
Suster dan Asisten Dokter Ibrahim segera menyiapkan kursi roda dan kendaraan Untuk Fani, Suster Mila juga membantu Fani untuk mencuci muka dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih bagus, tadi Dr Ibra sempat meminta Membelikan Fani pakaian yang lebih layak dari yang sekarang dia pakai.
" Trimakasih Dokter, kebaikan Dokter tidak akan pernah Fani lupakan," ucap Fani. Dia berterimakasih kasih dengan tulus pada dokter yang sudah membantunya ini.
" Sudah, ini adalah kewajiban saya, kamu jangan sungkan, istriku bahkan sudah tidak sabar menantikan kamu di rumah. Tadi sewaktu saya menghubungi dia, orangnya langsung pulang dari tempat kerjanya." Dokter Ibra menenangkan hati Fani.
Dokter Senior tersebut mendorong kursi roda Fani diikuti Asisten dokter tesebut, mereka melewati jalan samping supaya tidak banyak orang melihat mereka, sekaligus menghindari berbagai pertanyaan sesama dokter.
Asiaten itu segera membantu Fani masuk ke dalam mobil Alphard hitam milik Dr Ibra. Dokter Ibra meminta asistennya mengantarkan Fani kerumahnya dengan selamat dan tanpa ada kekurangan suatu apapun.
Kenapa bukan dokter Ibra sendiri yang mengantarkan Fani pulang? Dia tidak mau ada yang curiga kalau dirinya terlibat dalam pelarian Fani. Mereka membuat seolah-olah Fani kabur dengan sendirinya tanpa campur tangan orang dalam, sehingga nanti jika Suami Fani datang, mereka tinggal memberikan alasan yang tepat.
Asisten tersebut dengan tenang mengendarai mobil mewah tersebut. "Nona baik-baik saja kan?" Tanya Asisten.
" Baik Pak, cuma saya memikirkan Ayah saya, bahkan saya tidak bisa melihat dia untuk yang terakhir kalinya," jawab Fani, dia menyandarkan tubuhnya sambil membayangkan masa-masa bersama Sang Ayah.
" Belum sempat saya berbakti pada beliau, tapi Tuhan sudah memanggilnya," imbuh Fani.
" Itu berarti Tuhan sayang dengan Ayah Anda, Nona. Doakan saja yang terbaik untuk beliau, ikhlaskan beliau supaya jalannya tenang." Asisten dokter tersebut meminta Fani untuk ikhlas.
Fani mengangguk paham, semua sudah terjadi dan ini sudah jalan dari Allah. Hidup dan mati seseorang adalah misteri takdir yang hanya Allah yang tahu.
__ADS_1
Sementara di pemakaman umum tempat dimana Raffi akan di makamkan, sudah banyak yang hadir disana, terutama orang-orang terdekat yang mendengar kabar meninggalnya Raffi Hartawan.
Proses pemakaman berjalan dengan hikmat, beberapa saat Ryan juga sempat mengambil Vidio dan mengirimkan pada Ibunya sebagai bukti.
"Setelah semua proses selesai, semua tamu pulang ke rumah masing-masing. Kini tinggal Ryan dan Budi yang masih betah di pusara Raffi Hartawan.
"Pak Budi, coba bapak katakan apa yang akan bapak sampaikan ke saya!" Ryan memulai percakapan mereka dengan menanyakan dulu apa Yang Supir itu sampaikan padanya.
"Saya mau tahu apa yang menyebabkan kamu begitu dendam pada Ruan Raffi, Ryan?" tanya Budi.
" Pak Raffi sudah menabrak taksi ayah saya dan beliau tidak mau tanggung jawab, sementara polisi juga tidak bertindak tegas, uang adalah segalanya, bahkan bisa membeli hukum di dunia ini." Ryan mulai bercerita, tentang kecelakaan Ayahnya.
" Apakah kamu yakin semua yang kamu dengar itu adalah benar, dan darimana saja berita itu kamu dengar?" tanya Budi lagi.
" Ryan-Ryan, apakah kamu selama ini tidak mencari tahu kebenarannya, seperti mencari data kecelakaan ayah kamu di kantor polisi, mungkin?" tanya Budi.
Ryan cuma menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah berpikir kearah sana, dia percaya sepenuhnya pada Sang ibu karena tidak mungkin ibunya akan berbohong, apalagi yang menyangkut nyawa seseorang.
" Itulah salahmu, Ryan. Kau terlalu percaya pada ibumu, dan apa yang kau dengar itu salah seratus persen, dendam yang kau lancarkan pada Tuan Raffi dan Nona Fani adalah salah besar. kejadian yang sebenarnya tidak seperti itu, Nak," jawab Budi.
Ryan mengerutkan alisnya, dia semakin heran dengan semuanya, Kemaren Raffi juga bilang seperti itu, Fani juga tak percaya Ayahnya melakukan kejahatan seperti itu.
__ADS_1
" Lalu?" tanya Ryan.
" Ayahmu lah yang menabrak mobil kami, waktu itu sudah jam 11 malam, tapi Sahir nama supir taksi iti masih narik taksinya, dia belum genap mencapai target uang yang di minta istrinya, sebelum meninggal beliau sempat bicara pada polisi, kenapa bisa taksinya menabrak mobil orang." Budi men jeda ucapannya dan menghembuskan napasnya perlahan.
" Dia mengantuk, tapi terus saja narik. Kami tidak pernah melakukan tabrak lari, saat itu saya yang menyetir mobil Tuan, mobil kami ringsek dan Tuan Raffi mengalami luka parah, dan parah tulang, setahun lebih beliau tidak bisa berjalan, hingga akhirnya di operasi di Amerika. Waktu itu Nona Fani juga masih sangat kecil, bahkan ibunya baru saja meninggal." Budi menjelaskan kejadian naas itu.
Ryan tercengang, kenapa cerita Budi tidak sama dengan yang ibunya ceritakan.
"Tidak, itu tidak mungkin." Ryan mulai mengelak.
"Terserah kau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Saya ada bukti semuanya." Budi mengambil tasnya, dan mengeluarkan beberapa bukti. Mulai dari potongan koran yang tertera tanggal kecelakaan tersebut, laporan dari kepolisian juga, karena si penabrak meninggal maka gugur kewajiban si pelaku. Budi juga mengeluarkan bukti operasi kaki Raffi di Amerika, semua itu tersimpan rapi pada ruang kerja Raffi.
"Kami tidak pernah menuntut apa-apa dari keluarga, malah setelah operasi berjalan baik dan beliau sembuh, kami datang ke rumah ibu Anda. Tuan Raffi memberi bantuan pada nyonya Diana untuk menopang hidup dan membiaya sekolah kamu, meski terlambat tapi maksud kami adalah bagus," Kata Budi.
"Kompensasi apa?" tanya Ryan.
" Kompensasi berupa uang Satu milyar, beliau tidak tega melihat kehidupan kalian waktu itu, ibu kamu jadi harus bekerja keras, Nyonya Diana marah besar, dia menginginkan Suaminya kembali, dan bersumpah akan membalas semua yang terjadi, dia akan memakai uang pemberian tuan Raffi untuk mencapai tujuannya itulah yang terjadi nak, terserah kau kau percaya atau tidak." Budi menghentikan ceritanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi tentang kecelakaan 16 tahun yang lalu.
Tubuh Ryan lemas seketika, dia ambruk di gundukan tanah yang masih merah tersebut, ternyata dendam yang selama ini dia pelihara adalah salah.
" Menurut kabar dari tetangga kalian dulu, Ayahmu bekerja tidak kenal waktu, dia belum boleh pulang sebelum menghasilkan uang 300ribu sehari, Nak. Banyak yang mengatakan hal tersebut," Budi menambahkan cerita dia, yang bersumber langsung dari Tetangga sebelah rumah.
__ADS_1
Ryan Meremas rambutnya erat, di menangis dia atas makan merah Raffi. "Pa, kenapa kau tidak mengatakannya, pak Budi juga sementara Ryan, Ryan sudah menjadi orang yang sangat jahat bahkan seperti iblis, huhuuu. Maafkan aku pa... " Ryan Meremas tanah yang masih merah tersebut, lalu dia membaca semua File yang di berikan Budi padanya.