NERAKA DI RUMAH SUAMI

NERAKA DI RUMAH SUAMI
BISA ISTIRAHAT WALAUPUN CUMA SATU HARI


__ADS_3

Malam ini Fani bisa tidur dengan nyenyak, meski rasa tubuhnya nano -nano, tapi paling tidak dia bisa istirahat dengan baik di tempat yang baik pula tidak di kamar mandi.


Ryan tidur di sofa masih dalam kamar yang sama bahkan dia mengompres dahi Fani secara berkala.


Fani membuka matanya tengah malam, dia melihat Ryan tidur di Sofa, sebelahnya terdapat baskom berisi Air, mungkin untuk mengompres Fani.


" Sebenarnya apa yang kau inginkan Ryan? kenapa tidak kau bunuh saja diriku jika kau ingin balas dendam? tapi kenapa sebelum kau bertindak kau tidak menyelidiki dulu kebenarannya, aku pikir ibumu lah yang tidak beres dalam masalah ini, aku yakin papa tidak mungkin melakukan apa yang kalian tuduhkan." Fani menyimpulkan kalau sebenarnya suaminya ini terpengaruh oleh ibunya, dan dia dibesarkan hanya untuk satu tujuan yaitu balas dendam.


Fani memutuskan untuk tidur kembali untuk menambah staminanya, paling besok ketika matahari sudah berkokok ada lagi yang akan mereka lakukan padanya terutama Bu Diana.


Malam berubah menjadi pagi, matahari mulai mancarkan sinarnya, Fani segera bangun walaupun kepalanya terasa sangat pusing,dia takut kalau Ibu Suri akan marah besar.


Dengan meraba- raba nakas, Fani mencoba ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap diri, akan tetapi di tengah jalan Fani malah Ambruk, kakinya masih lemes dan dia juga merasa pusing.


Brug


Pyar


Sebuah gelas ikut terjatuh, Ryan yang mendengar semua itu langsung terbangun, dia melihat istrinya kesusahan untuk berdiri, wanita itu berusaha memunguti pecahan pecahan kaca tersebut.


Ryan mendekati Fani, dia berusaha membantu Fani bangun, akan tetapi tangannya segera di tepis oleh Fani. Ryan tidak menyerah, tapi Istrinya ini tetap tidak mau dan terus menepis tangan Ryan.


" Saya bisa sendiri, saya bukan wanita lemah yang membutuhkan belas kasihan Anda!" Fani merangkak menuju ke kamar mandi.


Ryan memperhatikan istrinya tersebut, api kebencian sudah mulai muncul dari gadis itu. Ryan menyugar rambutnya dengan kasar, lalu mengangkat tubuh Fani, tanpa menghiraukan Fani yang terus meronta.


Ryan baru menurunkan Fani di dalam kamar mandi, dia mendudukkan Fani di atas closed, baru Ryan keluar dari sana, kembali ke tempat semula, apalagi saat ibunya membuka pintu kamar Ryan pura-pura tidur. Dia tidak mau ibunya tahu kalau diam-diam Ryan memperhatikan Fani.

__ADS_1


Bu Diana memperhatikan ke ranjang Yang tadi malam di tempati Fani, ranjang itu kosong, dia juga melihat ada beberapa pecahan kaca di lantai, yang belum di bereskan oleh Ryan.


"Kemana tu bocah? dan ini lagi gelas pecah dibiarkan begitu saja, bagaimana kalau mengenai kaki Ryan," gumam Diana. Perempuan paruh baya tersebut segera membersihkan sisa- sisa pecahan kaca dan segera membuangnya.


Ketika Bu Diana mau keluar, Fani juga membuka pintu kamar mandi, Diana tidak jadi keluar, orang tua itu kembali masuk.


" Apa maksud kamu, memecahkan kaca ini ha? tidak di bereskan, bagaimana kalau mengenai kaki Ryan?" Bu Diana membentak Fani dengan keras serta menunjuk Pecahan gelas yang di bawanya.


"Bukan Fani yang memecakannya bu, Ryan tadi malam mau mimum, karena gelap Ryan tidak pas meletakkannya." Ryan menutupi kesalahan Fani kali ini. Fani hanya menunduk diam, tidak berkata apa-apa.


" Kan, harusnya dia bereskan, semua pekerjaan tidak ada yang beres di tangan dia, bisa bangkrut akuu... " Diana menekankan kata akuu.


"Sekarang kau bersih-bersih sana, dalam rumah saja, yang di luar rumah nanti sore saja! " Diana memerintah Fani bekerja padahal menantunya itu masih sakit.


"Bu biarkan dia istirahat barang sehari saja, bagaimana kalau keadaannya makin parah, lagian Yang dalam rumah sudah Ryan bereskan," jawab Ryan.


"Bukan begitu bu, lihat saja untuk berjalan saja dia kesusahan, besok saja kerjanya, please hari ini saja buat rumah ini sunyi tanpa ada teriakan maupun tangisan, Ryan pusing." Ryan lalu mask ke kamar mandi setelah mengatakan semua itu.


Diana memelototi Fani, bola matanya sampai mau lepas dari tempatnya.


" Oke, hari ini kau bebas, tapi jangan disini, lebih baik ku tidur di kamar belakang sana, kamar bekas pembantu!" Diana memerintahkan Fani untuk pindah kamar ke kamar bekas Pembantu mereka.


Fani hanya mengangguk saja, dia berjalan sambil meraba ke tempok sebagai pegangan supaya tidak jatuh, tak lupa Fani membawa obat yang di belikan Ryan tadi malam.


" Di situ tempat yang cocok untuk wanita lusuh dan jelek seperti kamu, " ucap Diana.


Fani masuk ke kamar ukuran 2x2 tersebut, tanpa ada dipan, yang ada cuma kasur doang di pojok kamar.

__ADS_1


Fani tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan masuk kedalam kamar, merebahkan tubuhnya yang masih pusing dan lemes.


Diana keluar entah kemana, tapi Fani tidak peduli dengan apa yang di lakukan mertuanya tersebut.


Seharian ini, Diana menepati janjinya pada Ryan, dia tidak mengganggu Fani atau bahkan membuat keributan, Diana juga memberi makan tepat waktu.


Pagi ini, Ryan sudah mulai ke kantor, Fani juga sudah bisa berjalan dengan baik, meskipun masih sedikit pusing.


Setelah Ryan Berangkat ke kantor, Diana mulai beraksi, Fani harus membereskan semua pekerjaan yang mereka tinggalkan kemarin. Mulai dari dalam rumah hingga halaman.


" Kau pakai ini jika bersih- bersih di luar, kalau ada orang bertanya jangan mengaku sebagai istri Ryan, kalau perlu diam saja jangan jawab mereka." Diana menyerahkan sebuah hijab syar'i untuk menutup luka-luka Fani serta menutupi kepala botak Fani.


Fani Hanya mengangguk dan Memakai hijabnya, lalu dia membawa sapu lidi keluar rumah, mulai membersihkan daun- daun kering yang berguguran.


Meskipun pelan-pelan, Fani masih kuat. Fani akan mempelajari kondisi halaman rumah itu, dan mencari celah untuk bisa lolos dari neraka Jahanam tersebut.


Dari luar gerbang ada ibu-ibu yang lewat depan rumah Diana. Mereka berhenti dan penasaran dengan sosok wanita muda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di rumah itu.


"Wah ada penghuni baru rupanya jeng? siapa itu istri Ryan kah?" tanya Bu Marni. Salah satu dari mereka.


Bu Diana, mendekat ke arah gerbang dia menyapa ibu- ibu yang mulai kepo tersebut.


" Oh jeng Marni, jeng Susan, dan jeng Lastri, monggo- monggo mampir dulu, kita ngobrol- ngobrol dulu sini!" Bu Diana membuka sebagian gerbang rumahnya, mempersilahkan ibu -ibu tadi masuk tak lupa dia menggembok lagi gerbang rumahnya.


" Kok di kunci lagi bu gerbangnya? kita- kita kan masih disini," tanya bu Lastri.


" Tidak apa-apa biar enak ngobrolnya, dan supaya dia tidak keluar rumah, bahaya kalau keluar, " Jawab Bu Diana. Wanita paruh baya menunjuk ke arah Fani dengan kode matanya.

__ADS_1


__ADS_2