
"Silahkan nona, ceritakan semua keluh kesah anda! siapa tahu dengan berbagi kisah, beban Anda akan berkurang," kata Dokter Ibra.
" Begini dokter, saya dinikahkan dengan asisten ayah saya, tapi ternyata mereka menyimpan sebuah dendam pada Ayah, mert terutama ibu mertua saya menyiksa dan menjadikan saya budak di rumahnya, Ryan juga yang sangat oatuh pada ibunya, melampiaskan setiap kemarahannya di atas ranjang." Fani melepas jilbabnya dan menunjukkan kondisi kepalanya pada Dr Ibra.
"Astaghfirullah, itu kenapa? dan dendam apa yang mereka punya?" tanya Dr Ibra sambil memeriksa kepala botak Fani.
" Ini disiram kuah panas, karena saya tidak bisa memasak, lalu saya terjatuh di lantai, bukan cuma itu, banyak luka-luka di tubuh saya Dok, mereka mengira Ayah saya yang sudah menabrak suami dari mertua saya, hingga dia menjadi menderita dan berjuang sendiri, tapi saya tidak tahu kebenaran kisah itu," Jawab Fani. Fani mengehela napas berat.
"Dokter, tolong keluarkan saya dari rumah sakit ini Dokter, Ayah saya sudah meninggal, Satu-satunya orang yang membuat saya bertahan sampai di titik ini adalah beliau. Dan tolong jangan anda turuti keinginan Ryan suami saya untuk menggugurkan janin ini, dia tidak bersalah, saya yang akan membesarkan dia sendiri dengan kedua tangan saya." Fani meminta Dokter Ibra tidak menyetujui proses aborsi tersebut.
" Iya, saya akan membantu Anda keluar dari sini, tapi setelah ini apakah Anda sudah punya tujuan, Non?" tanya Dr Ibra.
" Lebih baik saya kembali ke Singapura, dok. Disana saya masih punya banyak teman yang akan membantu saya untuk bangkit lagi." Fani akan kembali ke negara tempat dia menempuh studynya.
" Tadi saya juga sempat marah besar pada suami Anda, karena memohon untuk menghilangkan bayi ini, Tuan Ryan mengatakan Anda depresi karena sudah di perkosa saudaranya, lalu anda trauma dan depresi." Dr Ibra menceritakan dari sisi dia saat mendengar keterangan Ryan.
__ADS_1
"Semua itu tidak benar, Suami saya anak tunggal dok, tidak ada kakak atau adik, dan dia berjanji pada ibunya untuk tidak melibatkan perasaan, tapi entahlah dokter, yang penting sekarang saya ingin pergi jauh dari neraka tersebut, bahkan dia tidak akan pernah bisa melacak keberatan saya, biarlah saya pergii membawa luka ini serta anak dalam kandungan ini, dok." Fani tetap ingin pergi dari kehidupan Ryan dan ibunya.
" Oke baiklah, saya akan menghubungi Istri saya, dia ahli It, semoga istri saya bisa membantu anda pergi dengan aman tanpa sepengetahuan Suami anda," kata Dr Ibrahim.
Dokter ini sungguh prihatin dengan keadaan perempuan cantik di depannya itu, Dokter Ibra berjanji akan membantu Fani lolos tanpa ada yang tahu.
" Tapi darimana Anda tahu kalau saat ini Anda sedang hamil serta Suami Anda ingin menggugurkan bayi Anda tersebut nona?" tanya Dokter Ibra, beliau masih penasaran dengan hal ini.
" Tadi saat dia masuk kesini, saya masih pura-pura pingsan, dan suami saya mengatakan semuanya, tentang kehamilan ini dan rencananya. Hubungan kami memang didasari oleh niat yang salah Dok, tapi anak ini tidak salah, saya berjanji akan menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuknya." Fani menjelaskan semuanya pada Dokter Ibra.
Dokter Ibra meminta suster untuk membatalkan jadwal aborsi kandungan Fani, dia akan di hukum berat jika memang tidak ada perastujuan dari sang ibu, apalagi ternyata suami Fani susah menipunya.
" Siap Dokter, saya juga penasaran dengan Reaksi suami Nona Fani yang sangat tega dan ringan tangan terhadap istrinya ini, semoga saja penyesalan adalah hasil yang akan dia dapatkan nantinya." Suster berjanni akan menyimpan rahasia ini, dan akan melaksanakan tugasnya dengan baik.
Sementara di Rumah Bu Diana, wanita paruh baya ini merasa gatal, sudah beberapa hari ini dia kesepian, tidak ada yang bisa dia buat mainan, semua terasa hampa, dia melakukan semuanya sendiri. Bu Diana mengambil ponselnya lalu menghubungi Ryan.
__ADS_1
" Hallo Ryan, kau ada dimana, nak?" tanya Diana.
"Ryan, masih mengurus pemakanan Tuan Raffi bu, semua rencana kita sudah tercapai, Tuan Raffi terkena serangan jantung ketika mendengar Anaknya kita aniaya selama menjadi istri Ryan, sementara perusahaan miliknya bangkrut dan dia jatuh miskin, sementara Fani juga mencoba bunuh diri sekarang masih Di RS, ibu tenang saja, semua sesuai dengan apa yang ibu inginkan," jawab Raffi.
"Benarkah? wah ini berita yang sangat bagus, oke kau urus saja itu mertua kamu, dan segera pulang, ibu ingin mendengarnya langsung kalau perlu Vidio proses pemakaman pembunuh itu, Akan ibu buat kenang-kenangan!" Bu Diana meminta Ryan untuk merekam proses pemakaman musuhnya itu.
Ryan memutuskan sambungan telponnya karena mereka sudah sampai di komplek pemakaman, dimana Raffi akan di makamkan di samping pusara Istri dan anak pertamanya.
Wajah Bu Diana sangat sumringah, dia sudah berhasil membuat Raffi meninggal. " Kini tinggal anaknya itu, jangan harap kau bisa lolos dari ku anak manis, Papamu sudah pergi, hahaha. Aku sangat puas. Sebaiknya aku carikan istri baru untuk Ryan putraku dan perempuan itu akan menjadi pembantu gratis dirumah ini. Ini baru seru seru," Batin Diana dalam hati.
Terbuat dari apakah hati ibu satu ini, dia membesarkan anaknya dengan penuh rasa dendam, dan ingin menghancurkan kehidupan orang yang sudah membantu dirinya dulu.
Wajah Budi masih saja sangat mendung, orang yang menjadi panutannya selama ini telah berpulang, dia sangat kehilangan majikan yang baik sekali itu, meski dia kaya tapi Tuan Raffi sangat hamble dan juga menghormati orang-orang di sekelilingnya, meski dia pembantu ataupun rekan bisnis nya.
"Tuan, kenapa Anda tega meninggalkan kami, kasihan Nona Fani, apa yang harus saya katakan pada beliau ketika nanti dia menanyakan soal Anda, tuan." Di dalam Ambulance, Budi tetap memeluk peti jenazah tersebut, dia memegang kalung wasiat Raffi dengan erat dan berjanji akan menyampaikan semua amanat yang Raffi berikan padanya.
__ADS_1
" Saya yang akan maju di garda terdepan, tuan. Saya Budi berjanji akan membawa Nona Fani keluar dari neraka jahanam itu, dan akan membuat Si Ryan itu menyesali semua tindakannya selama ini, mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal atas semua perbuatan mereka." Budi berikeat di depan peti jenazah Raffi.
Dia juga heran, kok bisa-bisanya Istri dari Sahir supir taksi tersebut mengarang semua cerita tersebut yang berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.