NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 5


__ADS_3

Siapa diriku? Betapa berani mengharapkannya.


Siapa diriku? Aku tak berhak atas dirinya. Ada yang sangat kusesali. Entah itu apa. Perasaan itu muncul tiba-tiba saat dirinya ada.


***


"Naya!" teriak Stevia yang berlari masuk ke ruang racik resep. "Nay ... di luar, Nay! Di luar!"


"Ada apa?"


"Itu ... su--su---"


"Apaan, sih? Su--su--su!" geramku.


"Cepetan, deh lihat keluar sana!" katanya sembari mendorongku ke ruang pelayanan.


Dengan malas dan sedikit menahan kesal, kuletakkan stamper dan mortir kembali ke tempat semula untuk menuruti perintah Stevia.


"A--Ardian?!" seruku.


Dengan tersenyum sembari melambai padaku, Ardian tampak duduk manis di kursi tunggu di ruang pelayanan.


"Ngapain kamu di sini?" tanyaku heran.


"Menjemputmu," jawabnya, santai.


"A--apa?!"


"Kita harus pergi ke suatu tempat. Kapan pekerjaanmu selesai?"


"Ehm ... lima belas menit lagi mungkin. Aku masih ngerjain beberapa resep sediaan puyer."


"Oke ... lanjutin cepetan! Aku tunggu di sini!"


Wah ... aneh sekali!


Ini pertama kalinya dia menjemputku. Memang hal penting apa yang akan kami lakukan sampai dia repot-repot datang ke tempat kerjaku ini?


"Eh, Nay ... dia beneran ganteng, ya," bisik Stavia saat kami kembali ke ruang resep. "Dia benar-benar mirip aktor Korea."


Melihat Stevia yang begitu terkagum, aku pun jadi penasaran dan sedikit mengintip Ardian dari celah pintu ruang racik resep.


Jika di perhatikan, dia memang lumayan oke. Tidak memalukan kalau dibawa ke acara kondangan. Ganteng maksimal.


"Mbak, punya obat ini?" Datang seorang gadis berseragam SMA menyodorkan sebuah sobekan kertas pada Stevia.


"Ada resep?" tanya Stevia.


"Enggak ada."


"Maaf, kami nggak bisa melayani obat ini tanpa resep," kata Stevia.


"Lho, memangnya kenapa, Mbak? Saya butuh banget obat ini." Gadis itu nampak memohon penuh harap.


"Iya, tapi itu udah aturannya, Mbak. Pembelian obat jenis ini harus pake resep dokter."


Gadis itu tampak menunduk dengan wajah sedih. Tak lama kemudian, seorang pemuda dengan seragam polisi pun masuk menghampiri Stevia dan gadis itu.


"Nggak bisa. Harus pakek resep." Si gadis berkata pada pemuda itu.


"Mbak," kata si polisi muda pada Stevia. "Kasih ajalah! Kami butuh banget obat itu."


"Saya pasti akan memberikan obat itu tapi kami juga perlu resepnya, Mas," kata Stevia.


"Mbak!"


Aku langsung terperanjat mendengar suara etalase yang digebrak.


"Ada apa ini?" tanyaku.


"Kamu penjaga apotek ini, kan? Jangan sok-sokan mempersulitlah! Cepetan beri kami obat ini!" kata pemuda itu.


Aku pun melihat tulisan pada secarik kertas tersebut.


CYT*T*K. Itulah yang tertulis di kertas itu.


"Beri kami resepnya dan kami akan berikan obatnya!" kataku.


"Nggak ada," kata pemuda itu. "Berikan saja obatnya, berapa pun akan aku bayar!"


"Bukan masalah uang, tapi pelaporan. Ini bukan obat sembarangan. Kami akan kena masalah jika menjualnya tanpa resep," kataku.


"Hei!" teriaknya padaku. "Mentang-mentang kamu petugas farmasi, kamu jadi bisa seenaknya untuk mempermainkan pembeli? Jual padaku sekarang juga, aku seorang polisi! Aku yang akan bertanggungjawab!" teriaknya padaku.


"Wah!" Ardian beranjak dari duduknya. "Aku tadinya nggak mau ikut campur, tapi kata-katamu benar-benar membuat kupingku gatal."


Ardian tiba-tiba menghampiri kami dan mencengkeram krah baju polisi muda itu.


"Coba kulihat!" Ardian mengambil secarik kertas yang bertuliskan nama obat tersebut.


"CYT*T*K?! Dasar ********!" geram Ardian.


"Siapa, kamu? Jangan ikut campur!"


Pemuda itu berusaha melepas tangan Ardian, tapi Ardian semakin erat mencengkeramnya.


"Kau tahu?! Wanita yang barusan kau teriaki itu ... dia adalah istriku!" kata Ardian dengan menatap tajam pada penuda itu. "Aku saja nggak pernah berteriak padanya, tapi kau?! Berani sekali ******** sepertimu berteriak padanya."


"Ardian ... hentikan!" seruku.


"Hei ... apa kau nggak malu menyuruh pacarmu membeli obat penggugur kandungan dengan memakai seragam polisimu itu?! Menjijikkan sekali!" geram Ardian. "Kau juga!" Ardian menatap tajam pada gadis berseragam SMA itu. "Kau kemanakan otakmu itu? Lelaki ini sudah menidurimu. Itu sudah merupakan kesalahan besar. Sekarang dia malah menyuruhmu menggugurkan kandunganmu dan kau menurutinya? Wah ... sudah gila kalian! Cukup kalian berdosa zina saja, tapi jangan mengotori tangan kalian dengan membunuh bayi yang bahkan belum melihat dunia! Kau yang seorang polisi ... harusnya kau hormati seragammu itu! Pergi dari sini! Jangan kembali ke sini lagi!"


***


Sepanjang perjalanan dari Apotek, Ardian hanya diam saja sambil terus mengemudi.


Kurasa kejadian di apotek tadi benar-benar merusak moodnya.


"Apa kejadian seperti itu sering terjadi?" tanyanya tiba-tiba.


"Ya ... terkadang," jawabku.

__ADS_1


"Kamu diteriaki begitu? Itu sering terjadi?!" Suaranya mulai meninggi.


"Ya ... nggak sering juga, sih! Beberapa kali."


"Berhenti saja dari pekerjaanmu!" bentaknya.


"Hah?! Apa maksudmu? Kenapa aku harus berhenti? Enggaklah," kataku.


"Aku nggak suka, ya ada orang yang teriak-teriak begitu padamu. Dia pikir dia itu siapa? Dasar ********!" umpatnya.


"Haha ... hahaha ...." Aku pun tak bisa menahan tawa melihat ekspresi kesalnya. "Kalau kamu tahu, ya? Sebenernya, lebih sering ada kejadian lucu ketimbang ekstrim kayak tadi, lho! Lagian kalau aku berhenti kerja, aku mau makan apa? Memangnya kamu mau menghidupiku?"


"Tentu saja aku akan menghidupimu. Kamu, kan istriku."


Hah?! Dia bilang apa barusan? Istri katanya?


Ya ampun ... apa-apaan ucapannya itu?


Jelas-jelas pernikahan kami hanya sebuah formalitas saja. Aku tidak suka mendengar ucapannya. Membuatku berharap saja.


***


"Hei ... kenapa kamu nggak bilang kita mau ke sini? Tahu gitu, kan aku ganti baju dulu. Iiih ... malah pakek baju kerja gini," gerutuku, saat kami ada di depan pintu.


"Nggak apa-apa. Kamu kelihatan cantik, kok."


Haiiish! Lagi-lagi memuji seenaknya. Aku benci saat dia membuatku salah paham terus.


"Mau ngapain, sih kita ke sini?" tanyaku.


"Ada sesuatu yang perlu aku ambil."


Sebuah rumah mewah bak dalam drama. Cat putih membungkus bangunan bergaya eropa berlantai dua tersebut. Halaman yang luas dengan banyak tanaman hias. Inilah rumah Ardian. Sungguh putra mahkota keluarga kaya raya. Aku benar menikahi anggota keluarga sultan.


Ardian menekan bel di sisi pintu. Tak lama, seorang wanita yang tak asing bagiku, membuka pintunya.


"Ardian?" Terdengar kata terlontar dari bibir merahnya.


Nadine.


Wanita cantik 30 tahun. Ibu mertuaku ... ibu tiri Ardian ... sekaligus mantan pacar Ardian. Itulah cerita tentangnya yang aku dengar dari Ardian.


"Tumben kamu datang ke sini," kata Nadine.


Tanpa menjawab pertanyaan wanita itu, Ardian terus melangkah memasuki rumah. Tentu saja aku ditinggalkannya bersama wanita ini. Canggung.


"Ini kedua kalinya kita bertemu, ya," katanya.


"Iya. Halo," kataku, dengan sedikit membungkuk untuk memberi hormat.


"Ini sudah jam makan malam. Ajak Ardian makan malam di sini!" katanya, sembari berjalan meninggalkan aku.


Wah! Wanita itu benar-benar sangat cantik. Biar pun dia lebih tua tiga tahun dari Ardian, tapi penampilannya sangat mempesona. Dia anggun dan berkharisma. Pantas saja Ardian bilang aku ini tidak menarik.


Rumah ini besar, sangat besar. Kenapa Ardian memilih tinggal di apartement single room begitu? Apa karena dia merasa tak nyaman karena harus tinggal serumah dengan mantan pacarnya?


Aku mengikuti langkah Nadine yang membawaku ke ruang makan. Ternyata, Ardian pun ada di sana. Dia sedang berdebat dengan seorang lelaki setengah baya.


"Kenapa saham Om Hery di GLORYA bisa sebanding dengan sahamku?" Suara Ardian terdengar sedikit beremosi.


"Kenapa Ayah membiarkannya?!" seru Ardian.


"Jelas-jelas Om Hery punya rencana jahat. Kenapa masih dipsrtahankan juga? Ayah atasannya, kan? Pecat dia, sebelum kantor penerbitan kita benar-benar dibuatnya hancur!"


"Tenanglah! Kita bahas itu besok, di kantor. Aku tak mau berdebat denganmu di depan menantuku," kata lelaki itu, sambil melempar pandang padaku. "Halo, Naya. Senang sekali akhirnya kita bisa bertemu. Namaku Juan Benedict Lim, ayah Ardian."


Aku pun sedikit membungkukkan tubuhku untuk memberinya salam.


Jika dipikir lagi, ini memang pertama kalinya kami bertemu. Hari di mana putranya menikahiku, dia sedang ada di luar negeri dengan segala kesibukannya.


"Ayo, Nay ... kita pulang!" ajak Ardian.


"Tunggu!" cegah Nadine. "Ini sudah waktu makan malam. Makanlah di sini!"


"Nggak usah! Ayo, Nay!"


"Ardian! Duduk!" kata ayah mertuaku.


Terlihat sekali bahwa hubungan Ardian dan ayahnya tak begitu baik. Namun, entah kenapa rasanya sesuatu yang membuat Ardian tunduk padanya.


Coba lihat ini! Aku bergantian melirik mereka bertiga. Aura mereka dingin. Membuatku hipotermia.


Tapi, mereka bertiga terlihat luar biasa. Maksudku adalah wajah mereka.


Ardian, Ayah mertuaku, dan Nadine--ibu mertua tiriku. Ketampanan dan kecantikan yang hakiki membuat iri. Mirip aktor dan artis di drama yang sering aku tonton. Luar biasa.


"Kamu seorang apoteker?" Ayah mertuaku membuka suara.


"Ah ... iya," jawabku.


"Keren sekali," katanya. "Putra sulungku, kakaknya Ardian, dia juga orang kesehatan. Dia seorang dokter."


"Oh, benarkah? Itu hebat sekali,"kataku.


"Kapan-kapan kamu harus bertemu dengannya! Dia seorang dokter yang sangat jenius."


"Tentu. Saya akan nantikan pertemuan itu," jawabku.


Suasana kembali sunyi. Apa-apaan situasi canggung ini? Yang namanya makan malam bersama itu harusnya ramai. Ini malah mencekam begini. Membuatku hilang nafsu makan.


"Aku sudah selesai." Ayah mertuaku itu beranjak dari duduknya. "Kalian lanjutkan saja makannya! Aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Ardian, kita bicara di kantor besok pagi!"


Sekarang tinggal kami bertiga. Semakin dan semakin canggung.


Bergantian aku melirikkan ekor mataku pada Ardian dan Nadine. Mereka serasi sekali. Benar-benar pasangan yang perfect. Aku jadi seperti orang ketiga di antara mereka.


Duh! Begini banget, sih nasibku.


"Kebetulan sekali kamu datang ke sini. Aku sedang masak kesukaanmu. Steak daging sapi," kata Nadine sambil menaruh steak di piring Ardian.


Steak? Kelihatannya seperti daging yang disiram dengan kecap saja. Masih enak juga soto babat buatan ibuku.

__ADS_1


"Apa yang membawamu ke sini?" tanya Nadine.


"Bukan urusanmu," jawab Ardian sambil memasukkan seiris daging steak ke mulutnya.


"Kamu kelihatan kurusan. Apa istrimu tak mengurus makanmu dengan baik?" tanya Nadine.


Ya ampun! Ucapannya hampir membuatku tersedak.


Hellowww! Istrinya ada di sini, woy!


Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depanku.


"Ambillah!" Nadine menaruh seporsi daging lagi di piring Ardian. "Makan yang banyak!"


Ardian tampak melempar pandang ke arah Nadine yang tengah tersenyum manis padanya.


"Makan yang banyak, Sayang!" kata Ardian, sambil meletakkan steak dari Nadine di piringku. "Kamu akan terlihat sangat cantik kalau sedikit lebih berisi."


"Haha ... ha ... haha ...! Ma--makasih!"


Gila!


Ibu mertuaku itu menghujamku dengan tatapan tajam. Sorot matanya mengeluarkan sinar ultra red yang siap melubangi daging di tubuhku. Merinding. Ardian benar-benar mengaajakku untuk bermain drama.


***


"Kamu nggak berpamitan dulu dengan ayahmu? Dia pasti ada di ruang kerja," ucap Nadine saat dia mengantar kami ke depan pintu.


"Nggak perlu. Ayo, Nay!"


"Ardian!" Nadine mencekal tangan Ardian.


"Bisakah kita bicara sebentar?"


"Sepertinya nggak ada yang perlu dibicarakan," kata Ardian, dengan ketus.


"Sebentar saja, Ardian! Please!" Wajah Nadine terliha mengiba.


Sebenarnya, ingin sekali kutarik tangan Ardian dan membawanya segera pergi dari sini. Namun, kurasa air muka Ardian mulai berubah ... mulai melunak.


"Nay, bisa tunggu sebentar?" tanya Ardian, padaku.


"He'em!"


Menyebalkan. Aku kesal sekali melihat si bodoh itu lebih memilih mengikuti ibu tirinya masuk kembali ke dalam rumah dan meninggalkan aku sendirian di depan pintu.


Hah! Rasanya kesal sekali sampai aku terus merutuki diriku sendiri. Kenapa aku mengiyakannya? Kenapa? Kenapa?


Tasa penasaranku benar-benar membuatku bertindak nekat. Aku mengikuti mereka dan diam-diam menguping pembicaraan mereka.


"Katakan! Aku harus segera pergi."


"Ardian, apa kamu serius dengan gadis itu?" tanya Nadine.


"Apa maksudmu?"


"Sampai kapan kamu mau berpura-pura?" kata Nadine. "Aku tahu benar kalau dia bukanlah tipemu. Kamu nggak mungkin sungguh tidur dengannya, kan? Pernikahanmu ini hanya main-main saja, kan?"


"Astaga, kamu menahanku di sini cuma mau menanyakan ini?" Ardian nampak menyeringai kesal. "Memang kenapa jika aku benar tidur dengannya? Memangnya kenapa jika benar aku serius menikahinya? Nggak ada hubungannya denganmu. Kamu nggak berhak bertanya tentang semua itu padaku! Kamu paham?!"


"Bagaimana jika aku akan segera bercerai dari ayahmu?"


"Apa?!" pekik Ardian.


"Bisakah kita mulai dari awal lagi? Bisakah kamu ceraikan juga gadis itu?"


***


"Nay, besok aku mungkin ada rapat sampai malam. Kamu nggak perlu menungguku. Aku bawa kunci sendiri. Nay ... Naya!"


"Hah? Apa?!"


"Ya ampun! Dari tadi kamu nggak dengar ucapanku?" geramnya. "Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu? Kenapa mukamu pucat begitu?"


Kulihat wajah Ardian dengan dalam. Kenapa tiba-tiba muncul rasa sakit saat melihatnya? Padahal biasanya tidak seperti ini.


Pembicaraannya dengan ibu tirinya itu, sungguh sangat menggangguku. Ah, ada apa denganku?


"Nay, ada apa?" tanyanya, dengan wajah khawatir.


"Enggak. Nggak apa-apa," jawabku sambil berusaha menenangkan perasaan.


"Ada sesuatu?" selidiknya. "Kamu terlihat aneh sejak kita pulang tadi."


"Aku ... aku hanya---" Lidahku terasa kelu. "A--Ardian ... apa ... apa kamu ... masih mencintai ibu tirimu?"


"Apa?!"


"Aah ... itu ... aku hanya penasaran saja," kataku, dengan salah tingkah sendiri.


Ardian masih diam dan terus mangamatiku. Aku sendiri semakin bingung bagaimana aku bertingkah di depannya.


Ardian beranjak dari kursi kerjanya. Dia menghampiriku dengan senyum manis di wajahnya.


Ditepuk-tepuknya ujung kepalaku dan berkata.


"Istirahatlah! Kamu terlihat lelah."


"Enggak. Aku nggak lelah," kataku, seraya menarik ujung lengan kaos panjangnya.


Ardian nampak heran menatapku. Dia duduk di atas kasurku sambil terus memperhatikanku.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Ehm ... nggak apa. Hanya---"


"Hanya?" sahut Ardian. "Kamu mendengar pembicaraanku dengan Nadine? Apa itu yang mengganggumu?"


Aku hanya diam tanpa berani menatapnya.


"Naya ... pernikahan kita ini ... kamu nggak menganggapnya serius, 'kan?"

__ADS_1


"Apa?!"


***


__ADS_2