
Pagi itu Ryan memandikan putranya untuk yang pertama kali, dia begitu telaten memandikan si bocah gembul itu, bahkan sambil bergurau di dalam kamar mandi.
"Kenapa pipi Bintang sampai segembul ini, apasih resepnya?" tanya Ryan
"Bintang suka minum susu, Om. Mama bilang susu bisa menyehatkan badan, Bintang juga suka makan sayur, mama pasti marah kalau bintang tak mau makan sayur," jawab Bintang jujur.
"Wah pinter sekali, berarti Bintang anak yang pinter dan hebat, yang pasti bintang anak yang nurut pada orang tua." Ryan menggosok tubuh Bintang dengan banyak sabun membuat anak itu makin semangat untuk mandi dan bermain busa. Pakaian Ryan juga basah kuyup karena Bintang yang usil.
Setelah acara mandi, Ryan menyulap Bintang menjadi bocah keren, dia memlihkan pakaian Bintang sendiri, anak itu tak suka dengan baju yang di pilihkan Lily, jadi mereka mengubah fashion Bintang.
Ryan juga menyuapi Bintang, barulah mereka keluar bersama, mereka mampir dulu ke hotel, Ryan akan ganti pakaian, baju yang di pakaiya masih sama dengan yang kemarin dia pakai saat di rumah sakit. Ryan meminta Rno untuk kembali ke Indonesia lebih dulu, sementara dia akan pulang esok saja.
Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan dalam hidup Ryan, dia bisa tertawa bahkan bertindak konyol bersama sang buah hati. Mereka mengunjungi Disneyland.
Ryan juga tak malu memakai costum miki mouse dan perfoto bersama Bintang. Ayah satu anak ini akan membuat hari ini penuh warna dan yang pasti tak akan di lupakan keduanya. Ryan memanggul putra gembulnya mengelilingi tempat bermain tersebut.
Fani tidak tahu sama sekali kalau saat ini bIntang bersama ayahnya. Kemarin Mr Lee yang meberi ijin, sementara Lily dan juga Asisten Fani tak berani melapor, takutnya Fani akan marah nanti. Jadi mereka diam saja.
"Yan, bagaimana Bintang? Apakah dia rewel tak ada aku di samping dia?" tanya Fani.
"Awalnya rewel tapi sekarang dia sudah mau mandi, sarapan dan bermain. Harus di bujuk dulu." Yani menjawab sebagian kejadian di rumah, dia takmenceeritak kalau Ryanlah yang berhasil membujuk Bintang tadi.
"Sykurlah, lalu bagaimana dengan motor itu, apakah sudah di temukan pelakunya?" tanya Fani lagi.
__ADS_1
"Anak buah Tuan Lee, sudah menangkapnya, dia utusan Franky, orang yang kamu tolak waktu itu, Franky tak terima ketika kamu juga menolak kerjasama kalian, jadi orang itu nekad ingin membuat kamu cacat. Itu penjelasan pengendara motor itu, Fan," jawab Yani.
"Aku menolak kerjasama dengan Franky tidak ada hubungannnya dengan aku menolak perasaan dia, itu murni urusan bisnis, kita tak boleh mencampur adukkan urusan bisnis dan pribadi, perusahaan itu sudah menipu kita dengan memberi kita bahan dengan kualitas yang tidak sesuai, bahkan di bawah standart." Fani tak habis pikir kalau Fanky ternyata begitu licik dan juga pengecut.
"Lalu bagaimana meeting kamu bersama mr Reno tadi?" tanya Yani.
"Berjalan lancar, minggu depan aku akan mengeceknya sendir ke sana, aku tak mau kejadian ini terulang lagi," jawab Fani.
"Apakah kamu yakin akan kembali ke negara itu, apakah kau sudah siap jika harus bertemu dengan suami kamu?" Yani juga memastikan satu hal pada sahabat sekaligus atasannya itu.
"Aku harus siap Yan, aku tidak selamanya harus sembunyi, kita harus hadapi kenyataan ini, dan aku akan menghadapi dia nanti." Fani memantapkan hatinya, jika nati akan bertemu Ryan langsung, kalau perlu dia akan membabaskan diri dari lelaki tersebut, dan ikatan pernkahan mereka.
"Bgaiamana kalau seandainya dia sudah berubah, dia menyesal, dan ingin kembali padamu lagi?" tanya Yani.
"Mertuamukan sudah meninggal, aku tahu sebenarnya kamu masih sering memikirkan dia, aku tidak tahu apakah perasaan kamu itu apakah rasa cita padanya atau kebencian kamu, Fan?" Yani ingin tahu bagaimana perasaan Fani terhadap suaminya.
"Entahkah, tapi dalam kesempatan ini aku akan menggugat dia cerai, lebih baik aku sendiri saja, dan hidupku hanya untuk Bintang saja." Fani yakin akan meminta cerai dari Ryan, dan ingin bahagia bersama bintang saja, nyatanya selama ini dia bisa menjadi ibu sekaligus ayah yang baik untuk Bintang.
"Kalau ini sudah menjadi keputusanmu, kau harus teguh pendirian, Fan! Jangan mudah goyah. Memaafkan orang memang tak semudah membalikkan telapak tangan kita, tapi menurutku, kau sebaiknya mau memaafkan dia, walaupun nanti kalian sudah tidak bersama lagi. Biar bagaimanapun dia punya andil besar dengan kehadiran Bintang pada hidup kita." Yani menasehari Fani.
Fani mengangguk setuju, dia tidak akan dendam lagi pada Ryan,toh Allah sendiri yang memberi mereka balasannya,
"Kau benar Yan, aku tak mau hidup dalam bayangan dendam seperti hidup Ryan, itu akan sangat menyiksa, bahkan menghambat masa depan kita sendiri, aku ingin hidup tenang bersama anakku," Jawab Fani.
__ADS_1
Yani menungui bosnya di rumah sakit, keadaan Fani juga semakin membaik, meskipun dia belum boleh banyak bergetrak.
"Oh ya. Yan, dokter bilang kemarin aku membutuhkan banyak darah, tapi stok darah disini kosong, kau tahu tidak siapa yang mendonorkan darahnya padaku?" tanya Fani.
"Do-donor darah, oh itu. Pihak rumah sakit yang mendapatkan orangnya, dia tak mau di sebutkan identitsnya, dia hanya ingin menolong kamu saja," jawab Yani sedikit gugup.
Ryan sudah melarang semua orang untuk memberi tahu dia kalau suanminyalah yang mendonorkan darahnya untuk Fani.
"Dia laki-lai apa perempuan?" tanya Fani lagi. Wanita ini ingin memastikan kalau apa yang dia lihat tadi pagi dan tadi malam adalah benar, kalau orang itu adalah Ryan.
"Laki-laki," jawab Yani.
"Apakah dia Ryan?" tanya Fani kembali.
"Entahlah, pria itu memakai masker, aku juga tidak ada di sini, lily yang cerita padaku," Yani memang tak ada di sana, jadi dia punya alasan untuk menjawab peranyaan Fani tersebut.
"Aku tadi pagi seperti melihat dia ada di sini, Yan, subuh tadi dia sholat disana?" Fani menunjuk ke arah ujung ruangan.
"Dan tadi malam dia dudduk di tempat kamu sekarang, tapi aku tidak melihat wajah dia, dia menghadap ke sana!" Fani bercerita apa yang dia lihat semalam.
"Mungkin saja kamu mengigau dan kepikiran dia, jadi kau berhalusinasi kalau ada RYan, bukannya dia ada di Indonesia sekarang, dan sudah lama tak ada berita dia mencari kamu lagi." Yani mencari sebuah alasan yang tepat, supaya Fani tidak menanyakan Ryan lagi.
Asisten tersebut juga mengalihkan pembicaraan mereka, seperti menceritakan soal Bintang yang tadi nangis mau ikut kesini, tapi akhirnya mau di tinggal dan mandi.
__ADS_1