NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 9


__ADS_3

(pov ARDIAN)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


🐳🐳🐳


Dia itu ...


"Sesuatu"


🐳🐳🐳


---------------------------------------------------------------------


"Oke! Dia udah masuk," kata Ardito.


Dari kamera dan alat perekam yang Ardito pasang di tas dan kaca mata Naya, kami bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam rumah Om Hery lewat video yang terkirim ke laptop Ardito.


Inilah kenapa aku memanfaatkan saudara yang sangat tidak kusukai ini. Aku butuh kejeniusannya. Menurutku, dia jauh lebih cocok menjadi seorang hacker dari pada seorang dokter.


-----------------


-------------


"Ini pertama kalinya kita bertemu. Maaf, karena tidak bisa hadir di acara pernikahanmu dan Ardian. Aku terlalu sibuk," kata Om Hery.


"Tidak apa-apa, Pak," jawab Naya.


"Apa yang membawamu kemari?"


Naya nampak menyodorkan selembar kertas ke meja di hadapannya.


"Ehm ... oke," gumam Om Hery, sambil mengamati isi dalam kertas itu. "Jadi, kamulah penulis itu? Bukannya kamu seorang apoteker?"


"Apa seorang apoteker tidak boleh jadi penulis?" tanya Naya, dengan senyum sinisnya.


"Hahaha ... luar biasa!" Om Hery nampak bertepuk tangan. "Kamu sangat berani. Aku suka gayamu."


"Terima kasih," kata Naya.


"Aku setuju dengan isi perjanjian yang diminta Ardian ini. Tapi, aku jadi ingin menambahkan satu point lagi."


"Silakan, Pak!" Naya menyahuti.


"Kamu tahu, aku butuh seorang sekretaris yang handal, pintar, cekatan dan menarik. Seorang sekretaris yang selalu ada di sisiku kapan pun dan di mana pun aku butuh. Apa kamu bersedia menjadi sekretarisku?"


"Apa?!"


"Berapa Ardian membayarmu? Aku bisa membayarmu lebih dari itu," kata Om Hery.


"Aku ingin kamu ikut aku, bekerja sebagai sekretarisku, jika Ardian gagal dalam pertaruhan ini. Tambahkan point itu di surat perjanjiannya, Nona Manis!"


--------------


----------


"Si Hery brengsek itu!" geramku. "Dia benar-benar minta dibunuh rupanya."


"Tunggu, Ardian!" Ardito menarik lenganku yang hendak membuka pintu mobil. "Coba lihat ini!"


Kami kembali fokus pada layar laptop. Kami perhatikan Naya yang beranjak dari duduknya dan menghampiri Om Hery.


----------------


----------


"Hei, Pak Tua!" seru Naya, sambil meraih krah kemeja pamanku itu. "Aku ini seorang apoteker. Aku punya kemampuan untuk merubah obat menjadi sebuah racun yang mematikan. Jika Anda mau, dengan senang hati akan aku buatkan kopi sianida rasa caramel. Hem? Mau coba?"


Wajah Om Hery terlihat gelisah dan mulai melunakkan pandangannya pada Naya. Gadis itu nampak tersenyum puas, penuh kemenangan.


-------------


-------------------


"Haha ... hahaha ..." Meledaklah tawaku dan Ardito, saat melihat nyali Om Hery yang berubah ciut.


"Gilaaaa ...! Habis dia digertak si Naya. Hahaha ...," tawaku.


"Astagaaaa ...! Istrimu itu benar-benar sesuatu, Ardian. Dia sangat anarkis. Hahaha ..." Ardito sampai tertawa keras dibuatnya.


---------------


--------------------


"Sebaiknya, Anda cepat menanda tanganinya sekarang juga!" kata Naya.


Terlihat Om Hery yang menuju ruang kerjanya hendak mengambil stampel.


------------


---------

__ADS_1


"Naya, kamu dengar aku?" Ardito menghubungi Naya lewat mikrofon kecil yang terpasang di telinga Naya.


"Iya. Ada apa?" Naya menyahuti.


"Kamu lihat patung singa di pojok ruangan? Di matanya, pasti ada kamera CCTV. Ambil benda itu!"


"Oke."


----------------


------------


Kami masih mengamati pergerakan Naya. Dia mencoba melepas kamera yang terpasang di mata patung tersebut.


"Apa yang kamu lakukan?!" seru Om Hery, yang tiba-tiba muncul di belakang Naya.


"Haiiish ... sial!" Naya langsung berlari keluar ruangan.


"Penjaga, tangkap gadis itu!" teriak Om Hery.


-----------------


------------


"Ardian, giliranmu!" kata Ardito.


"Oke."


"Masuklah lewat pintu belakang! Aku akan kirimkan lokasi Naya padamu."


------------


Baiklah. Ayo kita mulai permainannya!


-------------


Semua berjalan sesuai rencana. Selama Naya memancing mereka, aku masuk ke ruang kerja Om Hery dan mencari berkas ilegal kantor yang dia miliki.


"Ardian, kamu masih lama?" Ardito menghubungiku lewat mikrofon kecil yang terpasang di telingaku.


"Aku belum menemukan berkasnya."


"Tinggalkan saja! Naya dalam bahaya," kata Ardito. "Ternyata Om Hery punya banyak body guard. Dan mereka sedang mengejar Naya sekarang."


"Apa katamu?!" pekikku. "Di mana posisinya sekarang?"


"Dia ada di kamar paling ujung, sebelah timur. Dia di lantai satu."


-------------


Banyak sekali. Para body guard itu banyak sekali. Jika aku lewat ruang tengah, aku pasti akan tertangkap.


Aku kembali memutar ke jalan belakang. Kurusak pengait jendela kamar tersebut dan masuklah aku ke dalamnya.


"Naya ...!" panggilku.


"Ardian ...!" serunya dengan wajah pucat.


"Ayo!" Aku menarik tangan Naya dan membawanya menuju jendela.


Tapi saat kami hendak melompat, langkah kami langsung tercekat. Segerombolan pria berbaju hitam itu nampak berdiri mencari kami di belakang kamar ini.


Aku melempar pandanganku ke arah pintu. Gedoran dan suara dobrakan kian kencang. Sebentar lagi, pintu itu pasti akan berhasil dibuka.


"Ardian, bagaimana ini?" Naya nampak khawatir.


"Nggak ada jalan lain. Ayo, Nay!"


Dan masuklah kami ke dalam lemari pakaian.


"Cari yang benar! Dia pasti masih ada di sini!" Suara yang terdengar di dalam kamar itu.


"Cari di setiap sudut! Kalau perlu, di lemari juga!"


Haiiish ... sial!


Bisa habis kami kalau tertangkap.


--------------


Aku lirikkan mataku ke pintu lemari yang sedikit terbuka. Terlihat jari seorang pria tengah mengulur hendak membuka pintunya.


"Maaf, Naya!"


"A--apa yang ..."


Aku mendorong tubuh Naya ke sudut lemari dan menindihkan tubuhku padanya. Kubungkus tubuh kami dengan sebuah selimut yang terjuntai di gantungan lemari tersebut.


---------


"Maaf, aku tak bermaksud menyentuhmu. Hanya saja ... situasinya ..."

__ADS_1


"Ah, terserahlah! Pikirkan saja gimana caranya kita keluar dari sini! Duh ... sumpah! Aku sesak nafas, nih! Tubuhmu berat, tahu!" gerutunya.


"Ardito, kamu dengar aku?" Aku menyambungkan alat komunikasiku dengan kakakku itu.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Ardito.


"Cepat lakukan sesuatu, agar kami bisa segera keluar dari sini!" perintahku.


"Bersabar sebentar!" ucap Ardito. "Aku akan meretas sistem keamanan mereka. Kalian mesra-mesraan dulu aja, mumpung ada kesempatan! Hahaha ..."


"Sialan, kamu!" geramku.


Duh ... sumpah!


Situasi macam apa ini?!


Sampai rumah, aku pasti bakalan kena gampar.


----------------


-----------


Sekitar lima belas menit kemudian, kondisi di luar nampak terdengar riuh. Sebuah alarm kebakaran terdengar keras.


"Ardian, keluarlah lewat pintu belakang!" Tiba-tiba terdengar suara Ardito. "Aku sudah merusak alarm kebakaran di lantai dua. Mereka semua pasti akan fokus ke sama. Cepat, keluar sekarang!"


"Oke. Naya, kamu bisa jalan, kan?"


"I--iya."


"Bagus. Ayo pergi!"


-------------------------------


---------------------


"Kalian nggak apa-apa?" tanya Ardito, saat kami sampai di dalam mobil.


Aku bersandar di bangku kemudi. Masih berusaha menenangkan diri dan mengatur alur nafasku yang hampir hilang.


"Naya, kamu nggak apa-apa?" tanya Ardito.


Naya diam. Tak ada jawaban apapun darinya.


Aku melongokkan kepalaku ke bangku belakang. Naya nampak menunduk dan tetap membisu.


"Naya, apa kamu terluka?" tanyaku, khawatir.


"Kamu kenapa? Kita perlu ke rumah sakit?"


"A--aku ... ini ... ini sangat ... seruuuuu ...!"


Oh My God!


Aku dan Ardito terlonjak kaget mendengar teriakannya.


"Ini seru banget. Ini menegangkan, guys. Aku suka banget," katanya, kegirangan. "Kalian tahu? Aku berasa sedang syuting drama bergenre trailer detective. Aku berasa lagi syuting bareng Ji Chang Wook dan Lee Min Ho Oppa. Aku berasa jadi Park Min Young, tahu nggak? Ini keren ... kereeeeeen ...!"


"A--Ardian, tadi ... kepalanya nggak terbentur, kan? Dia ... baik-baik saja, kan?" Ardito menatap Naya dengan penuh keheranan.


"Sudahlah, jangan hiraukan dia!" kataku sambil menghela nafas. "Kadang dia memang sering berhalusinasi karena kebanyakan nonton drama."


----------------------


--------------------------------------


APARTEMENT ARDIAN


23.45 WIB


"Apa kita harus kembali ke sana? Kita gagal mendapatkan berkasnya," kataku.


"Nggak perlu. Sepertinya, kita mendapatkan yang lebih bagus dari pada sebuah berkas," kata Ardito, sambil mengotak-atik laptopnya.


"Lihat ini!"


"Nadine?!"


Aku tersentak kaget, saat sosok Nadine muncul di rekaman CCTV yang berhasil didapatkan Naya.


"Sepertinya, pacarmu itu adalah orang yang harus kita selidiki juga," kata Ardito. "Besok kita bicarakan ini lagi. Ini sudah malam, aku harus pulang."


"Oke. Terima kasih untuk bantuannya hari ini," kataku, sambil mengantar Ardito sampai ke pintu.


"Ardian, apa dia selalu tidur seenaknya begitu?" tanyanya, saat melihat Naya meringkuk di atas sofa.


"Dia mungkin kelelahan," jawabku dengan menahan tawa.


"Dia benar-benar nggak mawas diri," gerutu Ardito. "Bagaimana mungkin dia bisa tidur pulas begitu, sedangkan ada dua lelaki dewasa normal bersamanya? Jika kita punya niat jahat, tamatlah riwayatnya."


"Hahaha ... sudahlah, jangan pedulikan dia!" tawaku. "Kamu nggak takut dikasih kopi caramel beracun?"

__ADS_1


"Hahaha ... dia memang sesuatu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2