NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 21


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💓 Meski dalam memorimu ...


Kenangan tentangku terhapuskan ...


Tapi dalam hatimu ...


Masih ada cinta yang terpendam ... 💓


---------------------------------------------------------------------


"Kamu sedang apa malam-malan begini bongkar-bongkar baju?"


Aku urungkan niatku untuk rebahan di atas kasur. Kuhampiri Ardian yang tengah mengeluarkan beberapa baju dari dalam lemari.


"Ardian, ada apa? Kenapa baju-bajunya di keluarkan?" tanyaku, mulai merasa tak tenang.


Suamiku itu masih diam, tak merespon pertanyaanku. Dia beralih pada koper di bawah kasur dan membukanya. Dipindahkannya baju-baju itu ke dalam koper hitam miliknya.


Apa yang terjadi? Mau ke mana dia? Kenapa tiba-tiba memasukkan banyak baju ke dalam koper?


"Ardian, kamu mau ke mana? Kamu mau pergi?" tanyaku.


"Iya," jawabnya.


"Apa? Tapi ... tapi pergi ke mana? Kenapa bawa baju sebanyak ini dan koper besar?"


"Ada sesuatu yang penting," jawabnya, dengan wajah serius.


Sesuatu hal penting yang membuatnya sampai harus pergi dari rumah, hal apa itu kira-kira?


Pikiranku semakin melayang tak karuan. Hatiku mulai bergemuruh tak tenang. Terus berkelebat di benakku bayangan Nadine, ibu mertua tiriku itu. Aku sungguh takut jika ini ada hubungannya dengan wanita itu.


"Tidak, Ardian! Kamu nggak boleh seperti ini!" Aku meraih kopernya.


"Apaan, sih? Aku harus segera berkemas," katanya, dengan wajah kesal.


"Nggak boleh! Pokoknya, kamu harus tetap di rumah, kamu nggak boleh pergi ke mana-mana!" Aku berteriak histeris.


"Kamu ngapain, sih? Jangan gila, deh!" kesalnya.


Sesak sekali rasanya. Aku benar-benar tak terima kalau dia akan kabur dan menemui si Nadine itu.


"Kalau kamu beneran mau kabur dengan Nadine, aku pasti akan melaporkanmu pada polisi," ancamku.


"Apa?"


Gerakan tangan Ardian yang sedang memindagkan baju-baju ke dalam koper itu pun terhenti. Dia menatap dalam padaku dengan air muka yang menggambarkan emosi.


"Sakit, ya, kamu?" ucapnya, sambil menempelkan telapak tangannya di keningku. "Nggak panas, kok."


"Apa?" Aku keheranan melihat tingkahnya. "Kamu ... kamu beneran mau pergi bersama Nadine? Mau kabur bersamanya?"


"Astaga! Apa, sih yang kamu pikirkan?!" serunya. "Aku mau dinas ke luar kota. Ada kerjaan di sana. Nggak ada hubungannya sama Nadine."


"Masa'? Nggak percaya. Kamu pasti berbohong. Kamu mau kawin lari dengannya, kan?" cercahku. "Aku tahu kalau kamu nggak cinta sama aku, tapi nggak gini juga caranya. Aku nggak suka kamu seenaknya bertemu Nadine di belakangku. Bagaimana pun juga kamu harus menghargaiku. Aku ini istrimu."


Linangan air mata mulai meluncur deras di pipiku yang sudah tak berbau make up.


"Hahaha ... hahaha ..." Ardian tertawa terguling-guling di atas kasur sambil terus memegangi perutnya. "Haduh, malam-malam malah ngajakin bercanda kamu ini."


"Aku nggak bercanda, aku serius," kataku, sambil sesenggukan.


"Sini!" Ardian menarikku ke sampingnya. "Aku beneran mau ke luar kota buat kerja dan Nadine nggak ikut. Masih nggak percaya?"


Aku menggeleng dengan menyeka sudut mataku.


"Kalau begitu, apa kamu mau ikut pergi bersamaku?"


"Aku?"


"Iya. Sekalian kita jalan-jalan. Mungkin di sana kamu bakal mendapat inspirasi untuk novel yang akan kamu buat."


"Kamu serius ngajakin aku?"


"Iya. Serius."


---------------------


------------------------------


SANUR BEACH, BALI


"Huwaaaaaaa ... Bali! I'm love it ... love it ... love it." Aku berlari-lari menyusuri sekitaran pantai itu.

__ADS_1


"Senang sekarang?" tanya Ardian.


"Sangat," jawabku, sambil cengar-cengir di depannya. "Kenapa dari awal nggak jujur saja kalau mau kerja ke Bali? Tahu gitu, kan aku nggak perlu berburuk sangka padamu."


"Ya, kamu nyerocos melulu. Kamu nggak kasih aku kesempatan ngomong sama sekali tadi malam."


"Hahaha ... sorry."


"Ayo ke hotel dulu buat taruh barang-barang!"


Pada akhirnya, aku mengikuti Ardian yang ada kerjaan selama tiga hari di pulau romantis ini. Ini kesempatanku untuk kembali mengambil hatinya, mumpung si pengganggu Nadine jauh di sana. Ardian sudah mulai membuka hatinya padaku, aku bisa merasakannya. Aku pun akan berusaha membuatnya kembali jatuh cinta padaku.


--------------


"Kita tidur seranjang, nih? Nggak apa-apa?" tanyaku.


"Iya. Ini fasilitas dari kantor. Dari pada buang-buang uang untuk sewa kamar lagi, kita berbagi sajalah!" katanya.


Ehm ... bagus! Sungguh nikmat Tuhan yang tak pernah aku dustakan. Akhirnya kesempatan seperti ini datang juga.


"Kenapa ketawa-ketiwi begitu?" tanya Ardian. "Kamu mikir mesum, ya? Iiih ... jadi merinding!"


"Enggak, enak saja! Siapa juga yang mikir mesum? Ogah, ya ... sorry!" kilahku.


"Hahaha ... sudahlah, bereskan pakaianmu, setelah itu kita cari makan!"


"Siap."


---------------


-----------------------


Sekitar pukul 10.00 WITA, kami menyewa mobil dan berkeliling di area Sanur. Tengok kanan-kiri untuk mencari rumah makan yang sesuai perut dan lidah kami.


"Kamu mau makan apa, Nay?" tanya Ardian.


"Nasi pecel saja."


"Apa?!" pekik Ardian. "Aduh, yang bener saja! Jauh-jauh ke Bali cuma buat makan nasi pecel doang?"


"Memang kenapa? Aku, sih yang penting enak, suka, nasinya banyak dan murah."


"Hahaha ... iya, deh terserah kamu," kata Ardian, dengan terus cekikikan sendiri.


-----------


"Cobain, deh!" Ardian meletakkan sebuah sate berbalut parutan kelapa di piringku.


"Sate kepal?" tanyaku. "Aku nggak suka."


"Kalau di Jawa namanya sate kepal, tapi ini bukan. Agak mirip, sih. Ini namanya sate lilit. Banyak dagingnya, cobain dulu!"


Aku pernah makan ini. Ibu sering membelinya di pasar. Kepalan kelapanya saja yang besar, tapi dagingnya sedikit.


"Ehm ... enak," gumamku, saat kurasakan satu gigitan. "Beda dengan sate kelapa yang dikepal-kepal itu.


"Kan, aku sudah bilang," sahut Ardian.


"Ardian, habis ini kita jalan-jalan, ya!" ajakku.


"Jam dua aku ada rapat. Kamu pergi sendiri saja!" katanya.


"Begitu," ucapku, kecewa.


"Tapi kamu jangan pulang malam-malam, ya! Di sini berbahaya."


"Iya."


--------------


--------------------------


Ardian yang harus pergi meeting, aku pun jalan-jalan sendiri untuk menghilangkan kebosanan.


Aku berjalan menyusuri jalanan sekitar pantai. Cukup ramai dan banyak turis-turis yang berjalan kaki.


"Berapa?" tanyaku pada penjual aksesoris dari mutiara hitam.


"350.000," jawabnya.


"Wah! Nggak bisa kurang ini?" tanyaku.


"Bisa. Kurangin 5.000!" katanya.


"Ebusyeeet! Kurangin 200.000, aku ambil dua, deh! Kalau nggak boleh, ya udah," kataku.

__ADS_1


"Iya, deh asal ambil dua."


"Sip! Hehehe ..."


Untungnya, tadi aku minta uang ke Ardian, jadi bisa sedikit berbelanja.


"Di lempengannya ini bisa dikasih nama nggak?" tanyaku.


"Bisa. Nambah 10.000."


"Iya, deh," jawabku.


"Dikasih nama apa?"


"Ah, itu ..."


---------------------


----------------------------------


21.30 WIB


"Lho, kok aku muter-muter terus di sini, sih? Perasaan tadi udah lewat, kenapa lewar sini lagi?"


Hatiku mulai tak tenang. Aku berjalan mondar-mandir di tempat yang sama.


Benar kata Ardian, di sini berbahaya. Aku dapati banyak pemuda-pemuda tak jelas duduk di sisi jalan.


Duh! Aku jadi makin merinding. Mau telpon Ardian pun, ponselku mati.


"Ada yang bisa kami bantu, Nona manis? Sepertinya sedang tersesat, ya? Dari tadi nampak mondar-mandir."


Seorang pria dengan anting berjejer di telinganya menghampiriku.


"Ti ... tidak. Terima kasih."


"Tunggu sebentar!" Diraihnya tanganku. "Sudah malam, jangan keluyuran sendiri! Duduk di sini saja temenin kami minum-minum!"


"Lepas!" Aku berusaha menarik tanganku, tapi genggamannya terlalu kuat.


"Ngapain capek-capek melawan, dengan tubuh kecil begitu? Ayolah ke sini! Nggak ada ruginya, kok duduk-duduk doang!"


"Lepas! Aku bilang lepas!"


"Aaaargh!"


Sebuah kaleng soda mendarat ke kening pria yang mencengkeram lenganku itu.


"Sialan! Siapa brengsek yang berani melempar kaleng soda padaku?!" teriak pria itu.


"Aku. Kenapa?"


"Ardian?!" pekikku.


"Nggak cuma kaleng soda, kepalan tanganku pun bisa mendarat di wajahmu yang jelek itu."


"Aaargh!"


Pukulan keras Ardian benar-benar melayang ke wajah pria itu hingga dia tersungkur di jalan.


"Berani sekali orang gila sepertimu menyentuhnya. Benar-benar minta dipatahkan, ya tanganmu ini?" geram Ardian.


"Kenapa kalian diam saja? Keroyok dia!" Seorang pria berseru pada teman-temannya.


"Berani menyentuhku seujung rambut saja, leher teman kalian ini akan kupatahkan!" ancam Ardian.


"Oke, ampun! Aku minta maaf, lepaskan aku!" rintih pria yang ada di kuncian Ardian.


"Dasar, berandal! Pergi sana!"


Berandalan itu benar-benar berlarian dari hadapan kami.


"Astaga, kamu ini!" seru Ardian padaku. "Aku sudah bilang jangan pulang malam! Di sini bahaya. Kenapa malah keluyuran sampai larut begini? Kalau tadi mereka macam-macam padamu gimana? Kalau aku nggak datang tepat waktu gimana, hah?"


"Huwaaaa ... aku takut sekali! Aku sungguh takut." Aku menangis seperti anak kecil di depannya.


"Iiish ... dasar!" gerutunya. "Sudahlah, nggak apa-apa. Yang penting, nggak terjadi apa-apa. Aku khawatir sekali padamu, Naya. Aku benar-benar khawatir setengah mati tadi."


Aku bisa merasakan tangannya yang membelai rambutku. Kemeja putih yang dipakainya pun mulai basah terkena aliran air mataku.


"Ayo kembali ke hotel, sudah malam!" ajaknya.


"He'em."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2