NAYA SARANGHAE

NAYA SARANGHAE
Naya Saranghae Part 41


__ADS_3

🕸 Sebuah rahasia bagai petir yang menyambar dengar gelegar luar biasa 🕸


---------------------------------------------------------------


"Ada apa pagi-pagi ke sini? A--Ardian, ada apa?"


Tak biasanya. Baru saja mentari menyembul dengan sinar yang menerobos dari jendela apartementku, bel pintu berbunyi kasar, seakan ada seseorang yang tengah menimbun amarah terhadapku di luar pintu dan tak sabar menungguku keluar.


Rupanya Ardian. Adikku itu menerobos masuk ke dalam rumah tanpa bicara sepatah kata pun. Wajahnya tampak gusar.


"Ada apa, sih denganmu?"


Lagi-lagi aku tak digubrisnya. Langkah kakinya terhentak keras menuju ruang kerjaku. Jemarinya bergerilya membuka sebuah aplikasi dalam komputer pribadiku.


"Kamu ngapain? Jangan seenaknya membuka file pribadiku!" Aku menarik lengannya dengan kasar.


"Naya menghilang!" bentaknya.


"A--apa?!" pekikku. "Ka--kamu bilang apa?"


"Sejak kemarin sore dia nggak pulang. Nomornya mggak bisa dihubungi. Lacak dia sekarang juga, Ardito! Aku khawatir sekali."


Begitu rupanya. Pantas saja dia tampak khawatir dan tak sabar.


"Sudah hubungi keluarganya? Mungkin dia ke sana? Kalian nggak bertengkar, kan?"


"Nggak ada," jawabnya. "Kami pun nggak ada masalah apa-apa. Sudahlah, lacak saja dia! Aku nggak membuka sesi pertanyaan untukmu."


"Haish! Begitukah caramu minta bantuan? Dasar, makhluk bar-bar!" gerutuku. "Kapan dia mulai menghilang?"


"Kemarin. Harusnya dia kerja, tapi kata Stevia, dia sudah pulang."


Sebuah aplikasi yang aku buat khusus untuk mengintai pergerakan keluargaku. Jam tangan yang aku berikan pada Naya, sudah aku tanam alat pelacak yang akan memberikan signal darurat jika dia ada di suatu tempat yang jauh dari rumah.


"Apa ini?"


"Ada apa?" tanya Ardian ketika melihatku kebingungan.


"Alat pelacaknya dimatikan."


"Apa?! Rusak maksudnya?"


"Bukan," jawabku. "Dari informasi yang masuk ke dataku, orang yang mematikannya adalah Naya sendiri. Coba lihat! Di sini muncul sidik jarinya, kan?" Aku menunjuk pada komputer di depanku. "Apakah mungkin dia sengaja kabur darimu karena sudah nggak tahan hidup bersamamu?"


"Mana mungkin!" seru Ardian. "Cari yang bener! Aku mau kamu menemukan keberadaannya hari ini juga!"

__ADS_1


"Itulah dirimu--selalu seenaknya," geramku.


Mencarinya melalui alat pelacak, rasanya percuma. Aku pun mulai meretas kamere CCTV setiap toko yang ada di sekitar apartement Ardian. Harusnya dia sudah pulang sore itu. Bahkan, aku sendirilah yang mengantarnya pulang.


"Dia naik taksi." Aku menemukan Naya yang gambarnya tertangkap CCTV sebuah mini market. "Coba hubungi perusahaan taksi itu!"


Dengan sigap, Ardian segera menelpon perusahaan alat transportasi berwarna biru itu. Ditanyakannya tujuan taksi dengan nomor plat yang sesuai pada rekaman kanera pengintai pada hari dan tanggal kejadian.


"Oke. Terima kasih." Ardian menutup telponnya.


"Bagaimana?" tanyaku.


"Rumah Utama Keluarga Benedict Lim."


"Rumah kakek?!" pekikku yang diikuti anggukan kepala Ardian. "Gadis itu benar-benar nekat."


"Kita ke sana sekarang!"


***


Kasar, Ardian mengemudikan mobilnya. Lampu merah ditrabasnya, hampir kami teindas kontainer.


Sudah barang wajar dia khawatir pada Naya. Ayah dan kakek adalah tersangka utama kasus di Coffe Mix hari itu. Seandainya sekarang adikku ini tahu kebenaran yang aku dengar dari Nadine, juga soal kakek yang punya niat jahat padanya, entah seberapa edan dia nanti. Sepertinya mulutku ini harus tetap bungkam untuk sementara. Semoga saja Naya baik-baik saja di sana.


***


Albert Benedict Lim--lelaki tua dengan kekuasaan yang luar biasa.


"Silakan masuk, Tuan!"


Terhentak keras langkah kaki Ardian memasuki ruang kerja kakek.


"Kejutan. Senang rasanya dikunjungi cucu-cucuku tersayang." Dengan senyum menyeringai, Kakek memutar kursi kerjanya. "Ada perlu apa?"


"Di mana Naya?" sergah Ardian.


"Naya?" Kakek balik bertanya. "Istrimu? Kenapa mencari istrimu ke sini?"


"Jangan berbelit-belit!"


Ardian menggebrak meja tetua keluarga Benedict Lim itu. Kakek hanya menyeringai menanggapi emosi cucunya tersebut.


"Pergilah! Tak ada gunanya kalian datang ke sini!"


"Kakek!" seru Ardian. "Dia jelas-jelas datang ke rumah ini dan belum pulang sampai sekarang. Jadi katakan, di mana istriku sekarang?"

__ADS_1


"Hahaha ... kamu bicara seakan kakekmu ini telah menculiknya. Keterlaluan sekali. Ardito, bawa adikmu pergi dari sini!"


"Aku nggak percaya perkataan Kakek. Aku akan mencarinya. Naya! Nayaaaa!"


Sudah bisa ditebak dengan jelas, begitulah Ardian. Dia akan tersulut emosi dan menggeledah isi rumah besar ini. Kakek pun tampak menyeringai melihat Ardian meninggalkan ruangannya yang entah ke sudut ruangan mana dia akan mencari Naya.


"Jadi, ada yang ingin kamu katakan, Ardito? Mumpung Ardian tidak ada, bicaralah!"


Aku suka bicara ataupun berdebat dengan orang jenius, tapi aku tak suka berdebar dengannya. Beliau terlalu susah dikendalikan. Isi kepalanya benar-benar sulit untuk dibaca.


"To the point saja, Kakek karena aku tak suka bertele-tele! Chatarina Benedict Lim. Siapa dia?"


Sikapnya yang sedari tadi terkesan lugas dan santai, mendadak serius menatapku.


"Apa yang sudah kamu dapatkan, Ardito?"


Aku menyeringai seraya menduduki kursi di depannya.


"Akulah yang bertanya dan Kakeklah yang harus menjawabnya!" Aku melipat tanganku di atas meja kerjanya. "Apa hubungan wanita itu dengan keluarga ini? Apa hubungan wanita itu dengan ayah? Ah, biar aku rubah pertanyaannya. Apa wanita itu adalah istri pertama ayah? Apakah Kakek juga tahu bahwa Nadine adalah putri mereka dan sekarang Nadine dan ayah berpura-pura menjadi pasangan suami-istri untuk membongkar niat busuk Kakek pada Ardian?"


"Ardito!"


Pria terhormat nan dikagumi banyak petinggi ini berteriak kepadaku. Matanya tajam menghujamku. Mungkin aku tak bisa keluar hidup-hidup dan terkubur selamanya di puri megah ini.


"Siapa yang sudah meracuni otakmu sampai berpikiran gila begitu?"


"Aku sudah dapat buktinya, Kakek. Berhentilah bermain drama! Nadine sudah mengatakan semuanya kepadaku. Bahkan rekaman Kakek yang berada di Coffe Mix pada saat kejadian penyerangan Ardian pun ... ada padaku."


"Nadine?! Wanita itu?! Hahaha ... benar-benar luar biasa!" Untaian seringainya terasa mengganggu telingaku. "Ardito, biar aku katakan satu kebenaran padamu. Juan Benedict Lim ... dia bukan ayah kandungmu."


"Apa?!"


Kakek berjalan ke rak buku di belakangnya dan mengambil sebuah album foto lama.


"Coba lihat!"


Album foto itu dilemparkannya padaku. Sebuah foto pernikahan ayah dan seorang wanita. Yang jelas, itu bukan ibu. Aku mendongak menatap kakek untuk meminta penjelasa, tapi beliau menggerakkan dagu sebagai isyarat untukku agar membalik ke halaman berikutnya.


"Si--siapa ini?"


Sebuah foto keluarga. Ada ibu, aku yang berusia sekitar dua atau tiga tahun, bayi Ardian yang ada digendongan ibu, juga seorang pria yang begitu mirip ... denganku.


"Apa-apaan ini?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2