
Hai reader tercinta jangan lupa setelah selesai baca, like karta ini ya, untuk membantu dan menolong othor supaya bisa terus bertahan dan swmamgy nulisnya. yang belum like segera like ya kak, karya akan do nilai lagi di bab empat puluh, love you semua dan Terima kasih dukungannya.
Ryan langsung menuju ke rumah sakit, dia pasrah pada yang maha kuasa apapun yang di putuskan padanya, hanya yang maha pencipta yang tahu hidup mati seseorang.
Sudah satu jam lebih, Ryan menunggu operasi kedua ibunya, tapi belum ada tanda-tanda selesai.
Hingga dua jam berlalu, Rayhan terus berdzikir pada Allah memintakan ampunan atas semua dosa ibunya.
"Ya Allah, jika engkau masih memberi ibuku kesempatan untuk bertaubat, maka selamatkan beliau dari perjuangan nya kali ini, tapi jika engkau mengambilnya dariku, maka ambillah dengan cara yang baik, terangi jalannya menuju ke sisimu ya Allah, serta ampunilah dosa-dosa yang sudah beliau lakukan sepanjang hidupnya, Aamiin."
Hampir tiga jam Ryan menunggu, akhirnya dokter keluar dengan wajah lesu dan kusut.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ryan.
"Maaf, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkata lain, pembuluh darah pada otak Bu Diana pecah, beliau juga sudah berjuang semaksimal mungkin, semoga Allah memberikan tempat yang terbaik pada Bu Diana dan memberi ketabahan pada diri anda, Tuan." Dokter menepuk bahu Ryan.
Beliau turut berbela sungkawa atas kepergian Bu Diana, serta memberi semangat pada Ryan.
Ryan mengangguk paham, pemuda tersebut, segera mengurus proses pemakaman Bu Diana. Di komplek tempat tinggal mereka, Bu Diana terkenal ramah dan juga baik terhadap tetangga.
Mereka sangat menyayangkan orang sebaik itu, meninggal di tangan menantu kesayangannya sendiri.
Mereka berbondong-bndong mengucapkan bela sungkawa pada Ryan, supaya tabah menjalani hidup dia, setelah di tinggal sang ibu.
Bu Diana di makamkan di pemakaman umum yang tak jauh dari makam sang suami.
"Sekarang Ibu suah bertemu dengan ayah di alam sana, semoga kalian mendapatkan tempat yang terbaik, do'a Ryan akan selalu terpanjat untuk kalian."
Ryan pergi meninggalkan gundukan tanah yang masih merah tersebut, setelah mendoakan semuanya. Dia juga mengunjungi makam Raffi mertuanya, memintakan maaf atas nama sang ibu pada Raffi.
Hari berganti begitu cepat. Ryan menjual rumah tempat tinggalnya, rumah yang penuh dengan peristiwa pahit, Ryan lebih suka tinggal di apartemen dia, yang Lebih nyaman dan sepi.
KIni hidup Ryan hanya fokus kerja dan kerja, bahkan dia mirip seperti robot hidup saja, tanpa ada senyum yang menghiasi wajahnya.
๐น๐น๐น
__ADS_1
Setahun berlalu. Akhirnya perusahaan baru Ryan berhasil mendapatkan kerjasama dengan star fashion milik Fani.
Selama ini Ryan hanya bekerja di belakang layar, dia tak mau Fani keburu tahu kalau dirinyalah pemilik dari My Angel tersebut.
Reno asisten Ryan yang bertugas mengajukan proposal ke perusahaan besar tersebut.
Mereka akan menjadi pemasok benang berkualitas premium ke star fashion. Hari ini Ryan beserta Reno wakilnya, terbang ke Singapura. Membahas kerjasama yang lebih lanjut.
Di Hotel XX Singapura, mereka akan bertemu, tapi bukan Ryan yang datang, hanya Reno dan Reni sekretris dia yang akan bertemu dengan Fani.
Ryan berjalan ke sebuah taman di dekat hotel. Ia memantau jalannya penandatangan kontrak dari jarak jauh.
Pemuda tampan tersebut, melihat seoarang anak kecil yang kira-kira berumur dua tahun menangis karena jatuh.
Ryan memperhatikan bocah tampan tersebut, lalu mendekatinya. Ryan berjongkok di depan anak tampan tersebut.
"Adik, kenapa menangis?" tanya Ryan.
Anak kecil itu mendongakkan wajahnya yang berlinang air mata.
"Huaa...,huaa...,! Bintang jatuh, Om. Batu itu nakal." Bintang menunjuk ke sebuah batu yang lumayan cukup besar.
Ryan seperti dejavu, dia diam tak bergerak dan tak bersuara, dia seperti patung hidup. Wajah anak kecil terseput mirip sekali dengan dirinya di waktu kecil, bedanya anak ini sangat terawat, tidak seperti dia yang anak singkong. tak terusus.
Dengan gemetar Ryan meraih tubuh bocah tampan itu, air matanya sudah penuh di kelopak mata dia.
"Mana yang sakit, Nak?" tanya Ryan.
"Ini, Om!" Bintang menunjuk ke siku dan juga lututnya, tadi dia jatuh menatap paving di taman tersebut.
Ryan memeriksanya dengan hati-hati." Dimana orang tua kamu?" tanya Ryan.
"Mama ada meeting. Mbak Lili paling sibuk pacaran dengan manager hotel di ujung sana," Bocah tersebut jujur memberitahukan dimana ibu dan pengasuhnya berada.
Ryan menggendong Tubuh bocah itu.
__ADS_1
"Wah ternyata berat juga ya, tubuh gembul kamu, apalagi pipinya tuh seperti bakpao." Ryan mencium pipi embul bocah Lucu dan gendut tersebut.
"Bintang mau di bawa kemana, Om? Nanti mama marah dan mencari bintang." Bintang menolak diajak Ryan.
"Om akan mengambilkan kamu obat di petugas hotel dulu. Kita obati bersama ya, lukanya!" Ajak Ryan.
Pemuda itu cukup terharu, di hotel tempat dia meeting bersama sang isri, dia bertemu engan anak kecil yang sangat mirip dengan dirinya yang belum pernah dia ketahui identitas dia.
Ryan memdudukkan anak tersebut di sebuah sofa besar di ruang perawatan Hotel.
Ryan membersihkan luka Bintang. Pemuda satu ini, menolak bantuan suster, dia sendiri yang akan mengobati Bintang.
Dengan telaten RYan mengobati dan menutup luka Bintang. " Nahh, sekarang sudah selesai, tidak sakit lagi kan?" tanya Ryan.
Bintang menggeleng dengan cepat, dia sangat senang, mereka akhirnya berkenalan dan mengobrol Asyik. Bintang sangat suka duduk di pangkuan Ryan, serta memainkan jambang Ryan yang mulai tumbuh.
"Om ganteng baik banget, rumah om dimana? kok Bintang tak pernah lihat om ganteng?" tanya Bintang.
"Rumah Om sangat jauh dari sini, tapi tempatnya sangat indah, sejuk. Apakah nanti Bintang mau ikut om ke ruamh Om?" tanya Ryan.
"Bintang harus tanya mama dulu, Om. Kasihan dong kalau di tinggal sendirian, tar mama nangis lagi," jawab anak itu dengan jujur.
"Kan ada papa yang menemani mama," jawab Ryan.
"Papaku kerja gak pulang-pulang, tak tahu kerja dimana, katanya jauh di tempat yang indah itu. Kasihan mama , terkadang di waktu malam malam, dia mengis sambil melihat gambar papa di sebuah dompet kecil." Dengan polos Bintang bercerita tentang ayahnya, bahkan dia menceritakan pada Ryan tentang ibunya yang sering memandangi sebuah foto.
"Kok Bintang tahu, kalau itu foto papa bintang?" tanya Ryan sambil menahan air nmatanya supaya tidak jatuh.
"Aku mengintip om, tapi aku yakin dia papaku. Tapi papa jahat, papa meninggalkan aku dan mama dan tak pulang-pulang. Papa sering membuat mama menangis." Bintang bercerita dengan mulut cemberut, dia sangat kesal dengan papanya.
"kalau Bintang bertemu dengan papa, apa yang akan bintang lakukan?" tanya Ryan.
"aku akan memukul dia, dan meminta dia tidak pergi lagi, Bintang mau seperti anak-anak yang di gendong papanya, Jalan-jalan bareng, bermain bareng. Bintang tidak mau lagi melihat mama menangis dan bekerja pagi, siang dan malam," jawab Bintang.
Sungguh harapan dia sangat besar, anak itu sangat menyayangi ibunya, bahkan Fani tak pernah menceritakan keburukannya di depan Bintang. Ataupun mengatakan Papanya meninggal atau yang lain tentang dia yang buruk.
__ADS_1
Ryan sunguh tak kuat lagi, dia memeluk dan menciumi BIntang dengan gemas dan daddanya seperti di pukul palu yang sangat besar, rasanya mau pecah.
Anak itu dia dekap di dadanya dengan erat. Air mata Ryan sungguh tak dapat di bendung lagi.