
(pov ARDITO)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💔
Aku dan dia ...
Kami kembali menjadi asing ...
💔
---------------------------------------------------------------------
10 TAHUN LALU
"Kami nggak mau ayah dan ibu bercerai. Kami nggak mau dibagi-bagi," kataku, dengan air mata yang terus bercucuran. "Ardian jadi bermasalah seperti ini, itu karena keegoisan kalian. Kalian sadar nggak, kalau sikap kalian ini membuat kami sangat tertekan? Sebagai orang dewasa, kalian benar-benar egois."
Kupandangi Ardian yang duduk di sofa dengan luka lebam di wajahnya. Seragam putih abunya nampak terciprat noda-noda darah.
Dia selalu pulang dalam keadaan seperti ini. Dan itu semakin membuatku marah pada ayah dan ibu, yang bahkan tak pernah menanyakan alasan adikku sampai jadi seperti itu.
"Sepertinya, aku sudah tak sanggup lagi hidup bersama kalian," kataku seraya menarik gagang pintu rumah.
"Ardito, berhenti!" seru ayah.
----------------
Aku berusaha keras untuk bisa masuk kedokteran seperti apa yang mereka harapkan. Aku ingin mereka bangga padaku dan segalanya menjadi tenang. Tapi sepertinya, itu hanya mimpi bodohku saja.
"Ardito!"
"Kenapa kamu mengikutiku? Pulang sana!" kataku pada Ardian.
"Kalau kamu pergi, bawa aku juga!" pintanya. "Aku nggak mau hidup bersama mereka. Aku muak setiap hari harus melihat pertengkaran mereka."
"Kembalilah ke rumah!" Aku kembali melangkah menjauhinya.
"Tidak. Aku mau ikut denganmu."
"Haiiish ... sial!" Aku pun berlari menghindarinya.
"Ardito, tunggu!" teriaknya yang mengikutiku menyeberang jalan.
DIN ...! DIN ...!
"Ardito ... awaaaaas!"
BRAK!
Saat itu, aku tak tahu pasti apa yang tengah terjadi.
Aku hanya merasakan bahwa tubuhku didorong oleh seseorang hingga aku tersungkur ke tepi jalan.
"Ardian ... Ardiaaaaan!"
Dan samar-samar, aku mendengar suara ibu. Dia seperti sedang menjerit memanggil nama Ardian.
------------------------- ----------------- ----------------------
SAAT INI
RUMAH SAKIT
"Anak sialan!"
Telapak tangan ayah mendarat begitu keras di pipi kiriku. Aku bahkan bisa mendengar dengusan nafasnya yang terlihat memburu.
"Bisa-bisanya kamu menyeret adikmu ke situasi gila seperti ini, Ardito?" teriak ayah.
"Kamu tahu jelas bahwa dia tidak boleh mengalami syok. Tapi kamu malah membuatnya hampir mati. Sudah gila, kamu! Jika sampai terjadi sesuatu hal buruk pada Ardian, ini semua salahmu."
Ini kedua kalinya. Ini sama seperti kejadian sepuluh tahun lalu. Saat Ardian tertabrak mobil karena menyelamatkanku. Saat itu, ayah juga mengeluarkan segala sumpah serapah padaku.
-------------
"Dokter, Ardian baik-baik saja, kan?"
Ada juga seorang gadis yang berdiri menagih jawaban di depanku dengan wajah khawatir.
Di situasi seperti ini, sudah terlihat jelas, bahwa banyak orang-orang yang begitu menyayanginya.
"Operasinya berjalan lancar. Dia sudah dipindahkan ke kamar VVIP, Naya," kataku.
"Mau ke sana?"
__ADS_1
"Iya."
-----------------------
-----------------
Bunyi dari alat elektrokardiogram (EKG) terdengar menyapa telinga, saat kami memasuki kamar Ardian berada. Masker oksigen dan selang infus terpasang di tubuhnya.
"Kapan kira-kira dia akan sadar?" tanya Naya.
"Entahlah. Dia masih dalam pemantauan," jawabku.
"Apa lukanya begitu serius?" Wajah Naya terlihat memucat.
"Harusnya tidak."
Luka tusukannya memang cukup dalam, tapi tak sampai mengenai organ vitalnya.
Tapi yang aku khawatirkan bukanlah lukanya. Aku justru merasa khawatir saat Ardian sudah kembali sadar.
Akankah dia tetap dalam kondisi normal?
Atau gangguan seperti sepuluh tahun lalu itu akan muncul lagi?
----------------
-----------
"Makanlah!" Aku meletakkan mie instan cup di depan Naya, yang sedang duduk di kantin rumah sakit. "Makanlah walau cuma sedikit! Sejak Ardian masuk kamar operasi, kamu belum makan apapun."
"Ardian akan sembuh, kan? Dia akan segera sadar, kan?"
"He'em. Dia hanya perlu menstabilkan tekanan darahnya. Jangan khawatir, makanlah!"
Naya meraih mie cup di depannya dan memasukkan sesendok ke mulutnya.
"Ardian nggak akan mengalami efek buruk dari kecelakaan ini, kan?" tanyanya.
"Efek?" Aku sedikit terperanjat mendengar ucapannya.
"Selain luka tusukan, aku justru mengkhawatirkan luka benturan di kepalanya."
Luka di kepala Ardian. Aku pun sebenarnya mengkhawatirkan itu.
---------------------
---------------
"Oh ... Ardito."
Aku sedikit membungkuk untuk memberi hormat pada dokter senior yang menangani Ardian itu.
"Masuklah!" katanya. "Apa yang membawamu ke sini?"
"Soal Ardian, bagaimana keadaannya?" tanyaku.
"Dia sudah mulai stabil. Mungkin hari ini atau besok dia akan sadar. Tekanan darahnya sudah mulai normal," jawabnya.
"Dokter, bagaimana dengan lukanya?"
"Nggak ada masalah. Luka di perutnya nggak terlalu serius. Dia hanya kehilangan banyak darah."
"Kalau benturan di kepalanya?"
Aku bisa menangkap reaksi terkejut dari bola mata dokter Zain yang nampak bergetar. Diambilnya beberapa berkas dari laci kerjanya dan disodorkannya padaku.
"Ada sedikit kerusakan dan penumpukan protein di pembuluh darahnya. Tapi sepertinya, luka ini sudah lama dan sekarang agak terbuka."
"Iya. Itu memang sudah lama." Aku menghembuskan nafas kecewa mendengar penjelasan seniorku itu.
"Apa Ardian pernah mengalami gangguan ingatan?" terkanya.
"Iya. Dulu," jawabku. "Gejalanya hampir mirip seperti alzheimer."
"Apa dia bisa sembuh?" tanya dokter Zain
"Ayah membawanya terapi ke luar negeri selama hampir dua tahun. Dia tak mengingat beberapa hal yang pernah dia alami. Intinya, sebagian memorinya terhapus dengan sendirinya."
Dokter Zain nampak manggut-manggut mendengar ucapanku.
"Ardito, ada kemungkinan hal seperti itu akan terjadi lagi."
"Apa?!" pekikku.
"Perlahan-lahan, Ardian akan mengalami penurunan ingatan. Beberapa memori akan menghilang."
__ADS_1
"Nggak mungkin."
---------------------
---------------
DUA HARI KEMUDIAN
Aku masih berdiri di belakang Naya yang sedari tadi duduk sambil terus menggenggam tangan Ardian. Selama dua hari ini, iparku itu tak beranjak sama sekali dari sisi suaminya.
"Dia belum sadar?"
Aku menoleh ke asal suara itu. Suara Nadine yang tengah berdiri di ambang pintu bersama ayah.
"Bagaimana kata dokter Zain?" tanya ayah.
"Harusnya, dia akan sadar hari ini," jawabku.
"Tidak ada yang lain?" selidik ayah.
"Ah, soal itu---"
"Ardiaaaan!" seru Naya, tiba-tiba.
"Ardian?!" seruku.
Aku segera menghampiri Ardian dan memeriksa denyut nadinya.
Dia nampak membuka matanya dengan perlahan. Kulihat jemarinya yang mulai dia gerakkan.
"Ardian." Naya nampak memanggilnya dengan mata berkaca-kaca.
Dengan pandangan yang masih sayu, bergantian Ardian mengamati kami.
"A--yah," ucapnya, lirih.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja," kata ayah.
Ya ... syukurlah!
Ternyata dia masih ingat. Aku sedikit lega karena perkiraanku telah meleset.
-------------------
--------------
LIMA HARI KEMUDIAN
"Aku sudah bawakan pakaian ganti untuk Ardian," kata Naya.
"Baguslah. Kita bawa dia pulang hari ini!"
Aku dan Naya memasuki kamar Ardian. Di sana, sudah ada Nadine yang sedang duduk di sisi tempat tidur Ardian.
"Ardito, kamu datang?" sapa Ardian. "Kamu juga, Naya?"
"Tentu saja. Kami datang untuk menjemputmu. Ayo, kita pulang ke runah!" kata Naya dengan penuh semangat.
"Ah ... Naya," panggil Ardian.
"Hem?"
"Setelah ini, kamu nggak perlu mengurusku lagi! Aku nggak mau memanfaatkanmu lagi, Naya."
"Apa? Apa maksudmu?"
"Maksudku ... kita nggak perlu melanjutkan drama pernikahan ini lagi! Sepertinya, aku sudah cukup banyak merepotkanmu. Sudah ada Nadine yang akan mengurusku."
"A--apa? A--Ardian, apa maksudmu?" Naya terlihat bingung. "Memang benar awalnya pernikahan kita hanya sebuah perjanjian, tapi sekarang---"
"Ardian, terakhir kali yang terjadi ... apa kamu mengingatnya?" sahutku.
"Iya," jawabnya. "Kita terlibat perkelahian di Coffe Mix saat mengejar Om Hery."
"Dan kamu melihat wajah seorang pria yang dia panggil 'direktur'. Apa kamu ingat?" tanyaku, tak sabar.
"Direktur? Direktur siapa? Apa maksudmu?"
Aku dan Naya hanya melempar pandang dengan saling menggeleng.
"Ardian ... Ardian, kita sudah menghabiskan malam bersama." Naya meraih tangan Ardian.
"Kamu ingat? Kamu bilang, kamu mencintaiku. Dan pernikahan kita bukan lagi sekedar ..."
"Aduh, Nay ... kamu jangan bercanda, deh! Hahaha ...."
__ADS_1
"Ardian." Air mata mulai mengalir deras dari pelupuk mata Naya. "Ada apa denganmu, Ardian?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=