
Malam berubah menjadi pagi, Fani bangun dari tidurnya, dia merasa heran kenapa bisa dia jadi tidur di kasur, dan Ryan ada di Sofa.
"Syukurlah dia masih punya hati," batin Fani.
Buru-buru Fani bangun dan segera membersihkan diri, lalu bergegas menyiapkan semuanya, hari ini dia akan berperan sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan, pakaian ganti dan air untuk Ryan, seret semua beres Fani mencoba membangunkan Ryan. Hari sudah siang.
Di kantor PT Angkasa.
Hari ini Di perusahaan besar sekelas PT Angkasa di buat heboh, Tiba-tiba saham perusahaan mereka turun secara drastis, hal ini membuat para pemegang saham menjadi panik. Bukan itu saja, salah satu perusahaan asing yang bekerja dengan mereka tiba- tiba mencabut dan membatalkan kerjasama nya, sedangkan proyek sudah berjalan setengah jalan.
Raffi juga kaget, ini begitu tiba-tiba, salah satu akun banknya juga di bobol orang. Pagi itu dewan komisaris dan pemegang saham mengadakan rapat darurat, mereka menuntut kepada Raffi atas semua yang terjadi hari ini dan serempak menyalahkan Raffi.
Mereka menuntut tanggung jawab Raffi sebagai pemilik saham terbesar sekaligus CEOnya. Raffi tak bisa berbuat apa-apa ini semua sudah diluar kendali dia. Keputusan terakhir para pemilik saham, mereka menjual saham mereka ke orang luar meskipun dengan harga murah, daripada harus ikut menanggung resiko yang lebih besar lagi.
Belum masalah lain, semua muncul hari itu juga, Raffi juga berusaha Menghubungi Ryan, yang biasa membantunya, tapi Ryan juga bisa apa, dia cuma bisa memberikan solusi, dan yang pasti solusinya akan memperburuk keadaan.
Investor asing meminta semua uang yang sudah masuk minta di kembalikan walau cuma setengah saja dalam waktu dua hari, pada karyawan juga ikut-ikutan demo, ingin keluar dan minta pesangon hari ini juga.
Akhirnya dengan pasrah, Rafly memutuskan menjual perusahaan dia kepada salah salah satu perusahaan baru, yang tak lain perusahaan itu milik Ryan dengan meminjam nama orang lain.
Ryan pura-pura prihatin dan mencoba menghibur mertuanya.
" Pa, bagaimana kalau kita jual saja perusahaan yang papa berikan pada Fani, nanti kita bisa memulai yang baru lagi?" Ryan menawarkan perusahaan yang dia pegang.
__ADS_1
"Tidak nak, jangan! Itu sudah papa berikan pada kalian , papa berharap alian bisa mengembangkannya, papa sudah tua mungkin ini peringatan untuk papa supaya lebih ikhlas, seharusnya papa serahkan perusahaan pusat untuk putri papa bukan yang cabang, tapi papa masih mata duitan ternyata, ya begini hasilnya," jawab Raffi.
Pria paruh baya ini sama sekali tidak menduga kalau ternyata menantunya yang sudah bertindak jahat padanya.
π·π·π·
Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu, semua sudah habis terjual, rumah mewah tersebut juga sudah di sita oleh bank. Cuma pak Budi yang setia pada Raffi, beliau supir pribadi beliau.
"Bud, kamu merasa ada yang aneh tidak?" tanya Raffi.
"Aneh kenapa tuan?" tanya Budi.
"Fani bud, setelah dia menikah dengan Ryan aku belum pernah bertemu dengannya, bahkan mendengar kabarnya pun tidak, aku kok jadi khawatir tentang keadaannya, bahkan dia tidak muncul melihat kondisi ayahnya yang seperti ini." perasaan Raffi tiba-tiba tidak enak.
"Tuan benar, ini bukanlah sifat nona Fani, meskipun pernikahan ini tidak nona Fani inginkan, paling tidak dia mengunjungi ayahnya, apalagi pak Ryan, sepertinya dia juga menyembunyikan keadaan non Fani." Budi sependapat dengan majikannya.
"Aku kangen dia Bud, kangen sifat manjanya, senyumnya bahkan dialah penyemangat hidupku, tapi kalau seperti ini bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku Bud?"
"Sekarang kita ke kontrakan saya saja dulu tuan, nanti saya yang akan datang ke rumah pak Ryan untuk menemui nona Fani bi_." Belum selesai Budi bicara Ryan sudah datang kesana.
"Tidak perlu mencari Fani di rumah pak Budi, say ada di sini, saya yang akan menjelaskan bagaimana keadaan Fani saat ini." Ryan mencegah Budi.
"Apa maksud kamu?" tanya Raffi dengan penuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Papa mertua ingat seorang supir taksi miskin yang meninggal karena papa tabrak mobilnya hingga dia meninggal di tempat?" tanya Ryan dengan sinis.
"Sopir taksi?" Raffi mengingat-ingat, tapi dia tidak pernah menabrak sopir taksi.
"Tentu Saja anda lupa, karena kejadian itu cukup lama dan tidak penting bagi orang besar bagi anda, anak supir itu adalah saya, Anda lari dari tanggung jawab dan meninggalkan ia, tidak tahu kalau supir itu meninggalkan istri dan seorang anak kecil yang sangat membutuhkan ayahnya." Ryan men jeda ceritanya.
"Tapi aku tidak pernah menabrak orang apalagi supir taksi, nak. "Raffi benar-benar tidak menabrak tapi mobilnya lah yang di tabrak supir itu, supir taksi itu mengantuk dan memaksakan diri untuk narik taksinya karen harus membayar kontrakan rumah.
"Anda tidak perlu mengelak tuan Raffi, setelah sopir itu mati, keadaan istri dan anaknya sungguh mengenaskan, ibu saya berjuang mati-matian untuk membesarkan saya dia rela tidak makan demi anaknya bisa makan, lambat laun kami memiliki dendam pada anda tuan, ibu bersumpah akan membalaskan semua sakit hatinya ini, dia kehilangan orang yang sangat dia cintai, dan anda harus merasakannya juga!" kata Ryan.
"Lalu apa hubungannya dengan Fani putriku?" tanya Raffi, dia mulai curiga sesuatu, setelah mendengar kata dendam tersebut.
"Saya sengaja masuk ke dalam kehidupan anda, menikahi Fani, lalu membalaskan dendam itu pada putri anda, supaya dia merasakan apa yang sudah kami rasakan."
Rafii kaget, dadanya mulai sesak, dia tidak habis pikir dengan rencana Ryan, orang yang sudah begitu dia percaya itu.
"A-apa maksud kamu?" tanya Raffi, pria paruh baya ini memegangi dadanya yang mulai sesak.
"Kami menciptakan dunia baru untuk Fani dan rumahku akan menjadi neraka untuknya, disana Fani di pukul, di seret bahkan pernah di kurung di kamar mandi oleh ibu saya, tidak ada Fani yang cantik, centil ataupun manja lagi, yang ada hanyalah Fani yang menderita, bahkan untuk hidup pun dia enggan,tapi mati tida bisa, bagaimana tuan, apakah ini sudah cukup kejam, atau malah lebih kejam." Ryan menatap tajam pada mertuanya ini.
Dada Raffi semakin sesak." Dasar biadab, iblis kau, putriku tidak tahu apa-apa kenapa menjadi korban balas dendam yang salah itu nak, aku tidak pernah menabrak orang, tanya saja pada Budi, dia yang selalu menjadi supirku selama ini, bahkan sudah lebih dari lima belas tahun." Raffi mengelak kalau pernah melakukan tabrak lari itu.
Ryan masih saja belum percaya, dia malah maki menjadi. "Kalau penjahat mengakui semua kesalahannya,penjara akan penuh tuan, oh ya satu lagi tuan, sebenarnya kebangkrutan anda ini sudah say setting sebelumnya, dan sekarang ibuku pasti sangat puas, dia melihat anda dan putri anda menderita, tapi tenang saja, akau akan mengantarkan dia kepda anda, supaya kalian bisa berkumpul lagi." Ryan tertawa sinis seperti seorang iblis.
__ADS_1