
Di rumah Bu Diana, perempuan paruh baya tersebut sedang menyiapkan sebuah syukuran, dia ingin merayakan kemenangannya. "Raffi Hartawan. ternyata begitu cetek nyalimu, begitu saja kau sudah koid, kamu pikir uang satu milyar itu cukup untuk menghidupi kehidupan kami yang serba pas-pasan itu." Diana tyersenyum miring mendengar kematian Raffi.
Bu Diana menata semuanya di meja makan, lalu dia meraih ponselnya dan menghubungi Ryan anaknya. Panggilan darinya tidak di hiraukan oleh Ryan. Dia masih asyik dengan tangisnya.
Bu Diana akhirnya mengirim sebuah pesan untuk Ryan. Yang isinya
{Ryan kamu ada dimana, Nak? Cepat pulang ada sesuatu yang lebih penting darpada pemakaman si pembunuh itu}
Kira- kira seperti itu isi pesan dari Diana pada putra semata wayangnya.
Ryan memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya, dia juga ingin tahu alasan ibunya sudah membohongi dia selama ini, bahkan menciptakan sebuah dendam yang salah, sampai akhirnya merenggut nyawa mertuanya
Ryan memarkir mobilnya sembarangan, dan menemui ibunya yang bersiul- siul seperti anak muda saja, menyiapkan berbagai menu makanan dan kue yang lezat
"Ryan, kau sudah pulang, Nak?" Diana mendekati Ryan dan menuntuntunnya masuk. Ryan masih mengikuti kemana langkah kaki ibunya tersebut. Pemuda ini berjalan dengan gontai, tak seperti biasanya yang selalu enerjik.
"Sayang, lihat ibu sudah siapkan semuanya untuk acara syukuran kita, akhirnya semuanya sudah berakhir dan sekarang kau ceraikan perempuan tak berguna itu dan menikahlah dengan putri kepala desa!" Diana mengoceh panjang lebar.
"Apa yang sebenarnya Ibu inginkan?" tanya Ryan.
"Apa maksudmu, tentu saja ibu ingin kita hidup bahagia setelah ini, orang itu sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya selama ini," jawab Ryan.
"Perbuatan apa, Bu? Katakan pada Ryan! Kenapa selama ini Ibu mengarang cerita palsu tentang kematian ayah, ha!" Ryan sudah mulai emosi. Bahkan ini yang pertama kali dia lakukan pada ibunya selama ini, Ryan selalu hormat dan patuh pada ibunya.
"'Cerita palsu bagaimana maksud kamu, Nak?" tanya Diana yang masih bingung dengan pertanyaan putranya tersebut.
__ADS_1
"Cerita tentang kematian Ayah, Bu, katakan yang sejujurnya apa yang terjadi saat Ayah meninggal, Bu!" Ryan menaikkan kembali suaranya.
"Ayahmu meninggal karena ulah orang kaya sombong tersebut, bahkan dia tak mau bertanggung jawab sama sekali, meninggalkkan Ayahmu begitu saja di jalan." Diana menjawab pertanyaan Ryan dengan nada tinggi juga.
"Kenapa ibu berbohong? Kenapa, Bu? Darimana ibu tahu kalau ayah meninggal karena tabrak lari? dan darrimana ibu tahu kalau pelakuknya adalah papa Raffi?" Ryan memegang pundak ibunya, suaranya makin melemah.
"Darimana, Bu...?"
"I- itu, polisi yang bilang, me-mereka yang mengatakan semuanya pada ibu," jawab Diana.
Ryan semakin geram pada ibunya yang masih menyembunyikan kebenaran yang ada, Ryan mengambil sebuah map yang tadi dia bawa lalu melemparkannya di depan ibunya.
"Lalu ini apa, Bu?" Tangan Diana mulai gemetar melihat map yang ada di depannya itu, dia mulai membuka isinya, disana di buktikan kalau kecelakaan yang di alami suaminya Sahir adalah murni kesalahan supir taksi tersebut, bahkan menyebabkan sebuah kecelakaan yang berakibat fatal.
"Jelaskan apan itu, Bu!" pinta Ryan.
perempuan paruh baya tersebut ikut naik pitam, dan tidak mau di salahkan.
" Itu sudah takdir kita, bu. Kenapa ibu menyalahkan orang lain yang tidak tahu apa-apa, bahkan menanamkan dendam pada diriku, bu." Ryan Kembali berontak.
Pemuda tersebut memukul meja makan yang sudah tersaji berbagai menu makanan. "Arghhh...." Ryan berteriak sekuat tenaganya, mungkin di depannya itu kalau bukan ubu kandungnya sudah habis dia.
"Kau menjadikan aku monster bu, iblis tidak punya perasaan, bahkan dengan tanganku sendiri aku akan membunuh anakku, bu." Ryan mau menamgis tapi air matanya seakan membeku, tak mau keluar.
Diana bengong, dia kaget mendengar dirinya akan memiliki cucu dari anak musuhnya.
__ADS_1
"A-anak. Anak siapa? Jangan bilang Fani hamil. Ini tidak boleh terjadi." Diana tidak terima.
"Memangnya kenapa kalau aku punya anak? dia istriku, dan kami sudah melaukan itu tidak hanya satu kali." Ryan menjawab dengan geram.
"Tidak, kau harus lenyapkan juga bayi itu! ibu tidak mau punya keturunan dari pembunuh." Diana memegang bahu Ryan dengan erat, matanya memerah.
"Iya, bahkan anakmu inlah yang pantas di sebut pembunuh, Anakmu ini sudah membunuh orang yang sudah membawa Ryan sampai di titik ini, Anakmu ini adalah orang yang tak tahu diri, tak tahu terima kasih, bahkan bisa di katakan dajjal, ibu." Ryan masih terus emosi, kekesalannya sudah berasa di ubu -ubun.
Akan tetapi Diana masih kekeh dengan pendiriannya. " Jangan kau sebut aku ibumu, jika kau masih mempertahankan anak itu, Ryan. Lebih baik ceraiakan Fani dan menikahlah dengan bunga putri kepala desa ini." Diana malah meminta putranya untuk menceraikan Fani.
Ryan yang sudah geram dan emosi. Dia mulai menggila, tangan Ryan meraih taplak meja itu lalu menariknya dengan keras sehingga semua makanan yang tersaji disana jatuh berserakan di lantai.
"Terserah apa mau ibu, dan sekarang Ryan akan mencari istri dan anak Ryan , meskiun tanpa persetujuan ibu." Ryan keluar dari rumah ibunya tersebut dan pergi tanpa mendengarkan lagi ocehan wanita yang suddah melahirkannya tersebut.
kalau Ryan masih disana terus , bisa-bisa dia khilaf.
Ryan menghubungi teman-temannya untuk membantunya mencari Fani. Mereka semua mengerahkan kemamouan masing-masing untuk memcari identitas istri Ryan.
Merka mencari baik ke terminal, stasiun, bandara bahkan pelabuhan, tapi tak satupun data Fani di temukan , atau ciri-ciri wanita yang mirip dengan istri bos meraka.
Ya jelas saja, mereka tidak akan menemukan data Fani, lha wong sekarang masih berada di kediaman Dokter Ibra.
Najwa akan mengijinkan Fani berangkat ke Singapura setelah Fani benar-benar sehat dan keadaan sudah agak tenang. Rencananya Fani akan berangkat ke Singapura berbarengan dengan misi yang di jalankan perusahaan It tempat Najwa bekerja, dan dia akan memakai identitas Najwa, istri Dokter Ibra. Dan kebetulan juga mereka akan berangkat denga jet pribadi, jadi data Fani akan aman.
Sudah tiga hari Ryan mencari Fani seperti orang gila. Pak Budi pun demikian, bagaimana kalau dia gagal menemukan putri majikannya tersebut, maka dia akan menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maaf bos, kami tidak bisa melacak leberadaan istri bos, sepertinya beliau masih berada di dalam kota ini, melihat dari semua data, baik manual maupun lewat dunia teknologi, tidak ada tanda-tanda beliau melakukan perjalan jauh." Ramon asisten Ryan melaporkan semua penyelidikan mereka.