
(pov NAYA)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🍁🍁 Jika kamu melepasnya ...
Dia akan menjadi milikku ...🍁🍁
---------------------------------------------------------------------
"Baiklah. Jam delapan malam kita bertemu di tempat biasa. Oke. Sampai nanti." Ardian mematikan ponselnya.
Ardian terlihat rapi dengan kemeja biru mudanya. Dia berjalan menghampiriku yang sedang duduk di ruang makan.
"Wah ... kenapa bau nasi goreng buatanmu selalu menggoda, ya?" katanya, seraya duduk di kursi dan menikmati masakanmu.
"Kamu mau ke mana? Kenapa malam-malam begini rapi begitu?" tanyaku.
"Aku? Ketemu Nadine," jawabnya, santai.
Lagi-lagi soal Nadine. Sampai kapan akan seperti ini?
"Tadi siang kamu sudah ke rumah sakit untuk pemeriksaan dengan dokter Zain?"
"He'em," angguknya.
"Bagaimana hasilnya?"
"Aku disuruh olahraga dan sedikit diet untuk menurunkan kadar protein yang menumpuk."
"Apa ingatanmu akan segera kembali?"
Ardian nampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Dia menatap dalam padaku seakan berusaha menelisik pikiranku.
"Naya, adakah sesuatu yang penting, yang harus aku ingat lagi?" tanyanya.
"Ah ... itu ..."
"Jika ada, kenapa kamu tak mengatakannya langsung padaku?"
Dia masih menatapku dengan pandangan bingung.
Sejujurnya, aku juga ingin memberi tahu semuanya. Tapi aku juga takut, jika ucapanku justru merusak selaput otaknya.
"Naya, apa sebelunnya ... aku telah jatuh cinta padamu?"
"Apa?!" pekikku.
"Hahaha ... kenapa ekspresimu menyeramkan begitu? Itu nggak mungkinlah, ya. Nggak mungkin banget."
"Kenapa nggak mungkin?" tanyaku. "Kenapa nggak mungkin, Ardian?"
Ardian kembali menatap heran padaku. Dan aku masih berusaha keras agar bulir bening tak sampai jatuh ke pipiku.
"Karena aku hanya mencintai Nadine. Hanya dia," jawabnya.
Jika ditanya bagaimana perasaanku saat ini? Tentu aku hancur tak terkira. Aku yang merasa diangkat tinggi-tinggi, namun seketika dihempaskan ke dasar. Sungguh sangat menyakitkan, saat suamiku sendiri bilang kalau dia mencintai wanita lain. Dan dia mengatakannya tanpa beban sedikit pun kepadaku.
"Oh? Kamu sudah di luar?" Ardian mengangkat telponnya. "Oke, tunggu! Aku keluar sekarang."
"Kamu mau ke mana?"
"Aku keluar bentar, ya."
Dengan penuh semangat, dia berlari ke arah pintu dan berlalu dari hadapanku.
"Tidak. Ardiaaaaan!"
Aku segera bangkit dari dudukku dan berlari mengejarnya. Kutekan tombol lift, lama sekali menunggu box itu terbuka. Aku segera berlari menuruni anak tangga. Aku terus berlari dari lantai lima ke lantai satu.
Kulihat mobil Ardian sudah ada di depan gedung apartement. Seorang wanita nampak tersenyum dan menarik pintu mobil Ardian.
__ADS_1
"Ardian ... Ardiaaaaan ...!"
Dan bahkan langit pun tak mendukungku. Hujan deras mulai mengguyur saat mobil Ardian berlalu dari hadapanku.
"Ardian."
Diriku yang tak berdaya ini, hanya bisa memeluk lututku dan membenamkan wajah yang berurai air mata di tepi jalan dengan tubuh basah ... terguyur derasnya hujan.
-------------
"Naya."
Aku tengadahkan pandanganku. Kurasakan aliran hujan yang berhenti karena terhalang payung di atas kepalaku.
Seorang pria yang tiba-tiba berdiri di hadapanku. Dia sedikit tersenyum melihat kebodohanku.
"Ayo!" Diulurkan tangannya padaku. "Ayo, pergi dari sini!"
"Dokter."
Dan ... menangislah aku. Menangis sejadi-jadinya di hadapan kakak iparku itu.
--------------------
------------------------------
APARTEMENT ARDITO
"Minumlah!"
Aku menggapai coklat panas yang diulurkan Ardito padaku. Aku yakin, saat ini wajahku terlihat amat pucat, bibir yang mulai membiru di balik selimut tebal yang melilitku.
Tak perlu aku ceritakan kejadian yang baru aku alami, Ardito pasti bisa menebaknya.
"Kalau pakaianmu sudah kering, aku akan mengantarmu pulang," katanya.
Aku hanya diam dengan terus memegangi cangkir coklat panas. Tubuhku yang masih kedinginan, membuatku ingin memindahkan suhu panas cangkir itu ke telapak tanganku.
"He'em," anggukku.
"Kamu mau istirahat di dalam? Ada dua kamar di sini," kata Ardito.
Aku hanya menggeleng.
"Naya, kalau kamu sudah nggak tahan dengan sikap Ardian, kamu katakan saja semua tentang kalian di masa lalu!"
"Bagaimana bisa? Aku akan semakin memperburuk keadaannya," jawabku.
"Terus, kamu mau nangis-nangis gini tiap hari?" geramnya. "Kita nggak tahu sampai kapan Ardian akan seperti ini. Entah dia bisa membaik atau malah makin buruk, nggak ada yang tahu."
"Apa dia akan terus melupakan aku?"
"Mungkin," jawab Ardito, tanpa ragu.
"Begitu."
"Naya, jangan seperti ini!" katanya, mulai kesal. "Kenapa kamu harus menderita sendirian, sedangkan anak bodoh itu malah bersenang-senang? Memuakkan sekali!"
"Dokter, kepalaku ... pusing sekali."
"Naya ... Nayaaaa!"
Aku masih setengah sadar. Aku masih bisa melihat dan merasakan Ardito yang mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku pun bisa merasakan saat Ardito mengangkatku dan memindahkanku ke tempat tidur.
"Ardian, datang ke rumahku sekarang juga!" Suara Ardito terdengar keras di telingaku dan membuat kepalaku semakin berputar-putar.
Berusaha aku membuka sedikit kelopak mataku. Kuamati dokter muda itu yang nampak mondar-mandir menggerutu dengan ponsel menempel di telinganya.
"Cepat datang ke sini, sialan!" teriaknya.
------------------------
__ADS_1
Ardito mendengus kesal sambil mematikan ponselnya. Dia menghampiriku dengan wajah khawatir.
"Naya, kita ke rumah sakit saja, ya?"
"Nggak usah, dokter! Beri aku PARACETAMOL saja! Aku nggak apa," kataku.
Sebutir tablet berwarna putih berjalan melewati tenggorokanku. Ah! Aku benci sekali minum obat.
"Naya." Ardito mengusap ujung kepalaku. "Jika bisa, aku ingin menukar ingatanku dengan Ardian. Aku nggak suka melihatmu yang terlihat lemah seperti ini."
"Aku nggak apa-apa, Dokter," kataku, sambil melempar senyum padanya. "Aku akan terus menunggu sampai Ardian kembali mengingatku."
Setidaknya, masih ada seseorang yang tahu bagaimana posisiku.
Setidaknya, masih ada saksi yang akan membuktikan kalau Ardian pernah mencintaiku.
"Telpon dari Ardian," kata Ardito, sembari menggapai ponselnya dan menekan loudspeaker. "Ya? Kamu sudah perjalanan ke sini?"
"Ardito, bisa kamu saja yang antar Naya pulang?" tanya Ardian, dari balik ponsel pintar itu.
"Kenapa?"
"Aku nggak bisa. Aku harus nganter Nadine pulang," jawab Ardian.
"Apa katamu?!" pekik Ardito.
"Naya nggak apa-apa, kan? Kamu antar dia, ya!"
"Halo ... Ardian ... Ardian!"
Ardito kembali menatap iba padaku. Aku sungguh benci saat terlihat tak berdaya seperti ini. Saat air mata terus mengalir tanpa henti. Aku benci perasaan sakit ini.
"Akan selalu seperti ini," gumamku. "Pada akhirnya, akulah yang akan kalah, dokter."
"Naya."
Aku yang selalu merasa bahwa diriku adalah wanita yang begitu tangguh. Tak sekali pun air mata mengalir meski dunia menghajarku dengan berbagai kesulitan.
Tapi Ardian!
Dia meluluh lantakkan ketangguhanku. Ketegaranku koyak dan tergerus habis. Jika cinta menyakitkan seperti ini, aku tak pernah ingin jatuh cinta padanya.
"Jadilah kuat, Naya! Jangan menangis!"
Tangisku semakin menjadi-jadi saat dada itu membawaku bsrsandar padanya. Saat tangan itu menepuk-nepuk punggungku, seakan membagi sedikit semangat yang dimilikinya.
---------------------------
---------------------
APARTEMENT ARDIAN
22.30 WIB
"Terima kasih, dokter. Aku sudah banyak merepotkanmu," kataku, saat kami sampai di depan pintu apartement Ardian.
"Istirahatlah dan jangan terlalu banyak berpikir!" katanya, sembari mengusap ujung kepalaku. "Jika suhu tubuhmu naik lagi, kamu harus menghubungiku! Kamu mengerti?"
"Iya."
------------
"Naya!"
"Ardian?"
Suamiku itu nampak keluar dari lift dan setengah berlari menghampiriku.
"Kamu baik-baik saja?" Ardian mengulurkan tangannya padaku. "Badanmu masih panas?"
"Jangan menyentuhnya!" Ardito menepis tangan Ardian. "Kamu nggak punya hak lagi atas dirinya. Jangan coba-coba menyentuhnya!"
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=