
(pov ARDIAN)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
ππΎπ
Sedikit terasa aneh ...
Ketika dia menjadi asing ...
Ketika dia menjadi amat dekat ...
Dan hal itu ... terjadi bersamaan ...
ππΎπ
---------------------------------------------------------------------
04.00 WITA
"Ehm ..."
Aku merasakan nyeri dan kebas pada lengan kananku. Coba aku menariknya, tapi sebuah beban berat terasa menindih.
"Naya?"
Dadaku sedikit berdesir saat kutengokkan kepala ke sisi kananku. Gadis itu tengah tidur pulas dengan kepala yang berbantalkan lenganku.
Hendak kupindahkan kepalanya, tapi kuurungkan. Aku pandangi wajahnya yang terlihat teduh dan damai. Air muka yang tenang saat mata itu terpejam.
Aku terus bertanya-tanya dalam hati, apakah dulu kami pernah sedekat ini? Ataukah ini yang pertama kali?
"Dingin," gumamnya, seraya melingkarkan lengannya di pinggangku.
Apa-apaan ini?
Dia membuatku sedikit meremas dada kiriku. Ada sebuah debaran aneh yang tiba-tiba muncul di luar kendaliku. Kembali kupandangi Naya yang masih tertidur pulas. Rasa gelisah pun semakin menyergapku.
"Naya ... Nayaaaa!" teriakku.
"Hem? Apa?" Mata yang masih sayu itu mulai sedikit terbuka. "Ada apa, Ardian? Aku ngantuk sekali."
"Astaga, singkirkan tanganmu dariku!" kataku, sembari bangkit dari tempat tidur.
"Jam berapa?" tanya Naya, dengan suara yang masih terdengar serak.
"Jam empat. Cepetan bangun!"
"Iya," jawabnya, dengan penuh rasa malas.
------------
-------------------
"Indah sekali!" seru Naya.
"Cantik, kan?"
"Sangat cantik," jawab Naya, dengan mata berbinar-binar.
Tepat pukul 05.30 WITA, aku membawanya ke pantai Sanur. Hamparan mega merah yang mulai menghilang dan digantikan semburan sunrise dari balik gumpalan-gumpalan awan.
"Ambil foto, yuk! Backgroundnya bagus banget," ajak Naya.
"Boleh. Berdiri di sana, aku fotoin!" kataku, sambil mengarahkan kamera ponselku padanya. "Siap, ya? Satu ... dua ... tiga."
"Kimchiiiii!" seru Naya, sambil berpose. "Ambil foto berdua juga, sini!"
Ditariknya aku mendekat padanya. Sebuah cahaya jingga yang mulai berubah kuning menjadi dinding di belakang kami.
"Bagus," kataku, saat melihat hasil foto kami berdua.
"Aku kelihatan aneh di sini, tapi kamu kalihatan ganteng maksimal," gerutunya.
"Hahaha ... apaan, sih?"
---------
"Ini pertama kalinya aku datang ke pulau yang indah ini," ujar Naya.
"Benarkah?"
"He'em."
Di hamparan pasir yang luas itu, kami duduk menatap matahari yang mulai menampakkan sinarnya. Udara yang tadi terasa dingin, kini mulai menghangat.
"Sekarang aku mengerti, kenapa pulau ini disebut pulau romantis," kata Naya.
"Kenapa?"
"Karena bahkan sinar matahari pun begitu menghangatkan hati. Sebuah kehangatan yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang sedang jatuh cinta."
Aku sedikit melirikkan ekor mataku padanya. Sebuah sunggingan senyum nampak di wajahnya yang menguning karena silaunya matahari.
"Terima kasih karena kamu sudah mengajakku ke sini, suamiku," ucapnya.
"I ... iya."
Ah! Dia membuatku sedikit salah tingkah karena kata-kata terakhirnya itu.
Jujur saja, sebenarnya aku mulai penasaran. Sebuah masa lalu seperti apa yang telah aku lupakan tentang dia? Aku sendiri pun tak pernah menanyakan perasaannya. Entah sedih atau biasa saja ketika aku bahkan tak bisa mengingat apa-apa.
__ADS_1
"Ardian, aku punya sesuatu untukmu."
Naya merogoh saku cardigannya dan mengeluarkan sebuah benda yang terbuat dari mutiara hitam kecil yang teruntai rapi.
"Kalau kamu yang pakai jadi terlihat seperti barang mewah," katanya, sambil melingkarkan benda itu di pergelangan tanganku.
"Hahaha ... aku, sih selalu cocok pakai apa saja," jawabku.
"Iih ... sombongnya!" gerutu Naya.
"Eh? Ada tulisannya?" tanyaku, saat melihat sisi dalamnya.
"Iya. Makanya aku membelinya."
"Apa ini?" Aku mencoba membaca ukiran tulisan itu. "ARDIAN SARANGHAE?"
Naya melempar senyum manis padaku. Aku memahami maksud tulisan itu dan itulah sebabnya, hatiku sedikit terasa nyeri.
"Terima kasih," kataku, sembari mengusap ujung kepalanya.
"Kamu suka?"
"Sangat," jawabku.
"Ah! Seandainya Ji Chang Wook Oppa ada di sini, aku pasti juga akan memberikan gelang itu padanya."
"Astaga!" seruku. "Bisa-bisanya kamu memikirkan laki-laki lain saat sedang bersama suamimu."
"Hahaha ... mau bagaimana lagi? Hidup tanpa halu itu, bagai sayur tanpa garam, kurang enak, kurang segar."
"Apa-apaan itu? Hahaha ...! Udah laper nggak? Mau sarapan sekarang?"
"Boleh."
"Kali ini jangan minta nasi pecel lagi, ya! Awas saja, kamu!" ancamku.
"Hahaha ... semanggi Surabaya ada nggak?"
"Mana ada?!" seruku.
"Hahaha ..."
---------------
------------------------
Sekitar pukul 08.30 WITA, kami masuk ke sebuah rumah makan tradisional Bali. Sebuah tempat dengan ornamen kayu dan ukiran lama. Tampak klasik dan begitu tenang.
"Silakan pesanannya." Seorang pelayan resto menata pesanan kami di meja.
"Wah ... sarapan berat, nih!" seru Naya.
Seporsi ayam utuh penuh bumbu, dua piring nasi putih dan dua gelas jus jeruk telah menemani awal pagi kami.
"Ayam bumbu rujak?" terkanya.
"Hahaha ... ini namanya ayam betutu Bali."
"Oh, jadi ini yang namanya ayam betutu? Sering dengar, tapi ini pertama kali lihat dan makan. Enakkah?"
"Cobain!"
Gadis itu mengambil sepotong paha bawah dan menaruh di piringnya.
"Gimana?" tanyaku, penasaran.
"Enak," jawabnya, dengan mulut yang penuh nasi. "Aku suka karena ada pedesnya. Boleh nambah nasi nggak, sih?"
"Ya ampun, maruk banget, sih jadi cewek!"
"Ya, kan sayang," sahutnya. "Ayamnya segede ini tapi nasinya cuma seujung piring doang."
"Udahlah, makan aja! Cerewet amat, sih, kamu," gerutuku.
-------------
-----------------------
"Ardian, kita mampir ke toko baju bentar, ya?"
"Buat apa? Bentar lagi aku ada pertemuan dengan klien."
"Bentar doang! Mau, ya? Mau, ya? Ardian, ayolah!" rengeknya.
"Baiklah ... baiklah, ayo cepetan!"
"Asiiiik."
Kami pun masuk ke sebuah toko baju khas Bali. Seperti kebanyakan yang di jual di sepanjang tempat wisata, semua bernuansa dan bermotif ciri khas pulai Dewata ini.
"Bagus nggak?" Naya menempelkan sebuah dress batik bergambar Baron di tubuhnya.
"Nggak cocok," gelengku.
"Kalau ini?" Ditempelkannya dress bermotif kembang kamboja.
"Bagus, sih. Tapi, kok berasa serem, ya?"
"Yang ini gimana?" Sebuah mini dress berwarna coklat tua dengan sulaman benang berbentuk bunga diperlihatkannya.
"Kayaknya yang ini lebih bagus," komentarku.
__ADS_1
"Oke, aku ambil ini. Ke kasir sana dan bayarin!" pintanya.
"Apa?!" pekikku. "Kok, jadi aku yang disuruh bayar?"
"Mau lari dari tanggung jawab sebagai suami, ya?"
"Haiiish ... dasar!"
Naya nampak cekikikan mengikutiku yang berjalan menuju kasir sambil terus menggerutu.
------------
-------------------------
"Huh ... senengnya! Akhirnya bisa belanja juga."
"Cepetan dikit jalannya, Nay!" seruku. "Setengah jam lagi aku ada pertemuan."
"Iya aku tahu. Ini juga lagi berusaha manjangin langkah kaki," gerutunya.
"Di apotekmu, kan jual obat peninggi badan, konsumsi itu biar tinggi, biar kakimu tambah panjang!"
"Hahaha ... apaan?" tawanya.
"Cepetan dikit!"
Kami berjalan menyusuri jalanan sekitar Sanur untuk menuju hotel.
"Copet ... copeeeeeet!"
"Nay ... Nayaaaaa!"
Gadis itu berlari melewatiku dan mengejar seorang pria yang melesat cepat di depannya.
"Ardian, dia nyopet tasku!" teriak Naya.
"Ah, ada-ada saja!" geramku.
Aksi kejar-kejaran antara aku, Naya dan pencopet itu pun terjadi.
"Hei, berhenti!" teriakku.
Aku mengejarnya sampai memasuki sebuah gang-gang kecil, yang aku sendiri tak tahu di mana.
"Jalan buntu, menyerah saja!" kataku, sambil mengatur nafasku. "Cepat, kembalikan tas itu padaku!"
Pencopet itu berlari ke arahku dan mencoba menerobos kabur.
"Percuma saja mau kabur juga, dasar maling amatiran!" geramku.
"Ketangkap?" Tiba-tiba Naya muncul di belakangku. "Dasar maling nggak tahu diri! ******, kau! ******!"
Naya meraih tasnya dari pencopet itu dan memukul-mukulkannya.
"Hei, bantu dia!"
"Astaga!" seruku. "Nay, ayo pergi dari sini!"
"Hei, tangkap mereka!"
Beberapa pria yang nampaknya teman si pencopet itu tengah mengejar kami.
Ah! Apa-apaan ini?
Padahal aku baru saja sarapan, sekarang malah jadi lapar lagi karena aksi kejar-kejaran tak berguna ini.
"Mereka pasti masih ada di sini. Cepat cari!" Seorang pria memberi perintah.
Gawat! Mereka banyak sekali. Kalau aku nekat kabur, Naya bisa dalam bahaya. Sebaiknya aku tunggu saja sampai mereka pergi.
"Ardian, mereka masih di sana?" tanya Naya.
"Iya."
"Sampai kapan kita sembunyi di sini? Baunya nggak enak. Bau ikan asin," gerutunya.
"Sudahlah, jangan cerewet! Ini, kan gara-gara kamu pake belanja segala," kataku, kesal.
Aku membawanya bersembunyi di sisi sebuah gedung yang nampaknya sebuah rumah makan. Tempat kami bersembunyi memang terlihat seperti lokasi pembuangan limbah restoran, baunya sangat menyengat.
"Hei, sepertinya di ujung sana ada orang!" kata salah seorang dari mereka. "Coba lihat siapa di sana! Kalau itu mereka yang tadi, hajar saja untuk menghapus jejak kita!"
Sialan! Langkah kaki pria itu terdengar semakin mendekat ke arah kami. Mau menerobos mereka pun, tetap masuk ke mulut harimau. Jumlah mereka terlalu banyak.
"Hei, siapa di situ?!" Terdengar teriakan seorang pria yang mendekati kami.
"Naya, maafkan aku!" kataku.
"Apa?"
------
"Ya ampun, dasar anak muda nggak modal. Bisa-bisanya kissing di lokasi seperti ini," gerutu pria yang ada di belakng kami. "Ayo balik! Cuma anak muda yang lagi pacaran dan kissue di tempat jorok seperti ini."
--------------
"Hah, sialan! Dasar orang-orang berandal!" geramku. "Maaf, Naya aku terpaksa melakukannya. Aku nggak bermaksud untuk ..."
"Ti ... tidak. Tidak ... tidak apa-apa," ucapnya, dengan terbata.
"Naya?"
__ADS_1
"Aku ... aku harus kembali ke hotel sekarang. Aku perlu ... aku perlu mendinginkan kepalaku."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=