentar lagi. Sudah diwakili asistenku juga," jawabku, sambil merapikan rambut di depan kaca.
Pandanganku terhenti pada bayangan Naya yang terpantul lewat cermin. Dia nampak kesulitan saat hendak mengancingkan resleting dress di punggungnya.
"Perlu bantuan?" Aku masih mengamatinya dari cermin tempat aku berkaca.
"Nggak usah," tolaknya.
Benar-benar mengganggu pemandangan. Aku ingin tak peduli, tapi pergerakannya terpantul jelas di depan mataku.
"Sini!" Aku menghampirinya dan menarik ujung resleting mini dressnya. "Sudah."
Gadis itu berbalik menatapku. Kulihat sedikit riasan di kelopak matanya, bubuhan blush on ringan di pipinya dan warna nute menghias bibir tipisnya.
Astaga! Apa yang aku pikirkan?
Aku segera memalingkan pandanganku darinya dan kembali merapikan rambutku di depan cermin.
"Kamu mau ke mana? Tumben sekali berdandan seperti itu?"
"Apa aku kelihatan aneh?" tanya Naya. "Dokter Ardito memberi satu set alat make up padaku waktu itu. Sayang kalau tak digunakan."
"Ardito?!" Aku sedikit terhenyak mendengar ucapannya.
Gadis itu mengangguk sembari menyisir rambutnya.
"Kenapa dia memberimu alat make up segala?" Aku melangkah ke sisi dipan tempat dia berkaca.
"Nggak tahu. Biar aku kelihatan lebih cantik mungkin."
"Perhatian banget dia sama kamu," gerutuku.
"Dia memang selalu perhatian, kan? Dokter Ardito itu orang yang sangat baik." Sebuah pujian dilontarkannya pada kakakku itu.
"Kamu suka sama dia?" selidikku.
"Tentu saja. Dia baik, pintar, tinggi, ganteng dan kaya. Benar-benar perfect."
"Kalau aku?" Aku menarik tangannya, hingga gerakan menyisir rambutnya terhenti. "Bagaimana denganku?"
Terus terang saja, aku masih kepikiran dengan sikapnya padaku tadi malam. Aku jadi amat penasaran dengan cara dia memandangku.
"Kamu ... kamu adalah pria jahat, sangat jahat." Dihempasnya tanganku dari pergelangan tangannya.
Jahat katanya? Ucapannya sedikit menggelitik hatiku.
"Kamu mau ke luar dengan pakaian mini begitu?" Aku mengamati mini dress di atas lututnya.
"Kenapa? Ini yang aku beli di butik kemarin. Bagus, kan?" Naya berputar memamerkan dressnya.
"Jangan keluar dengan pakaian seperti itu! Cepat, ganti sana!"
"Apaan, sih? Suka-suka aku, dong," katanya, sambil berlalu keluar kamar.
"Naya ... Naya!"
Aku menyambar long cardy milik Naya yang ada di atas kasur dan berlari menyusulnya.
__ADS_1
-----------
---------------------
"Oppa ...!"
"Gantemgnya, Oppa ...!"
-----------
"Sudah aku bilang, jangan berpakain terbuka begini di luar rumah!" kataku, seraya memasangkan long cardy ke pundaknya.
"Bang Lee?!" seru Naya. "Huwaaaa ... Bang Lee ...!"
"Lho, Naya!"
Istriku itu berlari ke arah kerumunan para wanita di lobi hotel. Suasana riuh seperti para penggemar yang berebut tanda tangan dan foto dari idola mereka.
"Bang Lee ...!" teriak Naya, seraya berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Kamu ngapain, sih teriak-teriak begitu?" Aku menarik tangan Naya untuk menjauh dari kerumunan itu.
"Apaan, sih? Lepasin!" seru Naya. "Wah ... dia pergi! Bang Lee-ku pergi. Gara-gara kamu, nih!"
"Kok, jadi marah-marah ke aku? Apaan bang li ... bang li begitu?"
"Itu tadi biasku. Bang Lee. Bang Lee Min Ho," kata Naya, dengan mata berbinar-binar.
Aku jadi ikut mengamati seseorang yang disebut Naya dengan 'Bang Lee' itu. Wajah-wajah Korea, ganteng, tinggi. Sepertinya dia memang artis.
"Ardian, tidak bisakah kamu membantuku bertemu dengannya, hem?"
"Mana mungkin?"
"Masa' nggak bisa, sih?" Wajahnya nampak memelas dan sedih. "Gunakan kekuasaanmu, dong!"
"Sudahlah jangan macam-macam!" ucapku, kesal.
"Oh, Bang Lee tersayang. Padahal ini kesempatan langka. Hanya 1.000 : 1 aku bisa bertemu dengan suami sejuta umat itu. Sayang sekali, si kepala editor yang pelit ini nggak mau membantuku. Huweeee ...!"
"Ardian, please!" Dia memohon dengan wajah yang begitu memelas.
"Iiish! Baiklah ... baiklah," jawabku, pasrah.
"Uwuuuuu!" Dengan kegirangan, Naya menghambur memelukku. "Thank you very much, suamiku yang ganteng bagai Ji Chang Wook Oppa, baik hati dan tidak sombong. Hahaha ..."
-----------
----------------------
Menurut informasi yang kami dengar, si aktor yang katanya Naya bernama Lee Min Ho itu, dia sedang menginap di hotel yang sama dengan kami.
Seorang kenalanku yang merupakan manager di sini mengatakan, kalau aktor tersebut sedang berlibur usai keluar dari wajib militer. Aku pun minta tolong padanya untuk membuat kami bertemu dengan si Lee Min Ho itu.
"Silakan, Pak!" Seorang pegawai hotel membukakan pintu kamar aktor itu untuk kami.
"Duh ... deg-degan banget, nih!" ucap Naya. "Ardian, aku kelihatan oke, kan? Riasanku nggak acak-acakan, bukan?"
"Enggak. Kamu kelihatan cantik," jawabku, sambil memperhatikan Naya yang sedang berkaca di ponselnya. "Ayo masuk!"
Gadis itu mengikuti langkah kakiku dari belakang. Sesekali dia terlihat menarik dan menghembuskan nafas untuk sedikit menghilangkan kegugupannya.
"Selamat pagi," salamku.
Seorang pria Indonesia menghampiri Lee Min Ho dan berbisik padanya. Sang aktor beralih melempar pandang pada kami, terlihat dia sedang mengamati kami.
"Hallo," sapanya, seraya memperlihatkan senyum yang berhias lesung pipinya.
"Ommo! Bang Lee ganteng banget. Senyumnya sungguh melelehkan hatiku," gumam Naya, sambil meremas lengan kananku.
"Duh ... lebay amat, sih!" gerutuku.
------
__ADS_1
"Sorry, take your time!" Aku melangkah ke arahnya. "Ardian. And she is my wife, your fans."
Aku ulurkan tanganku padanya dan dia pun menyambutnya dengan ramah.
"Your wife? My fans?" tanya dia.
"He'em," anggukku.
"A ... an ... annyeong ... Bang Lee." Naya terlihat sangat canggung. Wajahnya mendadak memerah dan tersipu malu.
"Bang Lee?" Lee Min Ho nampak mengernyit bingung.
"Apa?!" pekik Naya, saat menyadari kesalahan pengucapannya. "No ... no. I mean, annyeong ... Lee Min Ho ... Oppa."
"Hahaha ... annyeong," jawab si aktor. "What's your name."
"Naya," Istriku itu langsung menyambar tangan kanan Lee Min Ho. "Naya ... saranghae."
"Saranghae? It's your name?"
Aku tak mengerti, sebenarnya si Naya itu sedang gugup atau apa, sampai bicaranya ngelantur begitu?
"Oppa, you must say ... Naya ... saranghae!"
"Oke," jawab Lee Min Ho, sambil menahan tawa. "Naya ... saranghaeyo."
"Ommo ... aigo! Sungguh aku tak pernah mengingkari nikmat Tuhan yang telah Dia berikan padaku." Wajah wanitaku itu semakin berseri-seri. "Handsome banget. Oppa, you are very very and very handsome."
"Hahaha ... thank you very much. You are so beautiful too, Naya," puji Lee Min Ho.
"Hahaha ... tersanjung aku tuh!" tawa Naya. "May I have your picture? With me?"
"Of course."
"Asiiiiik!" Gadis itu berjingkrak kegirangan sambil merogoh ponsel di sakunya. "Ardian, tolong ambil yang bagus, ya!"
"Haiiish! Apa-apaan, kamu ini?" geramku.
Gadis tukang halu ini benar-benar merepotkan. Sudah membuatku memohon pada manager hotel untuk mengatur pertemuan dengan Lee Min Ho, sekarang dia menyuruhku jadi fotografer. Keterlaluan sekali dia.
Coba lihat tingkahnya sekarang! Betapa genitnya istriku itu. Dia berdiri dengan mesranya sambil 'ketawa-ketiwi' di samping pria asing. Mendadak aku merasa sedikit illfeel.
"Sudah," kataku, sambil mengulurkan ponsel milik Naya.
"Thank you, Oppa." Naya membungkukkan sedikit punggung dan kepalanya. "I waiting for your new drama."
"Thank you."
"Saranghae, Oppa. Bye-bye."
"Thank you for your time." Aku menjabat tangannya dan melangkah meninggalkan kamar si aktor tersebut.
-----------
-----------------------
"Sampai kapan kamu akan meliha foto itu?"
Tak meresponku sama sekali. Dia terus berjalan sambil memandangi fotonya bersama si Lee Min Hoo itu dengan tersipu-sipu.
"Oh, Bang Lee. Sungguh engkau begitu tampan. Daebak banget pokoknya, Bang."
"Haduh! Berhentilah mengatakan hal itu! Kamu membuat telingaku gatal," kesalku. "Lagian, segitu sukanya kamu sama dia? Bukannya kamu ngefans sama Ji Chang Wook itu?"
"Iya. Dua-duanya aku suka," jawabnya.
"Apaan? Mana bisa suka dengan dua orang dalam waktu bersamaan?" protesku. "Pilih salah satu,dong! Mau Ji Chang Wook atau Lee Min Ho? Siapa yang lebih kamu suka?"
"Suamiku."
"Hah?!"
"Aku lebih suka suamiku."
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=