
Budi melihat Ryan berjalan mendekat dengan langkah lesu, dia sangat kesal, dan mengepalkan tangannya dengan erat, begitu Ryan sampai, pria paruh baya itu langsung melayangkan bogem nya pada Ryan.
bug
bug
"Pembunuh, bajingan kau Ryan," Budi terhubung setelah memukul Pemuda tampan satu ini.
" Kenapa pak, apa yang terjadi?" tanya Ryan, dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan kerasa Budi.
" Puas kamu, kau Sudah membuat keluargaku hancur, seorang anak kehilangan ayah yang di cintanya bahkan mereka belum sempat bertemu Ryan, Selamat dendam mu sudah berhasil, katakan pada ibu gila mu itu untuk membuat pesta yang besar untuk kemenangannya. Kau bersiaplah untuk menyesal seumur hidupmu kalau kau tahu sebuah kenyataan ini!" Muka Budi merah menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun.
" Maksud pak Budi, tuan Raffi meninggal?" tanya Ryan, dia tidak tahu kabar ini.
Budi meraih kerah kemeja Ryan. Dokter yang keluar dari ruang ICU tersebut segera melerai mereka. "Cukup! ini rumah sakit bukan sarana untuk adu jotos atau tinju, kasihan tuan Raffi. Tolong di urus proses pemakaman untuk beliau!" Dokter ICU menjadi geram dengan ulah kedua pria tersebut.
" Baik dokter," jawab Budi.
Dokter pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kalau Anda tidak mau menyesal terlalu dalam nantinya, bantu saya mengurus jenazah tuan Raffi dan tolong bawa nona Fani kemari! paling tidak biarkan Nona Fani melihat wajah ayahnya untuk yang terakhir kalinya, jangan menjadi orang yang tidak berperikemanusiaan tuan." Budi meminta supaya Fani dibawa ke RS ini.
"Maaf Pak Budi, Fani juga ada disini, dia mencoba untuk bunuh diri," jawab Ryan.
Bug
kembali Budi memukul Ryan, dia sangat geram dengan pemuda di depannya itu.
" Setelah pemakaman Tuan Raffi aku akan tunjukkan semua bukti dan ceritakan sebuah kenyataan tentang kecelakaan ayahmu supir taksi yang bernama sahir tersebut, aku juga ikut mengantarkan Tuan Raffi dan beliau." Setelah mengatakan semua itu Budi pergi menuju ruang administrasi, untuk segera memproses pemulangan jenazah.
__ADS_1
"Pak, apakah bisa semua proses persiapan pemakaian dilaksanakan di rumah sakit? beliau tidak punya tempat tinggal dan keluarga, dan saya akan mengurus tanah pemakaman beliau." Budi mengajukan permohonan pada pihak RS untuk mengurus semuanya.
Ryan juga menyusul Budi dan akan membantu semua prosesnya, paling tidak untuk memberi penghormatan terakhir pada mertuanya tersebut, Raffi adalah orang yang mengangkat hidup Ryan dengan menjadikan Ryan asisten pribadinya.
Petugas Rumah sakit menyetujui permohonan Budi dan seorang pria paruh baya ini, segera menghubungi pihak pemakaman, dulu Tuan Raffi sudah memesan tempat untuknya berpulang.
Fani di kamarnya, mencoba untuk keluar dari kamar, perasaannya sungguh tak enak, dadanya berdetak lebih kencang dari biasanya, Fani menguatkan dirinya untuk bangun.
Dengan perlahan Fani berjalan keluar, memutar handel pintu ruang inapnya. Di luar nampak lumayan rame tak jauh dari tempat dia berdiri beberapa orang mendorong sebuah peti mati, dan yang membuat Fani penasaran, di belakang orang-orang tersebut ada Ryan dan pak Budi juga berlarian mengikuti beberapa petugas tersebut.
Dada Fani semakin sesak, siapakah gerangan orang itu. "Papa, tidak mungkin itu papa." Fani bermonolog sendiri, karena kemaren Ryan mengatakan kalau ayahnya mengalami serangan jantung.
Fani berteriak memanggil nama papanya, maupun Ryan, tapi tak seorangpun mendengarnya."Papaa, Ryaan..." Fani terus berteriak, tapi orang itu terus menjauh dari dirinya.
Seorang dokter mendekati Fani yang nampak sedih dan kesulitan untuk berjalan."Nona ada apa? Ada yang perlu di bantu?" tanya suster tersebut.
"Siapa yang meninggal itu sus, mereka baru saja keluar kesana." Tunjuk Fani ke arah luar.
Fani langsung ambruk ke tanah, tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang, satu-satunya keluarga yang dia miliki telah meninggalkannya.
"Tidak, papaku tidak mungkin meninggal secepat itu, Ryan semua ini gara-gara kamu, kau akan mendapatkan balasan dariku Ryan huhuuu." Fani menangis sesenggukan, tak peduli dengan infus yang di bawanya jatuh atau apa. Hari ini hatinya hancur semua terasa gelap dan hampa. Selama ini dia bertahan demi ayahnya tapi malah sekarang Raffi sudah meninggalkannya..
Suster membantu Fani bangun, di bantu seorang suster lainnya yang kebetulan lewat, mereka membawa kembali Fani ke ruangannya.
"Sus boleh saya minta tolong!" pinta Fani.
"Iya nona, apa yang bisa saya bantu?" tanya suster.
"Tolong bawa saya ke tempat dokter Ibrahim, atau panggilkan Dokter Ibrahim kemari, dia dokter yang menangani saya saat ini." Fani meminta suster itu untuk mempertemukannya dengan Dokter Ibrahim.
__ADS_1
"Baik nona, say akan panggilkan Dokter Ibra, supaya beliau datang kesini saja, keadaan anda masih lemah, sedangkan ruangan beliau lumayan cukup jauh dari sini." Suster setuju dengan permintaan Fani. Suster tersebut keluar dan langsung menuju ruangan Dokter Ibrahim.
Kebetulan saat itu Dokter Ibra juga akan mengunjungi Fani, memeriksa keadaannya, untuk prosedur aborsi yang akan dia lakukan beberapa jam lagi.
"Dok kebetulan dokter ada di sini, saya baru dari kamar nona Fani, beliau meminta saya untuk memanggilkan dokter Ibra, pasien baru saja keluar dari kamarnya dan melihat ayahnya di bawa keluar dengan peti jenazah." Suster memberi keterangan singkat.
Dokter Ibra mengerutkan keningnya, siapa yang meninggal barusan. "Meninggal, ayahnya? Siapa itu sus?" tanya Dokter Ibra penasaran.
"Itu, tuan Raffi Hartawan, Dok," jawab suster.
"Jadi nona Fani itu putri dari pengusaha itu, kenapa di bisa depresi berat ya." Dokter Ibra semakin penasaran dengan kasus yang dialami pasiennya ini. Mereka segera menuju ke ruangan Fani.
Dokter Ibrahim mendekati Fani yang duduk bersandar ranjangnya, wajahnya nampak pucat.
"Selamat siang nona Fani!" sapa Dokter Ibra.
"Selamat siang dok, maaf sudah mengganggu waktu dokter, saya cuma ingin dokter menolong saya!" pinta Fani.
"Tentu saja Nona, Anda adalah pasien saya, apa yang di keluhkan hem, ada yang terasa tidak enak?" tanya DR Ibra.
"Iya Dok, dada saya terasa sesak, hati saya juga dok, hari ini ada dua kabar, ah enggak tapi tiga kabar dok, tiga kabar yang sangat mengejutkan," ucap Fani.
" Apa itu nona?" Dengan sabar dokter Ibra mendengarkan keluh kesah yang akan Fani sampaikan.
"Pertama mendengar berita tentang kehamilan saya, dokter. Yang kedua suami saya tidak menginginkan anak ini, Dokter." Fani men jeda ucapannya sebentar.
Dokter Ibrahim merasakan ada sesuatu yang salah, tadi dia mendengar dari Versi Ryan, suami Fani dan apa yang di katakan Fani saat ini berbeda dengan pernyataan Ryan.
" Apakah anda tahu kalau anda hamil? dan bagaimana anda tahu kalau suami anda tidak menginginkan anak kalian?" tanya Dr Ibra.
__ADS_1
"Saya akan cerita semuanya, tapi tolong bantu saya untuk keluar dari sini dok," kata Fani.
Dokter Ibra mengambil tempat duduk dan berjanji akan mendengar cerita Fani.