
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΌπ»πΌ
Karena kamu ...
Adalah multivitamin bagiku ...
π»πΌπ»
---------------------------------------------------------------------
"Ibu jangan membuat keributan di kantor, ya!" kataku, memperingatkan.
"Kita lihat saja nanti!"
Aku selalu punya firasat buruk kalau ibuku ini sudah menyunggingkan sebuah senyuman di bibirnya. Orang sehebat ayah saja menyerah untuk mengendalikannya. Sepertinya aku sendiri pun tak akan sanggup.
"Hei, bagaimana dengan gadis yang kamu pacari itu?"
Rasanya aku cukup tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan ibu.
"Kamu masih tergila-gila padanya? Kamu sudah punya istri, lho. Lagi pula, dia istri ayahmu sekarang. Kamu nggak kasihan pada Naya?"
Rasanya aneh mendengar pertanyaan itu dari ibu. Bukankah aku sama saja sepertinya?
"Apa kamu sedang berpikir kalau ibumu ini nggak berhak memberimu nasehat seperti itu?" terkanya.
"Apa?!" Seorang ibu selalu punya feeling yang sangat tajam. "Bu--bukan begitu."
"Ardian, tidakkah kamu penasaran dengan ingatanmu yang terhapus itu?" Ibu menatapku dengan mata elangnya. "Segala hal tentang istrimu yang sudah kamu lupakan, tidakkah kamu merasa penasaran?"
"Hubunganku dan Naya nggak seserius yang ibu pikirkan," sahutku. "Lagi pula, hal yang mustahil jika kami benar-benar dekat sebelumnya."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" selidik wanita 52 tahun tapi terlihat bak 35 tahunan itu.
"Karena kami nggak pernah saling mencintai."
"Bagaimana jika dulu, kamu sempat jatuh cinta padanya?"
"Apa?!" pekikku.
"Bukankah saat kamu kehilangan memorimu beberapa tahun lalu, kamu juga telah melupakan hal-hal yang kamu anggap penting? Jika segala hal tentang Naya terhapus dari ingatanmu, bukankah artinya dia cukup penting bagimu?"
Penting? Naya?
Itu juga yang terus aku pertanyakan. Kenapa semua hal tentang Naya bisa terhapus? Sebegitu pentingkah dia bagiku? Anehnya, aku bahkan tak merasakan apa-apa saat bersamanya. Jika dia penting bagiku, seharusnya ada perasaan berbeda saat kami berdekatan atau paling tidak, aku akan sedikit merindukannya.
"Ardian, bagaimana jika kakakmu juga menyukainya?"
"Apa?!" Sunggingan senyum tersemat di bibir ibuku saat mengucapkan sebuah kalimat yang sedikit menggelitik telingaku.
"Hahaha ... kenapa kalian seperti ini, sih?" Ibu nampak terkekeh. "Kenapa kalian harus mengulang apa yang terjadi pada ibu dan ayahmu itu?"
"Nggak ada yang mau mengulangnya." Aku menimpali ucapannya dengan sedikit kasar. "Lagi pula, aku nggak akan membiarkan Ardito mengambil Naya dariku."
"Kenapa?"
"Kenapa?!" pekikku. "Tentu saja karena dia milikku."
__ADS_1
"Egois sekali," gumam ibu.
"Ibu lebih egois daripada aku," sahutku. "Ibu bahkan lebih memilih membawanya pergi dan meninggalkan aku bersama ayah. Mengerikan sekali!"
Wanita di sampingku itu hanya diam membisu. Aku selalu penasaran karena dia lebih memilih Ardito daripada aku. Sepertinya aku ini memang tak ada artinya bagi ibu. Sejak kecil, aku memang sumber masalah. Tak ada hal membanggakan atau prestasi gemilang seperti kakakku itu. Hanya sebuah rasa malu karena seringnya aku membuatnya dipanggil ke sekolah karena kenakalanku.
-------------
--------------------
GLORYA
"Apa Juan Benedict Lim ada di ruangannya?" Ibu menghampiri sekretaris ayah.
"Oh, Nyonya Irene? Maaf karena tak mengenali Anda." Pria itu menundukkan badannya di depan ibu.
"Santai saja! Apa mantan suamiku itu ada di ruangannya?"
"Iya. Silakan masuk!"
Didorongnya sebuah pintu semi kaca di depannya. Kaki jenjang dengan heels 10 cm itu melangkah memasuki ruangan sang direktur.
"Long time no see, Juan Benedict Lim."
"Irene?!"
Ibu nampak menyeringai melihat ekspresi terkejut dari mantan suaminya itu.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya ayah.
"Hem?"
Ibu berjalan mendekatinya. Ditariknya kursi di depan meja kerja ayah dan duduklah ia dengan menyilangkan kedua kakinya.
"Aku tak ingin berdebat denganmu. Katakan saja maksud kedatanganmu ke sini!" geram ayah.
"Hei, ayolah! Kenapa kamu tidak berubah sama sekali?" Ibu melipat tangannya di atas meja ayah. "Kamu sedikit tegang, ya karena bertemu lagi dengan mantan istrimu ini?"
"Irene!" seru ayah.
"Hahaha ... santai saja! Aku tak akan membuat keributan. Tak perlu khawatir!"
Ibu bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah lemari tempat buku-buku dan arsip perusahaan.
"Ngomong-ngomong, apa kamu yang membuat Ardian celaka?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu?!" teriak ayah.
"Hei, Juan!" Ibu berjalan mendekati mantan suaminya itu. Ditariknya dasi merah yang melingkar di leher ayah hingga wajah mereka saling berdekatan. "Aku peringatkan padamu, ya! Aku menyetujui kamu membawa Ardian, itu karena terpaksa. Jika sampai terjadi apa-apa dengannya, kamu akan habis di tanganku. Aku tak akan segan-segan menghancurkanmu. Kamu mengerti?!"
"Gila!" Dihempaskan tangan wanita yang meremas dasinya itu. "Kamu sudah berjanji untuk tidak memasuki kehidupan Ardian lagi dan kamu harus menepati janji itu! Beri tahu juga pada Ardito, untuk tidak ikut campur dengan urusan perusahaan! Aku tak suka dia melibatkan Ardian dengan hal-hal gila."
"Hem? Itu, kan urusan anak-anak, bukan urusanku," ucap ibu dengan nada mengejek. "Lagi pula, aku suka sekali melihat mereka akur. Aku bahkan sangat berharap agar mereka bisa menghancurkanmu."
"Irene!" teriak ayah.
"Hahaha ... jangan marah-marah begitu, nanti cepat tua!" sindir ibu. "Meski dapat istri yang jauh lebih muda, kalau kamu kelihatan tua begitu, apa gunanya? Jaga baik-baik istri mudamu itu! Mungkin saja dia sedang berselingkuh dengan seseorang yang tidak pernah kamu duga. Hahahaha ..."
"Wanita gila!"
--------------
__ADS_1
-----------------------
"Ibumu sudah pergi?" tanya ayah, saat aku memasuki ruangannya.
"Iya. Apa ibu membuat ayah darah tinggi lagi?"
Lelaki gagah di depanku itu nampak melempar air muka kesal saat mendengar pertanyaanku yang setengah mengejek.
"Jangan bawa dia ke sini lagi, aku tidak suka!" geramnya.
"Bilang saja sendiri! Ayah, kan tahu sendiri kalau ibu nggak bisa diatur," jawabku seraya duduk di depannya. "Ada apa ayah memanggilku ke sini?"
"Ayah ingin memberi tahumu bahwa tuan Henry menolak untuk membuat cover buku Riani."
"Apa?!" pekikku. "Bagaimana bisa? Dia, kan bilang mau waktu itu?"
"Itu salahmu," sergah ayah. "Kenapa waktu itu kamu tidak langsung membuat kontrak dengannya? Tanggung jawablah sekarang!"
"Haiiish, sial!"
"Datangi dia! Kalau perlu, memohonlah agar dia mau bekerja sama denganmu!" kata ayah.
"Sudahlah, kita cari orang lain saja!"
"Lihat ini!" Ayah menyodorkan selembar dokumen padaku. "Nama Henry Santro ada dalam kontrak yang kamu buat bersama penulis Riani itu. Kamu mau membuat perusahaan merugi dengan menyalahi kontrak yang sudah kamu buat sendiri itu, hah?!"
Sial! Sepertinya memang tak ada jalan lain selain membujuknya secara langsung. Sejak awal aku tak terlalu suka dengannya. Dia itu pembuat cover buku yang seenaknya sendiri, mentang-mentang terkenal dan lama malang-melintang di dunia literasi. Berurusan dengan manusia model begini membuat otakku makin mengkerut.
-----------
-----------------
20.45 WIB
"Kenapa mukamu kecut begitu?" tanya Naya sembari memberiku secangkir kopi.
"Makasih," ucapku seraya kembali fokus pada laptop di depanku.
"Ada masalah di kantorkah?"
"Iya."
"Heh? Serius? Tumben banget!" serunya.
"Namanya juga orang hidup. Wajar, dong dapat masalah," jawabku sekenanya.
"Astaga! Mendengar jawabanmu aku jadi merinding," gerutu Naya. "Eh? Bukankah itu foto Henry Sastro?"
"Kamu tahu dia?" Aku cukup terkejut dengan reaksi Naya saat melihatku browsing tentang sesepuh di dunia literasi itu.
"Tentu saja. Dia ini pernah jadi pasiennya dokter Rahmi beberapa tahun lalu."
"Apa?!" pekikku. "Yang benar kamu?"
"Beneran, kok," jawabnya meyakinkan. "Aku bahkan pernah ke rumahnya untuk nganter obat."
"Serius?!" Aku terlonjak kaget.
"Dua rius," jawab Naya.
Wah! Ini kejutan yang luar biasa. Sepertinya aku punya ide bagus untuk mengajukan kerja sama dengan orang menyebalkan itu.
__ADS_1
"Oh, Naya!" Aku memeluk istriku itu. "Meski setiap hari kamu sepahit kopi sianida, tapi kadang kamu memberiku banyak energi yang perfect layaknya vitamin B Complex. Hahaha ..."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=