NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
KABUR


__ADS_3

Diana tidak berani membuka kamar Fani. Padahal tadi di depan tetangganya dia sudah berkoar-koar, memberi mereka petuah untuk sabar menghadapi orang yang depresi, tapi apa sekarang.


Tapi baguslah kalau begitu, paling tidak dia tidak begitu kejam pada Fani, ada cara untuk melawan mertua durhaka tersebut.


"Eh berhasil juga ideku, ternyata nenek sihir itu takut juga dengan orang gila, oke aku akan teruskan akting ini saja, paling tidak luka-luka ku akan segera sembuh kalau tidak di tambah lagi.


Fani menikmati waktu santainya tersebut sebelum Ryan pulang dan ada drama baru lagi. Fani mengambil mode tidur sembarangan, supaya kalau dia benar-benar ketiduran, maka mereka tidak akan curiga.


Fani memeluk bantalnya, dan tidur tanpa bantal, untuk akting selanjutnya. Fani benar ketiduran, dia bahkan tertidur sangat nyenyak.


Kira-kira satu jam Fani tidur, Ryan baru pulang dari kantor, Bu Diana sudah menunggunya dari tadi di teras rumah.


Begitu Ryan Sampai di rumah, Diana langsung menarik tangan putra lalu menceritakan semuanya, mulai dari Raffi yang datang ke rumah mencari Fani, sampai sikap Fani yang berubah drastis.


" Dia bicara sendiri, dan tidak merespon pembicaraan ibu, bagaimana ini Ryan? apa sudah konslet otaknya?" Diana meminta pendapat Ryan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.


Ryan menaruh tasnya di meja lalu mengikuti ibunya ke kamar belakang tempat Fani sekarang berada.


Mereka membuka kamar Fani dan melihat gadis malang itu tidur di pojok kasur, memeluk bantalnya, dengan posisi yang tidak wajar, Kamar juga sangat berantakan.


"Lihatlah! Baru beberapa hari juga dia disini tapi kok aneh begini, padahal sebelum mama kurung di sini dia masih baik -baik saja cuma tidak mau bicara sama sekali." Diana menjelaskan apa yang terjadi pada pagi hari ini.


Fani memang tak mau bicara padanya, diajak bicara hanya diam cuma mengangguk saja.


"Maksud mama?" tanya Ryan, pemuda itu merasa heran dengan apa yang di jelaskan.

__ADS_1


"Iya tidak seru sama sekali, Fani cuma diam dan tidak membantah sama sekali, terkadang mama lihat dia malah bicara sendiri dengan sapu," jawab Diana.


Ryan mendekati Fani yang masih tidur memeluk bantalnya. Ryan mulai mengguncang tubuh Fani untuk membangunkan gadis itu.


"Fan, Fani bangun!" pinta Ryan.


Fani mengerjapkan matanya, dia melihat Ryan yang berjongkok di depannya. Tiba-tiba Fani bangun dari tempatnya dan memeluk Ryan dengan erat.


"Papa, papa kemana hiks hiks. Fani takut pa, disini ada hantu, ada penjahat hiks -hiks papa bilang akan mengajak Fani jalan- jalan ayo pa!" Fani meracau mengira Ryan adalah papanya.


"Aku bukan papa, aku Ryan," jawab Ryan. Fani langsung melepaskan pelukan itu dan dia memalingkan pandangannya serta mengubah posisinya menjadi ke arah tembok.


"Papa jahat, papa sudah tidak memperhatikan aku lagi, sana papa perhatikan saja pekerjaan papa, huuu..." Fani menangis memeluk lututnya dan masih menghadap ke tembok.


"Kita keluar saja dulu bu, mungkin dia kangen ayahnya. Biarkan saja dia sendiri besok juga akan membaik." Ryan pamit keluar.


Ryan menoleh ke arah Diana. "Bu, sebaiknya ibu ambilkan saja beberapa makanan, Ryan akan bereskan tempat ini, lihat sudah seperti tempat sampah!" pinta Ryan.


Diana hanya menurut saja, dia pergi ke dapur untuk membawakan Fani makan sementara Ryan menyapu dan membereskan kekacauan yang Fani buat.


"Maafkan aku, bukan maksudku membuatmu seperti ini Fan, kalau kau bukan anak Raffi hartawan mungkin aku akan jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, seperti ketika aku melihatmu di bandara waktu itu, kau adalah gadis periang dan imut, maafkan aku." Ryan mengelus kepala Fani dengan lembut lalu dia menyelesaikan tugasnya.


Fani hanya diam seribu bahasa, dia tidak boleh lemah dan lengah, dia akan mempertahankan rencananya dan segera kabur dari rumah derita ini.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Sore berubah menjadi malam, malam beralih menjadi pagi. Setelah mengantarkan makanan itu Diana tidak datang lagi ke kamar Fani.


Pagi ini barulah Diana datang ke kamar tersebut, dia membawa sapu dan kain pel.


"Fani sayang, Fani mau tidak kita nanti jalan -jalan ke kebun binatang?" Diana merayu Fani supaya bekerja dan akan diajak ke kebun binatang.


Dalam hati, Fani merasa sangat geli mendengar bualan Diana, tapi Fani hanya diam dan dia mengambil sapu tersebut, memegangnya cukup lama barulah Diana menunjukkan apa tugasnya hari ini.


Diana menuntun Fani keluar kamar, menunjukkan mana saja ruangan yang harus dia sapu dan pel. Lagi-lagi Fani tidak menjawab, dia langsung mengerjakan apa yang di perintahkan Diana, bahkan dia bermain main dengan sapunya, persis seperti anak kecil yang menyapu, tidak bersih.


Diana harus mengulang kembali apa yang Fani kerjakan, tidak lupa dia menjewer telinga Fani dengan kesal, bukannya bersih malah kotor lagi. Mengepel juga begitu,Fany Membuat genangan air lalu bermain-menggunakan perlengkapan mengepel tersebut.


Kesabaran Diana telah habis, dia mengguyur tubuh Fani dengan ar yang masih di ember itu , lalu memukulnya dengan gagang pel. Fani hanya diam dan diam, dia seakan sudah kenal dengan semua itu.


Ketika Fani fi minta menyapu halaman, Fani mencoba lagi aksinya untuk kabur. Fani mengambil sebuah tangga dia letakkan di tembok samping rumah. " Aku harus bisa kabur dari ini hari ini juga.


Di dalam Rumah, Diana merasa was-was membiarkan Fani sendiri di luar meskipun gerbang sudah di kunci rapat.


Diana keluar rumah, dia melihat Fani menata sebuah tangga di tembok pagar rumahnya. "Sial hampir saja aku kecolongan," batin Diana.


Wanita paruh baya itu keluar rumah Dengan membawa sebuah tali dan kayu. Diana akan menunggu Fani dari luar tembok, lalu menangkap dia dia disana.


Sementara Fani yang berada di balik tembok tersebut tersenyum lega, dia mulai memanjat satu persatu anak tangga itu, memperhatikan sekeliling tempat untuk dia mendarat. Di sana dia akan melompat ke rerumputan tersebut, meski lumayan tinggi, tapi tempat mendaratnya adalah tempat yang nyaman.


Fani langsung melompat dan mendarat dengan sempurna, tapi sungguh malang nasibnya, sebuah tangan besar memegang bahunya. Fani menoleh dan kaget melihat Bu Diana yang sudah ada di sana dengan senyum misteriusnya, Fani hanya bisa memejamkan matanya dan menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


Bu Diana tiba- tiba berteriak minta tolong kepada warga.


"Tolong- tolooong... " Suara Bu Diana yang keras, mengundang beberapa warga datang menghampiri dia dan Fani, yang masih duduk di bawahnya.


__ADS_2